Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
86. Anak Pejabat, Lato-lato, dan Harapan


__ADS_3

"Darimana?" saat baru tiba di kosnya , Yusuf ditanya oleh temannya yang sedang duduk santai sambil memakan ayam geprek.


"Aku kan dah bilang mau naik gunung. Tumben pulang?" Yusuf yang tidak biasa melihat teman kosnya itu pulang langsung berhitung saat melihat temannya itu sedang santai. Dia segera mendekat ke arah temannya itu.


"Aku sebenarnya sering pulang cuma pas kamu enggak ada di rumah . Hari ini aku mau menikmati hidup biar besok bisa ada semangatnya pas meliput kasus anak pejabat yang bentrok sama anak pengurus ormas besar."


"Apa pentingnya?"


"Beritanya lagi naik banget ini. Kalau ditanya penting atau enggak mungkin penyebabnya aja."


"Emang penyebab bentroknya apa?"


"Gara-gara cewek."


"Kirain gara-gara apaan."

__ADS_1


"Ceweknya anak pengusaha. Mungkin masalahnya enggak penting, tapi orangtuanya itu orang penting semuanya. Selain itu, ada video viral yang memperlihatkan anak pejabat itu menyiksa anak pengurus ormas itu sampai koma."


"Boleh aku lihat?"


Tanpa menunggu lama, temannya itu memperlihatkan video yang isinya persis seperti yang ia bilang tadi. Bahkan terlihat lebih sadis.


"Pantes viral. Ini sih udah enggak manusiawi . Emang ceweknya secantik apa sih sampai segitunya itu anak pejabat nyiksa anak orang?"


"Entah, yang aku lihat dari fotonya sih enggak banget padahal. Anak lima belas tahun tapi dandannya dah kayak orang umur dua puluh lima tahun."


"Padahal cewek banyak pun, kenapa sih harus berantem gara-gara cewek modelan gitu?"


***


"Kamu itu mau kerja atau mau main? Aku tau kau itu belum cukup umur, tapi setidaknya tahu lah! Daripada main yang enggak penting kayak gitu mending kau bantuin aku, tau sendiri kan si Risky itu lagi enggak berangkat? Disini cuma ada kita berdua. Terserah kau kalau lagi enggak kerja mau ngapain terserah mu, tapi kan disini kau lagi kerja!" Hasan panjang lebar mengomeli Ilyas. Hari ini ia benar-benar tidak bisa menahan untuk tidak marah.

__ADS_1


"Maaf, kali ini aku mengaku salah, lain kali enggak bakal ku lakukan."


"Awas aja kalau kau mainin itu lagi, ku potong juga tanganmu."


"Ada apa ini ? kok berantem?"


"Itu si Ilyas, tahu kerja cuma berdua dia main tak Tek tak Tek aja. Entah terserah dia ajalah," Hasan setelah menjelaskan duduk perkara langsung pergi ke depan untuk menunggu pelanggan.


"Kamu lain kali enggak boleh kayak gitu lagi ya. Udah kali ini kamu aman, cuma kalau di ulang lagi nanti ada konsekuensi yang harus kamu tanggung," dengan lembut bosnya itu berkata.


"Hasan memang gitu orangnya. Dia kalau enggak ada Riski kayak kangen banget. Dia kayaknya marah kalau enggak Riski lagi enggak marah," lanjutnya.


***


Setelah melihat ayahnya, Riski segera pulang ke rumah bersama ibunya. Ia melihat ibunya terdiam hampir sepanjang jalan. Mungkin karena efek bertemu dengan ayahnya. Riski tahu mereka telah berpisah, hubungan mereka telah berbeda. Hanya saja, melihat kedua orangtuanya bertemu lagi apa salahnya? Lagipula selama ini itulah yang diinginkannya.

__ADS_1


Memang rasanya tidak seperti dahulu. Tidak ada kehangatan diantara keduanya saat bertemu tadi. Riski harap suatu saat nanti mereka bisa akur kembali. Ia tak berpikir mereka bisa bersatu lagi, ia hanya ingin melihat kehangatan yang dulu ia pernah rasakan.


Hari-hari yang telah berlalu lama sekali itu ia rindukan. Walaupun mustahil untuk sama persis seperti dahulu, setidaknya ada kehangatan dari kedua orangtuanya. Kalau bukan sekarang, ia harap suatu saat nanti hal itu bisa terwujud.


__ADS_2