
"Dia siapa Yas? Kok kayaknya aneh banget gitu," Hasan saat ada kesempatan untuk berbicara dengan Ilyas langsung bertanya.
"Dia Abang ku. Ya walaupun sebenarnya tidak ada hubungan darah sama dia sih."
"Abang tiri?"
"Lebih ke Abang ketemu dijalan aja."
"Maksudnya gimana coba? Aku kok enggak ngerti?"
"Susah ngejelasinnya. Lagian masalah ini bukan urusanmu. Ngapain juga kau pusing-pusing," Ilyas sedang malas menceritakan mengenai dirinya yang kabur dari rumah .
"Ya udah deh," dia kemudian pergi seakan paham bahwa Ilyas tidak ingin masalah pribadinya diketahui orang lain termasuk dirinya. Lagipula menurutnya setiap orang butuh juga yang namanya privasi.
***
"Kenapa bang?" Saat teleponnya berbunyi ia langsung berkata begitu tanpa basa-basi.
"Maaf ya soal tadi. Aku enggak ada maksud untuk membuatmu malu tapi ya memang tadi yang ku lakukan cuma membuat kau mau."
"Enggak masalah. Ada apa sih bang kok jadi orang aneh gitu," Ilyas masih penasaran dengan apa yang terjadi.
"Gimana ya ngomongnya....."
"Ngomong aja, daripada aku mati penasaran disini ."
__ADS_1
"Tadi itu ada telpon masuk dari nomor tak di kenal. Suaranya itu persis banget kayak kau. Katanya kau kecelakaan gitu terus dia sambil kesakitan minta tolong ke aku. Pokoknya suaranya menyakinkan banget. Aku bahkan nyampe gak bisa mikir apa-apa lagi. Yang aku pikir itu kamu makanya aku berusaha memastikan dan ternyata......"
"Bukan aku kan?"
"Maaf ya udah buat kau malu. Lain kali aku enggak bakal ngulang deh."
"Santai aja. Lagian ini juga bukan yang pertama. Jangan terlalu cemas bisa kan?"
"Sebenarnya bisa. Tapi ya namanya Abang kan wajar kalau khawatir sama abangnya. Ya walaupun kita enggak ada hubungan sebelumnya tapi aku udah menganggap kamu adikku."
"Ya kan nomorku yang ku pakai udah ku kasih...."
"Ceritanya enggak mau maafin nih?"
"Maafin kok. Tapi lain kali jangan terlalu lebay lah. Aku juga bukan anak kecil yang harus dikhawatirkan terus."
Telepon mati.
***
Riski yang sedang mencuci piring terlihat nampak melamun. Hari ini menurut perhitungannya adalah hari dimana tepat dua tahun lalu ia merasakan hal paling menyedihkan sepanjang hidup. Hari ini adalah hari dimana ayahnya d tangkap polisi karena terjerat sebuah kasus.
Rasanya dunia hampir runtuh saat keesokan hari saat ia berangkat ke sekolah sebagian dari temannya yang tahu mengenai hal itu mengejeknya dengan perkataan yang begitu menyakitkan. Padahal mereka sebelumnya adalah orang yang selalu mendekatinya dengan berbagai macam tujuan.
Puncak terberat dari semuanya adalah ia terpaksa pindah ke rumah yang sekarang ia tempati karena rumahnya disita. Setelah itu beberapa hari ibunya meninggalkannya tanpa penjelasan apapun. Rasanya saat itu ingin mati saja, ingin rasanya bertemu dengan dan kemudian menumpahkan segalanya dihadapannya.
__ADS_1
Dia tak paham dengan isi kepala Ibunya itu. Mungkin saja ia tak terbiasa hidup susah sehingga lari dari kenyataan kemudian menjerat pria yang mau menerima dirinya. Tapi itu cuma perkiraan saja karena ia benar-benar kehilangan jejaknya.
Setelah semua itu ia akhirnya benar-benar berhenti dari sekolahnya karena tidak ada biaya lagi ditambah ia sudah tidak tahan dengan omongan yang menyakitkan hati. Ia akhirnya bekerja disebuah rumah makan dengan menyimpan rahasia masa lalunya. Ia takut akan mendapatkan perlakuan yang sama jika mereka mengetahuinya.
Biarpun di rahasiakan, ternyata ada beberapa orang yang tahu termasuk Hasan. Ia sebenarnya mendengar saat Hasan mengatakan mengenai dirinya itu kepada Ilyas, cuma dia berpura-pura saja tidak tahu. Lebih baik begitu daripada keceplosan.
Sebenarnya kadang ia ingin menceritakan masalah ini, tapi rasa sakit yang pernah ia terima membuatnya enggan. Ia tahu Hasan orang yang penuh perhatian padanya , tapi setiap kali ingin jujur lidahnya terasa kaku. Riski tidak mempermasalahkan lidahnya yang kaku saat ingin mengatakan hal itu, lagipula hal semacam itu tidak wajib diceritakan kepada orang lain.
Belakangan ini, entah kenapa ia selalu memimpikan saat hidupnya masih terlihat tanpa masalah yang berarti dulu. Hidup kecukupan, keluarga yang sangat menyayanginya, sebuah keluarga yang benar-benar diimpikan oleh setiap orang.
Sialnya, setiap kali bermimpi begitu pasti keringat memenuhi sekujur tubuhnya ditambah dia pasti tidak bisa tidur. Masa lalu memang selalu bisa membuat sebuah ironi jika dibanding kehidupan yang sekarang. Ingin rasanya amnesia saja. Dia tidak ingin hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang terasa manis. Dia ingin melupakan segala yang bukan menjadi miliknya lagi.
***
Yusuf setelah menelpon Ilyas masih merasa bersalah. Dia benar, nomor telepon yang dipakai oleh Ilyas itu harusnya ia hubungi dulu. Betapa kini ia sedang menyesali kebodohannya itu. Entah kenapa , kalau sudah menyangkut urusan dengan Ilyas ia tak bisa berpikir dengan benar. Ia selalu terngiang-ngiang bau darah yang ditinggalkan adik kandung saat ia melihat di rumah sakit beberapa tahun lalu. Ia masih belum bisa lupa hari itu.
Padahal harusnya keesokan harinya ia dan adiknya itu melaksanakan rencana mereka untuk menonton film yang hari itu tayang. Wajar saja, karena adiknya sangat menyukai film tersebut saat masih berbentuk komik. Ia bahkan mengoleksi komiknya secara lengkap. Karena Yusuf kurang suka membaca komik , ia akhirnya menyumbangkan kepada yang membutuhkan daripada rusak. Sedangkan bajunya adiknya masih rapi tersimpan. Entah kenapa rasanya tidak rela untuk melepasnya begitu saja .
Saat menolong Ilyas waktu itu, sebenarnya ia teringat kembali kepada adiknya. Walaupun sifat mereka berbeda, entah mengapa rasanya ia menemukan sosok adiknya tercinta. Mungkin itu alasan mengapa akhirnya ia menolong bahkan mengizinkannya tinggal bersama bahkan memakai baju adiknya. Walaupun sebenarnya ia sangat sebal dengannya karena dia bakal ngelakuin hal yang aneh ke dirinya. Tapi tetap saja rasa adiknya yang telah lama tiada akhirnya kembali lagi dengan sosok yang berbeda.
***
Riski nanti setelah pulang berencana ingin menemui ayahnya yang masih ditahan. Sudah lama rasanya ia tidak menemui ayahnya itu. Mungkin sekitar dua bulan yang lalu terakhir kali ia menjenguk. Sebenarnya lebih bagus kalau hampir setiap hari ia mampir ke sana. Tapi Ayahnya yang meminta untuk tidak sering menemuinya jika sering di jenguk ia berkata tak kan menemuinya lagi. Karena alasan itulah Riski hanya sesekali datang.
Dia merasa ayahnya masih merasa bersalah dengan semua yang terjadi . Hampir setiap kali melihat Riski mengunjunginya ia meminta maaf. Sesuatu yang menurut Riski tidak perlu karena semuanya adalah permainan takdir. Tak ada yang salah dan benar dalam hal ini. Walaupun awalnya ia juga depresi, tapi ia akhirnya bisa juga menerima keadaan dan terus melangkah maju . Baginya yang lalu biar berlalu, diharapkan untuk kembali lagi juga sudah tak mungkin lagi .
__ADS_1
Yang penting dimasa depan ia harap peristiwa yang pernah merenggut segala yang pernah ia punya tidak terjadi lagi. Ia ingin hidup tenang dimasa depan. Ia tak ingin anaknya kelak mengulangi hal yang sama dengannya. Untuk itulah ia ingin terus hidup walaupun badai yang sangat dahsyat pernah menimpanya tanpa ampun.