
Setelah memberi aba aba waktu hitung mulai, Jendral Mukti kemudian memimpin pasukan Tombak dan pedang menuruni jurang..
Namun belum lama menuruni bibir jurang, Jendral Mukti melihat ada beberapa perangkap yang sudah menati mereka,
Cukup cerdas..!! perangkap ini mereka buat di jalur penuruan ini, akan sulit melepaskan diri jika sudah terlanjur terjebak.., batin Jendaral Mukti..
Pasukannn..!! kembali ke atas..!!perintah Jendral Mukti..
Huh...!! benar benar medan yang sulit.., gumam Jendral Mukti.
Jendral Rola dan Angku Laras, terus mengamati dari jarak seratus Tombak..
Tanpa mereka sadari Karaeng Gantarang juga sudah berada di sekitar bibir jurang mengamati semuanya dalam diam..
Setelah pasukan kembali tiba di atas, Jendral Mukti segera menemui Jendral Bagada yang heran mengapa pasukan kembali..
Jendral, apa yang terjadi..?? tanya Jendral Bagada.
Sepanjang jalur turun, telah dipasang perangkap mematika, jika tadi aku sempat masuk maka pasukan ini akan dimusnahkan hingga hampir tak bersisa, jelas Jendral Mukti.
Lalu..? tanya Jendral Bagada sedikit bingung.
Semua kekuatan akan kita satukan, Kita serang dari atas.. kata Jendral Mukti..
Berarti kita harus membuat lebih banyak lagi layang layang besar, bahannya sudah sangat terbatas jendral.., jelas Jendral Bagada..
Kalau begitu kita perlu melaporkan Hal ini pada Sultan dan menunggu pasokan bahan baku dari ibukota.., timpal Jendral Mukti..
Berapa lama bahan makanan kita bisa bertahan..?? Tanya Jendral Mukti.
Jendral, Jika kita meminta pasokan dari Istana maka kita harus menunggu selama hampir seminggu.., kata Jendral Bagada.
Oh, itu terlalu lama, kalau begitu kita harus mencari cara lain..!! kata Jendral Mukti..
Jendral Mukti berpikir beberapa saat, lalu kemudian memutuskan membuat layang layang model lain untuk pasukan tombak..
Masing masing pasukan tombak akan menggunakan sehelai kain yang mereka bawa untuk dijadikan layangan, dengan cepat Jendral Mukti menggambar bentuknya dan menyerahkannnnya pada bagian logistik..
Juka kau membuatkan setiap prajurit kita yang seperti ini, Kira kira kapan ini bisa selesai..? bahan Rangkanya bambu atau ranting pohon yang ada di sekitar sini saja, kata Jendral Mukti.
Jika masing masing prajurit bergerak mengambil bahan sesuai ukuran, bagian logistik akan segera membuat bahan kainnya, setelah itu kita akan merakitnya dengan cepat,..kira kira paling lambat besok siang sudah bisa digunakan.., jawab Senopati Jiro, Penanggungjawab logistik..
Baik..!!
Kata Jendral bagada,..
Jendral Bagada di bantu beberapa orang Senopati dan hulubalang menengah segera membuat salinan cacatan Jendral Mukti sebanyak seratus lembar, lalu menyerahkannya pada masing masing komandan regu..
Jendral Bagada segera memerintahkan agar tiap tiap komandan regu menyiapkan sesuai target yang mereka pagang saat ini..
Dengan cepat para prajurit ini mempersipakan apa yang diperinahkan..
Tepat saat hari sudah petang, semuanya sudah selesai, tinggal bagian logistik yang akan merakitnya,.. namun tentu saja dengan bantuan para prajurit,
Para prajurit ini akan diajari merakit layang layang secara berantai, prajurit yang sudah diajar dan selesai merakit, akan terus secara berantai mengajar dan membantu yang lainnya untuk merakit layang layang..
Dini hari, semuanya telah selesai...
Merekapun diistirahatkan oleh Jendral Mukti, kecuali pasukan logistik, terus ditugaskan membuat makanan untuk sarapan esok pagi ..
Pagi pagi, pasukan sudah bangun, untuk bersiap bergerak, namun Jendral Mukti malah memerintahkan bagian logistik untuk membagi sarapan yang telah dibuat dini hari tadi untuk para prajurit ini..
Merekapun makan dengan lahap, penuh rasa gembira..
Setelah selesai Makan, Jendral Mukti lagi lagi menyuruh para pasukan untuk tidur..,kecuali ada beberapa yang bertugas berjaga jaga..
Pasukan Logistik pun juga ikut beristirahat dan tidur dengan pulas..
Tidak ada yang terjadi sampai mereka terbangun sore hari dengan perasaan segar..
Hari berganti malam, pasukan Logistik pun sudah bangun..
Kini semua pasukan beada dalam perasaan segar dan bugar..
Pasukan logistik membagikan makanan kering dan beberapa botol air untuk menu makan malam,..
Setelah makan malam selesai,..
Pasukaaann...! ambil Posisi..seru Jendral Mukti..
Segera para prajurit menambil posisi maisng masing sesuai yang telah diatur sebelumnya,
Seribu delapan ratus Pasukan panah akan menggunakan layang layang besar untuk dipakai berdua dengan pasukan tombak..
Sisanya menggunakan Layang layang kecil untuk satu orang..
Jendral Mukti Mulai memberi aba aba untuk segera terjun dengan layang layang..
Perhatian Pasukann..!!
Pasukan Layang layang Besar,.. Terjuuuunnn!!!
Pasukan Panah dan tombak yang sedari tadi bersiap segera terjun dengan semangat..
Panahhhh....!! seraaaaaaangngng!!! Seru komandan pasuka panah..
Langit Jurang Gunung Tujuh dari bawah terlihat semakin gelap...seribu delapan ratus pasukan layang layang terjun menutupi langit Jurang Gunung Tujuh..
Dari dasar Jurang, Yang Leiting menyaksikan ini belum menyadari akan adanya serangan...
Tepat saat Yang leiting menatap lekat sesuatu yang hitam yang menutupi langit Jurang Gunung Tujuh itu, Mereka dikejutkan adanya bola api beterbangan menuju kebawah dan menyerang perkemahan mereka...
Semuanya, banguuuunn..!! Kita diserang..!! teriak Yang Leiting..
Murid Murid Perguruan Serigala Iblis terkejut bukan kepalang..api beterbangan dimana mana..beberpa orang juga sudah mati tertancap panah di punggung dan dadanya..
Murid murid Perguruan Serigala Iblis itu pun kocar kacir..
Melihat keadaan mulai terkendali,
__ADS_1
Jendral Mukti memberi perintah pada pasukan Layang layang Kecil untuk terjun..
Pasukan layang layang kecil,.... terjuuuunnn..!! seru Jendral Mukti..
Dengan sigap semua prajurit yang memegang layang layang kecil segera terjun..
Di dasar Jurang, Kediaman Atikah..
Lapor Nyonyaa..!! Kita di serang..!! lapor seorang murid Perguruan Serigala Iblis panik..
Atikah yang sedang megolah kekuatan energi Qi, perlahan menghentikan latihannya, demikian pula halnya dengan Kenanga..
Keduanya berjalan keluar dan melihat situasi,
Tampak dari atas seperti ribuan burung besar menukik tajann disertai dengan bola bola api dan hujan panah..
Atikah tercekat...
Celaka..!! aku ceroboh..!!
Aku tidak memperhitungkan tatktik militer dalam perang ini.., batin Atikah menyadari kecerobohannya..
Yang leiting,..!!
Ya Nyonya.., ! sahut Yang Leiting.
Lakukan sesuatu sebelum mereka mencapai dasar dan menyerang kemari..,! perintah Atikah.
Baik Nyonya,..
Yang Leiting yang samasekali tidak punya pengalaman taktik militer, segera mengumpulkan pasukannya, dan dengan cara patarung dunia persilatan ia menghadapi serangan pasukan kesultanan Datuk delapan..
Ia memerintahkan semua petarung untuk membendung serangan itu dengan pengerahan tenaga dalam..kemudian melakukan pukulan jarak jauh sebagai balasan..
Sedikit perlawanan mulai terlihat, tetapi tidak berlangsung lama..karena hujan panah terus menyerbu...tempat tempat strategis telah terbakar, seperti gudang makanan dan banyak dari pasukan Jurang Gunung Tujuh telah terbunuh..
Beberapa saat kemudian setelah pasukan layang layang besar menjejak tanah, pasukan tombak yang menyertainya langsung membuat formasi tombak, melindungi pasukan panah yang terus memanah dengan terampil..
Tak lama berselang pasukan layang layang kecil, juga menjejak tanah dasar jurang dan langsung bergabung dengan formasi tombak..
Satu persatu pasukan Jurang gunung Tujuh terbunuh oleh pasukan panah, tanpa dapat membalas, karena pasukan tombak sudah membentengi di depan pasukan panah..
Siall..!! pasukan panah mereka terus membunuh pasukan kita..
Hancurkan pasukan panah itu bagaumanapun caranya..!! seru yang Leiting.
Fan Jian segera melesat dengan kecepatan tinggi hendak memporak porandakan pasukan panah dengan pukulan sakti miliknya..namun karena jumlah Pasukan tombak yang dilengkapi tameng sangat banyak, maka ia hanya dapat membuka celah beberapa saat saja namun tidak dapat menembus ke pasukan Panah..
Setiap tarikan nafas,
Satu persatu pasukan jurang gunung tujuh bergelimpangan..
Melihat ini, Atikah sangat Murka..
Ia bersama sama dengan Kenanga, mengerahkan energi Merah Yang..dan meyerang formasi pasukan tombak dengan ilmu Seribu Benang Merah Yang..,
Atikah Menyeringai puas..!!
Jendral Mukti dengan sigap mengeluarkan Rantai neraka, bersiap untuk menghalau serangan berikutnya..
Untuk kedua kalinya, Atikah dan Kenangan kembali mengerhakan Ilmu Seribu Benag Merah Yang..
Kali Ini Prajurit Tombak dalam Formasi lebih sigap..namun tetap saja ratusan orang langsung menjadi korban..
Jendral Mukti langsung menyerang Atikah dengan Rantai Neraka memutus serangan Seribu Benang Merah Yang..
Dua Hawa berlainan langsung saling membelit..
Atikah terkejut, ia segera menarik kekuatan Seribu Benang Merah Yang Miliknya,..
Jendral Mukti cukup Pua
s bisa sedikit menghalau Seribu Benang Merah Yang dengan rantai Neraka Miliknya..
Jendral Mukti..!! kau jangan senagn dulu..!! seru Atikah.
Nyonya, berhentilah berbuat kejahatan..! timpal Jendral Mukti.
Huh..bukan tempatmu untuk mensehatiku.., hari ini aku akan membunuhmu..!! seru Atikah.
Oh, silahkan,..jika nyonya mampu..!! timpal Jendral Mukti..
Kau Pikir aku hanya punya ilmu benang Merah yang ini..??hahahaha...
Kau bersiaplah Jendral..!! seru atikah lalu merangkapkan tangannya di depan dada..
Serta merta seluruh tubuhnya di liputi hawa panas berwarna merah...
Tapak Matahari Merah..!! seru Atikah..
Dengan kedua tapak mengembang...
Ia menerjang Jendral Mukti dengan Ganas..
Cahaya merah manyambar dengan gans ke arah dada Jendral Mukti, Jendral Mukti yang sudah bersiap sejak tadi langsung menghantamkan Rantai neraka pada cahaya merah yang datang..
Blraaaarrrr !!!
BLARRRRRRR..!!!
Jendral Mukti terjajar ke belakang dengan suara rantai neraka bergemerincing karena tubuh Jendral Mukti bergetar..
Di hadapannya Atikah berdiri dengan sedikit terhutung kebelakang..
Huh, Jika saja tidak ada senjata itu di tanganmu, kau sudah jadi makanan anjing..! umpat Atikah..
Heh,..tidak akan semudah itu nyonya..., balas Jendral Mukti..
Baiklah, bersipalah untuk mati.., ucap Atikah dengan wajah yang semakin mengelam..
__ADS_1
Atikah menyerang dengan ganas..,
Karena hanya mengandalkan keunggulan dari Rantai Neraka, perlahan lahan Jendral Mukti mulai terdesak..
Satu hantaman Pukulan Tapak Matahari Merah mengenai bahu kirirnya..
Tubuh Jendral Mukti terjajar kesamping dengan wajah pucat pasi..
Luka bakar di bahunya langsung menghitam dan menimbulkan bau hangusnya daging..
Tepat saat Atikah hendak menyarangkan kembali serangan tapaknya di dada Jendral Mukti..
Sebuah cahaya Perak menyambar memapak serangannya..
BLARRRTTTTT..!!
Atikah memandang berkelilig, mencari siapa yang telah memapak serangannya..
Siapa Kau..?? tunjukkan dirimu...!! seru Atikah..
Karena tidak ada jawaban, Atikah kembali mengerahkan kekuatannya untuk menyerang Jendral Mukti..
Whusss..!!
Energi panas berwarna merah kembali menyerbu ke arah Jendral Mukti,.
Namun di tengah jalan serangannya kembali musnah dilabrak cahaya berwarna perak..
Tak jauh dari Atikah,
Jendral Bagada terluka serius,
Jika saja Jendral Rola tidak segera keluar dari persembunyian dan menolongnya maka saat ini ia sudah akan menjadi bubur darah akibat serangan Seribu Benang Merah Yang dari Kenanga..
Jendral Besar Rola, terimakasih..Ucap Jendral Bagada dengan nafas tersengal..
Jendral Bagada Istirahat saja dulu, biar aku yang mengurus mereka..!! Ucap Jendral Besar Rola..
Oh..terimakasih Jendral Besar..! timpal Jendral bagada..
Hei, orang tua,..Rupanya kau juga ingin merasakan kehebatan Jurang Gunung Tujuh...! baiklah..! bersiaplah..! seru Kenanga..
Kenanga lalu menyerang dengan Seribu Benang Merah Yang..
Jendral Rola menyambut dengan pukulan tangan Kosong dan menangkap Seribu benang Merah Yang sebelum serangan kenanga sempurna mengembang...
Tarik menarik energi terjadi..., namun lama kelaman Jendral Rola merasa kewalahan jika terus dalam posisi seperti ini, akhirnya Jendral Rola memutuskan mengeluarkan ilmu andalnnya..Aji Tameng Waja dan Sabit Waja..
Tameng Waja melindungi tubuh Jendral Rola Seketika..
Sabit Waja langsung mencekik leher Kenanga dengan cepat..
Kenanga kaget bukan kepalang.. terlambat,.. ia kini dalam cengkraman Jendral Rola..
Uhukkkh...!! nafas Kenanga menjadi sesak..
Atikah yang juga terdesak sebenarnya hendak membantu Kenanga, namun saat ini sibuk mengindari serangan jarak Jauh berupa cahaya perak yang sangat panas..
Uh..sial, Kenanga dalam bahaya..batin Atikah..
Pertemppuran lain yang tak kalah seru dari Yang Leiting dan kedua saudaranya melawan Angku Laras..
Heh? Ilmu yang kau gunakan bukan dari benua ini..! seru Yang Siao saat serangan mereka ditahan oleh Angku Laras..
Angku Laras hanya tersenyum sinis meremehkan lawan..
Jangan senang dulu.., lihat ini..! seru Yang Leiting..
Yang Leiting dan kedua saudaranya segera mengerahkan
‘Tapak Bisa Ular Api’..
Angku Laras juga tak mau kalah, dengan sigap ia mengeluarkan ilmu andalannya dari Kuil Api Agung..’Ilmu Api Petaka Hitam..’..
Ke empatnya langsung terlibat lagi dalam pertarungan sengit..
Dengan Ilmu Api Petaka Hitam angku Laras mampu mengimbangi Yang Laiting bersaudara..
Namun dalam satu peminuman teh, Angku Laras mulai unggul..
Ketiganya mulai merasakan tekanan....
Gila..!! orang ini bahkan hampir setara dengan Kakek Guru..! bisik Yang Fan Jian..
Dalam keadaan terdesak, ketiga petarung Benua Congko ini lelihat Atikah juga sedang terdesak..
Kenanga..!!! pekik Atikah melengking, melihat Kenanga sudah ambruk..
Seketika Atikah, menjauh dari tempat peratungannya menghambur menuju Jendral Rola,
Jendral Rola mendorong dengan kekuatan penuh, semburan angin menghempaskan Atikah, namun memang itulah yang Atikah harapkan..
Atikah langsung menyambar ketiga orang benua Congko, Yang Leiting bersaudara dengan bantuan ‘Cincin Pengendali Jiwa’.
Ia memang sejak tadi sudah memanggil Hu Kui dan Tao Wu untuk membawanya keluar dari Jurang Gunung Tujuh, begitu ada kesempatan Tao Wu menyibukkan para musuh sedangkan Hu Kui membawa mereka pergi meniggalkan Jurang gunung tujuh..
Tinggalah para pasukan Jurang Gunung Tujuh yang tersisa, karena mereka pada dasarnya adalah petarung bukanlah prajurit, maka dnegan susah payah mereka pun akhirnya menyerah..
Jumlah mereka yang tersisa tidak lebih dari seribu orang, selurunya menjadi tawanan pasukan Kesultanan..
Setelah penaklukan, Pasukan Kesultanan tanpa menunggu lama segera mundur dan kembali ke ibukota membawa kemenangan.., Jendral Mukti enggan berlama lama di Jurang Gunung Tujuh, ia masih khawatir terhadap aura Mistis tempat ini sebelumnya..
Pecahnya pertempuran di Jurang gunung tujuh sudah berakhir..
Jurang Gunung Tujuh dengan Aura Mistisnya selama ini, hari ini telah sirna bak ditelan bumi..
Kekalahan Jurang Gunung Tujuh saat ini kelak akan menjadi sebuah keberuntungan bagi salah satu pihak..
+++
__ADS_1