Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
48.Setelah Konser Usai


__ADS_3

Setengah jam berlalu sejak konser itu berlangsung. Entah kenapa rasanya pingin kabur aja. Yusuf sana sekali tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Andai aja bukan karena pacarnya, sudah pasti dia tidak mau.


Didepan pacarnya, ia tetap berusaha untuk menikmatinya. Waktu terasa lama sekali, di dalam kemeriahan acara Yusuf merasa waktu baginya telah berhenti. Di tak tahu kenapa , yang jelas itulah yang dirasakannya.


Dilihatnya Fitri yang sedang asyik sendiri bernyanyi . Terlihat senyum menghiasi bibirnya yang indah itu. Walaupun kurang menikmati, melihatnya tersenyum saja sudah membuat Yusuf bahagia. Malam ini nampaknya tidak akan berjalan seperti yang ia bayangkan, tapi ia tetap senang melihat pujaan hatinya bahagia.


Satu jam berlalu, sedikit banyaknya ia akhirnya bisa menikmati pertunjukan musik yang dibawakan. Dipikir-pikir lumayan juga musiknya. Perlahan tapi pasti ia akhirnya larut juga dalam konser itu. Lain kali ia mungkin akan akan mengikuti konsernya lagi lagi jika ada kesempatan, begitulah yang ia pikirkan.


Konser akhirnya bubar setelah dua jam lebih berjalan. Waktu yang tadi berasa lama sekali entah kenapa jadi tidak berasa. Memang ini aneh, tapi itulah yang dirasakan. Malam itu ia puas melihat senyum Fitri yang terlihat sangat lebar.


***


"Makasih ya untuk malam ini. Ini bukan yang terakhir kan?" Saat makan di sebuah warung, Fitri mengucapkan kalimat yang terasa sangat menyesakkan.


"Enggak. Aku harap enggak . Aku ingin terus bisa bareng kau. "


"Terus kenapa dari kemarin enggak ada kabar? Minimal SMS gitu atau telpon. Ini enggak ada sama sekali . Aku kan pingin," selesai menyuap nasi Fitri langsung meluapkan segala isi hatinya.

__ADS_1


"Aku pingin kau fokus dulu sama kesehatanmu. Dah lama masuk rumah sakit aku kira saat keluar kamu butuh ruang sendiri untuk menikmati hidup yang pernah tidak kamu rasakan."


"Aku kan butuh kamu juga. Enggak kasihan apa sama aku ," mukanya Fitri terlihat cemberut.


"Aku janji, mulai besok aku akan terus memberikan kabar. Aku bakal terus menghubungimu ."


"Janji ya?" terlihat Fitri mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil.


"Iya janji," Yusuf menyambut jari itu dengan menautkan jari kelingkingnya . Dua jari mungil itu saling bertaut tanda mereka berjanji akan suatu hal .


"Untuk apa juga aku melanggar? Enggak ada gunanya juga."


Yusuf diam, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Tapi apa tepat ia mengatakan hal itu sekarang? Rasanya kok keraguan dihatinya jadi makin meluas ya? Yusuf benci sifatnya itu, tapi ia tidak bisa menghilangkannya. Benar-benar menyedihkan, begitu katanya dalam hati saat mengingat akan dirinya sendiri.


"Oh ya, di sekitar sini ada pasar malam enggak ya? Aku kangen main-main di pasar malam berdua. Dah lama banget kan kita enggak main di pasar malam?" Yusuf berusaha mencari topik yang lain. Ia tidak ingin memperkeruh suasana.


"Dah jam segini. Emangnya ada yang buka?"

__ADS_1


"Entah. Lagian belum makan banget juga. Paling ada ," Yusuf malah jadi bingung sendiri harus berkata apa.


"Habis ini aku pingin langsung pulang. Takut nanti dicariin. Orangtuaku sebentar lagi pulang, aku tidak ingin mereka sampai duluan di rumah," Kata Fitri kemudian.


"Aku pikir itu ide yang bagus, nanti kalau kita dah nikah kan enggak perlu takut orangtuamu bakal nyariin lagi," sahut Yusuf.


"Kapan?"


"Apanya?"


"Nikahannya," Fitri langsung menanggapi ucapan Yusuf. Ucapannya terdengar pelan tapi lumayan menohok juga.


"Sebentar lagi."


"Jangan lama-lama ya."


****

__ADS_1


__ADS_2