Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
19. Curhatan Yusuf


__ADS_3

Sore hari, Yusuf sedang memetik bunga mawar di samping rumahnya. Sesuai rencana, ia ingin ke makam. Sudah setengah tahun lamanya tak pergi kesana. Rasanya lama sekali sudah.


"Abang mau kemana? " Ilyas heran melihat Yusuf yang memakai baju koko sambil membawa beberapa kuntum bunga mawar.


"Ke makam. Aku dah pernah bilangkan mengenai keluargaku? Sekarang aku ingin menemui mereka."


"Aku boleh ikut?"


"Mungkin kapan-kapan. Untuk sekarang biar aku sendirian aja."


"Aku kan pingin ikut juga ."


"Aku lagi pingin sendirian," Yusuf tak ingin rencananya untuk protes kepada ayahnya terganggu. Itu adalah alasan utamanya ia menolak Ilyas untuk ikut dengannya.


"Ya udah deh."


***


Senja begitu indah di tempat pemakaman. Warna jingga yang tersebar merata itu rasanya sayang untuk dilewatkan . Yusuf segera menuju ke makam ayahnya. Sebelum menunaikan niatnya, ia mengirim doa terlebih dahulu .


"Pak, dah lama ya kita enggak ketemu. Maaf ya pak belum bisa menjadi yang bapak inginkan," sambil mencabuti rumput disekitar makam ia berkata seolah olah sedang mengobrol dengan seseorang.

__ADS_1


"Tadi beresin gudang. Di sana ada surat cerai. Padahal udah lama banget enggak suratnya keluar, tapi kok aku enggak diberi tahu? Aku juga kan penasaran juga. Lagian waktu itu kan aku udah SMA. Aku sudah cukup bisa menerima keadaan. Selama ada ada alasan yang logis aku bakal menerima apapun itu pak," Yusuf mulai menunaikan niat awalnya itu.


"Aku waktu itu enggak tahu harus ngomong apa waktu Febri terus nanyain keberadaan ibu. Aku enggak tahu harus gimana pas dia sakit terus memanggil nama ibu," Yusuf mengingat kembali ke masa yang telah berlalu sangat lama sekali . Ia kasihan sekali melihat keadaan adiknya saat itu. Masa-masa yang telah lalu itu terasa sangat berat sekali. Kadang ada masanya merasakan kehilangan yang amat sangat, rasa marah , dan sebagainya. Tapi ya ia harus kuat dihadapan Adiknya tercinta.


"Maaf ya pak, kali ini aku enggak setuju apapun alasannya bapak menyembunyikan semuanya. Aku merasa enggak berguna jadi anak karena hal itu," Yusuf melanjutkan curhatannya.


Mungkin bagi ayahnya dulu, tidak memberitahu adalah jalan terbaik. Tapi kalau Yusuf pikir, itu semua rasanya hanyalah sebuah keegoisan semata. Lagipula apakah salah jika ia tahu? Rasanya tidak. Yusuf tak mengerti jalan pikiran ayahnya dulu. Tapi semuanya sudah terjadi. Baik atau buruk hal itu, semuanya sudah berlalu. Ia jadi rindu dengan ibunya. Tapi ia sendiri tak tahu di mana keberadaannya sekarang.


"Maaf ya pak, udah ngomong yang enggak-enggak di makamnya bapak. Aku enggak pingin bapak sedih. Tapi aku enggak tahu harus ngomong ke siapa soal ini. Sekali lagi maaf ya pak. Aku mau mau ke tempanya Febri dulu."


Setelah menabur sebagian dari bunga yang ia bawa, Yusuf segera pergi ke makam adiknya tersayang . Makam yang sudah beberapa tahun itu rasanya masih terasa seperti baru seolah belum ia meninggalkan dunia . Yusuf segera duduk di makam itu dan segera mendoakan adiknya.


"Feb, enggak kerasa ya udah lama kau enggak ada. Aku kesepian banget enggak ada kau. Enggak ada yang bisa dijahili lagi. Enggak ada yang bisa disuruh-suruh kalau aku lagi males ngapa-ngapain," Yusuf mulai berbicara pada adiknya yang sudah tiada.


"Dia katanya pingin mati pas aku nolong dia. Yang paling parah dia curiga sama aku gara-gara takut diapa-apain. Aneh banget kan? Waktu denger dia ngomong kayak gitu aku sebel banget sebenarnya, tapi kasihan juga sama dia. Lumayan lah buat bantuin beresin rumah," dilanjutkan oleh Yusuf kata-katanya tadi.


"Dia katanya mau kerja dirumah makan besok. Dia nampaknya enggak pingin pulang kerumahnya lagi. Aku bingung sebenarnya. Aku takut melukai hatinya, lagipula saat ada dia di rumah rasa kayak aku punya Adek lagi. Ada saatnya aku pingin tinggal terus sama aku, tapi disini lain aku juga kasihan sama orangtuanya, walaupun gimanapun juga masa iya orangtuanya enggak cemas anaknya berhari-hari enggak pulang. Kalau kau bakal gimana?" usai mencabuti rumput disekitar makam itu, Yusuf berkata panjang lebar.


"Aku pulang dulu ya dek. Lain kali aku bakal kesini lagi. Doain aku ya dek biar aku bisa menikah sama pacarku yang satu ini. Aku udah enggak mau jadi petualang cinta lagi," Yusuf berkata sembari menaburkan bunga mawar yang ia bawa.


Yusuf pulang dengan hati yang sudah lumayan lega sekarang. Entah mengapa, setelah ia memprotes tindakan ayahnya, hatinya terasa lebih baik. Ia memang tak tahu dasar mengapa perceraian itu disembunyikan, yang jelas semuanya pasti punya dasar yang kuat.

__ADS_1


Langit yang semakin berwarna jingga itu menemani perjalanan pulangnya. Ia harap cerahnya mentari sore akan membawa pertanda baik bagi dirinya. Ia berharap apa yang jadi niatnya untuk menikah kelak akan terwujud sesegera mungkin.


***


"Mau makan apa malam ini?" Saat sudah sampai dirumahnya, Yusuf segera menawarkan makanan untuk makan malamnya kepada Ilyas .


"Aku terserah sih," jawab Ilyas singkat.


"Terserah ya? Gimana kalau kita masak ular yang tadi di gudang?" Yusuf menggoda Ilyas yang lari ketakutan saat bertemu dengan ular tadi .


"Ya terserah kan bukan berarti ular. Enggak kebayang bakal gimana rasanya," ekspresinya saat berbicara seperti orang yang jijik akan sesuatu.


"Katanya orang orang enak banget rasanya. Kadang aku jadi kepikiran buat masak ular," Yusuf ingin melihat muka merah padamnya Ilyas yang jelas terlihat saat ia berlari sekuat tenaganya tadi.


"Aku lebih baik puasa seminggu full siang malam daripada harus makan daging ular," jawab Yusuf .


"Yakin nih bakal puasa siang malam selama seminggu?"


"Terserah Abang aja deh. Ngeselin kali lho," Ilyas segera masuk ke kamarnya setelah berkata begitu. Entah kenapa, ada rasa puas yang amat sangat saat melihat ekspresinya Ilyas tadi.


Sebenarnya malam ini ia ingin mengajak Ilyas makan diluar . Entah kenapa, tiba-tiba kepikiran aja saat dalam perjalanan pulang dari makam. Tapi sebelum ia mengajak Ilyas, ia ingin membuatnya marah dulu. Dan sekarang rencana telah berhasil dengan sempurna. Persis seperti apa yang ia pikirkan tadi. Bahkan lebih dari ekspektasinya .

__ADS_1


Daripada memikirkan soal Ilyas yang ngambek, Yusuf lebih memikirkan akan dimana makan berdua bersamanya. Hal ini ia lakukan sebagai ucapan selamat karena Ilyas diterima bekerja. Walaupun ia agak khawatir tapi disatu sisi ia merasa senang juga, apalagi saat melihat senyuman orang yang membangunkannya saat sedang asik tidur tadi.


__ADS_2