
"Hai, masih ingat aku enggak?" sambil tersenyum seorang wanita muda yang sedang bersama anak kecil itu berkata kepada Arif.
"Ingat kok, " sambil berusaha mengingatnya Arif berkata sambil tersenyum juga. Dia siapa? otaknya terus berusaha untuk mengingatnya.
"Dah lama kali ya kita enggak ketemu, terakhir pas saat perpisahan SMP," wanita itu sedang bernostalgia.
"Mbaknya kenal sama dia?" sambil membungkus pecel Jamila berkata. Ia penasaran dengan wanita itu.
"Temenku dulu waktu SMP. Kebetulan kita sudah lama kita enggak ketemu. Enggak nyangka bakal ketemu lagi disini."
"Dia pacarku mbak, doain ya cepat dihalalkan," tersenyum lebar Jamila saat mengatakannya.
"Wah selamat ya. Semoga cepat . Nanti kalau nikahan undang aku ya!"
"Udah mau lamaran kok kita. Semoga lancar sampai kedepannya," Arif tak ingin kalah. Otaknya belum bisa memproses ingatannya mengenai wanita itu, tapi kalau dilihat dari caranya ngomong ia pasti pernah dekat padanya. Katanya sih waktu SMP, waktu yang sangat lama sekali . Wajar kalau sudah lupa kan?
"Wah mantap ya. Sekarang kamu dah berani sama cewek."
__ADS_1
"Emang dulu gimana mbak? aku penasaran."
"Dia dulu enggak pernah berani sama cewek. Pasti kalau lagi mendekati cewek tangannya gemetaran. "
"Enggak ya, aku mana pernah gemetar kalau pas lagi mendekati cewek," mukanya Arif merah. Dia tidak terima dibilang begitu walaupun dia sendiri di dalam hati mengetahuinya.
"Kalau enggak pernah kenapa mukamu merah? Santai aja kalau gitu. Dulu pas masih sekolah dia punya hal yang memalukan enggak? Apa gitu, mungkin pernah ngompol di kelas atau apa gitu. Aku penasaran," sambil mengambil plastik untuk membungkus dua porsi pecel lontong ia bertanya.
"Apa ya? Kayaknya enggak ada deh. Soalnya dia anaknya lurus-lurus aja dulu. Yang paling ku ingat pengalaman anggota paling memalukan paling cuma pas waktu sunat. Ia pernah bilang pas mau disunat ia sempat teriak-teriak kayak orang kesurupan saking takutnya. Itu kayaknya pas habis lulus SD. Parah , dah gede masih aja kayak gitu."
"Jangan percaya, aku mana ada teriak-teriak. Aku kan laki masa takut . Enggak lah," Arif bingung harus bilang apa. Memori masa lalu yang hilang itu seketika kembali, saat mengingatnya ia malu sendiri. Andai waktu itu ia bisa lebih berani, pasti kejadian semacam itu takkan terjadi.
"Panggil aja Mawar," jawabnya sambil menyerahkan uang .
"Ya udah mbak Mawar, makasih ya. Lain kali mampir lagi ya mbak."
"Siap."
__ADS_1
"Kau beneran kenal dia?" saat wanita yang mengaku bernama Mawar itu pergi, Jamila menanyakan hal itu kepada Arif yang sedang asyik mengopi.
"Kenal, kayaknya sih ."
"Aneh."
"Ya maklum, lama banget enggak ketemu. Jadi ya masih agak-agak lupa. Apalagi umur makin tua, makin cepat lupa ."
"Yang penting enggak ada apa-apa sama dia aja sih ."
"Enggaklah, kamu kan calon istriku. Sayangku cemburu, udahlah enggak perlu. Ngapain juga aku cari yang lain, aku kan milikmu untuk sekarang dan selamanya. Hidup dan mati hanya untukmu sayang ."
"Mulai deh , kayaknya dah terlatih ngomong manis sama banyak cewek nih."
"Enggaklah sayang. Cintaku itu cuma kamu , aku enggak pernah jatuh cinta kepada orang lain selain kamu sayang," Omongannya kali ini kurang sesuai. Nyatanya dulu ia pernah jatuh cinta kepada seorang teman saat masih SMA, tapi sayangnya ia terlalu takut untuk mengatakannya. Kata-kata suka bahkan tidak pernah terucap sampai wanita yang disukainya itu menikah dan punya anak.
Hari itu sebenarnya Arif menyesali sikapnya yang menyembunyikan rasa suka. Wanita itu tidak salah karena ia sama sekali tidak tahu perasaan yang terpendam. Selama ia bahagia itu sudah cukup.
__ADS_1
Saat melihat wajah Jamila dulu , ia merasa harus berani atau penyesalan yang pernah ia rasakan terulang lagi. Ia ingin segera lamaran ia ingin menunjukkan betapa seriusnya ia kali ini. Apapun yang terjadi, Arif ingin selamanya bersama Jamila hingga maut memisahkan mereka.