
Tepat pada siang hari,
Ketiga petarung benua congko itu akhirnya berkumpul kembali ke tempat semula....
Kakak, bagaimana ?
Yang Leiting menggeleng...
huh...sulit, aku bahkan hampir ditangkap prajurit saat menanyakan kediaman sekertaris kesultanan ini..., jelas Yang Leiting dengan wajah penuh penyesalan..
Eh kalian bagaimana..?tanya Yanh Leiting.
Kami sudah ke kediaman nyonya Atikah, tapi nyonya itu sudah tidak tinggal di sana..., jawab Yang Siao.
oh?jadi dimana kita harus mencarinya..? timpal Yang Leiting kembali bertanya.
Kata orang suruhannya, siapa saja tamu pentinh yang mencarinya, agar di beritahu secara rahasia, nyonya Atikah sudah pindah ke Jurang Gunung Tujuh..., jelas Yang Siao.
Owh..? tempat apa itu..dan di mana itu..? tanya Yang Leiting lagi.
Tenang kak, ini alamat yang kita akan tuju.., kata Yang Fei menunjukkan selembar peta kain..
Oh itu baik sekali, kalau begitu ayo kita segera ke sana saja..., ajak Yang Leiting..
+
Malam Hari
Saat ketiga orang benua congko itu sibuk mencari cari orang,
Seseorang yang sejak siang tadi mengintai dalam persembunyian, kini keluar dan bergerak dengan cepat menuju kediaman Jendral Mukti...
Dalam waktu sekejap ia sudah melumpuhkan prajurit yang berjaga di kediaman itu..
Brakkk...!! pintu ruang kerja Jendral Mukti hancur berkeping keping...
Seorang berpakaian serba hitam ringkas menggunakan topeng yang berwarna merah gelap terlihat berdiri di ambang pintu...
Siapa Kau..?? bentak Jendral Mukti yang kebetulan sedang berada di ruangan itu..
Hehe...siapa aku itu tidak penting...! jawab orang bertopeng..lalu dengan beringas menyerang Jendral Mukti...
Jendral Mukti adalah salah satu jendral kuat milik kesultanan Datuk Delapan..., mendapatkan serangan beringas seperti itu membuatnya cukup terkejut...
Orang ini memiliki kesaktian yang luar biasa..., batin Jendral Mukti sambil terus menghindari serangan orang bertopeng.
Jendral Mukti cukup kelabakan menghadapi orang bertopeng, ia hanya bisa sesekali membalas serangan sehingga lama kelamaan ia semakin terdesak...
Bhummm...! sebuah pukulan telak mengenai punggng Jendral Mukti..tubuhnya mencelat beberapa tombak dan jatuh ke lantai dengan keras...
Bukkkk...!!
Aargh...., erangan cukup nyaring terdengar dari mulut jendral Mukti, sementara itu orang bertopeng masih tegap berdiri dan menyeringai mengejek..
Jendral Mukti bangkit dengan Nafas berat, ..dadanya terasa sesak akibat hantaman yang mengenai punggungnya..
Apa yang kau inginkan...? tanya Jendral Mukti...
Huh...! orang bertopeng hanya mendengus dingin lalu kembali menyerang..
Kali ini Jendral Mukti bertekad untuk bertarung hidup mati...
Ia segera mengeluarkan senjata andalannya,.. " Rantai Arwah "..
Rantai berwarna hitam pekat itu menyebarkan aura yang sangat pekat...
Orang bertopeng sedikit terkejut..lalu terkekeh...
Senjata bagus..senjata bagus..., sayang jika di tangan orang sepertimu...,kata orang bertopeng lalu kembali menerjang...
Tak tinggal diam..Jendral.Mukti mengayun Rantai Arwah menyambut serangan orang bertopeng,..
Wuttt....wutttt....,..
Dhummmmm...!!! kedua kekuatan beradu.., Rantai Arwah berbenturan dengan tinju lelaki bertopeng..
ledakan cukup kuat terjadi...
ruangan bergetar hebat,
Jendral Mukti terhuyung beberapa langkah kebelakang...
Orang bertopeng terlempar dan tubuhnya membentur dinding ruangan...
Belum sempat Jendral Mukti menyerang kembali, sebuah siluet dengan cepat menyambar tubuh orang bertopeng lalu melepaskan pukulan tangan kosong ke arah jendral Mukti,..
Jendral mukti menyambut dengan ayunan Rantai Arwah...
Dharrr....!! dua kekuatan kembali beradu..
Jendral Mukti terpelanting kebelakang dengan tangan yang memegang rantai melepuh terbakar..., Rantai Arwah jatuh dari genggamannya...
Sial...!! siapa itu...??? bentak Jendral Mukti..
Namun siluet itu sudah hilang bersamaan dengan orang bertopeng...
Uh...uhuk....!! Jendral Mukti terbatuk..
Dadanya terasa makin sesak...,
Ia lalu duduk bersila mengatur kembali jalan nafasnya yang kacau, lalu beberapa saat kemudian ia menelan sebutir pil penyembuh dan sebutir pil pemulihan...
Tak Jauh dari kediaman Jendral Mukti,
Di sebuah rumah tua, dua orang berpakaian hitam nampak duduk bersila, yang satu menempelkan telapak tangannya pada punggung orang di depannya...
Uhuk...!! orang di depan terbatuk...
Tahan sedikit lagi...! seru orang di belakangnya yang menempelkan telapak tangan pada punggungnya..
__ADS_1
Orang ini sedang menyembuhkan orang yang di depannya..
Setelah beberapa saat,
whuss....!! Hup..., penyembuhan sudah selesai...kata orang yang menempel tapak tangan, sambil menarik kembali telapak tangannya..
Orang yang di sembuhkan ini ternyata adalah orang bertopeng yang barusan menyerang Jendral Mukti..
Kau sungguh ceroboh, tugas ini saja kau hampir gagal..., kata orang yang menyembuhkannya..
Ayah, Maaf.. aku memang tidak memperhitungkan kekuatan senjata rantai itu..., tadinya aku berniat merebut rantai sakti itu.., timpal orang bertopeng...
Rantai itu memang senjata bagus,..kata Ayah orang bertopeng.
Mengapa ayah tidak merebutnya sekalian..? tanya orang bertopeng.
Mana sempat,...Jika aku terlambat mengobatimu,.kalau akan cacat seumur hidup terkena rantai itu..., jelas Ayah orang bertopeng.
Ya sudahlah,..lain kali berhati hati lah saat menjalankan tugas...,kata orang yang dipanggil ayah.
Mana daftar itu,...siapa lagi target kedua, biar aku yang melakukannya untukmu, kau istirahat saja dulu.., kata ayah orang bertopeng itu.
Tapi ayah..,
Sudah, mana daftarnya...kau kerjakan saja besok untuk target yang ketiga..kata ayah orang bertopeng memotong..
Mmm...ya..., timpal orang bertopeng lalu mengeluarkan daftar nama target dan menunjukkan pada ayahnya..
Setelah membaca sejenak, ayah orang bertopeng lalu berkelebat pergi...
Kau tunggu aku kembali di tempat persembunyian, jangan kemana mana...,!!! suara ayah orang bertopeng menggema saat sosoknya telah menghilang..
Orang bertopeng mengagguk, lalu berlari kembali kepersembunyiannya..
Dini hari,..
Kediaman Datuk Mangkuto..
Slisshh...., sesosok berkelebat seperti bayangan menembus celah pintu yang tidak tertutup rapat..
Datung Mangkuto, yang sedang duduk bersila dengan mata terpejam perlahan membuka mata...
ia menyadari kehadiran seseorang dalam kediamannya...
Huhh...seseorang dengan aura membunuh ini..., sepertinya aku mengenali aura ini.., batin Datuk Mangkuto...
Baru saja Datuk Mangkuto membatin, sosok itu sudah tiba di hadapannya...
Datuk Mangkuto terkejut debgan kecepatan orang ini..
Siapa kau...???bentak Datuk Mangkuto..
Aku malaikat mautmu...jawab orang itu...
Kita tak punya dendam, mengapa kau kemari mencariku..? tanya Datuk Mangkuto..
Hah..ja..jadi...kau benar benar sudah kembali...!!seru Datuk Mangkuto..
Pemberontak Makil...!!
Kau sungguh berani..kali ini kesultanan pasti akan menumpasmu sampai habis..ejek Datuk Mangkuto, dan diam diam menekan sebuah tombol kayu di samping pahanya..
Tombol itu adalah tombol darurat, jika salah satu dari delapan datuk menekan tombol seperti itu di kediaman mereka, maka ketujuh datuk lainnya akan dengan cepat menuju sumber panggilan darurat itu..
Aku tidak perduli, yang penting saat ini akulah yang akan menumpasmu lebih dulu...
Kalian delapan datuk, saat itu membantu malik untuk melenyapkanku, sejak dulu dendam ini kupendam, setelah puluhan tahun, akan kubalaskan satu persatu mulai hari ini..., ucap Makil penuh amarah..
Heheh...pemberontak Makil, apa kau sudah memikirkan konsekwensinya saat kembali ke kesultanan ini..? tanya Datuk Mangkuto meremehkan...
Kau tidak usah banyak bicara..., hardik Makil,.lalu menyerang dengan ganas...
Hei..tunggu...! seru Datuk Mangkuto sambil berkelit...
Apa yang akan di tunggu, aku sudah tidak sabar untuk menghabisi kalian....seru Makil tanpa kompromi..
Datuk Mangkuto, tadinya hendak mengulur waktu, menunggu datuk lainnya tiba agar bisa dengan cepat meringkus Makil, tapi Makil tidak berselera lagi untuk berbicara lebih banyak dengannya...
Keduanya pun segera terlibat pertarungan sengit..
Dengan cepat sudah beberapa kali terjadi pertukaran pukulan, tampak jelas, Makil berada di atas angin..
Datuk mangkuto semakin kesulitan, keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya,..
Ergghhh...., Datuk Mangkuto mencoba bertahan sekuat tenaga, ia berharap para Datuk Lainnya segera tiba...
Beberapa tarikan nafas berikutnya tubuh Datuk Mangkuto mencelat terkena tendangan keras dari Makil..
Tubuh Datuk mangkuto membentur dinding ruangan, dinding ruangan hancur sementara tubuhnya terus melayang keluar ruangan lalu kemudian jatuh dan berguling diatas tanah..
Tubuh Datuk Mangkuto diam tak bergerak lagi..., Pangeran Makil lalu mengeluarkan bendera segi tiga berwarna merah hitam bertuliskan "Masih akan ada yang menyusul, Pembunuh Gelap" lalu meleparkannya hingga besi di salah satu sisi bendera menancap di dahi Datuk Mangkuto, lalu dengan cepat berkelebat pergi..
Tak lama berselang,..Datuk Garang dan Datuk Pamuncak tiba..
Hup..tap...,
Keduanya menjekkan kaki di halaman rumah Datuk Mangkuto..
Mereka memandang berkeliling...
Sepertinya semua penjaga telah terbunuh...,! gimana Datuk Pamuncak..
Mereka bergegas memeriksa kediaman itu,..
Sampai pada saat mereka memasuki halaman tengah dimana halaman itu merupakan halaman ruang pertarungan antara Datuk Mangkuto dan Makil sebelumnya.
Hmm..lihat...! Seru Datuk Garang..
Mereka segera berlari menghampiri tubuh Datuk Mangkuto yang tergeletak dengan bendera menancap di dahinya...
__ADS_1
Kurang Ajar...!! pelakunya sangat sombong..., pekik Datuk Pamuncak..
Saat iti bersamaan tiba di tempat itu Datuk Rangkayo, Datuk Batuah dan Datuk Tan Gadang..
Sementara Datuk Rajo dan Datuk Ago baru saja menangani seorang bertopeng hitam yang menyerang kediaman Datuk Rajo,
Datuk Ago yang hendak ke kediaman Datuk Mangkuto, karena mendengar suara pertarungan di kediaman Datuk Rajo ia kemudian mampir dan melihat Datuk Rajo sedang bertarung dengan sengit...,
Setelah orang bertopeng itu melihat kedatangan Datuk Ago ia pun melarikan diri...
Datuk Ago dan Datuk Rajo akhirnya bersama sama menuju kediaman Datuk Mangkuto..
Keduanya terlambat,..melihat Datuk Garang, Datuk Rangkayo, Datuk Batuah, Datuk Tan Gadang, Datuk Pamuncak semuanya duduk beraedih mengelilingi tubuh Datuk Mangkuto..
Datuk Ago Dan Datuk Rajo pun merasakan kesedihan yang sama..
Datuk Ago,..lihatlah bendera ini...! ucap Datuk Garang...
Hmm..ya..ini baru pertama aku melihat bendera seperti ini..., timpal Datuk Ago.
Sepertinya ada kekuatan baru dalam dunia persilatan benua barat ini.., ucap Datuk Rangkayo lirih..
Mm..belum tentu, mungkin juga asa orang yang berusaha mencari nama di dunia persilatan dengan cara jahat seperti ini...
Apa Datuk Garang sudah memeriksa tubuh Datuk Mangkuto..? tanya Datuk Ago...
Iya, Datuk...kematian Datuk Mangkuto disebabkan oleh pukulan mengandung energi api yang sangat kuat..., jelas Datuk Garang..
Datuk Ago juga segera memeriksa tubuh Datuk Mangkuto..
Hmm..
Sepengetahuan aku, di dunia persilatan, hanya beberapa orang saja yang melatih energi api yang kuat, Li Puaro Penguasa Jurang Gunung Tujuh dan Eyang Pikulun sang Raja Kegelapan..kata Datuk Ago.
Energi Merah Yang ..? Atau energi Api Merah Kegelapan..? tanya Datuk Rajo.
Datuk Ago menggeleng,
Bekas pukulan di tubuh Datuk Mangkuto ini bukanlah keduanya.., energi ini memang sekilas tampak mirip tapi ada perbedaan yang sangat samar,..
Kalau aku tidak salah terka, Energi ini adalah Energi Api Hitam..
Energi Api Hitam..?
Bukankah orang yang melatih energi gelap itu sudah tidak pernah ada lagi..?tanya Datuk Rajo.
Ya..., sudah hampir seribu tahun sejak terakhir kali energi ini mengguncang jagad raya..., kata Datuk Ago.
Kita harus berhati hari, nampaknya hari hari kelam dunia persilatan akan segera dimulai..., tambah Datuk Ago mengingatkan..
Semua nampak tercengang mendengar penuturan Datuk Ago..
Aihh...tenanglah..., ini baru dugaanku saja..., belum tentu benar..., kata Datuk Ago...
Baiklah, ayo kita urus dulu jenazah Datuk Mangkuto baru kita pikirkan cara untuk menangani masalah ini..
Baik..., ketujuh Datuk pun segera membawa Jasad Datuk Mangkuto masuk ke kediaman..
Hari masih gelap,..
Para petinggi kesultanan berdatangan ke kediaman Datuk Mangkuto..
Mereka.mendapat kabar mengejutkan tentang kematian datuk mangkuto tepat di tengah malam...
Para datuk sengaja menyampaikan berita kematian Datuk Mangkuto ini pada semua petinggi kesultanan sesegera mungkin pada malam itu karena mereka berencana akan segera menguburkan jasad itu pada keesokan hari saat matahari belum terlalu tinggi...
Berita Kematian Datuk Mangkuto yang terbunuh oleh pembunuh misterius, dengan ancaman " akan ada lagi yang menyusul.."
Ditambah lagi berita bahwa Jendral Mukti juga telah di serang oleh orang bertopeng pada malam yang sama,..membuat suasana di ibu kota cukup mencekam..
Beberapa pejabat tinggi mulai ketakutan..., takut jika mereka juga akan di datangi oleh pembunuh misterius itu..
+
Setelah mengadakan pemakaman untuk Datuk Mangkuto, Sultan Malik mengadakan pertemuan darurat..
Di Aula Kesultanan..
Sultan Malik memimpin pertemuan dengan serius...
Pelaku pembunuhan ini harus segera di tangkap...,
Hanya dalam sehari saja, kepanikan di dalam ibukota sudah cukup menghawatirkan.., kata Sultan Malik..
Betul baginda, kami hawatir pembunuh itu juga mengincar kami..., kata salah seorang menteri..
Tuan tuan sekalian...mohon tenanglah..kita akan semakin memperketat penjagaan di ibu kota..., mulai malam nanti kita akan memperlakukan jam malam di ibu kota...aku telah mengatur agar prajurit melakukan patroli sepanjang malam mulai malam ini.., jelas Menteri Keamanan..
Jendral Mukti, apa kau bisa mengenali orang bertopeng yang menyerangmu..?tanya Datuk Ago..
Orang itu sangat sakti, aku bahkan menggunakan Rantai Arwah untuk menghadapinya..., untungnya ia ceroboh..ia terluka oleh sabetan Rantai Arwah, tetapi ia dengan cepat di tolong oleh seorang yang bahkan lebih dari orang bertopeng itu...,jelas Jendral Mukti dengan rinci..
Oh...mereka ada dua..? apa keduanya menggunakan topeng..?tanya Sultan Malik..
Aku tidak melihat orang yang menolong penyerang bertopeng itu, gerakannya sangat cepat,..aku hanya bisa melihat siluet samar yang menyambar tubuh penyerang bertopeng itu dan membawanya pergi bahkan ia sempat melakukan serangan jarak jauh padaku...,jelas Jendral Mukti lagi..
Datuk Ago segera berdiri dan menghampiri jendral Mukti, kemudian memeriksa luka luka bakar di tubuhnya yang kini sudah mulai mengering..
Hmm...ini, sama dengan luka di tubuh Datuk Mangkuto.., berarti orang yang menyerang mu sama dengan orang yang menyerang Datuk Mangkuto.., kata Datuk Ago..
Datuk, jangan lupa, ..semalam aku juga di serang oleh orang bertopeng..kata Datuk Rajo..
Ah iya, betul..aku hampir lupa...,seru Datuk Ago...
Rupanya mereka benar benar mengincar orang orang penting di kesultanan ini.., kata Sultan Malik..
Kita benar benar perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi huru hara besar..., tambah Sultan Malik.
+++
__ADS_1