
"Mulai Minggu depan kamu akan dipindahkan ke kantor pusat. Keputusan ini mutlak dari atasan dan tidak bisa di ganggu gugat," saat di panggil ke ruangan manajer, Yusuf langsung di bilang begitu tanpa basa-basi.
Sebenarnya Yusuf tidak terlalu keberatan, toh dia juga ingin pergi ke luar kota. Ia ingin menghirup udara yang benar-benar baru. Di sini juga yang teringat hanya Fitri saja, tak ada selain itu. Kadang ia memikirkan Ilyas, tapi sepertinya anak itu sudah bisa beradaptasi dan juga ia yakin bahwa Ilyas takkan kelaparan. Dia juga sudah bisa di tinggal seorang diri.
Sebenarnya Yusuf tahu Ilyas bakal keberatan , tapi untuk kebaikan masing-masing ia tidak akan menahan diri untuk pergi. Lagipula tidak selamanya Ilyas akan terus bersamanya, bila tiba saatnya nanti pasti akan ada perpisahan di antara mereka berdua. Walaupun Yusuf belum tahu pasti kapan, yang jelas hal itu pasti akan terjadi cepat atau lambat.
"Kamu dimarahi ya?" tanya Arif saat melihat Yusuf yang pandangannya seperti melayang.
"Enggak kok. Muka mu kok kayak gitu? Kayak enggak senang gitu?"
__ADS_1
"Tadi dia bilang Minggu depan aku harus pindah ke pusat. Aku senang sih, cuma kasihan nanti kau jadi kesepian enggak ada aku," jawab Yusuf.
"Enggaklah. Lemah kali , aku kan kuat. Lagian yang pergi kau, kalau Jamila udah enggak kebayang bakal gimana."
"Terserah mu aja deh. Tapi kayaknya pas kau tunangan sama dia aku enggak bisa datang. Bukannya sombong atau gimana , aku udah enggak disini lagi soalnya."
"Santai aja. Aku enggak bakal ceroboh lagi. Mudah-mudahan aku bisa dapat pengalaman yang menarik ya di sana biar nanti kalau kita ketemu lagi bisa ku ceritakan ke kau."
***
__ADS_1
Yusuf melihat pemandangan ke luar, rasanya sesuatu yang biasa saja entah mengapa menjadi terlihat luar biasa. Pemandangan yang sebentar lagi tak bisa dilihat memang selalu begitu, walaupun kadang membosankan tapi dengan sihirnya ia bisa membuat seseorang terhipnotis karenanya.
Hari ini, berarti sekitar 4 hari lagi ia akan berada dilingkungan yang sama sekali berbeda. Ah, ia sebenarnya menjadi berat untuk pergi walaupun di satu sisi ia menginginkannya. Rasanya ia jadi galau sendiri.
Ia ingat pertama kali ia menjejakkan kaki di kantor ini beberapa tahun yang lalu, sekarang nampaknya hal itu terlihat sangat jauh. Entah mengapa rasanya ia jadi kangen masa-masa itu. Ia ingin kembali ke masa lalu untuk sekadar melihat kembali salah satu momen bersejarah dalam hidup. Sebuah kebanggaan yang menurutnya sangat berarti dalam hidup.
Cita-cita untuk bekerja di kantor tercapai dengan sedikit lebih mudah dibandingkan dengan orang lain yang harus kesana-kemari dulu. Ia merasa bersyukur sekali waktu itu. Disaat teman-temannya masih sibuk mencari pekerjaan, ia sudah mendapatkannya. Seingatnya, ia adalah orang pertama yang mendapatkan pekerjaan di dalam angkatannya.
Sekarang , sebentar lagi ia harus mengucapkan selamat tinggal dengan kantor ini. Hari-hari yang akan datang pasti akan berlalu dengan cepat, walaupun ia ingin tapi jujur dalam hatinya masih terasa sangat berat untuk pindah ke kantor pusat. Tapi bila saatnya tiba , Yusuf akan berusaha kuat demi masa depannya yang lebih cerah.
__ADS_1