
Segera setelah bangun Jamila segera bangun dari tempat tidurnya. Sebenarnya ia malas , tapi dipaksakan dirinya untuk bangun juga. Pagi ini dia harus membeli perlengkapan untuknya berjualan. Pasar di pagi hari memang masih sepi, pedagang pun bersiap untuk mencari rezeki.
Setelah selesai ia mandi, kemudian bersiap. Sesekali ia masih menguap walaupun ia sudah beraktivitas sedari tadi , tapi ia sudah mulai terbiasa. Setidaknya selama dua minggu ini. Udara kota yang telah lama tak terasa saat menghirup udara akhirnya ia rasakan juga. Rasanya tidak sesegar udara di desa, tapi tak buruk juga menurutnya.
Ia kembali ke kota kelahirannya sudah sekitar setengah bulan lebih. Sebenarnya niat awalnya ini ditentang oleh orangtuanya karena khawatir oleh dirinya yang merupakan seorang perempuan tanpa pendamping hidup. Tapi sedikit demi sedikit akhirnya direstui juga, dengan catatan ia harus menjaga diri sebaik mungkin.
Sebenarnya alasan utamanya pergi adalah ia gerah dibilang perawan tua oleh beberapa orang, ada juga yang bilang enggak laku, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa ia tak tertarik oleh pria . Kalau dibilang mau menikah dia tidak keberatan, tapi belum ada calon yang menurutnya baik . Jadi ya sampai sekarang dia masih betah hidup sendiri.
Dulu sih sebenarnya ia pernah hampir menikah dengan seorang pria yang tidak terlalu ia kenal tapi menurutnya lumayan juga sikap. Sayangnya sebelum semua itu terwujud hubungan itu harus berakhir karena ia tak mau berpisah dengan pacarnya . Wajar sih menurut Jamila, karena mereka juga di jodohkan. Lagipula Jamila belum ada rasa dengannya, jadi dia tidak merasa sedih juga.
Pria itu berkata di depan orang tuanya Jamila dengan sangat jantannya walaupun ia sendiri mempunyai mentalnya masih belum kuat. Ucapannya terdengar agak terbata-bata . Walaupun begitu, keberaniannya untuk berkata jujur terlihat itu perlu di acungi jempol . Entah mengapa, Jamila jadi iri dengan wanita yang menjadi pasangannya kelak. Pada akhirnya semuanya berjalan damai. Tak ada pihak yang dirugikan dari ini semuanya. Setahun kemudian ia naik ke atas pelaminan bersama kekasih hatinya itu. Jamila tidak datang saat itu, tapi ia mengira-ngira wajah pengantin yang begitu bahagia bak raja dan ratu .
Setelahnya ada beberapa orang yang mendekatinya, tapi tak ada yang menurutnya cocok. Imbasnya, ia harus mendengar orangtuanya panjang lebar berceramah menyuruhnya segera menikah. Jamila seperti orang yang sudah tidak punya minat untuk menikah. Tak ada pria lain selain Yusuf yang terlihat menarik dimatanya. Berapa kali pun ingin menolak pesonanya,ia malah semakin terpikat oleh bayang-bayang dirinya. Kadang ia menyesal pernah terlalu berani sampai hilang akal saat ia memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengan Yusuf. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apapun yang terjadi dimasa lalu, ia takkan bisa mengubahnya lagi .
Dia kembali ke rumahnya dulu. Setelah sekian lama terbengkalai, akhirnya rumah itu ada yang menghuninya juga. Sebelumnya ia beberapa kali pulang ke rumah itu, tapi hanya untuk satu dua hari , paling lama tiga hari bersama seorang sepupu perempuan. Tapi sekarang ia sendirian saja karena sepupunya itu juga sudah menikah.
Ide berjualan pecelnya itu datang saat dalam perjalanan. Setelah istirahat beberapa hari, ia menyewa lapak untuk berjualan. Hari-hari yang dimulai sejak dua minggu itu berjalan biasa saja, hingga Yusuf mampir di warungnya. Rasanya seperti mendapatkan keajaiban yang luar biasa, walaupun dia terlihat dingin padanya. Tapi itu tak jadi soal baginya.
***
"Ngapain sih jauh-jauh ke kota cuma buat dagang pecel?" Saat tahu pekerjaan Jamila, ibunya berkata begitu. Kalau dipikir mungkin ada benarnya juga .
__ADS_1
"Kalau mau jualan kayak gitu disini juga bisa," lanjut ibunya tidak setuju dengan pekerjaan putrinya itu.
"Yang penting kan halal. Ya kalau rezekinya jualan disini enggak ada yang salah kan? Lagian juga pekerjaan ini halal ," Jamila berusaha menjelaskannya pada ibunya. Sebenarnya dalam hati ia sangat jengkel dibilang begitu.
Daripada jual harga diri kan lebih baik jual pecel , lagian pecel buatannya lagi laris banget . ingin sekali mulutnya berkata kasar, tapi hal itu bakal membuat obrolan semakin rumit. Dia sudahkan saja obrolan sampai disitu.
Arif janji akan datang hari ini, daripada memikirkan omongan ibunya lebih baik ia menunggunya sekalian mencari cara agar ia bisa mengobrol dengan Yusuf. Minimal minta maaf. Peristiwa yang sudah lama itu masih saja terngiang-ngiang di ingatannya . Sebelum minta maaf rasanya itu hanya menjadi beban saja.
Pakaian tidak seketat kemarin. Sebenarnya kemarin untuk pertama kalinya ia berpakaian ketat. Bukan karena ia ingin , tapi karena ia kehabisan baju dan rasa malas untuk mencuci yang meluap-luap seperti rasa cinta. Jadi ya terpaksa ia pakai pakaian seperti itu. Tak menyangka Yusuf akan mampir ke warungnya. Ia tak tahu apa yang dipikirkan makhluk seperti dia saat melihatnya berpakaian begitu.
***
"Hai, yang biasanya ya," sambil masuk Ke dalam warung , Arif berkata begitu .
" Katanya dia mau ke bengkel siang ini. Katanya mau lihat kondisi motor yang kemarin ia taruh di bengkel. Tapi ya entah motor yang mana. Yang aku tahu motornya itu cuma yang dia pake buat kerja."
"Oh gitu."
"Udahlah enggak usah dibahas. Orang aneh kayak gitu dicariin."
"Minumnya yang biasa juga kan?" setelah menaruh seporsi pecel di meja, Jamila bertanya.
__ADS_1
"Jelas dong. Kopi buatan mu rasanya ngangenin banget," setelah berkata begitu Arif langsung menyendok makanannya itu.
"Biasa aja sih," sambil mempersiapkan air panas dia merendah.
"Katanya mau nelpon aku? Enggak jadi? Aku nungguin lho," lanjut Jamila.
"Lupa. Soalnya capek banget. Aku aja pulang langsung tidur. Kebangun bentar sih gara-gara lapar. Tapi ya habis itu tidur lagi. Maaf ya."
"Santai aja. Aku enggak marah kok," sambil mengaduk kopi agar tercampur rata, Jamila berkata begitu.
"Kamu kenapa belum nikah?"
"Hmm....., belum dapet aja yang mau mengajakku nikah," Jamila bingung saat ditanya mengenai pernikahan. Ini adalah satu dari beberapa pertanyaan yang sebisa mungkin ia hindari.
"Masa sih? Aku mau kok ngajak nikah. Kau mau enggak sama nikah sama aku?" sebuah ucapan dari mulut buaya sedang mencari mangsa memang terdengar begitu manis.
"Mau sih . Tapi aku pingin kenal kamu lebih banyak. Soalnya kan kita baru kenal. Nanti takutnya dibilang cewek gampangan," Jamila bingung mau bilang apa. Memang sih lelaki itu lumayan ganteng juga kalau dilihat-lihat. Tapi dia masih belum ada rasa sama dia. Kali ini kondisinya beda. Dahulu ia hampir menikah karena dijodohkan, kali ini beda. Tapi mau nolak secara langsung tak mungkin, jadi ya ia berkata seperti itu.
"Kalau itu yang kau mau . Aku mau kok nungguin kamu sampai kamu yakin," sebuah jawaban yang berisi keseriusan didalamnya dari seorang pria dewasa yang tertarik padanya.
"Kalau itu membutuhkan waktu yang lama , apa masih mau nungguin?" Jamila mengetes .
__ADS_1
"Aku mau menunggu sampai kapanpun agar kau tahu bahwa aku mencintaimu dengan tulus."