
Riski masuk ke dapur dengan membawa dua plastik besar berisi bumbu-bumbu yang memang dibutuhkan oleh rumah makan. Bawang merah, bawang putih, cabe rawit dan lainnya komplit. Sepertinya dia sudah paham dengan hal itu .
Begitu melihat bawang merah yang ukurannya besar matanya Ilyas terus saja tertuju kesitu. Ukurannya yang menggoda sungguh menarik perhatiannya. Pasti kalau mengupas bawang yang ukurannya segitu tidak terlalu lama. Tidak seperti bawang merah yang harus dikupas olehnya sekarang. Kecil-kecil, lama banget . Mana matanya perih banget lagi. Bener-bener cobaan banget lah pokoknya.
"Udah makan Yas?" saat menaruh barang belanjaan ditempatnya, Riski bertanya kepada Ilyas yang sedang mengupas bawang merah.
"Udah tadi bareng Hasan. "
"Ya udah kalau gitu," Riski menjawab dengan santai kemudian dia pergi ke depan untuk mengambil makanan.
***
Setelah setengah hari melanglang buana , Yusuf merasa lelah juga walaupun sudah makan. Setelah sholat, Yusuf segera pulang ke rumah. Walaupun begitu, ada kepuasan batin tersendiri.
Esok ia akan bekerja untuk mengganti hari ini . Semangatnya sudah terisi penuh kembali. Walaupun mungkin nantinya akan ada saatnya ia terjatuh kembali, yang terpenting adalah hari ini. Ia bersyukur masih bisa menghirup udara yang terasa lebih lembut hari ini.
Sesampainya di rumah, ia langsung menuju ke kamar dan langsung membanting tubuhnya ke kasur. Tak lama kemudian ia langsung tertidur. Rasanya benar-benar mantap sekali untuk hari ini .
Bunyi telpon berdering cukup keras. Suaranya terdengar memenuhi ruangan beberapa saat setelah ia tertidur. Sebenarnya ia mendengar, tapi rasanya berat sekali untuk mengambil telponnya. Tak peduli dengan apapun, ia tidur dengan pulas.
***
"Angkat napa Suf. Gitu kalinya kau sama aku. Sebenarnya kau masih cinta enggak sih sama aku?" Sambil cemberut Fitri berkata sendirian setelah telponnya tidak diangkat oleh pacarnya itu.
"Kenapa sih kau kayak enggak peduli sama aku lagi? Cuma ngangkat telpon aja enggak mau," dia masih mengomel sendirian.
Rasanya sangat menyebalkan sekali saat menelpon orang yang kita sukai saat ingin mengatakan sesuatu apalagi kalau sedang ingin sekali diperhatikan. Kalau membunuh bukan sebuah kejahatan sepertinya tindakan itu terasa harus dilakukan. Begitulah yang dirasakan oleh Fitri. Daripada ambil pusing memikirkan hal-hal negatif, Fitri lebih memilih tidur saja walaupun sebenarnya tidak bisa memejamkan mata. Entah kenapa, sekeras apapun usaha yang dilakukannya ia tidak bisa melakukannya.
Tok tok tok
Saat ia sedang berusaha memejamkan mata terdengar suara ketukan pintu dan tak lama kemudian seseorang muncul dari balik pintu. Setelah diperhatikan dengan baik ternyata Abangnya. Tumben sekali ia masuk ke kamarnya Fitri. Biasanya ia hanya bicara saja tanpa membuka pintunya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Fitri menanyakan maksud dan tujuan abangnya.
"Hmmm..., " Ada sedikit keraguan saat Abangnya hendak menjawab. Sepertinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan.
"Masakin aku lah. Lapar kali aku enggak ada makanan," katanya kemudian. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tak jadi terucap.
"Mau dimasakin apa?"
"Terserah. Yang penting bisa di makan," setelah berkata Abangnya langsung meninggalkannya sendirian.
Fitri segera ke dapur. Sebenarnya ia bingung mau masak apa. Paling gampang sih masak mie, tapi kalau cuma begituan tidak perlu repot-repot abangnya meminta untuk itu. Tanpa disuruh pun bakal ia lakukan sendiri.
Ia akhirnya mengupas kentang. Menggoreng kemudian mencampurkan dengan balado . Aroma lezat makanan menyebar di seluruh ruangan.
"Pedes kali . Aku bakal sakit perut enggak ya setelah ini ?" Setelah menyendok makanan ke mulutnya, abangnya itu berkomentar.
"Masa sih?"
"Iya juga. Padahal tadi aku masak buatku sendiri rasanya enggak se pedas ini," Fitri yang penasaran mencobanya dan mengakui
kebenaran ucapan yang terlontar dari mulut abangnya. Ia tak tahu mengapa kentang balado yang ia masak rasanya tiga kali lebih pedas dari yang ia buat tadi? Mungkin efek kesal dengan Yusuf yang tidak menjawab telponnya tadi sehingga rasanya jadi begini.
***
"Gimana kerja disini? Kira-kira bakal betah kan?" Riski bertanya sambil membantu pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Ilyas.
"Enggak tahu juga sih. Tapi kemarin katanya kerjanya mengupas bumbu sama marut kelapa . Tapi hari ini banyak sekali yang harus kulakukan hari ini," Ilyas menjawab sambil mengeluarkan isi pikirannya saat itu.
"Mungkin aja bos lupa ngomong. Kadang-kadang orangnya memang gitu, tapi aslinya dia baik sih," Riski memberi penjelasan.
"Pokoknya kalau ada kerjaan disini, kerjain aja. Mungkin sekarang kamu tidak menyadari, tapi suatu saat itu akan menjadi sesuatu yang berguna untukmu," Riski melanjutkan lagi perkataannya.
__ADS_1
Ilyas terdiam , memang benar ucapan yang baru ia dengar . Entah jadi apa kelak, pasti yang ia pelajari saat bekerja disini akan sangat membantu dimasa depan.
"Maaf ya. Malah ngeluh ke kamu. Seharusnya aku tidak berkata kayak tadi. Sekali kali maaf ya," dengan tulus Ilyas berkata.
"Ngeluh apanya? Ngapain juga minta maaf? Kamu enggak salah . Daripada ngomongin ginian mending kita sholat dulu."
***
"Maaf ya bang. Aku enggak bermaksud membuatmu kepedasan," Fitri merasa bersalah saat tahu makanannya terlalu pedas.
"Enggak apa. Santai saja, tetap bakal ku habiskan kok," biar terlihat keren saja nampaknya dia berkata begitu , padahal aslinya dia tidak ingin memakan lebih banyak lagi . Untung aja enggak banyak.
"Tumben hari ini Abang pulangnya cepat sekali . "
"Pingin aja. Ingin sesekali lebih banyak waktu sama kamu. Waktu di rumah sakit kan aku juga cuma sesekali melihatmu. Padahal kita ini kakak adik . Hari ini kau ada acara ? Kalau enggak ke kebun binatang kita. Pingin lihat orang utan lagi. Dah lama juga kita enggak pergi bareng, kan?" Sebuah ajakan yang menarik keluar dari mulut abangnya.
"Kapan kita pergi ?" Daripada pusing memikirkan pacarnya, ia mengiyakan ajakan abangnya.
***
Suara ribut dari luar membangunkan Yusuf yang sedang tertidur pulas. Ternyata penyebabnya adalah sebuah kebakaran terjadi tepat didepan rumahnya. Begitu melihatnya, ia langsung keluar untuk membantu memadamkan api bersama para warga sambil menunggu pemadam kebakaran tiba.
Diduga akibat korsleting listrik kebakaran itu terjadi. Api menyebar begitu cepat . Untung saja tidak ada korban jiwa. Pemadam kebakaran yang baru tiba langsung berusaha memadamkan api . Tak berapa lama api akhirnya bisa padam juga.
Yusuf melihat sepasang suami istri sedang memandang memandang rumah mereka yang hancur setelah api padam . Pandangan mereka terlihat memprihatinkan. Tapi bagaimanapun juga mereka harus merelakan sesuatu yang tak diharapkan. Musibah kapanpun bisa terjadi. Apapun bentuknya mau tak mau memang harus mau.
Yusuf melihat, banyak sekali orang yang sedang menghibur dia dengan berbagai macam kata-kata penghiburan yang sebenarnya tidak penting. Tapi ya setidaknya mereka telah berusaha. Yusuf ingin juga melakukannya, tapi enggan ia perbuat .
Ia ingin membantu mereka dengan cara yang lain. Seperti menawarkan tinggal bersamanya untuk sementara. Lagipula mereka butuh tempat bernaung sementara.
"Terima kasih ya sudah menawarkan tempat tinggal sementara. Tapi mungkin kami akan tinggal sementara ditempat saudara kami. Kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh juga dari sini," Saat Yusuf mengatakan niatnya untuk menawarkan mereka sementara tinggal dirumahnya pasangan itu menolak dengan halus. Yusuf tidak memaksa. Kalau itu yang terbaik untuk mereka ia tidak keberatan.
__ADS_1