Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
143. Sein Mulai Mengerahkan Kekuatan Hutan Bamabu


__ADS_3

Eh? Kemana mahluk seram itu..? tanya Xin luo


Keparattt..!! aku belum menghajar mahluk jelek itu, ia sudah lari..aku akan mencincangnya jika bertemu dengannya lagi nanti..umpat Ciu Siang sangat murka..


Tuan Ciu Sudahlah.., nyonya sudah menunggu, jangan sampai kita terlambat.., ucap Fu Huang mengingtakan.


Hmhh.., Ya ..ayolah..!timpal Ciu Siang dongkol.


Aku heran mengapa binatang itu menyerangku,..


Itulah alasan mengapa nyonya melarang kita mengerahkan energi di tempat ini, karena itu akan memancing binatang buas kuno itu bereaksi.., jelas Fu Huang.


Oh?? Menagpa tak kau katakan sejak tadi..? sesal Ciu Siang dongkol.


Ketiga petarung benua congko ini terus menyusuri kawasan kaki gunung Kerinci menuju puncak..


D Ibukota,


Ince Zulfa yang kebetulan hendak ke kediaman Jendral Kasogi, memergoki Jendral kasogi sedang berbicara dengan sesorang yang mencurigakan, dengan tingkat beladiri Ince Zulfa dengan mudah dapat mendengar pembicaraan Jendral Kasogi dengan Orang mencurigakan itu,..


Dalam pendengarannya, Ince Zulfa mengetahui kalau Jendral Kasogi memberikan informasi pada mata mata Jurang Gunung Tujuh,..


Ince Zulfa membiarkan keduanya sampai mereka selesai berbicara, saat keduanya berpisah, mata mata jurang Gunung Tujuh pergi meninggalkan ibukota, barulah Ince Zulfa menyusul mata mata itu..


Tepat di tepi hutan luar ibu kota, ince Zulfa langsung menyerang mata mata itu dengan melemparkan sebatang ranting pohon kering yang baru saja dipungutnya..


Tsk..!! ranting pohon menembus jantung mata mata itu,


Ahkkh..! hanya pekik lemah yang dapat terlontar dari mulut mata mata jurang gunung tujuh itu sebelum ambruk ketanah dan tewas seketika..


Melihat mata mata itu sudah tak bernyawa, Ince Zulfa berbalik menuju Ibukota, langsung kekediaman Jendral Kasogi..


Sebelum sampai di kediaman Jendral Kasogi, Ince Zulfa menemui Jendral Wijaya dan bersama sama membawa pasukan Janisari untuk menangkap Jendral Kasogi..


Sesampainya di kediaman Jendral Kasogi, Ince Zulfa langsung memerintahkan pasukan Janisari untuk melumpuhkan Jendral kasogi..


Saat pasukan Janisari menerobos masuk ke kediamannya, Jendral Kasogi terkejut..


Heh..ada apa ini..?


Apa kalian tahu..ini kediaman Jendral..??


Pasukan Janisari tanpa sepatah kata langsung mengepung Jendral Kasogi..


Melihat Jendral Wijaya bersama mereka, Jendral kasogi bertanya dengan geram..


Jendral Wijaya..!! apa maksudmu..?apa kau tidak tahu sedang berhadapan dengan jenderal senior kesultanan Datuk delapan..? tanya Jendral Kasogi.


Oh, tetntu saja, aku sangat mengenal siap Jendral Kasogi, ,,tetapi mohon maaf..aku kesini atas perintah baginda Sultan..!! Jawab Jendral Wijaya dengan sebuah dekrit ditangannya..


Begitu melihat dekrit ditangan Jnedral Wijaya, Jendral Kasogi maklum, jika perannya sudah terbongkar, bahkan Sultan Malik sudah mengetahuinya dengan jelas..


Huh..Wijaya..kau anak kemarin sore, jangan bermimpi untuk menangkapku..! seru jendral Kasogi..


Heheh...menyerahlah jendral, anda sudah terkepung.., anda tahu sendiri akibatanya jika menolak penangkapan.., pemusnahan..!! timpal Jendral Wijaya.


Hahaha..aku dan seluruh leuargaku sudah siap, apapun resikonya..! teriak Jendral Kasogi menghunus pedang..


Aku sarankan, kau biarkan aku pergi hidup hidup, atau aku akan membantai kalian disini,..pasukan Janisari ini tidak akan bisa menahanku .. kata Jendral kasogi..


Tentu saja kau boleh pergi, jika kau sanggup..!! seru Ince Zulfa melangkah masuk..


T..ttuan sekertaris,,,!seru Jendral Kasogi..


Kasogi, aku ditugaskan khusus untuk menbunuhmu jikau kau melawan penangkapan ini.., kata Ince Zulfa dingin.


Apa boleh buat,..!! walau dilanda perasaan takut karena kehadiran Ince Zulfa, Jendral Kasogi mulai menyerang dengan Jurus Jurus Pedang Perak andalan keluarganya,


Hiaaaa....!!!


Hup..!!


Serangan Jendral kasogi mengarah pada Jendral Wijaya dengan melompati kepungan para pasukan Janisari..


Whoss..!! dengan edikit mengerhakan kekuatan dalam berwujud angin membentengi dirinya, Jendral Wijaya berkelit menghindari serangan dua sabetan Pedang..


Karena serangannya luput, Jendral kasogi tambah kalap, ia meningktakan serangannya..


Tak tanggung tanggung.. ia mengerahkan jurus pedang perak berpadu yang telah ia pelajari sedikit dari laila putrinya..


Di medan perang, saat menghadapi musuh, jurus ini merupaka\=n jurus tak terkalahkan selama Jendral kasogi memimpin pasukan..


Namun yang ia hadapi saat ini adalah sesama Jendral, kekuatan Jendral Wijaya juga tidak kalah hebat,..


Namun karena pengalaman bertarungnya yang masih tidak sebanyak Jendral kasogi, beberapa saat kemudian Jnedral Wijaya Terdesak..


Saat saat Kritis itulah, jendral wijaya mendapat bantuan dari Ince Zulfa..


Ketika ujung pedang perak mengarah ke tenggorokannya, dimana Jnedral Wijaya tidak dapat menghindar lagi, sebuah larik sinar biru menghantam ujung pedang itu dan membuat Jendral Kasogi ikut terpental..


Detik berikutnya, sebuah tinju dari Ince Zulfa mendarat telah di dada Jendral kasogi..


Bukkk..!!


ARRRGHH!!!! Pekikan keras dari mulut Jendral Kasogi terdengar, tubuhnya mencelat sejauh dua puluh tombak..ketika ia hendak bangkit..ia memuntahkan darah berwarna hitam kebiru an..


Uukhuhkk!..!!


Kemudian Batuk mengeluarakan darah bercampur daging halus..


Organ dalam Jendral Kasogi sepertinya telah hancur.., walau belum mati namun keadaan Jendral kasogi sangat mengenaskan..


Dengan sedikit kibasan lengan kiri, pecahlah kepala Jendral Kasogi..tunuhnya ambruk ketanah tak begerak lagi..


Ince Zulfa telah embunuh Jendral kasogi...


Masih di ibukota,


Kediaman keluarga Malingka alam..

__ADS_1


Mata mata keluarga malingka alam melaporkan kematian Jendral Kasogi..


Dengan cepat keluarga Malingka Alam mempersiapkan dir, lalu dengan segera meninggalkan kediaman mereka melalui lorong rahasia, Tuan Besar Malingka Alam membawa seluruh keluarganya melarikan diri ke Hutan Purba.


Ince Zulfa yang telah membunuh Jendral Kasogi dengan cepat memimpin paskan bersama Jendral Wijaya menuju kediaman Malingka Alam..


Tapi sesampainya di sana, mereka mendapati kediaman itu telah kosong..


Tuan sekertaris, sepertinya keuarga ini baru saja melarikan diri.., ucap Jendral wijaya..


Periksa semua tempat..! ucap Ince Zulfa.


Pasukan Janisari segera berpencar memeriksa setiap ruangan di kediaman yang kini lengang tersebut..


Setelah beberapa lama memeriksa, tak ditemukan adanya tanda tanda keberadaan keluarga besar malingka alam, mereka pun kembali untuk melaporkan kejadian ini pada Sultan malik..


+


Di Hutan Bamabu Kuning..


Setelah semua orang menyelesaikan latihannya..


Sein sedang melakukan pembicaraan serius dengan semua tetua sepuh..


Dan beberapa saat kemudian, Sein memutuskan untuk mengirim Karaeng Gantarang ke Jurang Gunung Tujuh untuk membersihkan sisa pertarungan kubu Kesultanan dan Kubu Atikah.


Sedangkan Ki Mambang dan Begawan Sidik Parasada ditugaskan bersama beberapa anggota alap Alap Biru menyelidiki Hutan Purba..


Kaisar Kelana, kakek Dai dan Hitam Putih Kematian serta Prabakara ditugaskan menuju perbatasan Kerajaan untuk menentukan posisi pasukan berani mati jika kelak diperlukan..


Kiyai Malaka, Sutan Rajo Bintang, Tetua Gu Dewa Sedih dan Nenek Serba Tahu di tugaskan untuk mengantisipasi kekuatan rahasia musuh jika sewaktu waktu menyerang secara tiba tiba..


sedangkan Kedua Istri Sein menunggu di kediaman pengungsian hutan bambu kuning ini..


dengan cepat semua menyebar melaksanakan tugas masing masing..


Tinggalah Sein bersama kedua istrinya dan Salwa..tentu saja juga masih ada Salman yang terus bersembunyi dalam bayangan Sein..


Ayah..! aku sudah dilatih ibu pembentukan tulang, ucap Salwa bangga..


Oh? anak hebat..!!puji Sein.


Kapan aku baru boleh berlstih dengan ayah..?


Anak sayang... pekerjaan ayah masih sangat banyak, sementara ini latihannya dengan ibu dan ibu Mentari dulu saja yah.., ! kata Yasmin.


Em..iya, baiklah..tapi nanti aku tidak mau ayah perginya lama lama lagi ya bu.., rajuk Salwa pada Yasmin..


Iya, nanti ibu bilang ke ayah supaya perginya jangan lama lama, timpal Yasmin menenangkan..


Sein memeriksa perkebangan tulang Salwa..


Hmm, sangat luar biasa.., anak ini bisa dengan cepat meningkat ke ranah Praktisi beladiri,..gumam Sein.


Seleah memperhatikan tulang Salwa beberapa saat, Sein kemudian mengeluarkan sebutir pil berwarna biru dan meminumkanya pada Salwa..


Setelah beberapa saat, tubuh Salwa bergetar dan perlahan lahan ubun ubunnya mengeluarkan asap tipis...


Huffff...!!


Ayah, mengapa tubuhku tiba tiba menjadi ringan..??obat apa yang ayah berikan padaku tadi..?tanya Salwa


Hanya obat pelancar darah saja..beberapa aliran darahmu sedikit tersumbat..jika dibiarkan lama kau bisa kaku seperti boneka kayu..hehehe.., jelas Sein terkekeh.


Oo...baiklah, ayah Salwa mau mandi dulu.., kata Salwa pamit masuk ke kamar..


Mentari, mengapa kau diam saja, tanya Yasmin.


Kakak..aku sedang mencemaskan ayah dan ibu, Utari anak sial itu bisa saja melukai mereka..., kata mentari khawatir.


Mentari, kau kidak perlu hawatir, kesaktian Ayah dan Ibu sulit dicari tandingannya, jika hanya menghadapi Utari, bukanlah sesuati yang berat bagi mereka berdua..., Ucap Sein menenangkan..


Iya, tapi aku takut hati mereka akan lemah dan dimafatkan oleh Utari.., timpal Mentari..


Adik, tenang saja, bagaimana kalau kita ke sana, ke rumah Ayah dan Ibu..? ucap Yasmin merangkul bahu Mentari..


Ya..!! kak, kau benar..ayo kita kesana, sekalian saja kita tangkap anak sial itu.., sambut mentari sumringah..


Suamiku..? boleh tidak kami ke rumah ayah..?? tanya Yasmin.


Tidak boleh,..!!


Hah..?? kenapa??


Tidak boleh kalau hanya kalian berdua saja, aku dan salwa juga mau ikut..! hehehe..goda Sein.


Iiih..kakak...lihat, lelaki cabul ini aku pikir sudah tobat, tidak akan menngoda kita lagi..ayo kak, kita beri dia pelajaran...!! kata Mentari.


Kamu saja yang beri dia pelajaran, aku lihat dari sini saja.., timpal Yasmin penuh makna menggoda Mentari..


Kakak..!! ucap Mentari lirih dengan wajah bersemu merah..


Hei, Yasmin.. kenapa gadis ini kalau meliahtku wajahnya selalu memerah..? tambah Sein menggoda..


Uh, lelaki cabul awas kau ya..umpat mentari dengan Wajah yang semakin memerah..lalu mengejar ke arah Sein..


Tapi tiba tiba Sein menghilang, dan dengan cepat muncul di belakang Mentari dan merangkul pingganya..


Aih...!! uh..dasar lelaki cabul ...umpat Mentari meronta namun berasa enggan melepaskan rangkulan suaminya..


Hihihihih...adik, wajahmu sudah sangat merah, suamiku ayo bawa dia masuk ke kamar saja..hihihih...ucap yasmin tambah menggoda Mentari..


Ih kakak...keterlalu,.. akta kata Mentari terputus karena,


Cup...


sesuatu yang lembut menempel dibibir Mentari dan lepas dengan cepat...


Hah..!!? suara lirih mentari menyadari Sein telah membuatnya gerah..

__ADS_1


Suamiku, sudah.. cepat bawa dia masuk, sepertinya dia sudah terbakar..hihihihi..ucap Yasmin masih terus menggoda Mentari..


Ya Baiklah,.. Sein dengan cepat menggendong tubuh Mentari dan berbalik ke Yasmin mengangkat jempol dan mengedipkan mata penuh arti sambil berjalan menuju kamar Yasmin karena di kamar Mentari ada Salwa yang sedang mandi..


Salman dengan kecepatan tinggi menggunakan teknik menembus ruang menghilang dari bayangan Sein..


Tik..!


Seketika Salman berada di gubuk bambu...


Hufft... anak sinting itu bisa bisanya dia mengoda istrinya di depan mataku..! dasar tak tahu malu..!! umpat Salman..


+


Di Ibukota,


Sultan malik menerima laporan terbunuhnya Jendral Kasogi dan kaburnya keluarga besar Malingka Alam..


Hm.. Mulai hari ini keluarga malingka alam adalah buronan Istana, jika tertangak segera lakukan pemusnahan..


Bagaiamna dengan keluarga Jendral kasogi..? tanya Sultan malik..


Semua yang di kediamannya sudah ditangkap, termasuk istrinya..tinggall menunggu keputsan pemusnahan..


Tapi, masih ada anak gadisnya yang sudah lama tidak pulang..tersisa gadis itu yang belum kita tangkap.., Jelas Ince Zlfa.


Oh..Laila.., yang pernah dilatih oleh pangeran Sein kan?ucap Sultan Malik..


Betul tuanku..jawab Jendral Wijaya,


Baiklah, kalau begitu bereskan lagi urusan yang lainnya,..satu kekuatan pendukung Makil dan Atikah sudah kita bereskan..


Hanya saja, akhir akhir ini pasukan kesultanan disibukkan untuk menangani para pembunuh bertopeng yang bermunculan ini,..karena itu kekuatan cadangan kita kemungkinan akan dikerahkan.., kata Sultan Malik.


Kekuatan cadangan adalah, muird murid perguruan datuk delapan yang berjumlah ribuan, kini berada dalam sekolah akademi kemiliteran kesultanan..


Banyak diantara mereka yang sudah diperbantukan di Istana dan ibu kota saat ini tapi masih bersifat petarung perseorangan..yang menjadi pasukan cadangan adalah muird murid yang dilatih khusus untuk pertempuran militer..


Mndengar peringatan Sultan malik, Kepala akademi Kemiliteran membungkuk,


Hamba sudah mempersiapkan pasukan cadangan yang mulia, saat ini mereka sedang berlatih ,sambil menunggu perintah untuk dikerahkan.., jelas kepala akademi.


Bagus..bagus..jika semuanya sudah siap.. maka kita akan segera menyambut peperangan besar.., tutp Sultan malik.


+


Dua Hari berselang,


Masih Di Ibukota,


Kediaman Ince Zulfa,


Utari tampak antusias membantu Ibu Mentari merapikan kembang pot yang banyak menghiasi halaman samping kediaman Sekertaris kesultanan..


Tiba tiba, ia terkejut merasakan ada energi yang besar mendekat,


Belum hilang rasa terkejutnya,


Tap..!


Tap..!


Tap..!


Tiga pasang kaki menapak di tanah halaman kediaman Ince Zulfa..


Sein menapak dengan gagah bersama salwa dalam gendongannya, Mentari dan Yasmin, menapak dengan anggun..


Anak Ayah, sekarang boleh turun dulu ya, sudah sampai.., kata Sein pada Salwa..


M..terimakasih ayah..!! ucap Salwa tersenyum polos.


Ibu Mentari sesaat terperangah melihat kedatangan orang orang yang sudah lama tak dilihatnya..


Lalu dengan cepat menghampiri mereka..


Sein,..Metari..Yasmin..salwa..!! seru Ibu Mentari menyebut mereka satu persatu..


Salam Ibu..! ucap ketiganya memberi salam.


Salam nenek..! ucap salwa memberi salam, tak mau kalah.


Ibu Mentari memeluk Mentari dan Yasmin, tak ketinggalan Salwa digendongnya...


Utari yang sejak tadi sudah gemetar melihat kedatangan mereka, semakin gugup dan berkeringat dingin..


Wajahnya dipenuhi bulir bulir keringat,


Sein yang terus memperhatikan keadaan sekitar sejak tadi, dalam diam terus mengamati Utari..


Dengan kemampuan Sein saat ini ia dapat merasakan kekuatan aliran hitam dalam tubuh Utari..


Hmm..anak ini benar benar mewarisi aura gelap orang tuanya.., gumam Sein..


Utari yang semakin jengah, berusaha mencairkan suasan hatinya dengan mencoba berinteraksi dengan mereka,


Eh, salam kakak ipar,


Kak Mentari, Kak Yasmin..!! ucap Utari..


Huh, kau masih berani memanggil suamiku kakak Ipar dan memanggilku dan kak Yasmin kakak, setelah menusuknya dengan Pedang Kilin Api hingga hampir mati..??! hardik Mentari..


Sudah, sudah..itu sudah berlalu.., ucap Ibu Mentari menengahi..,


Ibuuu..!! Sergah Mentari dengan suara sedikit tinggi.


Ibu Mentari yang tadi terbawa perasaan, langsung tersadar bahwa Utari bukanlah anaknya...(baca ep. 136)


Dengan cepat wajah Ibu mentari berubah dingin..menatap Utari yang semakin terlihat kikuk..

__ADS_1


+++


__ADS_2