
"Aku enggak mau dijodohkan sama orang tuaku . Apapun yang terjadi nanti aku cuma pingin sama kamu. Please, bawa aku pergi kemana aja. Aku rela jika aku harus mengikuti mu ke ujung dunia sekalipun," dengan tatapan yang begitu menyedihkan, terdengar suaranya menahan tangis.
"Di jodohkan gimana? " Yusuf tak mengerti. Ia memang benar-benar tidak mengerti.
"Usaha orangtuaku hampir bangkrut. Satu-satunya cara untuk mendapatkan modal dengan cepat adalah dengan menjodohkan ku dengan seorang CEO yang bahkan aku sendiri tidak kenal seperti apa orangnya. Sedangkan aku cintanya cuma sama kamu."
"Aku sih mau aja membawamu pergi. Tapi apa kamu tidak takut di cap anak durhaka di hadapan tuhan?"
"Kenapa harus takut? Sedangkan ia sendiri yang menciptakan skenario seolah aku yang salah. Padahal kan katanya semuanya diatur oleh yang di atas. Aku kan cuma jadi pemerannya aja," Fitri berusaha meyakinkan kekasihnya itu.
"Tapi aku enggak punya harta yang cukup untuk membahagiakan kamu."
"Sejak kapan aku minta hartamu? Sejak kita bertemu sampai sekarang apa pernah aku menyinggung soal harta?" Fitri terlihat mulai marah .
__ADS_1
"Enggak pernah memang. Tapi kan sebagai lelaki aku harus...."
"Intinya mau enggak sekarang?" Nampaknya Fitri tidak ingin mendengar lebih banyak. Ia hanya ingin jawaban yang sesuai dengan maksud dan tujuannya.
Yusuf kalau ditanya mau apa enggak sudah pasti ia akan menjawab ia . Namun jika dipikir lebih jauh ia takut semuanya malah menjadi buruk dimasa depan. Kenapa sih harus ada jodoh-jodohan segala dimasa yang sudah masa modern gini? Menurut Yusuf, hal tersebut terasa sangat kuno.
"Mau.... aku mau mengajakmu pergi setelah kita resmi menikah. Aku akan membawamu ke dunia yang tidak berbeda dengan surga . Aku akan memberikan segala hal yang kau mau."
"Pasti mungkin. Kita sudah berjuang hingga saat ini. Aku enggak bakal menjadikan ini sebagai suatu yang sia-sia."
"Terserah mu aja. Ku kira kau bakal memberikan segalanya untukku. Tapi nyatanya..., lebih baik aku terima perjodohan itu saja," dari mukanya terlihat kekecewaan yang amat sangat. Perlahan tapi pasti, sosok dirinya semakin lama semakin pudar dari pandangannya Yusuf. Ingin rasanya mengejar tapi sayangnya kakinya terasa sangat susah untuk digerakkan. Ingin teriak juga percuma, suaranya tak bisa keluar saat ia berusaha untuk mengucapkan sepatah dua patah kata.
Yang bisa dilakukan hanya menangis sambil terus menyalahkan diri sendiri yang terlalu lemah saat berkaitan dengan asmara yang berada di ujung tanduk. Ingin rasanya jika nanti terlahir kembali ia akan menjadi sosok yang lebih baik dari dirinya yang sekarang. Ia terus menyalahkan dirinya yang ternyata adalah seorang pecundang.
__ADS_1
***
"Maling........... Maling................."
Sambil mengusap matanya yang ternyata berair setelah memimpikan sesuatu yang buruk ia mendengar suara orang-orang berteriak begitu. Ingin rasanya ikutan keluar mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kepalanya sangat sakit. Jadilah ia hanya membuka matanya saja saat orang-orang sibuk mencari maling di hari yang sudah mulai fajar .
Pikirannya terus tertuju kepada mimpi yang baru saja ia alami. Dengan mulut yang sesekali menguap ia terus memikirkan dirinya yang memang ia sadari adalah seorang pecundang. Ah, dia sebenarnya sudah dari lama merasa seperti itu.
Ia sebenarnya ingin menghilangkan sifatnya itu. Tapi bagaimana caranya ia tidak tahu. Lagipula kata orang-orang sekali pecundang selamanya akan menjadi pecundang. Tak ada sesuatu yang pantas untuknya selain kematian.
Sebenarnya kalau soal kematian Yusuf tidak takut lagi. Jika saatnya sudah tiba ia akan ikhlas meninggalkan dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang ia sayangi. Cuma kalau mati karena bunuh diri, ia tidak ingin. Ia tidak ingin segala yang dilakukan menjadi sia-sia.
Subuh belum juga datang saat orang-orang berhenti meneriaki maling. Yusuf sebenarnya tidak ingin tidur lagi, ia tidak ingin memimpikan sesuatu yang buruk lagi. Namun ternyata perlahan matanya mulai terpejam dengan sendirinya bagaimanapun ditahan. Di dalam kamar yang sepi, seorang manusia mulai bermimpi lagi.
__ADS_1