Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
53. Pertemuan


__ADS_3

Saat melewati sebuah taman, di salah satu bangku yang kosong Yusuf duduk. Seingatnya di sana ia pernah beberapa kali melewatkan waktu berdua dengan Fitri. Rasanya sudah lama ya, terakhir kali seingatnya mereka berdua menghabiskan waktu dengan makan es krim disana.


Waktu itu suasana taman sepi, hanya ada beberapa orang saja. Yusuf tidak tahu kenapa, yang jelas suasana saat itu nampaknya mendukung untuk melakukan hal yang romantis . Kalau ramai sebenarnya bisa saja, tapi nampaknya agak gimana juga mau melakukannya.


Saat melihat kondisi taman yang sepi seperti itu, sempat terlintas dipikiran Yusuf untuk mencium kekasihnya yang masih asyik menjilati es krim yang ia pegang itu. Saat hendak mengatakan niatnya, seingat Yusuf ia tak bisa mengatakannya. Masalahnya dia cuma pacar, andai istri udah di caplok sampai menggelinjang kenikmatan.


"Bang, bisa kan? Maunya ketemu dimana?" Yusuf saat duduk di bangku yang menurutnya penuh kenangan itu langsung menelpon Abangnya Fitri.


"Kau dimana sekarang? Kita ketemu di rumah makan yang lagi viral . Tau kan tempatnya?"


"Aku lagi di taman. Aku enggak tahu rumah makan yang dimaksud Abang."


"Ya udah. Nanti ku kirim lokasinya."


"Siap bang ," Telepon langsung mati. Tadi sebelum pergi Yusuf menelpon Abangnya Fitri. Bagaimanapun ia ingin menceritakan masalah ini kepada dirinya. Sebenarnya banyak orang yang bisa dijadikan tempat cerita tapi ia lebih memilih calon Abang ipar karena menurutnya dia bisa lebih memahami bagaimana perasaannya dibandingkan dengan orang lain. Sebelumnya dia sempat menelpon tapi jawabannya masih kurang jelas, jadilah dia menelpon lagi untuk memastikannya.


***


Sambil menghela nafas panjang ia sampai juga ditempat yang disepakati. Lumayan ramai tempatnya, sebenarnya Yusuf tidak mengerti kenapa tempat itu ramai padahal menurutnya tempat itu biasa saja, mungkin makanannya? tapi entahlah.

__ADS_1


"Tunggu bentar aku baru mau berangkat," saat dikabari oleh Yusuf, abangnya Fitri hanya mengatakan begitu. Sebenarnya agak menjengkelkan juga, tapi mau bagaimana lagi. Yang bisa dilakukannya hanya menunggu dan menunggu.


Hampir satu jam lamanya, akhirnya yang ditunggu telah tiba. Yusuf akhirnya benar-benar bernafas lega. Ia harap ia akan mendapatkan solusi terbaik . Sebenarnya ia agak kurang nyaman menunggu disana karena banyak pasangan yang sedang berkencan disana. Kalau disuruh milih ia lebih suka tempat yang lebih sepi , tapi ia sudah sepakat lagi pula ia sudah terlanjur berada disana.


"Ada apa tumben kali ngajakin aku ketemuan? Enggak salah ngajak ?" Sambil duduk abangnya Fitri berkata begitu.


"Enggak. Aku tadinya pingin ngajak Fitri sih, cuma kan sesekali ngajak calon Abang ipar. Biar bisa cepat dapet restu ."


"Mau nyogok ceritanya? " nada bicaranya terdengar santai.


"Enggak. Cuma kan biar deket aja. Emangnya enggak boleh?"


"Mau minum apa?"


"Kopi aja satu."


"Bentar ya ku pesankan dulu," setelah berkata Yusuf langsung memesan apa yang diminta oleh abangnya Fitri itu.


"Tunggu bentar ya bang. Sebentar lagi pesanannya sampai."

__ADS_1


"Ya, oh ya tumben kali ngajakin aku pergi. Enggak mungkin dong kalau cuma pingin ketemu aku. Pasti ada apa-apanya."


"Enggak sih, cuma aku bingung. Di satu sini aku pingin banget lanjut sama Fitri, tapi di satu sisi aku mikirnya kok kayak enggak mungkin gitu bisa melangkah lebih jauh lagi dengannya. Aku bingung harus gimana," akhirnya Yusuf mengungkapkan isi hatinya.


"Kalau itu sih terserah mu. Aku dulu pernah bilang untuk menjauh tapi kau enggak mau. Mau kayak mana kedepannya ya terima aja, udah resiko."


"Aku takut banget enggak dapet restu."


"Kalau aku sih tergantung Fitri. Entah kalau orangtuaku. Tapi kayaknya mereka udah punya calon sendiri sih buat Fitri."


"Seriusan? Jadi Fitri bakal dijodohkan?"


"Kan aku bilang kayaknya. Tapi ya belum tentu juga. Aku dengar calonnya itu punya beberapa perusahaan. Mana masih muda pula."


"Kayaknya sainganku berat. Bisa enggak ya?"


"Tergantung usahamu. Kalau kau lebih menyakinkan mungkin kamu yang bakal jadi adik ipar ku. Intinya semua tergantung kamu."


Yusuf diam, kalau saingannya punya banyak perusahaan apalah dirinya yang hanya pegawai kantor biasa. Kok gini banget ya jadinya. Pingin rasanya sat set sat set langsung nikah seperti orang-orang di tv. Sepertinya enak sekali , tapi wajar mereka dapat yang setara dengan dia. Andai aja jadi orang kaya juga, sudah perlu tak ada saingan dalam mencari jodoh.

__ADS_1


Ternyata alasan untuk terus bertahan selama dua tahun itu salah kaprah. Andai waktu bisa diputar, dijilat terus dicelupin, pasti tak kan ada perasaan menyesal karena telah melakukan sesuatu yang salah. Setelah mendengar bahwa apa yang ia impikan semalam itu mendekati benar, pilihannya cuma satu . Andai Fitri bukan dari golongan orang kaya pasti lebih mudah untuk menggapainya. Tapi ya nasib tak bisa diubah seenaknya. Untuk sedikit meredam rasa kecewa Yusuf langsung meminum segelas minuman yang ia pesannya tadi.


__ADS_2