Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Wong Mu Menuju Danau Singkarak, Sein Bertemu Prabakara


__ADS_3

Ke esokan harinya,


saat orang orang mulai bersiap untuk berangkat menjalankan tugasnya,


Wong Liem nampak berjalan santai memasuki halaman kediaman Klan Wong,.


A Liem,..teriak Wong Mo, yang baru saja kembali dari kediaman Selir Buangan..


Emh...salam leluhur Mo,..sapa Wong Liem.


Dari mana saja kau, kami sudah beberapa hari di kediaman ini, kami baru melihatmu hari ini..., kata Wong Mo sambil berjalan mendekati Wong Liem.


Oh, leluhur Mo maaf,aku sedang berlatih tertutup jadi tidak tahu apa yang sedang terjadi di Klan kita.., jawab Wo Liem.


Tetua Liem, anda baru saja datang, kami hendak mencari pangeran Sein, kami akan menantangnya untuk bertarung..., kata Wong Bao.


Hehehe..., baguslah,..! timpal Wong Liem acuh tak perduli..


Melihat ini, serta merta Ketua Klan mengernyitkan kening,


Sungguh tidak punya rasa kebersamaan,.., rutuk Wong Lee..


Wong Liem yang mendengar rutukan dari Wong Lee hanya diam dan memasang wajah malas..


A Liem, kau terlihat sangat tidak bersemangat, apa yang terjadi denganmu..? tanya Leluhur Mu.


Oh, saya sedang banyak pikiran saja, maafkan saya leluhur Mu.., jawab Wong Liem.


Mm...baiklah, A Liem akan ada tugas untukmu, masuklah dulu..., seru Leluhur Ma..


Baik..! jawab Wong Liem masih terlihat malas...


Adik Mo, bagaimana kediaman itu..?


tanya Wong Ma


Kediaman itu sepertinya sangat sepi,..aku bahkan berkeliling kedalam, tidak ada seorang pun penjaga yang menyadarinya..., aku juga tidak merasakan adanya orang yang memiliki kekuatan besar dalam kediaman itu..., jelas Wong Mo..


Benarkah..? tanya Wong Ma heran.


Ada kemungkinan mereka sedang tidak di kediaman itu.., seru Wong Lee yang akhirnya berbicara lagi..


Selama beberapa hari ini sejak kedatangan empat leluhur klan perannya banyak di ambil alih oleh leluhur Ma..


Jika tidak di kediaman itu, berarti kita harus segera melacak kemana perginya mereka.., timpal Wong Mu..


Mm..untuk sementara urusan kediaman selir buangan itu, tidak usah kau pikirkan,..


Pagi ini, rombongan pemuda berbakat ini kau pimpinlah mencari pangeran itu ke Danau Singkarak.., perintah Wong Ma pada Wong Mu..


Baik kak,..kalau begitu, kami pergi dulu.., seru Wong Mu lalu melangkah pergi meninggalkan halaman kediaman Klan Wong di ikuti oleh ketok petarung muda Klan Wong,..


Setelah ke empatnya pergi, Wong Ma mengajak semua orang masuk ke aula,


Di dalam aula, Wong Liem telah duduk, masih dengan sikap malas,..


A Liem, aku memperhatikan kau sama sekali tidak tertarik dengan urusan Klan kita,.. apa kau tidak ingin lagi menjadi tetua klan..?


Hm...tetua ataupun bukan, apa bedanya..bagiku semua sama saja.., timpal Wong Liem.


Lancang ..! bentak Wong Mo..


A Liem,..! kau betul betul berubah.., ingat..!! apa yang terjadi pada Klan Wong kita adalah tanggung jawab kita semua, itu berarti hal ini juga adalah tanggung jawabmu.., Kata Wong Ma penuh penekanan..


Maaf leluhur Ma, saya sudah sejak lama tidak lagi tertarik dengan kehidupan yang rumit,..sekarang tujuan hidup saya sangat sederhana..,


Hidup tenang apa adanya di hari hari tua saya ini...


Huh...hari hari tua katamu.., kamu jangan berlagak lebih tia dari kami..lagi lagi Wong Mo membentak.


Leluhur Mo, aku hanya mengungkapkan keinginan hatiku, aku tidak mengatakan bahwa aku lebih tua dari para leluhur...


Di umur segini, aku sudah merasa tua, tapi kalau leluhur yang lebih tua dariku merasa masih muda ya..terserah saja..., timpal Wong Liem dengan acuh...


Brakkkk...!!


Kurang Ajar..!!


Teriak Leluhur Mo lalu berdiri dari tempat duduknya dengan wajah merah padam menahan amarah,..


Semesta itu, Wong Liem sama sekali tidak menoleh ke arah leluhur Mo, Wong Liem terus duduk dengan acuh sambil menyesap teh di hadapannya..


Leluhur Mo...tenang dulu..., ! kata Wong Ma menenangkan.


Huh....! leluhur Mo kembali duduk dengan mendengus kasar...


tatapannya terus lekat pada Wong Liem yang kelihatnnya sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitarnya..


Tetua Liem, jika kau seperti ini terus, jangan salahkan aku mencabut status tetua kedua darimu..., tambah Wong Lee...


Hehehhe....semua terserah kalian saja, jawab Wong Liem santai..


Baik..., aku umumkan mulai hari ini Wong Liem, bukan lagi tetua kedua di Klan Wong, sekarang ia adalah anggota keluarga biasa..., seru Wong Lee...


Ini..., ah...wong Lee..kau terlalu terburu buru..., ucap Leluhur Ma lirih..


Heheh, Terimakasih sudah membebaskanku dari tanggung jawab yang tak bisa ku pikul itu, ketua..., timpal Wong Liem dengan wajah berbeda...


Kali ini wajahnya memancarkan kegembiraan...

__ADS_1


Jawaban Wong Liem malah membuat Ketua Klan, Wong Lee,..makin naik pitam..


Apa..? bagus....!! sekalian saja...


mulai hari ini kau bukan lagi anggota Klan Wong, semua fasilitas dan semua biaya keperluan bulananmu dihentikan saat ini juga..., semua yang terjadi pada klan ini, tak ada lagi hubungannya denganmu, begitu pun sebaliknya..seru Wong Lee dengan wajah gelap...


Ohoho...Terimakasih, kalau begitu aku pamit, aku akan kembali berkemas dan segera keluar dari rumah yang kutempati selama ini..., kata Wong Liem menjura ringan lalu pergi dengan wajah sumringah..


Semua orang di ruangan itu hanya bisa terdiam memandang tak percaya, akan sikap Wong Liem..


Setelah Wong Liem pergi, Leluhur Meminta agar seseorang membuntuti Wong Liem..


A Lee..atur orang membayangi A Liem, ingat jangan pernah lengah..terus laporkan perkembangannya..., aku mencium sesuatu yang tidak biasa dari A Liem..beber Leluhur Ma.


Anak tua itu benar benar membuatku marah,..sambung Wong Mo.


Hmh...saat ini ia bukan lagi anggota Klan Wong, kita tidak perlu mengurusinya lagi.., kata Wong Lee..


Justru itu yang aku takutkan..., saat ini ia bukan lagi anggota Klan Wong kita, maka ia akan bebas melakukan apapun, termasuk yang merugikan klan kita.., itulah mengapa aku mengatakan padamu tadi bahwa kau terlalu terburu buru,...kau mengerti..?Jelas Leluhur Ma.


Mm..mengerti...iya leluhur Ma, aku mengerti..., jawab Wong Lee malu.., kini ia baru menyesali keputusannya mencopot dan mengusir Wong Liem.


Baiklah, selanjutnya Leluhur Mo..coba ceritakan dengan detail bagaimana keadaan kediaman selir buangan itu.., kata Leluhur Ma..


Mm.., kediaman itu sangat lengang, tidak seperti ada seseorang yang punya kedudukan di dalamnya..,berbanding terbalik dengan


penjagaan di luarnya yang memang sangat ketat,.., jelas Wong Mo.


Berarti selir licik ini sedang bermain trik,..saat ini pastilah ia sedang bersembunyi di suatu tempat sambil memantau keadaan.. simpul Wong Ma.


Ya, betul...sepertinya memang ia menghindari incaran para petarung dunia persilatan.., tambah Wong Mi.


A Lee, perintahkan orang kita menyelidiki di mana selir itu berada.., ucap Wong Ma.


Baik leluhur Ma, segera di laksanakan.., timpal Wong Lee.


+


Rombongan yang dipimpin Wong Mu terus berjalan menuju Danau Singkarak..


Mereka terus berkelebat dengan kecepatan tinggi keluar dari kota Maccini lalu melintasi ibukota kemdian mengararah ke utara..


Di tempat lain, pagi itu juga...


Sein membaca pesan dari alap alap biru..


' Tuan, Satu Ikan besar dan tiga ikan kecil berenang menuju danau singkarak '.


Mm.. Sein manggut manggut membaca pesan itu,


setelah membaca pesan, Sein segera pamit pada para tetua untuk ke Danau Singkarak yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah pengungsian yang mereka tempati saat ini..


Beberapa saat kemudian, Sein dengan aji malih rupa mengubah wujudnya dan karaeng Gantarang sehingga nampak seerti pemancing ikan tua, bertubuh kurus..


Dalam perjalanan ke Danau Singkarak Sein berpapasan dengan seorang lelaki berusia tiga puluhan,..


Tunggu...!! teriak lelaki itu pada Sein dan Karaeng Gantarang.


Sein dan Karaeng Gantarang tidak menghiraukan lelaki itu, mereka saat ini sedang malas berurusan dengan hal remeh temeh..


Tapi justru lelaki itu marah dan mengejar Sein dan karaeng Gantarang..


Heii...., ! tunggu ...


Ah sialll....!! hei , awas kalian...,


umpat lelaki itu sambil terus mengejar..


Sein, karena mengimbangi kecepatan Karaeng Gantarang akhirnya tersusul oleh lelaki itu...


Heiii..., kalian berdua, benar benar kurang ajar...! berani beraninya kalian mengabaikan panggilan dariku.., rutuk Lelaki itu marah..


Mm..? tuan memanggil kami..? tanya Karaeng Gantarang pura pura tidak tahu...


Ya...aku memanggil kalian,..!! jawab lelaki itu penuh emosi.


Oh..maaf tuan, kami pikir bukan kami yang tuan panggil.., kilah Karaeng Gantarang.


Eh, otakmu kemasukan kotoran..?


di sini tidak ada orang lain, jelas saja aku sedang memanggil kalian..! bentak Lelaki itu..


Oh...maaf..., kami terburu buru, jadi tidak begitu memperhatikan.., maaf.., kata Karaeng Gantarang..


Huh,...kalian berdua mau kemana..? tanya lelaki itu..


Kau sangat tidak sopan, dan Apa perlunya kami harus memberitahumu..? tanya Sein.


Tentu saja, aku adalah penguasa daerah ini..,! tidak ada yang bisa lewat tanpa ijin dariku..., mengerti...!!? timpal lelaki itu dengan wajah sombong.


Uuuhhhhh,..ingin rasanya ku hancurkan wajahnya yang sombong itu..., batin Sein.


Terserah...,! kata Sein lalu segera berkelebat pergi...


Hei, ..kurang ajar,...!! Lelaki itu langsung mengejar sambil mengerahkan pukulan jarak jauh...,


Karaeng Gantarang yang belum sempat berkelebat terpaksa memapak serangan itu...


Bhummm...!!!

__ADS_1


Lelaki itu terlempar tiga tombak..


sementara karaeng Gantarang tetap berdiri kokoh tanpa ekspresi..


Tuan, jangan sembarangan menyerang orang..., ucap Karaeng Gantarang tajam.


Sein yang sedang berkelebat menyadari di belakangnya ada pertarungan, segera berbalik...


Melihat lelaki itu terbaring dengan wajah pucat Sein terkekeh..


Hehehe..., kenapa? mana kesombongabmu tadi,..? tanya Sein.


Huh,..kalau saja guruku di sini kalian pasti akan binasa..., balas lelaki itu masih saja sombong.


Hehe...ayo panggil gurumu kesini biar sekalian ku perlihatkan caranya mendidik murid tak berguna sepertimu..! ejek Sein.


Kau...!!! awas kau...!! kata lelaki itu mengumpat..


Jika kau tahu siapa guruku maka lututmu akan gemetar dan keringat dingin mu akan mengucur.., huh..uh.., kata lelaki itu dengan nafas tersengal..


Hehe..memangnya siapa gurumu..? tanya Sein, dengan nada mengejek..


Hahaha, entah penjahat besar seperti apa yang bisa punya murid bengal seperti anak ini.., haha.., tambah Karaeng Gantarang memanasi.


Diam,..! guruku adalah pendekar terhormat golongan putih..,bentak lelaki itu.


Ck.ck.ck..


Kasihan.., orang terhormat golongan putih, bisa punya murid yang kelakuannya sangat memalukan sepertimu..ck.ck.ck...sangat di sayangkan.., lagi Sein mengejek lelaki itu.


Huh. , kau dengar baik baik, Guruku adalah Begawan Sidik Parasada,..! seru lelaki itu...


Hahaha..., lalu kenapa kalau kau murid begawan itu..?? tanya Sein masih terus mengejek.


Baiklah, aku akan menunjukkan ilmu kehebatan warisan guruku,.., hehe..kalian akan mampus.., umpat Lelaki itu...


Ilmu apa yang hebat dari begawan itu, apa kau sudah menguasai Aji Dasa Indra dengan sempurna..?? tanya Sein merendahkan..


Hah..? kau tau ilmu andalan guruku.., ucap lelaki itu tercekat.


Hahaha..aku bahkan biaa melakukannya lebih baik dari gurumu.., lihatlah.., seru Sein lalu mengerahkan Aji Dasa Indra...


Sein memang memiliki kemampuan menguasai ilmu lawan hanya dalam sekali lihat,..karena itu pada saat bertarung dengan Begawan Sidik Parasada waktu itu ia bisa sekalian mempelajari Aji Dasa Indra, dan kini sudah menguasainya dengan sempurna..


Hah..., i..it.uu...., Aji Dasa Indra..!! seru lelaki itu terkejut..,


Kenapa..? heran..? namamu pasti Prabakara.., kata Sein.


D..dari mana kau tahu namaku...?tanya lelaki itu yang memang bernama Prabakara.


Jelas saja gurumu yang sering menyebut namamu saat berbincang dengan kami.., dasar anak bengal.., rutuk Karaeng Gantarang..


Heh, ketakan mengapa kau menjadi rampok di sini..., tanya Sein.


Siapa yang jadi rampok..? kilah Prabakara.


Tadi kau mencegat kami dan tak mengijinkan kami lewat.., kata Karaeng Gantarang..


Oh..itu karena pesan guru, siapapun yang melalui daerah ini harus aku periksa lalu melaporkan pada guru melalui pesan burung pipit..,


Oh, kalian pasti menguasai Aji Gineng...kata Sein tersenyum.


Hah, siapa kalian sebenarnya, mengapa banyak tahu tentang kami..., tanya Prabakara .


Hahaha, teanglah, tidak usah cemas, Kami adalah teman gurumu, nanti kami akan mengantarmu ke tempat gurumu berada, tapi saat ini kami sedang buru buru mau ke Danau Singkarak.., jelas Karaeng Gantarang.


Mm..bagaimana kalau aku ikut kalian ke Danau Singkarak,..setelah itu kalian mengantarku bertemu guru.., kata Prabakara.


Baiklah...ayo kita pergi.., ajak Sein lalu berkelebat pergi, disusul oleh kedua orang di belakangnya..


+


Ditempat lain,


Romobongan Wong Mu dan ketiga pemuda klan wong sudah memasuki hutan menuju Danau Singkarak..


Mereka dari arah timur sedangkan Sein dan rombongan nya dari arah barat.


Leluhur Mu, apa orang yang kita cari ini benar benar sakti seperti yang di beritakan? tanya Wong Jiu.


Mm..kita akan tahu saat berhadapan langsung dengannya nanti.., jawab Wong Mu.


Aku tidak sabar ingin menjajal kehebatan pangeran itu,..Ucap Wong Bao..


Aku juga,..sambung Wong Xin.


Heh,..jangan gegabah, kalian,.. Wong Xin dan Jiu hanya berada di ranah Grand Master Abadi Tingkat Tiga saja, Sedangkan Kau Wong Bao walau berada Grand Master Abadi tingkat enam tetap saja masih terlalu jauh jika di banding Si Petarung Gila.., jelas Wong Mu.


Hehe...Si Petarung Gila itu biar urusan Leluhur Mu saja, sedangkan pangeran itu biar kami bertiga yang menanganinya, bagaimana leluhur Mu..? hehe..., usul Wong Bao...


Mm..boleh boleh saja,..tapi apa kalian lupa, kalau Tetua Liem juga kalah dari pangeran itu..? tanya Wong Mu.


Leluhur Mu, bagai mana menurut leluhur mengenai kekuatanku, apa aku bisa menang melawan Petarung Grand Master Abadi yang berada di atasku..? tanya Wong Bao.


Ya..dengan teknik rahasia Klan yang kau kuasai saat ini, kau dapat sebanding dengan petarung Grand Master Abadi tingkat Delapan, tapi itu juga tergantung pada lawan yang kau hadapi, jika lawanmu juga punya teknik yang bagus maka kau tetap akan kesulitan.. jawab Wong Mu.


Mm..apakah tingkatan Tetua Liem saat bertarung dengan pangeran itu..? tanya Wong Xin.


Mm..entahlah tapi sepertinya Grand Master Abadi tingkat enam atau tujuh.., jawab Wong Mu.

__ADS_1


Sambil berkelebat mereka terus berbincang...


+++


__ADS_2