Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Persiapan Ki Blirik Menjalankan Tugas dan Kisah Tan Atai


__ADS_3

Kantil masih kebingungan, selain belum mengetahui dengan pasti siapa keempat tamu itu, ia juga khawatir jika tamu itu tahu bahwa selir Atikah sudah tidak di kediaman itu lagi,


Mm..sebaiknya kutanyakan dulu siapa mereka itu.., batin Kantil.


Ia pun bergegas kembali ke ruangan tamu menemui Ki Blirik dan lainya,..


Ehm...maaf tuan, bagaimana apakah tehnya enak..? tanya Kantil..


Oh, iya ..teh ini aromanya sangat harum dan rasanya enak,..jawab Jendral Rambun...


Oh..ehm..kalau boleh tahu tuan tuan ini siapa dan keperluan apa hendak menemui nyonya..,.


Eh,..apa kau tidak lihat dan mendengar , para penjaga tadi menyebutku dengan Jendral Besar..? jawab Ki Blirik..


Iya, itu aku dengar, tapi maaf.. saya belum tahu dengan jelas identitas tuan tuan..., jawab Kantil canggung.


Heheh..kakak, kalau tau kita siapa mungkin gadis ini akan terkejut..., hehehe.., timpal Jendral Cataka..


Hahahaah, ..Ki Blirik tertawa terbahak lalu berkata, aku Jendral Besar Blirik dan mereka adalah adik adikku..., beberapa waktu lalu Kenanga datang menemuiku di Pulau Tanabala atas perintah nyonya,. apa sudah jelas...?? beber Ki Blirik.


Pe...penguasa Pulau Tanabala...??seru Kantil...


Maaf, Jendral Besar...aku tidak mengenal tuan..maafkan saya..., kata Kantil tertunduk..


Heheh, tidak masalah nona.., sekarang bagaimana keadaan nyonya,..apa kami bisa bertemu dengannya...? tanya Ki Blirik..


Oh, tentu,..aku akan segera menyampaikan ini pada nyonya... , jawab Kantil lalu beranjak ke dalam..


Akhirnya Kantil berpikir keras, lalu ia bergegas mengambil pedoman dan penunjuk arah dalam kotak bonekanya, dimana kotak boneka Kayu itu hanya ia dan Selir Atikah yang tahu tempatnya..


Setelah mengambil petunjuk arah itu Kantil mendekati pembantu bagian dapur yang sedang memasak,..


Bi Amah..!, aku mau ke pasar dulu, ada yang ketinggalan tadi,


di luar ada tamu mau bertemu Nyonya, Nyonya sedang berlatih di kamarnya, jagan di ganggu dulu..mungkin beberapa hari kedepan baru nyonya keluar menemui mereka,.. jamu saja dulu mereka beberapa hari ini, masih banyak kamar kosong di samping ...Jelas Kantil.


Mm..baiklah, jangan hawatir, biar nanti aku saja yang menjamu tamu tamu itu,.., jawab Bi Amah,..


Kantil kemudian bergegas mengambil seekor merpati lalu memasukkan kedalam kerangkeng kecil lalu membawanya masuk kedalam lorong rahasia meninggalkan kediaman Selir Buangan, menyusul Selir Atikah ke Jurang Gunung Tujuh..


Setelah lama menunggu di ruang besar itu,


Ke empat orang tamu ini mulai merasa bosan,..


Karena lama tak ada yang keluar menemani mereka, maka Jendral Janu berteriak memanggil manggil pelayan...


Pelayan....!! pelayan...!! seru jendral Janu..


Tak lama berselang keluarlah Bi Amah dengan tergopoh gopoh,..


Ada apa tuan tuan, apa minumnya mau ditambah..? ucap Bi Amah..


Tidak perlu, kami butuh secepatnya bertemu dengan Nyonya.., kata Ki Blirik..


Oh..masalah itu aku harus menceritakan sesuatu pada tuan,..


nyonya sedang latihan di kamarnya, mungkin beberapa hari lagi baru keluar menemui tuan tuan,..


Tuan menunggu saja dulu sambil istirahat,..di samping ada beberapa kamar kosong..mari aku tunjukkan.., kata Bi Amah, menawarkan.


Mm...setelah mereka diam beberapa saat akhirnya Ki Blirik mengangguk..


Baiklah, tunjukkan saja di mana kamar kami..,


Hehehe, ayo mari tuan tuan..! ajak Bi Amah..


Bi amah mengantar mereka dan menunjukkan kamar masing masing...,


Nah tuan tuan, setiap waktu makan saya akan memanggil tuan tuan, dan jika tuan tuan butuh cemilan atau lainnya panggil saja saya..., saya mau kebelakang dulu melanjutkan memasak..., kata Bi Amah.


Eh, tunggu..nona pelayan yang tadi mana..? tanya Ki Blirik


Oh, Kantil..., ia ke pasar katanya tadi masih ada yang ketinggalan belum sempat ia beli..., jelas Bi Amah..


Owh...iya..iya..., kembalilah..., kata Ki Blirik..


Bi Amah pun segera kembali menuju dapur..


Ke empat tamu itu beristirahat dengan tenang, cukup lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh, mereka pun tertidur..


+


Malam hari mereka terbangun, yang lebih dulu terbangun adalah Jendral Janu...


ia keluar kamar dan mendapati sepoci teh dan penganan kecil di meja depan kamarnya...


ia pun duduk bersantai dan menyesap teh dengan nikmat...


Saat tengah menikmati teh, jendral besar Blirik juga keluar kamar, sama seperti Jendral Janu, di meh depan kamarnya juga sudah ada sepoci teh dan penganan kecil, rupanya di meja depan ke empat kamar mereka sudah ada sepoci teh dan penganan kecilnya...


Ki Blirik pun duduk dan menikmati tehnya dengan santai...


karena kamar mereka bersebelahan maka mereka bisa mengobrol sambil menikmati teh mereka...

__ADS_1


Jendral Besar, mengapa Jendral Janu dan Rambun belum juga bangun...,


Entahlah, mungkin mereka sangat lelah.., biarkan saja..nanti juga mereka bangun..., jawab Ki Blirik.


Setelah beberapa saat, keduanya juga keluar kamar dan duduk di depan kamar masing masing..


Menikmati teh, dengan pemandangan malam menatap ke depan kamat mereka ada taman kecil dengan berbagai bunga yang cukup indah...


Mengapa kediaman ini sepi sekali..? gumam Jendral Rambun.


Iya, aku juga heran, mengapa suasana kediaman ini tidak begitu terlihat hidup ya..? timpal Jendral Cataka.


Mereka berempat berbincang, lalu ke ruang makan untuk makan malam karena sudah di panggil oleh Bi Amah..


+


Di atas sebuah kapal layar,


Dua orang berdiri menatap kedepan,


Keduanya merupakan Lelaki paruh baya bermata sipit, berpakaian khas pendekar benua congko, menggunakan topi caping dari anyaman daun bambu...


Kakak, Nenek Neraka mengundang kita, berarti lawan yang dihadapinya kali ini bukanlah lawan sembarangan..Kata Lelaki yang membawa Sebilah pedang tipis..


Ya, Aku penasaran, katanya lawan ini adalah seorang yang sangat jenius beladiri.., timpal yang satunya lagi,.lelaki yang menggenggam sebuah tombak..


Hmh...dulu sebelum guru menghilang, ia menceritakan pada kita kalau di Lima Benua ada orang berjuluk Dewa Sedih yang pernah mengobrak abrik dunia persilatan Benua Congko kita,.., Ucap Lelaki yang memegang tombak..


Ya aku masih ingat, sebab itulah Kakek guru ke Lima Benua untuk mencari orang itu untuk membalas kekalahan para pendekar di negeri kita..,.dan sampai sekarang kakek guru tak pernah kembali.


Apakah kakek guru telah di kalahkan oleh orang itu,..? tanya Yang Siao


Adik, kau tidak perlu khawatir, kalau memang benar kakek guru telah di kalahkan oleh orang itu, bukan berarti kita juga dapat di kalahkan oleh orang itu.., timpal lelaki bersenjata tombak.


Hah..? kesaktian kita saat ini, sama dengan ketika kakek guru pergi mencari orang itu.., jika kita bertemu dan bertarung dengan orang itu, pastilah akan sangat repot.., kata lelaki bersenjata pedang, dengan wajah datar..


Hehehe...adik kau jangan lupa, kita ini bedua, sedangkan kakek guru saat menghadapi orang itu kemungkinan hanya sendiri...


Guru sudah menyempurnakan ilmu dari kitab yang ditinggalkan kakek Guru, dan telah menurunkannya pada kita.. jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.., kata Lelaki bersenjata tombak lagi.


Mmm..semoga saja,..


eh..kakak Leiting...menurutmu Guru sudah menghilang selama puluhan tahun ini, kira kira kemana perginya ya..? tanya lelaki bersenjata pedang pada lelaki bersenjata tombak, yang ternyata bernama Yang Leiting..


Entahlah, paman guru Tan Asan serta kedua muridnya Yang Ming dan Yang Siang juga sudah mencarinya selama puluhan tahun ini.., jawab Yang Leiting pada adik seperguruannya yang bersenjata pedang, bernama Yang Siao..


Maaf tuan pendekar,..apa anda berdua sedang mencari seseorang..?tanya pengemudi kapal..


Oh oya, sudah berapa lama kau membawa kapal..? apa kau pernah membawa seorang tua berpakaian biksu di kapalmu ini..?kata Yang Leiting balik bertanya..


Sejak aku muda, dan kami memang sering membawa orang orang dari benua kita ini di kapal ini, rute kami adalah Lima Benua terus Benua Aboriki, Benua Balkus, Benua Parzi, Benua Lingua, Benua Argenia, Benua Antara, Benua Korposa dan yang terakhir oleh para pengelana dikenal dengan Benua Saman.,...


Aku teringat dulu waktu aku masih berusia dua puluh dua tahun, aku ikut ayahku membawa kapal, salah satu penumpang kami saat itu adalah seorang Biksu tua, kami mengantar Biksu Tua itu , mampir ke Lima Benua, tapi biksu itu hanya beberapa hari di lima benua, setelah itu ia ikut lagi dengan kapal kami, ia turun di benua paling jauh, Benua Saman..., jelas Pengemudi kapal..


Eh, mengapa kau sangat mengingat biksu itu..?tanya Yang Siao.


Tentu saja aku sangat mengingatnya tuan, biksu itu sangat sakti, ia melumpuhkan perompak yang hendak menjarah kapal kami..,


Kami sangat berterimakasih pada bisu tua itu, jadilah ia mengajariku beberapa jurus saat di perjalanan.., jelas Pengemudi kapal.


Oh..?.bisakah kau menunjukkannya padaku...? Tanya Yang Siao penasaran.


Ehehemmm..aku malu tuan, ini hanya sedikit yang dapat aku kuasai dari kesakitan biksu tua itu..hehehe..., jawab pengemudi kapal sedikit malu...


Tidak apa apa., aku penasaran dengan biksu tua itu, siapa tahu jurus yang kau pelajari darinya bisa memberi kami beberapa petunjuk..., timpal Yang Siao.


Emm...baiklah tuan, tapi jangan keras keras, nanti aku cidera berat bagaimana..? tidak ada yang mengemudiakan kapal ini.., jelas Pengemudi kapal...


Oh..ya ..tentu saja. ..timpal Yang Siao.


Eh, nama tuan siapa,..tanya Yang Leiting..


Nama saya Fan Jian tuan...,jawab Pemgemudi kapal.


Oh, baiklah tuan Fan Jian.., namaku Yang Siao dan ini Kakakku Yang Leiting..., kata Yang Siao memperkenalkan diri..


Oh..salam tuan Yang.., Fan Jian menghormat pada keduanya..


Eh kapal ini tidak di kemudikan, apa tidak masalah..? tanya Yang Leiting..


Saat ini cuaca sangat bagus tuan. layar di atas tidak perlu terlalu dijaga, melepas kemudi beberapa saat tidaklah masalah..., heheh... jawab Fan Jian terkekeh.


Baik, tuan Fan Jian, ayo kita mulai..., seru Yang Siao..


Dalam hitungan beberapa tarikan nafas keduanya sudah terlibat pertukaran pukulan tingkat tinggi...


Cakar Peremuk Tulang ...!!! seru Yang Leiting..


Cukuppppp....!!! teriak Yang Leiting..


Keduanya segera berhenti...


Terimakasih tuan Yang Siao sudah berbelas kasih padaku..., kata Fan Jian merendah...

__ADS_1


Tuan Fan Jian, katakan siapa yang mengajari tuan 'Jurus Cakar Peremuk Tulang ' yang tuan mainkan tadi..? tanya Yang Leiting..


Aku di ajari oleh biksu tua yang aku ceritakan tadi tuan,.., jawab Fan Jian.


Katakan, apa Biksu Tua itu mengangkat tuan menjadi murid..?tanya Yang Leiting lagi.


Mm..tidak,..beliau hanya mengatakan bahwa beliau mengajariku untuk bertahan dari serangan perompak.., jawab Fan Jian..


Apakah orang itu memberikan nama baru pada anda tuan..? tanya Yang Siao.


Oh..mengenai hal itu aku memang di beri nama oleh biksu tua itu..ia menambahkan nama Yang pada namaku.., 'Yang Fan Jian...'. tapi aku tidak pernah menggunakannya kecuali di hadapan biksu tua saat itu..


jelas Fan Jian..


Mm..kuat dugaanku, yang mengajarinya bela diri adalah guru...batin Yang Leiting..


Mmm...Berapa lama biksu tua itu mengajari anda beladiri...? tanya Yang Leiting lagi.


Ya, selama perjalanan ke Benua Saman itu..kurang lebih tiga tahun,.hampir empat tahun...,..,.jawab Fan Jian..


Apa biksu tua itu menyebutkan namanya..? tanya Yang Siao.


Ya...kalau tidak salah nama beliau adalah Tan Atai..! jawab Fan Jian.


Hah...itu guru..!!! itu guru kami...!!! seru keduanya.


Oh...berarti tuan adalah senior saya, walaupun guru tidak mengatakan mengangkatku sebagai murid..., kata Fan Jian.


Oh..iya..benar, kau adalah adik seperguruan kami, guru sudah memberimu nama 'Yang' berarti ia mengangkatmu menjadi murid, setiap guru mengangkat murid maka akan di beri tambahan nama ' Yang '.. jelas Yang Leiting.


Oh...baguslah, aku senang punya kakak seperguruan..., kata Fan Jian dengan mata berbinar.


Ya kami juga senang punya adik seperguruan..., kata Yang Siao sumringah.


Mm..lantas, apa guru masih ada di Benua Saman...? tanya Yang Leiting.


Mm..itu aku tidak tahu, sejak turun dari kapal aku tidak pernah lagi memmuat guru di kapal ini.., jawab Fan Jian.


Mm..baiklah, adik Fan, kau boleh kembali mengemudi kapal ini..., kata Yang leiting.


Baik kak,..!!


Kakak pertama, kakak kedua aku permisi dulu..., kata Fan Jian, lalu pergi ke ruang kemudi..


Kapal layar itu terus membelah perairan yang di laluinya,..


menuju Lima Benua, tepatnya ke Benua Barat .


+


Beberapa hari berlalu,


Kediaman Selir Buangan..


Ke empat tamu kediaman itu sudah mulai merasa bosan, hati mereka mulai gelisah karena beberapa hari ini hanya menunggu saja...


Saat mereka berbincang dengan perasaan gusar, seorang prajurit yang di percaya Kantil untuk mengurus kediaman masuk membawa surat merpati...,


Maaf tuan tuan, ada surat untuk Jendral Besar Blirik.., jelas prajurit sambil menyerahkan segulung kain berwarna merah...


Ki Blirik menerima gulungan kain itu lalu membentangkannya lalu membaca dengan serius...


" Salam Jendral Besar,...


Mohon maaf, karena alasan keselamatan saya, maka saya diam diam ke jurang gunung tujuh ke tempat guru saya, Li Puaro, para pelayan di kediaman tidak ada yang tahu saya tidak berada di kediaman, jadi aku mohon hal ini dirahasiakan...


Segeralah menyusul ke Jurang Gunung Tujuh, kita akan mengatur Persiapan Ki Blirik menjalankan tugas, dari Jurang Gunung Tujuh.., Pangeran Ke Lima, Mail (Adik Sultan Malik) dan anakku Pangeran Ahura juga akan menuju ke Jurang Gunung Tujuh,..terimakasih Jendral Besar..., Atikah..".


Setelah membaca surat, raut wajah Ki Blirik berseri seri,.senyum tersungging dari mulutnya...


Hmmm...tampaknya situasi di benua barat ini akan semakin seru..., ayo kita berangkat ke suatu tempat.., kata Ki Blirik.


Eh, kakak...kita akan kemana..?tanya Jendral Janu.


Sudah, kalian ikut saja, nanti juga kalian akan segera tahu..., timpal Ki Blirik..


Saat mereka hendak keluar, Bi Amah sedang berjalan dari luar,


Eh tuan tuan mau kemana..? tanya Bi Amah..


Oh, kebetulan, kami mau pamit dulu, ada urusan yang harus kami selesaikan secepatnya..nanti kami akan kembali lagi.., jawab Ki Blirik


Hah..tuan tuan tidak jadi menemui nyonya...? tanya Bi Amah.


Jadi...,tapi saat ini kami akan pergi dulu, nanti kami akan kembali lagi..., jawab Ki Blirik mengulang kata katanya.


Oh..baiklah, nanti kalau nonya sudah keluar kamar, saya akan sampikan kalau tuan tuan datang ke sini.., timpal Bi Amah,..


Ya..Terimakasih,..kata ki Blirik lalu buru buru pergi, di ikuti ke tiga jendral lainnya..


Aneh,..sudah beberapa hari menunggu malah pergi begitu saja..., humh...dasar orang orang bepangkat memang pikirannya suka aneh.., gumam Bi Amah, lalu masuk ke dalam kediaman.


+++

__ADS_1


__ADS_2