Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
07.Ada pengantin di rumah sakit


__ADS_3

Pulang cepat, akhirnya setelah sekian purnama bisa merasakannya juga. Rasanya ternyata mantap sekali , begitulah yang ada dipikiran Yusuf. Ingin rasanya segera menemui kekasihnya . Hari ini adalah hari terakhirnya di rumah sakit.


Entah kenapa rasanya jadi agak gimana gitu. Kalau di rumah kesempatan untuk bertemu jadi terbatas, tak bisa setiap hari. Tapi kalau dirumah sakit kasihan juga rasanya melihatnya yang kadang mengeluh bosan, suntuk juga, rasanya dia ingin cepat-cepat kembali kerumah. Sejak Fitri masuk rumah sakit ia sudah terbiasa pulang kerja langsung menjenguk, pulang saat orangtuanya datang. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Tapi hal ini bukan berarti ia ingin Fitri dirumah sakit terus-terusan.


Saat masih di jalan ia haus sekali, jadi dia putuskan untuk membeli minuman diwarung terdekat. Di parkirnya kendaraan di pinggir jalan. Setelah itu ia segera masuk ke dalam warung.


"Dasar kau tukang selingkuh. Kau kawin sama orang lain enggak bilang aku. Kau anggap aku ini apa? Dasar bajingan," Terdengar suara ribut disamping warung itu yang rasanya sayang untuk dilewatkan.


"Pergi sana kau sama istri mudamu itu. Awas kau balik lagi kesini."


"Aku sudah jelasin semua. Aku mohon jangan usir aku."


"Lagian kau siapa? Kau udah telantarin aku, dateng seenak saja. Enggak perlu kau datang datang lagi. Besok biar kuurus surat cerai. Enggak perlu kau susah-susah lagi ngurus," terdengar suara wanita paruh baya berteriak seperti orang kesetanan. Dia tak peduli pada tanggapan tetangganya.


"Itu di sebelah kenapa sih bu?" Yusuf bertanya pada penjual didepannya karena penasaran


"Itu orang sebelah lagi berantem. Gara-gara suaminya kawin lagi enggak bilang bilang. Datang datang cuma minta buat istrinya nerima dia lagi."

__ADS_1


"Oh gitu. Panteslah berantem," sambil mengeluarkan selembar uang ia berkata begitu.


"Kita kan bisa bicaran baik-baik. Apa enggak kasihan anak kita nengok kita berantem gini?"


"Kau bilang bisa bicara baik-baik? mati aja kau sana. Biar dia lihat bapaknya. Dia enggak jadi bajingan kayak bapaknya," Suara wanita itu malah makin menjadi saat Yusuf sudah bersiap pergi. Setelahnya ia tak tahu apa yamg terjadi pada orang itu. Ia tidak ingin ikut-ikutan urusan mereka. Ia harap ia tak mengalami hal semacam itu nantinya.


Tapi ya kalau dipikir apa yang dilakukan wanita itu wajar, mengingat apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Kalau Yusuf yang jadi wanita itu, yang ia lakukan pertama adalah membunuhnya. Perselingkuhan itu tidak bisa dimaafkan. Walaupun nantinya bakal ada konsekwensinya, yang terpenting dendam telah terbalas dengan sempurna. Seberat apapun nanti, takkan ada penyesalan yang berarti.


***


Saat berada dilorong menuju ke kamarnya Fitri, sebuah kehebohan terjadi, kali ini yang membuatnya adalah sekelompok orang berpakaian rapi. Nampak sang wanita yang memakai gaun pengantin menangis, sementara yang lain mendorong pria berjas rapi yang terbujur pingsan.


***


"Hai, selamat sore bidadariku. Cie yang besok keluar rumah sakit," Yusuf sedikit menggoda Fitri yang nampak tersenyum kepadanya. Senyumannya cerah sekali. Lebih cerah dari cahaya mentari sore yang masih terik walaupun sudah kekuningan.


"Kan berkat kamu juga sayang. Berkat dukunganmu akhirnya aku bis melewati semua ini."

__ADS_1


"Yang bener itu semuanya berkat tuhan. Dia yang menyehatkanmu. Aku mah cuma bisa ngasih dukungan aja kayak cheerleader ."


"Walaupun cuma dukungan itu sangat berarti. Pokoknya aku sayang banget sama kau."


"Ya deh. Tau enggak tadi pas dilorong ada cewek nangis nangis pake gaun pengantin gara-gara cowoknya tumbang. Aku aja sampai enggak tega lihatnya. "


"Masa sih? aku aja enggak lihat apa-apa."


"Ya kau kan disini. Kejadiannya diluar. Lucu deh kamu," Respon yang diberikan Fitri walaupun bercanda tetap saja menjengkelkan. Untung sayang, coba kalau tidak sudah dia pasti dia langsung memprotesnya kemudian langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Ingin dia berkata kasar, tapi cewek.


"Besok mungkin kalau kau udah dirumah aku mungkin bakal jarang nengokin kamu. Kasihan orangtuamu nanti pasti bakal diomongin tetangga. Dibilang anak gadisnya di samperin sama cowok tapi enggak dikasih kepastian. Giliran nanti kita mau nikah pasti di omongin pasti dah diapa-apain . Memang serba salah."


"Tetanggaku yang kanan enggak sih, dia orangnya baik. Cuma yang kiri ya gitu. Seneng banget ngejulidin orang. Kayak dia yang paling bener aja," Yusuf sekalian curhat.


"Kau mau enggak beliin aku martabak yang isinya ketan hitam. Lagi pingin banget nih. Dah lama enggak makan martabak kayak gitu," Fitri yang lagi malas mendengarkan curhatan soal tetangga minta di belikan martabak.


Sebenarnya ia bukannya tidak ingin mendengarkan, tapi menurutnya perkataan Yusuf tadi seperti orang ngelantur. Dan tujuan utamanya bukan mengusir secara halus . Entah kenapa mendadak ia ingin martabak seperti yang ia bilang tadi. Terutama ia kangen sekali dengan rasa martabak itu.

__ADS_1


***


__ADS_2