Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Keluarga Jalanara


__ADS_3

Seseorang yang sejak tadi memperhatikan Sein, tiba tiba menegur Sein..


Hei...anak muda..!! apa kau akan berbelanja bahan kimia di toko itu..? tanya lelaki yang ternyata masih seusia dengan Sein.


Sein memperhatikan orang yang menegurnya..


Sialan..!! dia bilang aku anak muda..Memangnya berapa umur kunyuk ini..!? batin Sein.


Sein kemudian menjawab..


Mm..ya..tuan muda.., aku berencana membeli beberapa bahan di sana...! jawab Sein.


Hahaha....apa kau seorang pedagang bahan kimia? atau kau punya toko penjualan bahan kimia..? tapi seperti nya kau tidak ada seperti itu...! kata pemuda itu Sinis....


Hahaha....tuan muda memang luar biasa, bisa membual walaupun baru bertemu sekali...! hahaha...! Balas Sein menyindir pemuda itu...


Kau,..? kau bilang aku membual...?


Kau tidak tahu siapa aku..? hah..? bentak pemuda itu, marah..


Ck...tidak penting..! jawab Sein santai kemudian berjalan meninggalkan pemuda itu dalam keadaan terbengong..


Baru kali ini ada yang tak menganggapnya di kota ini...


Kurang ajar...!! bisa bisanya dia pergi saat aku masih berbicara dengan nya...! gerutu pemuda itu...


Hei..anak sial...!!teriak pemuda itu


Sementara Sein yang tahu kalau yang diteriaki adalah dirinya masih saja terus berjalan santai menuju Toko Kimia Atas Awan seolah tak peduli dengan pemuda itu..


Pemuda itu semakin marah,


ia berjalan cepat mengejar Sein yang sudah masuk ke dalam...


Hei..tunggu Bajingan...!! teriaknya lagi...


Orang orang yang menyaksikan kejadian ini semuanya diam seolah sedang menonton sebuah pertunjukan yang seru...


Sudah lama tidak ada orang yang begitu, tidak menganggap Tuan Muda keluarga Jalanara..


Wah..anak muda ini berani sekali untuk tidak memberi muka pada tuan muda Limanto Jalanara...! seru seorang penduduk di luar toko yang dari tadi menyaksikan kejadian.


Iya, apa yang akan terjadi pada anak muda itu, sudah bisa dipastikan akan mendapat masalah besar...! timpal orang di sebelahnya..


Ketika Sein masuk ke Toko Kimia ,.Seorang gadis berpakaian kebaya dengan rambut disanggul indah berkulit kuning langsat menyapa..


Selamat datang tuan,..! apa yang....


Baru saja gadis itu ingin mrnanyakan apa keperluan Sein, kata katanya terhenti karena mendengar teriakan dari luar...


Eh tuan..! anda ada masalah dengan tuan muda Limanto..? tanya gadis itu.


Sein hanya mengangkat kedua bahunya tak perduli,...


Kau mengenal dia..? tanya Sein..


Aduh, tuan..sebaiknya jangan membuat masalah dengannya...! tuan cepat sembunyi..bahaya..!! kata gadis itu dengan wajah panik...


Wanita itu bernama Niken, ia bekerja di toko itu sejak kecil, mengikuti ayahnya yang juga kerja di toko itu, dia juga adalah penduduk lama kota Maccini, jadi ia sudah sering melihat orang yang bermasalah dengan Limanto berakhir tragis...


Sein hanya mengangguk tak perduli..


Eh, tolong tunjukkan padaku di mana bahan bahan kimia yang bagus...! kata Sein seolah tidak terjadi apa apa..


Mm...! Niken sejenak agak ragu, namun ia segera tersenyum dan mengajak Sein melihat bahan bahan itu..


Di toko itu semua bahan di pajang di atas rak rak yang bersusun...sehingga orang yang ingin membeli bisa melihat langsung contoh barang yang akan ia beli...


Baru saja Sein hendak melangkah mengikuti Niken, bahunya telah di pegang oleh Limanto..


Tunggu bajingan,.! siapa yang mengijinkan kamu masuk...!! Kata Limanto memegang bahu Sein dengan cengkraman yang kuat..


Apa aku perlu izin darimu..!?tanya Sein acuh tak acuh..


Niken yang tadi hendak menunjukkan jalan pada Sein, terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik...


Ia buru buru menyapa Limanto...


Ah..tuan muda Limanto...! maaf tuan,..saya terlambat menyambut tuan muda...! kata Niken.


Mmm...untuk wanita cantik sepertimu tidak masalah..! heheh...jawab Limanto yang masih terus memegang bahu Sein sambil terkekeh.


Tuan muda,..mohon lepaskan saja tuan ini, sepertinya ia pertama kali ke kota ini, jadi dia tidak tahu siapa tuan muda Limanto...! bujuk Niken, ingin menyelamatkan Sein.


Mm..baiklah, ini karena kau yang minta, aku memandang ayahmu yang sudah lama mengurus toko ini, tapi ia harus meminta maaf padaku karena telah menyepelekan aku..! kata Limanto.


Tuan,..ayo cepat minta maaf, biar urusan dengannya cepat beres..! kata Niken pada Sein dengan suara di kecilkan..


Eitt...tunggu...! minta maafnya sambil merangkak di bawah kakiku...! kata Limanto pongah..


Orang orangakin banyak yang menonton...


Tuan muda ,i..ini...ah.. jangan sampai seperti itu..!bujuk Niken..


Namun Limanto tetap bersikeras dengan dagu terus terangkat..!


Akhirnya Sein berbicara,


Tuan muda...! jangan menuntut sesuatu yang tidak sepatutnya kau terima..! kata Sein sambil menepis tangan Limanto dari bahunya..


Merasa tidak di hargai,


Limanto menjadi makin naik pitam..


Keparat..!! ia langsung menyerang Sein dengan Tinjunya...


Keluarga Jalanara terkenal sebagai pusat ilmu beladiri di kota itu,..bahkan di kota kota terdekat...


Banyak keluarga kaya mengirim anak mereka berguru pada keluarga Jalanara..


Tuan besar Keluarga Jalanara, Daha Jalanara adalah pendekar tangguh bekas Panglima Utama kesultanan Datuk Delapan..

__ADS_1


Di kalangan muda kota kota di Maccini dan sekitar , Limanto Jalanara termasuk yang unggul..


Brakkk...!!


Arrgghhh....!! Limanto Jalanara terpekik dan terlempar beberapa tombak..


Tangan Limanto Jalanara nampak remuk sampai siku...


Sial..!! tanganku...!! aaahhhhkkk...!


kau tidak akan selamat..! teriak Limanto...


Itu karena kau telah berani mencengkram bahuku...! ucap Sein dingin...


Keparat...kau akan menjadi mayat tanpa kubur...!! umpat Limanto...


Aku akan mengadukan hal ini pada ayahku...!! ancamnya, kemudian bangkit dan berjalan semporongan memegangi tangannya meninggalkan toko...


Orang orang yang menyaksikan ada yang merasa bersyukur karena Limanto telah mendapat pelajaran, ada juga yang menatap takjub pada Sein dan ada pula yang sinis...


Biar tau rasa Limanto itu...! kata salah seorang dari penduduk..


Husy...!! nanti kalau ada yang lapor, kau akan celaka..! timpal temannya..


Anak muda itu cukup hebat bisa mengalahkan Limanto dengan sekali gerakan, tapi sebentar lagi ia akan menjadi bulan bulanan keluarga Jalanara..! kata penduduk lainnya...


Ayo kita lihat bagaimana kelanjutan tomtonan ini, tidak lama lagi pasti ada yang akan datang mencari anak muda itu...! kata temannya.


Setelah Limanto pergi, Sein kembali seperti semula, seperti tidak terjadi apa apa...


Nona, bisakah sekarang menunjukkan tempat bahan kimia tang tadi kau katakan..!?tanya Sein dengan sopan..


Mm..baik tuan..ikut aku..! kata Niken.


Tepat saat akan berbalik, selenting suara menghentikan langkah mereka..


Tunggu...!


Niken menoleh ke kiri..


Ayah..!! seru Niken karena ayahnya sudah berdiri beberapa tombak di sisi kirinya..


Kau tidak perlu lagi mengantarnya..! kata ayah Niken..


Mengapa ayah...!? tanya niken heran..


Sudah, aku sudah memutuskan seperti itu...!!


Tuan, kau boleh pergi...toko ini tidak akan menjual apapun padamu...! kata ayah niken pada Sein..


Sein hanya diam menggaruk kepalanya dengan canggung...


Baiklah..nampaknya aku salah masuk kota...!! kata Sein hendak pergi..


Namun dari luar ada suara yang membentak...


tidak perlu buru buru..!!


Tetua Gitaka adalah tetua ke lima dari keluarga Jalanara..


Tadi ia memang sedang mencari Limanto untuk memanggilnya pulang, tapi di jalan justru bertemu Limanto yang sebenarnya hendak pulang melapor pada ayahnya...


Melihat keadaan Limanto dengan tangan terluka maka tetua kelima, Gitaka, berang..


Akhirnya mereka berdua menuju ke toko Kimia untuk mencari pemuda yang telah membuat Limanto cidera...


Nampak Limanto berjalan di dampingi orang tua itu...


Anak muda,.kau cukup berani melukai tuan muda Limanto..! kata Tetua Gitaka..


Heheh...itu cuma sedikit pelajaran yang aku berikan karena berani mencengkram bahuku kemudian menyerangku...!!jawab Sein dengan sikap tak peduli.


Kau benar benar kurang ajar...!!bentak Tetua Gitaka..


Cih..! sein malah mencibir tak perduli..,kemudian hendak berjalan keluar dari toko kimia...


Heii....!! bisakah kau menaruh sedikit saja rasa hormat pada orang yang lebih tua...!?


tanya tetua Gitaka..


Hahaha...Bisakah kau mengajari orang di sampingmu itu, menghargai orang lain...!!? Sein balik bertanya..lagi lagi dengan nada menyindir..


Kau....kau .! tetua Gitaka sudah tidak dapat menahan diri lagi..


ia segera menerjang Sein dengan beringas,..


Sein berkelit santai dan mendorong tubuh tetua kelima keluarga Jalanara itu hingga terjerembab di kaki ayah Niken.


Semuanya yang menyaksikan terbelalak dibuatnya,..


Anak muda ini, bahkan tetua kelima keluarga Jalanara tidak berkutik...! kata sorang penduduk..


Iya, hanya dengan sebuah dorongan..! seru yang lainnya...


Tetua Gitaka yang terjerembab, bangkit dengan cepat dengan wajah merah menahan malu dan marah...


Baru kali ini ada yang membuatnya seperti itu...


Ia hendak menyerang lagi, namun ragu jagan sampai ia dibuat lebih malu lagi...


Sein yang melihat sudah tidak ada perlawanan lagi dari lawannya,.berniat segera pergi dari tempat itu, tapi ia tertahan oleh kehadiran serombongan orang...


Rombongan ini adalah rombongan Tumenggung Morosi, penguasa wilayah Batu Landai..


Wilayah Batu Landai adalah wilayah lima kota sekitaran timur ibukota..


kota Morosi, Kota Maccini, Kota Batu Langgar, Kota Lancar dan Kota Deli..


Tumenggung Morosi memang sedang berada di kediaman Jalanara ketika seorang datang melapor pada tuan besar Daha Jalanara bahwa Tuan Muda Limanto ribut dengan seseorang di toko Kimia..


Merasa ada yang aneh, karena tidak banyak yang berani menyinggung keluarga Jalanara, akhirnya mereka memutuskan untuk buru buru melihat ke tempat kejadian...

__ADS_1


Waduh...kasihan, anak muda pasti akan celaka sekarang,..tuan besar sudah ada disini, bahkan bersama dengan Tumenggung Morosi..! seru beberapa penduduk..


Ada apa ini...? tanya Tuan Besar Daha Jalanara...


Melihat ayahnya tiba, Limanto segera menghampiri...


Ayah..orang ini telah melukaiku, sambil meringis ia memperlihatkan tangannya yang remuk pada ayahnya sambil menunjuk Sein...


Mm..!!? Daha Jalanara menggeleng pelan,..


Ia menatap Sein dengan tajam...


Anak muda, siapa kau..!!?tidak ada yang berani berbuat seperti ini di kota ini..


Eh, tuan besar...maaf, tuan ini baru ke kota ini jadi tidak mengenal tuan muda limanto, tidak sengaja menyinggung tuan muda,..! jelas Niken membela Sein.


Husy...!! kamu tidak usah ikut bicara..!! bentak ayah Niken..


Tuan Besar Daha Jalanara tidak begitu perduli dengan kata kata Niken, ia terus saja menatap tajam pada Sein, menunggu jawaban.


Apa itu penting..!!?jawab Sein, cuek..


Jawaban ini membuat hampir semua yang ada di tempat itu muntah darah...


bagaimana tidak, bahkan tuan besar Daha Jalanara saja tidak di tempatkan di depan matanya...


Anak ini benar benar tidak tahu tingginya langit...gumam beberapa orang


Iya...mungkin dia ini pemuda dungu, belum juga mengerti situasinya...! timpal yang lain..


Cari Mati...! kata pengawal Daha Jalanara..


Daha Jalanara sejenak terdiam mendengar jawaban Sein, Kemudian ia tertawa keras dengan ekspresi sangat marah..


Hahahaha....!! tanggkap dia...! kata Daha Jalanara setelah puas tertawa..


Segera enam orang pengawal Daha Jalanara mengepung Sein..


Cih,,...membuang buang waktuku saja..guna Sein kemudian tapa terlihat memukul semua pengawal yang mengepungnya..


Tak..!


Buk...!


Dak...!


Arrrggh...! terdengar raung kesakitan dari keenam pengawal itu, mereka berenam terkapar di lantai..tanpa tahu kapan mereka dipukuli..


Daha Jalanara dan Tumenggung Morosi, serta semua orang di tempat itu terbelalak, menyaksikan keenam pengawal dengan tingkat beladiri yang tinggi itu terkapar hanya dalam beberapa tarikan nafas...


Anak ini bukan orang biasa, anak muda ini pasti pendekar hebat,...! batin Daha Jalanara dan Tumenggung Morosi..


Anak muda, aku tumenggung Morosi, penguasa lima kota..wilayah Batu Landai..! kalau boleh tahu, siapa anda...!!? tanya Tumenggung Morosi..


Sein hanya garuk garuk kepala dengan cuek, ia sebenarnya sudah malas meladeni mereka,


Huh..ini sudah membuang waktu cukup lama..! batin Sein..


karena itu ia berniat menyelesaikannya dengan cepat dan hendak segera pergi dari tempat itu..


Sein kemudian mengeluarkan plakat yang diberikan oleh baginda Sultan padanya...


Ia mengangkat plakatnya dengan ekspresi ecuh tak acuh...


Plakat pangeran...!! menantu Sultan..!!! Seru beberapa dari mereka..


Mata tumenggung Morosi dan Daha Jalanara terbelalak, dan seketika langsung berlutut...


Ampun pangeran..!! mohon maaf tidak mengenali anda...!! kata Daha Jalanara ..


Sekejap semua orang ditempat itu berlutut, termasuk Limanto, ia berlutut dengan ekspresi tidak percaya ...


Salam kopangeran...! semoga paneran panjang umur...!! sambut para penduduk dengan berlutut.


Kalian bangun lah..! perintah Sein..


Terimakasih pangeran..!kata mereka serempak.


Tuan Tumenggung dan Tuan Besar Jalanara serta Tuan Muda kemarilah..!


Yang lain boleh bubar,..!! ucap Sein.


Ba..baik pangeran..!!


Nona, apa ada tempat untuk kami duduk..!?tanya Sein pada Niken.


Eh..iya ..ada tuan...!! mari..jawab niken menunjukkan tempat duduk di ruang penerima tamu...


Eh..maaf pangeran..sebaiknya di ruangan saya saja..! di sana lebih nyaman...!kata ayah niken..


Emm..!? bukankah tadi kau telah mengusirku..!!?tanya Sein.


Apa..?.kau mengusir pangeran..!?hardik tuan besar Jalanara..


Eh, tuan..tadi kalian malah menyerang pangeran...!potong Niken membela ayahnya...


Kau...!!? kata tuan besar Jalanara melotot pada Niken..


Sudahlah...itu tidak masalah, karena kalian tidak tahu...! potong Sein.


Sekarang katakan, bagaimana aku menghukum anak sombong ini, tadi dia menyuruhku merangkak di bawah kakinya..!heheh..!! kata Sein sinis.


Apaaa...!!? dasar keterlaluan,..!!


Plakkk...! Tuan Pesar Jalanara menampar putranya, Limanto...


Ahhkkk...sakit ayah...! jerit Limanto


Biar saja, ini karena aku terlalu memanjakanmu..!! bentak Daha Jalanara..


Sudah lah aku tidak menyuruh untuk memukulnya,..aku hanya ingin ia menerima hukuman...! kata Sein.

__ADS_1


Ma..mak..sud..pangeran.!!? tanya Tuan Besar Jalanara


__ADS_2