
Beberapa hari kemudian,
Di Kediaman Bangsawan Kuraya,
Gao Ling yang sudah sembuh mulai berlatih ringan di belakang kediaman,
Tiba tiba terdengar langkah kaki yang tergopoh ke arah Gao Ling, dengan serta merta Gao Ling berhenti berlatih..
Seorang pelayan terlihat sedang menuju kearah Gao Ling.
Maaf nona, ada yang megantarkan sesuatu untuk anda, ucap pelayan yang baru saja datang seraya menyodorkan sebuah kantong merah
Mm, mana berikan barang itu..? timpal Gao ling sambil menerima kantong merah tersebut.
Kau boleh pergi, kata Gao Ling pada si pelayan Setelah menerimanya,
Gao Ling dengan segera membuka dan mengeluarkan sepucuk surat dari kantong merah itu, ternyata selembar surat perintah dari Nonya Atikah.
Gao Ling kemudian merogoh kantong yang masih berisi sesuatu, setelah mengeluarkannya, Gao Ling manggut manggut sambil memperhatikan benda di tangannya.
Hmm..topeng ini cukup seram..hihihih.., batin Gao Ling sambil mencoba mengenakan topeng merah darah berwajah seram itu..
Sebenarnya aku tidak terbiasa membunuh tanpa menunjukkan wajah, kesannya aku ini penakut dan tidak berani berrtanggung jawab..,
Hmh... tapi ini perintah nyonya..harus segera dilaksanakan.. tekad Gao Ling.
Di tempat Lain,
Setelah mengantar surat ke kediaman bangsawan kuraya untuk Gao Ling, Utari berjalan menyusuri ibukota menuju kediaman Ince Zulfa.
Hmm..aku selama ini telah mengikuti orang tua yang bukan orang tua kandungku.., Batin Utari sambil berjalan.
Setelah mengetahui kalau dirinya adalah anak Dewi Kegelapan, Utari merasa dirinya hampa, dalam dirinya terjadi pertentangan batin yang kuat,
Utari selama ini mengikuti kelompok Atikah karena sudah mengetahui asal usul dirinya yang sebenarnya,
Sebelumnya ia masih ragu dan terus melakukan perlawanan saat di culik oleh nenek Bonggoeya.
Selanjutnya ia terkena mantra pengendali hati, namun setelah mengetahui bahwa ia adalah keturunan Dewi Kegelapan maka ia mulai sedikit melunak, ia mulai melupakan kehidupannya selama beberapa belas tahun bersama Ince Zulfa dan istrinya.
Akhirnya saat ini ia telah menjadi kaki tangan Atikah dan menjadi muird Hung Min..
Walau demikian setelah memasuki kembali ibu kota, dan akan menemui Ince Zulfa dan istrinya, orang yang selama ini dianggapnya sebagai orang tuanya, hatinya sedikit sedih,
Teringat bagaimana kasih sayang yang selama ini diberikan oleh kedua orang tua itu, membuatnya dilema.
Namun doktrin bahwa ia adalah penerus Dewi kegelapan yang memiliki tugas penting untuk menguasai dunia, maka ia menepis semua keraguan dan kesedihan dalam hatinya.
Tanpa terasa ia telah mendekati kediaman Ince Zulfa,
Saat memasuki kediaman Sekertaris Kesultanan, terlihat Ibu Mentari sedang menata beberapa hiasan di halaman dengan wajah sembab, mata bengkak karena banyak menangis..
Kehadiran Utari membuat Istri Ince Zulfa menyadari adanya orang disekitaranya,
Eh, Utarii!!!??? pekik Ibu Mentari
Ibuuuu...!! teriak Utari lalu berlari menghambur berlutut di kaki Ibu Mentari.
Utari, bangunlah.., Ibu Mentari memabantu Utari berdiri lalu memeluk dan menciumi anak perempuannya yang telah lama menghilang itu..
Utari, dari mana saja kau nak?? Ibu hampir gila mencarimu..ucap ibu Mentari.
Melihat wajah Sembab Ibu Mentari, Utari yakin ibu Mentari sangat sedih akan kepergiannya beberapa waktu lalu.
Ibu, kita masuk dulu, akan aku ceritakan di dalam.., kata Utari
Sambil berjalan masuk ke rumah, keduanya meluapkan emosi yang tak tertahankan..keduanya terisak haru karena sudah lama berpisah..
Walaupun tidak setulus sebelumnya, sekeras apapun doktrin yang telah ia terima, masih sedikit rasa haru dalam hati Utari.
Ibu, Ayah Mana??? Tanya Utari.
Ayahmu sedang mencari kakamu sekeluarga, kakakmu sekeluarga juga sudah lama menghilang.., jawab Ibu Mentari.
Hah, kakak juga menghilang..??tanya Utari penasaran.
Lalu dengan wajah sedih, ia berkata,
Ibu, aku bersalah pada kakak ipar, kakak Mentari pasti akan membunuhku.. ucap Utari
Masalah itu kau tidak perlu khawatir, sebelum mereka menghilang, kakak Iparmu sudah memaafkanmu..ia maklum, saat itu kau dalam pegaruh Mantra Pengendali Hati..jelas Ibu Mentari.
Mendengar penjelasan Ibu Mentari, Utari menjadi lega,
Sebelumnya ia khawatir jika bertemu dengan Sein maka ia pasti akan bentrok dan penyamarannya akan terbongkar.
Utari, Kau jangan pergi kemana mana lagi.. pinta ibu Mentari.
Baiklah ibu, mulai sekarang aku tak akan jauh dari ibu, aku akan selalu menemani ibu..balas Utari.
Heheh..anak baik..anak baik.., aku sangat senang kau telah kembali, kehilangan kalian berdua selama ini membuatku sangat sedih..., beber Ibu Mentari.
__ADS_1
Hmm..anak ini mengalami kemajuan yang pesat, batin Ibu Mentari yang merasakan aura yang kuat dari Utari.
Ibu, maafkan aku walau kalian selama ini sangat baik padaku, tapi aku tidak bisa menolak keinginan ibu kandungku.., Batin Utari.
Eh, ibu.., apa berita tentang kakak benar benar tidak pernah ada?? Tanya Utari mulai memmancing.
Sesekali ada, tapi setelah ayahmu memeriksanya hasilnya selalu gagal..jawab ibu Mentari.
Oh, apa jangan jangan Kakak sekeluarga telah dibunuh oleh sesorang yang kuat..!!?? ucap Utari sambil mengamati wajah Ibu Menari untuk menyelidiki.
Wajah Ibu mentari terlihat makin murung, dan kemudian sesungukan menangis, menutupi wajahnya denga kedua telapak tangannya...
Jangan sampai itu terjadi..hik hik...kasihan kakakmu..hik hik..., tangis Ibu Mentari.
Hmhhh...Utari menghela nafas,
Kelihatannya Ibu benar benar tidak tahu kalau kakak Ipar sekeluarga sedang bersembunyi di suatu tempat., batin Utari.
Tapi apa tujuan mereka tidak memberitahu ibu,..? batin Utari lagi, penasaran.
Utari memang telah diberitahu oleh Atikah bahwa Sein sedang bersembunyi di suatu tempat dan menggalang kekukatan, karena itu ia diminta ke kediaman Ince Zulfa selain untuk memata matai pergerakan istana, salah satunya adalah untuk menyelidiki keberadaan Sein.
Atikah berpesan agar Utari berhati hati jika bertemu dengan Sein, selain karena pernah menusuk Sein dengan Pedang Kilin Api, juga karena saat ini Atikah tidak mengetahui tingkat kesaktian Sein dengan pasti.
Beberapa saat berlalu,
Akhirnya Ince Zulfa pulang,
Karena dari jauh ia sudah merasakan kekuatan aura dari Utari yang kuat, maka ia sedang bersiaga jika ada penyerangan terhadap dirinya saat melangkah masuk kediaman.
Tapi saat melihat Utari dan Ibu Mentari duduk dengan akrab, Ince Zulfa merasa lega,
Utariii..!! kau sudah pulang nak..?teriak Ince Zulfa sambil terus berjalan ke arah mereka..
Utari berlutut memohon ampun karena selama ini menghilang tanpa kabar..
Sudahlah nak, bangunlah.!! kata Ince Zulfa mengusap kepala Utari..
Utari pun segera bangkit dan kembali duduk di dekat Ibu Mentari..
Ayah, Ibu., .sebenarnya selama ini aku pergi berguru pada seseorang, beberapa saat setelah menusuk kakak dengan Pedang kilin Api dan membawa penguasa Jurang Gunung Tujuh pergi, aku di cegat dan dibawa oleh seseorang dan orang itu mengangkatku menjadi muridnya melatihku sampai seperti sekarang ini..., aku rasa ayah dan ibu pasti bisa merasakan peningkatan kekuatanku..jelas Utari pura pura polos..
Oh..baguslah, yang penting kau baik baik saja nak.., kata Ince Zulfa.
Oh ya, siapa yang telah mengajarimu nak..?? tanya Ibu Mnetari..
Itu...i..itu..., aku belum bisa mengataknnya ibu,.. guruku meminta aku merahasiakan dirinya..tapi suatu saat aku pasti akan mengatakannya pada ibu dan ayah.., jawab Utari membuat alasan.
Owh, tidak apa jika kau belum mau mengatakannya, lantas apa yang terjadi dengan Li Puaro saat itu..? tanya Ibu Mentari.
Kau tidak pernah menanyakannya pada gurumu?tanya Ince zulfa.
Pernah ayah, tapi guru bilang orang jahat seperti Li Puaro tidak usah aku pikirkan...guru telah mengurusnya dengan baik.., hanya itu jawaban guru..., jawab Utari lagi lagi berbohong.
melihat hal ini kedua suami istri itu hanya menghela nafas,
Ibu mentari dan Ince Zulfa merahasiakan bahwa mereka sdh mengetahui siapa Utari dan apa tujuan sebenarnya ia kembali , dan atas permintaan Sein, mereka berencana mengulurnya untuk membuat musuh melangkah sesuai keinginan mereka.
Ketiganya berbincang sampai waktu sore dan Ince Zulfa harus pergi lagi untuk menyelsaikan sesuatu urusan dari kesultanan.
+
Di Hutan Purba,
Ki Bolontio bersama Eyang Wasis dan rombongannya baru saja tiba,
Mereka langsung beristirahat di tempat yang telah di sediakan oleh anak buah Hantu Muka Lima.
Namun tak lama beselang para penghuni Hutan Purba digegrkan oleh kedatangan seorang berpakaian biksu compang camping..
Biksu itu membawa sebilah Pedang Pusaka pemberian Tetua Iblis Biru,
‘ Pedang Azazil” (Pedang Dewa Iblis),
Melihat “Pedang Azazil” semua penghuni hutan bersujud, memuja Dewa Iblis...
Tan Atai berdiri dengan Angkuh, sembari mengeluarkan sepucuk surat.
Bangunlah kalian..!! seru Tan Atai.
Semua kemudian bangkit berdiri walau masih dalam keadaan sedikit membungkukkan badan..
Kalian semua, dengarkan perintah Dewa Iblis..!! seru Tan Atai lagi.
Kami siap menerima perintah, seru seluruh penghuni hutan purba menggema ke seantero hutan..
Kepada Ki Bolontio dan Hantu Muka Lima, diperintahkan membuat pengaturan pada pengikut dan murid murid untuk membantu Tan Atai, mendirikan perguruan “Lengan Iblis”..seru Tan Atai membacakan surat di tangannyan..,
Kami siap Membantu Tetua Tan Atai dengan sepenuh jiwa...!! seru penghuni Hutan Purba lagi lagi menggema keseantero hutan.
Selanjutnya, Menaklukkan kekuatan kekuatan besar yanga ada di benua barat ini beseerta kesultanan Datuk Delapan..!! seru Tan Atai melanjutkan pembacaan surat.
__ADS_1
Di bawah pimpinan tuan Tan Atai, Kami Siap Menaklukkan seluruh kekuatan untuk kebesaran Dewa Iblis..! kembali seisi hutan berseru lantang.
Bagus, sekarang langkah pertama, umumkan keseluruh Benua Barat bahkan Lima Benua tentang berdirinya perguruan “Lengan Iblis’ dan menantang perguruan mana saja yang tidak setuju.., seru Tan Atai.
Baik Tetua Tan..seru Ki Bolontio.
Hantu Muka Lima, segera utus orang, bawa surat ke setiap kerajaan untuk meminta pernyataan tunduk pada perguruan Lengan Iblis..!! perinta Tan Atai lagi.
Seluruh pengikut kegelapan yang ada di hutan purba bersorak gembira, mereka sudah lama menahan diri menantikan momen pertarungan dengan golongan pembela kebenaran...
Tujuan Kita mendirikan perguruan lengan iblis adalah untuk menguasai dunia,.!!
Ayooo...kalian semua persipakan diri kalian dengan baik, tidak lama lagi kita akan kedatangan banyak tamu..seru tan Atai dengan percaya diri.
Siap...! sgera kami laksanakan tetua..! timpal Hantu Jatiwara dan Eyang Wasis bersamaan dan diikuti oleh yang lainnya.
Setelah pengumuman dari Hutan Purba, dengan cepat dunia persilatan bahkan seluruh Lima Benua menjadi gempar, terutama kalangan golongan putih..
Bagaimana tidak, sebuah perguruan baru dengan ‘Pedang Azazil” (Pedang Dewa Iblis) sebagai Pusaka Perguruan.
“pedang Azazil’ sudah puluhan ribu tahun hanya dibicarakan saja kehebatannya, dan kini tiba tiba muncul..sungguh suatu pertanda buruk bagi golongan puith.
Dari Pusaka Peruruannya saja sudah dapat diketahui, kalau perguruan ini adalah perguruan aliran hitam dengan kekuatan yang sangat besar.
Beberapa Hari kemudian,
Dua perguruan golongan putih nampak sedang berjalan menuju hutan purba,
Dua kelompok perguruan golongan putih ini adalah kelompok yang berada di wilayah Kerajaan Singgalang..
Sekte Pilar Emas dan Sekte Sembilan Harimau, mereka dipimpin oleh seorang sesepuh dari perguruan masing masing nanpak berjalan ringan..
Ki Diro, bagaimana menurutmu perguruan ‘Lengan Iblis’ itu..??tanya Ki Bulla dari Sekte Sembilan Harimau.
Aku sama sekali tidak tahu tentang perguruan ini, satu satunya yang aku tahu dari ketua Sekte Pilar Emas adalah ‘Pedang Azazil’ itu, perintah ketua adalah mengamankan ‘Pedang Azazil’ agar tidak memakan banyak korban, beber Ki Diro dari Sekte Pilar Emas.
Ya, Ketua Sekte kami juga mengatakan hal yang sama, timpal Ki Bulla.
Keduanya terlibat pembicaraan serius sambil berjalan menuju hutan purba, markas Perguruan Lengan Iblis.
Di Hutan Bambu,
Tak ketinggalan, Sein pun mendapatkan laporan dari Alap Alap Biru tentang ‘Perguruan Lengan Iblis” ini dengan Pedang Azazilnya.
Kakak, apa sebenarnya ‘Pedang Azazil itu..? tanya Sein pada Salman yang bersembunyi dalam banyangannya.
Pedang Azazil adalah pedang sakti buatan Mahluk Terkutuk Dewa Iblis pada puncak kekuatannya,..
Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, ia pernah menjadi pimpinan para Malaikat,
Saat itu ia memimpin para malaikat untuk mencari beberapa bahan terbaik untuk membuat sebuah Senjata Pusaka,..dan setelah bahan bahan terbaik itu terkumpul ia pun membuat sebuah pedang yang mereka namai pada waktu itu dengan ‘Pedang Keadilan’,..jelas Salman.
Lalu kenapa pedang itu sekarang bernama ‘Pedang Azazil’...? tanya Sein penasaran.
Seperti yang telah aku ceritakan juga, kalau penghuni Bumi ini sebelum Manusia adalah bangsa JIN,
Bangsa JIN ini suka sekali melakukan pertumpahan darah, melanggar ketentuan dan aturan serta tatanan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta,
Azazil yang waktu itu adalah JIN yang sangat taat pada Sang Pencipta dipilih untuk menjadi pereda perang dan penjaga perdamaian, karena itulah Pedang itu dibuat, untuk tujuan menumpas bangsa Jin yang suka sekali melakukan pertumpahan darah di muka bumi ini.
Karena itulah pedang itu dikenal di kalangan bangsa JIN dnegan sebutan ‘Pedang Azazil’...
Setelah angkara murka bangsa Jin di hentikan, “Pedang Keadilan’ ini tetap dipegang oeh Azazil sampai saat ia terusir dari kenikamatan Sang Pencipta karena kesombongnnya dengan membawa serta segala Kesaktian yang terlanjur dimilikinya termasuk Pedang Keadilan atau ‘Pedang Azazil’ itu.. beber Salaman.
Owh, apakah ada senjata yang mampu menandingi kekuatan ‘Pedang Azazil’ itu? Tanya Sein.
Ya, tentu saja ada,
“Tombak Nur Yasin”yang merupakan tombak pusaka tujuh alam dapat mengatasi ‘Padang Azazil’ itu..
tetapi tombak itu, aku hanya pernah mendengar namanya saja dari cerita Sang utusan Agung, aku juga belum pernah melihatnya..
Hm.. tombak itu tentu saja terlalu kuat untuk ‘Pedang Azazil’..
Tasbih Langit dan Cambuk Alfaruq sudah bisa mengalahkan “Pedang Azazil”, jelas Salman.
Owh, seperti itu rupanya, gumam Sein.
Apa selain pernah digunakan untuk menumpas bangsa Jin, ‘Pedang Azazil pernah digunakan..? tanya Sein lagi.
Ya...waktu itu Murid penghianat Utusan ke dua puluh tiga pernah menggunakannya, seperti sekarang, Dewa Iblis meminjamkannya untuk membuat kekacauan.., jawab Salaman geram.
setelah diam mencerna panyampaian Salman,
Sein bertanya kembali,
Apa sebaiknya kita secepatnya ke Hutan Purba untuk membereskan mereka agar pedang itu tidak memakan korban jiwa? Tanya Sein.
Belum saatnya,.. timpal Salman.
Kita dahulukan urusan yang lebih besar, membangun kekuatan tersembunyi..., cetus Salman.
__ADS_1
mm..baiklah.., Jawab Sein setuju.
+++