Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
37. Yang Tak Diinginkan


__ADS_3

"Aku boleh minta nomormu?" Saat sedang beristirahat makan siang Ilyas menanyakan hal itu kepada Hasan . Kebetulan Riski sedang ke warung.


"Boleh, tapi ya nunggu aku selesai makan dulu ya ," Hasan yang sedang asyik makan nampaknya tidak mau terganggu.


"Riski kemana?"


"Tadi bilangnya mau ke warung. Yang kau bilang soal keluarganya Riski kemarin itu bukan hoax kan?"


"Enggaklah. Untuk apa nyebar berita enggak bener. Aku sebenarnya enggak pingin cerita kayak gitu. Cuma antisipasi daripada nanti dia sedih. Aku enggak pingin lihat dia sedih lagi. "


"Udah berapa tahun sih kenal sama Riski?"


"Baru sekitar setahun ini kayaknya. Waktu itu masuknya duluan dia."


"Tau tentang keluarganya Riski darimana kau?"

__ADS_1


"Waktu itu aku diajak main sama Riski. Cuma ya dia ngajak temannya yang lain . Dari temannya aku dapet informasi itu. Walaupun terlihat ceria kayak enggak ada masalah ternyata dia menyembunyikan kepahitan semacam itu ," setelah berkata, Hasan menyendokkan nasi ke mulutnya .


"Enggak kebayang gimana perasaannya waktu itu. Kalau aku jadi dia aku pasti enggak sanggup," setelah makanan yang berada di mulutnya tak bersisa ia berkata lagi.


Ilyas jadi membayangkan, saat dimana Riski mengalami situasi semacam itu. Pasti akan sangat berat baginya. Dia termasuk hebat, kalau orang lain pasti mungkin tidak sekuat dirinya. Bahkan mungkin jika diposisi yang sama ada saja yang pasti akan bunuh diri.


"Kau mau enggak kalau diajak nongkrong? Sekalian nambah kenalan , kali aja bisa jadi kawan baik," makanan yang di piringnya sudah habis. Sebelum menaruh piring ditempat cucian piring Hasan berkata lagi.


"Tergantung juga orangnya. Kalau menyesatkan mending enggak," jawab Ilyas.


"Enggak lah. Rombonganku orang baik-baik. Jeleknya paling karena kadang iseng aja godain cewek. Selain itu enggak ada hal menyesatkan yang kami lakukan."


"Ada enaknya ada juga enggaknya. Apalagi namanya pembeli kan macem-macem orangnya tapi enggak terlalu masalah sih. Soalnya aku juga suka ketemu sama banyak orang. Mereka punya keunikan tersendiri. Yang paling aku suka kalau didepan aku bisa ngelihat banyak keluarga lagi makan bareng. Rasanya kayaknya mantap banget. Aku kadang jadi pingin punya keluarga kecil sendiri seperti mereka. Tapi ya umurnya belum cukup. Buat KTP aja belum bisa."


"Lah emang keluarganya kemana?"

__ADS_1


"Maksudnya keluarga kecil . Gimana ya menjelaskannya, pokoknya nanti kau pasti bakal ngerti sendirilah. Hmmmm, Ngomong-ngomong kau betah kerja disini?"


"Sampai sekarang betah. Aku suka seniornya baik banget sama aku . "


"Ah, aku jadi tersanjung. Oh ya, kalau lihat aku sana Riski berdebat maklumin aja ya. Memang sih kedengarannya kurang enak, tapi itu udah jadi kebiasaan. Aslinya kami ini kawan baik ."


"Boleh nanya enggak? Sebelum aku siapa yang bertugas memanggang?"


"Kenapa rupanya?"


"Pingin tahu aja."


"Namanya Ferdi , dia keluar katanya ingin merantau. Orangnya tertutup banget, cuma ya kalau lagi terbuka orangnya asyik."


"Kira-kira merantau kemana?".

__ADS_1


"Entah . Aku duluan ya, dah kelamaan disini soalnya. Nanti lagi disambung," Hasan segera pergi ke depan. Ia lupa untuk memberikan nomor teleponnya seperti yang ia bilang tadi.


Ilyas duduk sendirian setelah Hasan pergi. Didepannya sudah menunggu bermacam-macam bumbu yang harus ia kupas. Sudah hampir seperempatnya, tapi rasanya masih terlalu banyak . Ia ingin cepat selesai agar ia bisa secepatnya bisa main HP tanpa perlu memikirkan apapun lagi.


__ADS_2