Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Ke Hutan Bambu Kuning


__ADS_3

Setelah beberapa saat Sein di masukkan kedalam penjara langit,


Baginda sultan meninggalkan karang merah kembali ke istana...


Hm....menantuku ini cukup patuh, semoga saja aku masih bisa membereskan kekacauan yang di buatnya..! batin Baginda Sultan sambil berjalan menyusuri lorong menuju istana..


Di dalam kerangkeng penjara langit..


sambil mengulur waktu agar baginda sultan kembali ke istana, Sein memutuskan untuk berkonsentrasi melatih diri..


memasuki alam bawah sadar...


Setelah cukup lama berdiam, Sein akhirnya kembali dalam keadaan normal....


Hmm...ayahanda Sultan, jangan berpikir penjara langit ini bisa menahanku...! gumam Sein.


Sein memeriksa sekitar penjara langit, jangan sampai Yasmin dan rombongan di kurung oleh baginda di ruang penjar, setelah memastikan Yasmin dan rombongan tidak ada di tempat itu, Sein kemudian melangkah keluar seperti biasa, energi aneh penjara langit seolah tidak berpengaruh baginya....


Sesaat kemudian, Sein malih rupa dan melesat pergi menuju Kota Maccini..


+


Di istana,..


Permaisuri nampak sangat marah...


Huh...Pangeran celaka ini, sangat sulit untuk di bereskan...!


sudah banyak petarung tingkat tinggi yang di kirim untuk membunuhnya, tidak satupun yang berhasil..!! rutuk permaisuri gusar...


Sekte Api Kemenangan Parsi sudah mulai tidak sabar,..


mereka menuntut agar kita menyelesaikan tugas kita dalam empat puluh lima hari kedepan...! .. huh..orang orang yang kita susupkan ke kediamannya juga sudah menghilang, tak pernah melapor lagi...!! coba katakan aku harus bagaimana..?


Tanya permaisuri, mulai putus asa...


Yang mulia, bagaimana kalau yang mulia meminta bantuan pada Murid Dewi Kegelapan di Tanjung Petir Hitam...! Usul Ki Bopeng...


Ki Bopeng adalah salah satu petarung dan orang kepercayaan Kakak Permaisuri..


Hmm..? apa itu bisa mengalahkan Sein keparat itu..!?


Yang Mulia, kesaktian Nenek Neraka sangat hebat,..


+


Di Ujung Utara Benua Barat...


Di Hutan Bambu..


Pondok Bambu berwarna Kuning dan Hijau itu nampak lebih semarak dari hari hari sebelumnya...


Hehehehe...beberapa kali terdengar suara tawa renyah,..


Ketua Perguruan Mutiara Hijau dan Sutan Rajo Bintang serta Dewa Sedih sedang asyik bercengkrama...


Sementara Yasmin dan Mentari juga Nenek Serba Tahu sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk kedua tetua sepuh itu..


Kiyai, Untung saja kita segera menyadari keberadaan orang orang itu, jika tidak mereka pastilah sudah berhasil menangkap kita...! kata Sutan Rajo Bintang,


Ya..tuan Sutan..sepertinya musuh telah mengetahui jika kita akan kesana, aku tidak bisa membayangkan jebakan apa yang menanti kita saat itu...! timpal Kiyai Malaka..


Mereka asyik berbincang, sementara Dewa Sedih pergi ke belakang, tiba tiba udara terasa berat dan energi yang kuat berusaha menekan mereka..


Sosok lelaki tua, berjubah kuning berdiri tak jauh dari mereka, mengerahkan aura menekan...


Heh..si tua Parasada..! apa yang kau lakukan, ingin pamer di depanku...? tanya Kiyai Malaka...


Hahaha....maaf...hanya sedikit iseng. ! jawab Begawan Sidik Parasada, sambil menghentikan auranya....


Begawan Sidik Parasada adalah sahabat lama Kiyai Malaka..


Mereka bersahabat sejak kecil walau kadang kadang ada beberapa pandangan dan pendapat yang berbeda namun keduanya bagaikan saudara....


Eh, Kain Kumal, perkenalkan ini adalah pemilik padeopokan ini, Tuan Sutan Rajon Bintang...


Begawan Sidik Parasada mengangguk hormat pada Sutan Rajo Bintang dan di balas dengan hal yang sama oleh Sutan Rajo Bintang...


Ehehemmm...kemarilah...ayo silahkan duduk...! sambut Kiyai Malaka..


Mari...silahkan Tuan Begawan...! Sapa Sutan Rajo Bintang...


Ah..tuan Sutan terlalu sungkan...panggil nama saja, namaku Sidik Parasada....


Lihatlah Kayu lapuk ini, dia selalu saja memanggil namaku dengan seenaknya..tuan Sutan Rajo juga boleh seperti itu pada saya, itu tidak masalah..bagiku lebih akrab....Hehehe...timpal Begawan Sidik Parasada dengan akrab sambil menunjuk Kiyai Malaka...


Hahaha....! tawa ketiganya kembali menggema.


Malaka...! aku datang untuk memperingatkan muridmu dan suaminya agar berhati hati hati...


Seseorang telah berhasil mengundang Nenek Neraka untuk mebantunya melenyapkan Anak dan Menantu Sultan itu...


Oh...Terimakasih saudaraku..., tapi bagaimana kau menemukan kami..!?


Hehe..saat itu aku ingin berkunjung ke tempat muridku, Prabakara..,


Aku tidak sengaja melihat rombongan kalian ke tempat terpencil, jadi aku sudah mengikutimu sejak kau keluar dari tempat terpencil pada malam itu, aku takut akan ada yang mencelakaimu...! jelas Begawan Sidik Parasada.


Hmm Terimakasih saudaraku..! memang keadaannya sangat berbahaya pada malam itu, kami merasakan ada banyak kekuatan besar yang sedang mengincar kami..! kata Kiyai Malaka..


Ya, berhati hatilah...muridmu dan suaminya sedang menjadi incaran seluruh pendekat di dunia ini...


Entah siapa yang menyebarkan berita, Kitab Ganjar Dewa dan Cakram Sudarsana ada pada keduanya...apalagi ditambah sayembara dari salah seorang ketua Sekte Api Kemenangan di Benua Parsi.., " siapa yang dapat membunuh Pangeran Sein, akan dapat satu lembaran Kitab Kaisar Naga..." ! ucap Begawan Sidik Parasada

__ADS_1


Hmh..., hal ini memang ada benarnya, namun tidak srluruhnya benar,...anak itu memang memiliki Cakram Sudarasana.. tapi mereka tidak memiliki Kitab Ganjar Dewa..! jelas Kiyai Malaka..


Wah...celaka, orang yang membuat berita ini memang punya niat sangat jahat....,meminjam tangan orang lain untuk melenyapkan musuh...!


Hehehe...sebuah cara lama tapi masih cukup handal...! simpul Begawan Sidik Parasada..


Tak lama berselang, Mentari mengantarkan beberapa nampan hidangan untuk para tetua..


Permisi tetua...!


Eh..ya...letakkan disini saja nak...! kata Kiyai Malaka...


Mentari pun meletakkan nampan nampan itu didepan para,tetua...


Silahkan tetua, ...! kata Mentari mempersilahkan para tetua untuk mencicipi hidangannya..


Ketiga tetua sepuh itu pun menyantap hidangan dengan lahap sambil terus bercengkrama..


Eh, Malaka tua, apa rencanamu selanjutnya...terkait masalah ini..? Tanya Begawan Sidik Parasada.


Masih ada rencana Apa lagi, tentu saja bertarung menemani mereka...


mereka adalah masa depan golongan putih..


Tanggungjawab membasmi kejahatan, sedikit banyaknya perlahan lahan harus kita serahkan pada mereka... ! timpal Kiyai Malaka.


Betul Kiyai, Pangeran dan kedua istrinya ini adalah masa depan golongan putih,. kita harus menjaga mereka sampai mereka siap...! tambah Sutan Rajo Bintang...


Eh, jangan lupa..muridku Prabakara, juga adalah penerus golongan putih..heheh..! timpal Begawan Sidik parasada..


Ahaha...iya, betul..Prabakara juga termasuk pemuda berbakat..! kata Kiyai Malaka..


Eh, kira kira siapa yang terhebat diantara para generasi muda golongan putih ini...!?tanya Begawan Sidik Parasada, menatap Kiyai Malaka dan Sutan Rajo Bintang bergantian seakan menunggu jawaban dari keduanya...


Aku sudah menyaksikan kekuatan Pangeran Sein,.aku tidak tahu pasti tingkatannya...tapi sepertinya ia setara dengan petarung Legenda Bumi tingkat tujuh...


Hah....?? apa bebar setinggi itu..? tanya Kedua tetua lainnya tercengang..


Ini benar tuan tuan...! jawab Sutan Rajo Bintang..


Wah muridku masih kalah jauh,..Prabakara masih berada di tingkat grand master Langit Tingkat Sembilan..! kata Begawan Sidik Parasada..


Hehehe....kalau begitu masih berada di bawah murid sekaligus keponakanku..! timpal Kiyai Malaka..


Ya..aku melihat tingkatan tuan Putri Yasmin, sepertinya ia di ranah Grand Master Abadi tingkat tujuh..! kata Begawan Sidik Parasada..


Eh, jangan lupa, kekuatan masa depan golongan hitam,


Sekarang ini, jurang gunung tujuh juga sudah punya penerus..Tanjung petir hitam juga baru saja mengumumkan penerusnya,..belum lagi murid si tua pikulun itu..! kata Begawan Sidik Parasada..


Masih ada lagi, mereka adalah murid murid Guru Agung Kripadarma...! tambah Kiyai Malaka..


Betul, Aku bahkan sudah bertarung dengan La Poaro,.penguasa jurang gunung tujuh itu...


Apa...?? Tuan Sutan Rajo Bintang sudah bertarung dengannya..?


Ya...ia berada di tingkat legenda bumi, hampir mencapai Legenda Alam ..


Jika waktu itu tidak berada dalam segel nenek serba tahu dan pangeran Sein serta mengeroyoknya bersama dewa Sedih, akan sulit untuk mengalahkannya...! beber Sutan Rajo Bintang...


Mereka terus bercengkrama, sambil menyantap hidangan...


Di tempat lain,


Sein sudah tiba kembali ke Kota Maccini, malih rupa dengan rupa seperti yang biasa ia tampakkan..dan langsung menemui para sesepuh di pavilyun kantor Ketumenggungan...


Eh, ananda pangeran, anda sudah tiba...! sambut Ki Balang Nipa..


Ya tetua, saya terlambat, maafkan saya, ada sesuatu yang menghambat saya untuk tiba tepat waktu..! kata Sein.


Eh, pangeran...Sesuai perkataan pangeran, saat ini sudah ada yang telah mengetuk pintu ketumenggungan...! kata Karaeng Gantarang..


Owh...apa mereka sedang di ruang Tumenggung Morosi..? tanya Sein.


Sepertinya mereka masih di sana..! jawab Karaeng Gantarang..


Hehe..kita tunggu saja, apa yang akan di lakukan Tumenggung Morosi.


Salah satu anggota Klan Wong menemui tumenggung Morosi,


Selama ini Tumenggung Morosi dan Keluarga Jalanara adalah penyokong Klan Wong...


Keluarga Jalanara mengurusi masalah masalah ilegal, dan Tumenggung Morosi akan menangani masalah yang terkait dengan pemerintah untuk Klan Wong...


Saat ini, Klan Wong meminta agar pihak pemerintah untuk nenangkap pelaku pemusnahan kekuarga Jalanara, dimana beberapa anggota Klan Wong ikut musnah bersama keluarga Jalanara pada malam itu,


Ketua Klan Wong menyadari sesuatu, pemusnahan Keluarga Jalanara kemungkinan besar ada kaitannya dengan gerakan pemberontakan yang dilakukan Klan Wong selama ini..jadi mereka juga memembutuhkan bantuan pengamanan dari pemerintah dengan memanfaatkan pejabat tinggi yang sudah mereka rangkul sejak lama...


Sebelumnya,


Beberapa saat setelah pemusnahan keluarga Jalanara..


Di Kediaman Klan Wong..


Terjadi kegemparan...


Para tetua dan petarung tingkat tinggi Klan Wong berkumpul di Aula..


Mereka berencana memanggil semua petarung Ku at Klan Wong Dari Seluruh Kekuarga Cabang Klan Wong yang susah tetsebar Selam ratusan tahun di Lima Benua...


Malam itu juga, ratusan surat telah di sebar ke seluruh keluarga cabang Klan Wong..


Ketua, surat merpati sudah dikirim..

__ADS_1


Klan Wong di Lima Benua ini akan berkumpul sekitar lima belas hingga dua puluh hari dari sekarang...


Baguslah...! semoga mereka bisa segera tiba di sini...! kata Ketua Klan Wong..


Selama dua puluh hari ini kita harus bertahan...


Pembantai Keluarga Jalanara di pastikan akan mengarah ke Klan kita ini...!! tambah ketua Klan Wong dengan mimik wajah sangat serius..


Tetua ke ke tujuh,..! temui Tumenggung Morosi untuk meminta bantuan,..! perintah Ketua Klan Wong.


Baik ketua,..!


tapi apakah kekuatan pemerintah kota ini mampu menahan mereka...?


dan siapa mereka sebenarnya..!!?


tanya tetua ketujuh...


Paling tidak kekuatan pemerintah akan menahan kekuatan pemusnah Kelurga Jalanara itu agar tidak cepat sampai ke keluarga ini., sebelum kekuatan kita berkumpul semua...! timpal Ketua Klan Wong..


Mengenai siapa mereka, kemungkinan orang pemerintah sendiri, atau kelompok pendekar dengan kekuatan besar...! tambah Ketua Klan Wong...


Hmh...sayang sekali, tidak ada seorang pun yang hidup malam itu di keluarga Jalanara..., tidak ada yang bisa memberi keterangan, siapa lawan kita kali ini...


Bahkan tetua Ke Lima tidak dapat menggunakan ilmu Tiga Energi Pemindah untuk melarikan diri...


Hmh...untung saja saat itu kita sedang dalam mengerjakan misi di luar kota, jika tidak kita juga akan mengalami nasib yang sama dengan para tetua lainnya...! kata Tetua ketujuh..yang di iyakan oleh tetua ke sepuluh dan tetua ke sebelas...


Dari tiga puluh dua orang tetua Klan Wong, sembilan orang di tantaranya telah tewas di malam saat pemusnahan Keluarga Jalanara...


ini adalah kerugian besar bagi Klan Wong ...


++


Saat ini di ruang kerja Tumenggung Morosi..


Tuan Tumenggung, mohon bantuannya, mengamankan Kediaman Klan Wong, Pinta Tetua ketujuh membungkuk...


Tentu saja,..Beritahu pada Ketua Klan, aku tidak akan membiarkan kekuatan ilegal itu mendekati kediaman Klan Wong..! kata Tumenggung Morosi..


Tapi, siapa lawan klan wong kali ini.., bukankah di Klan Wong ada begitu banyak petarung tingkat tinggi...? tanya Tumenggung Morosi..


Masalahnya, kita tidak mengetahui siapa dan seberapa kuat lawan...


Jika kami tahu, kami tentu akan memdahului menyerang ke tempat mereka...! timpal Tetua Ketujuh..


Mm..baiklah..aku akan mengatur untuk memusatkan kekuatan pasukan Batu Landai di sekitar kediaman Klan Wong..! kata Tumenggung Morosi...


Terimakasih Tuan Tumenggung...kalau begitu saya pamit dulu...! kata Tetua ketujuh membungkuk, kemudian pergi.


Di kamar Kakek Dai,, Sein duduk dengan tenang meminum teh dengan arima yang kuat,..


Hm...teh ini sangat enak...! gumam Sein.


Pangeran, orang Klan Wong sudah pergi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya...?? tanya Ki Balang Nipa..


Kita biarkan saja dulu mereka bersantai beberapa waktu..


Kita tunggu mereka lengah, baru kemudian memusnahkannya...! hehehe...saat ini cukup memberi sedikit ketegangan pada urat urat kepala mereka...! jawab Sein.


Tumenggung Morosi segera mengatur pasukannya, tak lupa juga ia mengirim kabar ke Istana.., tanpa di sadari oleh Tumenggung Morosi, beberapa anggota alap biru bergabung dalam pasukannya...


Sein yang sedari tadi menikmati seduhan teh, berjalan keluar kamar,..


Rupanya salah satu anggota alap alap biru yaitu nomor delapan belas ada di tempat itu untuk melapor..


Lapor tuan,


Tumenggung Morosi memberi kabar ke istana untuk memberi bantuan pada Klan Wong...


Rombongan tuan Putri berada di kediaman Sutan Rajo Bintang di Hutan Bambu Kuning, di ujung utara benua barat ini dalam keadaan sangat baik...! jelas Alap alap biru nomor delapan belas...


Owh..baiklah...! Terimakasih..beritahu anggota yang lain...,aku ingin tahu di mana keberadaan Penguasa Jurang Gunung Tujuh itu bersembunyi saat ini, dan juga bagaimana pergerakan para anjing Parsi itu.. ! perintah Sein.


Baik tuan, hamba permisi...! kata Alap alap biru lalu menghilang..


Hmh. . hufff...! Sein menghembuskan nafas lega setelah mengetahui keberadaan dan keadaan rombongan Yasmin...


Berarti ayahanda Sultan benar benar tidak tahu keberadaan Yasmin dan yang lainnya..!


Tapi jelas jelas Ayahanda sudah menyiapkan penyergapan malam itu di Karang Merah...!


Hm..kemungkinan para sepuh di rombongan Yasmin menyadari adanya bahaya ini, jadi mereka memutuskan ke hutan bambu kuning....! batin Sein.


Setelah alap alap biru pergi, Sein kembali masuk ke kamar kakek Dai...


Para tetua, mohon maaf, harus membuat para tetua menunggu lagi..


mohon bersabar...


Kita akan bergerak setelah aku kembali...


Aku akan pergi dulu menjumpai rombongan Yasmin di suatu tempat.....! kata Sein.


Aha..tidak.masalah nak.., kau pergilah..kami juga cukup menikmati hidup disini ..tak maslah jika harus menunggu beberapa hari lagi...Hehehe! timpal Kaisar Kelana..


Baik,.Terimakasih kakek Guru..!


Para tetua sekalian,..,tiga hari lagibsaya akan kembali ke sini...!!


kata Sein membungkuk hormat, kemudian berkelebat pergi..


+++

__ADS_1


__ADS_2