
"Hari ini Riski enggak masuk? tumben kali dia enggak masuk," saat mendengar berita itu Ilyas berkomentar. Sepertinya ini baru pertama kali ia meliburkan diri sejak awal mereka mereka bertemu.
"Katanya ada sesuatu hal yang sangat penting untuknya. Jadi dia memutuskan untuk libur hari ini."
"Kira-kira hal penting itu apa ya? Aku jadi kepo."
"Enggak usah kepo. Enggak semua urusan kau tahu ."
"Iya tahu. Ya udah, aku mau manggang dulu," Ilyas segera bersiap untuk memanggang ikan dan ayam yang merupakan menu andalan di rumah makan tempatnya kerja.
Sambil memanggang, tangannya memegang lato-lato yang ia beli kemarin lusa. Sebenarnya baru kali ini ia membawanya ke tempat kerja. Biasanya dia main dirumahnya sendirian, lumayan buat melawan sepi karena di rumah ia tinggal sendirian.
Di rumah , ia biasa memainkannya setelah pulang kerja. Kadang juga tengah malam kalau sedang tak bisa tidur ia melakukan hal yang sama. Di rumah dia sendirian, mau kapanpun juga tidak akan ada yang memprotesnya gara-gara lato-lato. Karena ketagihan main, makanya ia bawa ke tempat kerjanya .
__ADS_1
Walaupun takut kena marah, tapi ia tak peduli. Entah mengapa rasanya ia tak bisa lepas dari mainannya itu. Kalau dibilang kekanakan , dia memang belum dewasa. Umurnya juga belum cukup untuk membuat KTP.
***
"Dah siap belum Bu? Jangan gitu dong, mentang-mentang dah lama enggak ketemu jadi kayak gitu . Padahal dulu pernah dekat kan?" Risky berkata kepada ibunya yang terlihat seperti enggan , tapi sepertinya ia terpaksa.
"Dengan bertemu dengan ayah setidaknya ada sesuatu yang bisa diperbaiki dari kesalahan yang pernah terjadi," kata Risky lagi. Ia nampak sudah bersiap-siap untuk pergi. Ibunya juga sudah terlihat rapi.
"Kira-kira ayahmu masih mau enggak ya bicara sama ibu, secara ibu kan udah pernah......"
Mereka akhirnya pergi berdua ketempat dimana ayahnya sedang berada dipenjara. Ibunya selama dalam perjalanan rasa didalam hatinya terus bercampur aduk. Entah mengapa kali ini rasanya canggung sekali dibandingkan saat terakhir kali bertemu. Waktu itu bahkan dengan sangat percaya dirinya ia meminta cerai kepada orang yang pernah menjadi raja di dalam hidupnya.
Ia mengikuti Risky masuk hingga tiba di penjara dimana mantan suaminya itu sedang berada. Setelah mendapat izin untuk besuk, mereka bertemu. Risky kemudian meninggalkan mereka berdua untuk memberi kesempatan agar bisa mengobrol. Dia tak ingin memberi waktu untuk orang tuanya yang sudah lama sekali tidak berbicara satu sama lain.
__ADS_1
Walaupun dulu pernah menjalin hubungan, namun hal itu ternyata tidak bisa mencairkan suasana. Bahkan untuk saling menatap rasanya juga tidak, tak ada obrolan , yang ada hanya keheningan saja hingga waktu besuk habis.
***
"Kau itu main apa sih? berisik tau enggak? Kayak bocil aja, siang sore malam dengerin suara itu terus!" Hasan yang mendengar suara lato-lato itu langsung teriak protes.
"Enggak bisa berhenti nih."
"Ku potong juga tanganmu biar berhenti."
"Sadis banget ngomongnya,", Ilyas kemudian menghentikan bermain lato-lato.
"Mumpung aku megang pisau nih. Lagian juga ini waktunya kerja bukan main-main kayak gitu."
__ADS_1
"Enggak lagi-lagi deh."
"Awas aja kalau diulangi."