Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
49. Tembok Rasa Ragu


__ADS_3

Yusuf mengantarkan pulang pacarnya. Ada sedikit rasa kecewa dihatinya saat ia mengendarai motornya. Ingin rasanya ia bersamanya lebih lama. Tapi ya udah lah ya , mungkin lain kali bisa lebih lama dari ini.


Setelah sampai di rumah, tanpa berkata apapun kepada Ilyas yang sedang asyik menonton tv ia segera masuk kedalam kamar. Dikeluarkannya sebentuk cincin yang ia simpan di sakunya. Ia pandangi cincin itu dalam-dalam. Rasanya semakin dilihat semakin ingin ia menangis, tapi matanya tak bisa lepas memandang. Biarpun air matanya perlahan menetes, tetap saja terus ia pandang.


Malam ini nampaknya tidak berjalan dengan baik apa yang direncanakan olehnya. Cincin yang ia beli kemarin pun yang seharusnya sudah melingkar dengan indah di jari manis orang tersayang itu masih saja ia pegang. Rasanya saat hendak memberikannya yang jelas takut. Makin kesini dia merasa hubungan mereka makin jauh.


Ia menangis karena ia merasa gagal mencapai tujuannya. Ia merasa gagal menjadi seorang lelaki. Ia kecewa, marah, sedih dengan kondisinya sekarang. Ia berharap ia berubah jadi orang yang lebih baik dari kemarin, tapi nyata bahkan yang sekarang lebih parah. Rasa ragu yang menjadi tembok bagi dirinya terus maju nampaknya sulit sekali ditembus .


Ia merasa dirinya yang sekarang bahkan lebih parah dibandingkan yang dulu. Bukannya makin berkembang malah makin terbelakang. Segera ditaruhnya cincin itu ditempatnya semula sebelum ia merebahkan badannya.


Kapan ya waktu yang pas untuk melamarnya? Dari kemarin-kemarin sebenarnya sudah ada pikiran, tapi saat akan mengutarakan maksud dan tujuannya kenapa susah sekali? Bukannya dulu ia dengan mudah mengumbar cinta pada setiap gadis? Ah, Yusuf ingin sekali menghapus ingatan saat itu. Ia tidak ingin mengingat lagi waktu yang lama sekali ia lewati .


***


"Maaf ya selama ini aku bersikap cuek kepadamu. Lain kali aku enggak bakal kayak gini lagi deh?"


"Aku tahu kok maksudnya kamu begitu. Maaf ya aku juga salah terlalu maksa kamu untuk...."

__ADS_1


"Enggak masalah kok. Kamu kan pacar aku, apapun yang kamu minta bakal ku turuti. Semuanya demi kamu," Sambil tersenyum bahagia Yusuf berkata.


"Wah , pacarku emang yang paling baik deh. Aku senang bisa mengenalmu , aku ingin hidup bahagia bersamamu selamanya. Aku ingin kita seperti Romeo dan Juliet."


"Kalau aku sih malas. Aku pernah baca ceritanya dan ternyata kisah cinta mereka itu tragis. Bahkan seingat ku mereka lebih memilih mati daripada menghadapi kenyataan pahit."


"Terus jadi apa dong?"


"Jadi diri kita sendiri aja. Kita ukir kisah kita seindah yang kita bisa agar anak cucu kita tahu betapa sempurnanya cinta kita berdua."


"Kalau gitu , tutup matamu sekarang .'


"Untuk apa?"


"Nanti juga tahu, awas lho jangan ngintip."


"Ya udah deh aku tutup mata ."

__ADS_1


"Sekarang buka matamu, " setelah beberapa detik Yusuf berkata lagi.


"Aku ....., hmmmm gimana ya mau ngomong? Aku ingin selalu bersamamu. Aku ingin menjadikan mimpiku hidup sampai mati dalam pelukanmu. Aku ingin jadi suamimu? Lewat cincin ini aku ingin bertanya dengan serius. Mau kah kau menjadi istriku?" Setelah Fitri membuka matanya, Yusuf segera berkata begitu. Dia sebenarnya agak kebingungan harus berkata apa. Tapi untungnya semua berjalan lancar.


"Aku mau, aku mau menyerahkan hidupku kepadamu sebagai seorang istri," wajahnya terlihat senyum yang sangat indah.


Setelah berkata begitu, sebuah cincin yang terlihat gemerlap diantara sinar lampu yang menerangi mereka terpasang di jari manisnya. Malam itu, rasanya surga yang dirindukan menemuinya seakan memberi restu kepada dua insan yang sedang dimabuk cinta. Dari balik jendela terlihat bulan purnama yang malu-malu melihat romantisnya cinta mereka.


***


Yusuf segera mengucek matanya, kembali lagi ia ke dunia yang dipenuhi kenyataan. Ah ternyata adegan romantis itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Saat merebahkan badannya tadi, tanpa sadar ia langsung terlelap dan akhirnya terbuai dalam mimpi yang terasa indah. Dunia dimana segalanya berjalan dengan mudah dan juga indah.


Saat matanya sudah benar-benar terbuka, ia akhirnya sadar juga bahwa ia sudah berada di dalam realita kehidupan. Ingin rasanya masuk lagi kedalam mimpinya yang tadi, tapi rasanya mustahil juga. Andai ia punya kekuatan untuk mengendalikan mimpi seperti yang pernah ia lihat di film Super Hero. Di dalam tontonan itu, ada banyak orang yang bisa mengendalikan mimpi mereka sendiri. Bebas hidup di dunia yang tiada berbatas.


Tapi sayang, semuanya itu adalah ilusi dari monster yang punya keahlian khusus. Sebenarnya setiap monster punya kelebihan masing-masing, tapi tiap tarung pasti kalah terus. Yang membuat cerita Super Hero kenapa sih enggak peka sama perasaan monster yang ingin menang juga? Lagian moneternya pun bodoh banget, mau aja gitu nungguin Hero yang kadang berubahnya lama banget belum lagi perkenalan diri satu-satu.


Kenapa gitu enggak langsung nyerang? Yusuf kalau jadi monster langsung gas aja pinginnya. Lebih cepat kan lebih baik. Ah, kenapa jadi ngomongin monster gini? Yusuf sendiri aja tidak mengerti. Tapi ya lebih baik daripada terus menyalahkan diri sendiri karena belum bisa melingkarkan cincin di jari manis pacarnya karena hatinya masih dipenuhi keraguan yang terus saja membesar.

__ADS_1


__ADS_2