Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Ep. 146. Pembersihan Pembersihan Kecil


__ADS_3

Utari yang merasa dirinya sudah mengetahui banyak tentang pergerakan Istana dan Sein, segera kembali ke Jurang Gunung Tujuh,


Saat Utari memasuki Kawasan Gunung Kerinci,


Pasukan Kesultanan saat ini sudah berada di desa kaski gunung Kerinci, atas perintah Jnedral Mukti merek beristirahat di desa itu satu hari dan akan melanjutkan perjalanan ke Iibu kota esok pagi..


Utari terus berjalan dengan cepat, ia khawatir terlambat memberi berita..namun di perjalanan, sesampainya di jurang gunung tujuh ia mendapati kediaman Atikah sudah kosong..mayat mayat bergelimpangan..


Sebelumnya, setelah Atikah dan ketiga petarung Congko Yang Leiting bersaudara melarikan diri, dan pasukan kesultanan telah kembali, Karaeng gantarang memeriksa dengan seksama den membersihkan apa yang harus ia bersihkan di seluruh kediaman Atikah dan seluruh kawasan Jurang Gunung Tujuh..


Dan saat itulah Karaeng gantarang menemukan Kantil dan menangkapnya..


Karena itulah Utari tidak menemukan apapun saat ia tiba,


Dengan perasaan hancur, Utari menuju Hutan Purba.., Utari hendak melaporkan kejadian di Jurang Gunung Tujuh pada Hung Min..


Saat itu, di ibu Kota,


Sein yang menuggu Ibu dan ayah Mentari di Asosiasi Tungku Biru sudah mendapat kabar kemenangan Pasukan Kesultanan Datuk Delapan..


Ayah dan Ibu Mentari juga sudah berada di Asosiasi Tungku Biru..


Anakku, kau akan mengajak kami kemana..? tanya Ince Zulfa..


Nanti juga ayah akan tahu,.. hehehe, jawab Sein.


Baiklah,..ayo kita pergi..!!kata Sein lalu memegang tangan mereka mereka berlima menyatukan genggaman tangan dan dengan jentikan jari dari Sein mereka pun menghilang dari asosiasi tungku biru dan tiba tiba muncul di kediaman persembunyian dalam hutan bambu kuning..


Hah..? di mana ini ?? tanya Ibu Mentari keheranan..


Namun saat memandang berkeliling ia melihat gurunya, Sutan Rajo Bintang bersama beberapa sesepuh golongan putih sedang melatih ilmu dengan sebuah kitab yang melayang di hadapan mereka..ia pun segera mengerti..


Namun saat menyadari kitab yang melayang itu adalah bukan kitab biasa, ayah dan ibu Mentari terperanjat sebentar sebelum dapat kembali menguasai diri..


Anakku, itu kitab apa..? tanya keduanya hampir bersamaan.


Heheh, untuk itulah ayah dan ibu kami ajak kemari.., jawab Sein.


Maksud kamu..? anakku aku tidak mengerti apa maksudmu..kata Ince Zulfa pada Sein.


Kami mengajak ayah dan ibu kemari agar ayah dan ibu bisa ikut melatih diri dengan Kitab Ganjar Dewa itu..


Hah..?itu..itu.. Kitab Ganjar Dewa..?? seru ayah ibu Mentari bersamaan..


Ya, ibu..ayah..itu adalah kitab Ganjar Dewa yang legendaris itu.., nama sebenarnya adalah ‘Kitab Ilmu Dua Alam..’..


Tidak perlu aku jelaskan lebih banyak lagi, nanti ayah dan ibu akan tahu sendiri,


Sekarang ibu dan ayah duduklah dan ambil posisi konsentrasi seperti para tetua ..., jelas Sein lalu meminta keduanya mulai berlatih..


Ta..tapi..kami tidak mengerti caranya.., kata Ibu Mentari, dan di angguki oleh Ince Zulfa..


Ibu dan Ayah tenang saja, kitab itu adalah tulisan asli Sang Utusan Ghaib, Kitab itu akan secara otomatis membimbing untuk melengkapi dan menyempurnakan apa yang kurang dari ilmu kesaktian ayah dan ibu, juga akan membimbing untuk meningkatkan kekuatan ayah dan ibu sampai beberapa tingkat lagi sesuai dengan bakat dan dasar bela diri yang ada dalam diri masing masing..,


Caranya gampang, ayah dan ibu tinggal menyalurkan hawa murni ke kitab itu seperti yang dilakukan oleh para tetua sepuh di sana....jelas Sein..


Wahhh..!! kitab yang luar biasa,..pantas saja banyak orang yang mengincarnya.., seru Ince Zulfa..


Berisikkk..!! jangan banyak bicara segeralah berlatih..!! Ucap Sutan Rajo Bintang masih dalam keadaan mata terpejam..


i..ii..iya guru.., jawab ayah dan ibu mentari kompak..


Keduanya mendekat pada tempat para tetua berlatih, lalu segera mengambil posisi duduk bersila seperti tetua lainnya, lalu mulai berkonsentrasi dan menyalurkan hawa murni mereka ke kitab ganjar Dewa di hadapannya..


Semuanya kini larut dalam latihan dengan bimbingan Kitab Ganjar Dewa..


Tesisa Sein bersama kedua istri dan anaknya...


Ayah.., Salwa mau kebelakang rumah untuk mulai berlatih..! kata Salwa..


Oh, baiklah,..sekarang biar ayah yang akan mengajarimu.., ! timpal Sein..


Horeeee..!! asyikk! Ucap salwa jingkrak jingkrak kegirangan..


Yasmin dan mentari saling tatap penuh arti, lalu dengan cepat Mentari menyambar lengan Salwa pergi ke belakang rumah..


Eh, ibu..!? ada apa?? Tanya Salwa kaget..


Suamiku..!! biar aku yang melatih Salwa dulu.., kau “latihlah” perempuan cantik di sampingmu itu dulu, baru menyusul kami kebelakang..!


Tapi ingat..,!! latihannya jangan berisik..!! banyak orang, kalau aku sampai mendengar suara latihan kalian, aku tidak akan ragu ragu untuk ikut latihan bersama kalian,,..!! hihihih...seru Mentari menggoda Sein dan Yasmin, tanpa menjawab pertnyaan Salwa..


Sesampainya di belakang, ia membimbing Salwa untuk mulai berlatih,


Ibu, kenapa ayah tidak melatihku sekarang, ..? tanya Salwa penasaran..


Ayah akan melatih ibu Yasmin dulu..nanti baru ayah datang untuk melihat perkembangan latihan kamu.., sekarang mulailah..! perintah Mentari.


Bai Ibu..! jawab Salwa patuh..


Di halaman samping,


Semua sedang berlatih,


Tinggal Yasmin dan Sein, saling tatap beberapa saat..


Degup kencang di dalam dada Yasmin kian membuncah...Wanita anggun itu tersipu malu dengan wajah memerah sampai ketelinga..


Bagaimana,.. mau ‘ latihan ‘ sekarang..? tanya Sein dengan tatapan menggoda..

__ADS_1


Cih..!! dasar tak tahu malu..!! umpat Yasmin tersipu, lalu berlari masuk ke kamar sambil menutupi wajahnya..


Sein tersenyum penuh arti, lalu menyusul dengan cepat dan meraih tangan Yasmin, sebelum kemudian pintu kamar tertutup..


Berselang satu tarikan nafas, pintu kembali terbuka dan tertutup lagi,..


Itu dalah salman yang berkelebat keluar dari bayangan Sein dnegan penuh kejengkelan..


Huh, siall..!! dasar bocah sinting..., lagi lagi aku harus bangun dari tidurku gara gara bocah itu hendak “berlatih tanding” dengan Istrinya..!! umpat Salman.


+


Bruk..!!


Ah..!! Kantil mengerang..


Tubuhnya jatuh berlutut di halaman pondok Bambu kuning..


Karaeng Gantarang tidak dapat masuk lebuh jauh karena kubah pelindung energi buatan salman masih terus membungkus tempat itu..


Di belakang kediaman pengungsian, Sein yang saat itu sedang menunjukkan beberapa gerakan dalam melatih Salwa, langsung berhenti..


Karaeng Gantarang sudah tiba,..Batin Sein.


Sein pun berkelebat cepat keluar dan membawa karaeng Gantarang dan Kantil masuk.


Lapor pangeran, Pembersihan pembersikah kecil telah saya lakukan, dan dia adalah pengikut setia Atikah, wanita gila itu..! kata Karaeng Gantarang yang menyerahkan Kantil kehadapan Sein..


Karaeng gantarang sengaja membawa Kantil sebagai tawanan dari Jurang Gunung Tujuh,


Sein manggut manggut, melihat Kantil..


Tuan Gantarang, bawa dia ke ruang tengah kediaman.., perintah Sein..


Baik Pangeran..! jawab Karaeng Gantarang lalu membawa Kantil ke dalam kediaman, lalu meletakkannya di ruang tengah.


Ruang tengah adalah ruang di kediaman pengungsian dimana semua aktifitas penghuninya di mulai dan berakhir di sana setiap harinya..


Setelah beberapa tarikan nafas berada di ruangan tengah itu, Sein pun juga masuk keruangan..


Melihat kedatangan Sein..


Salam Pangeran,..Kata Karaeng gantarang menjura..


Owh, tuan Gantarang, bagaimana keadaan Jurang Gunung Tujuh..? beberapa saat yang lalu, aku merasakan Utari menuju ke sana lalu pergi ke arah Hutan Purba.., tanya Sein,


Kekuatan Jurang Gunung tujuh sudah di Musnahkan oleh Kekuatan Pasukan Kesultanan Datuk Delapan.., Jawab Karaeng Gantarang..


Aku juga menemukan ini tuan..!! kata Karaeng Gantarang sambil menyodorkan sebuah bungkusan kain berwarna coklat..


Apa ini? Tanya Sein penasaran mengamati bungkusan itu..


Mmm.., dengan pelahan Sein membuka bungkusan itu, lalu dengan tiba tiba terdengar sebuah ledakan besar...


DHARRRRR...!!!!


Bungkusan itu telah meledak di ruangan tengah, namun tidak terjadi kerusakan apapun..


Sein yang tadi memegang bungkusan itu nampak, mengerahkan energi pelindung yang membungkus dirinya dengan bungkusan coklat itu..


Kini bungkusan itu telah menjadi serpihan kecil...


Atikah ini memang benar benar wanita yang penuh kejutan.., ucap Sein..


Tapi sayang, kejutan ini tidak dapat melukaiku sama sekali.., ucap sein lagi lirih..


Melihat apa yang dibawanya meledak dan hampir menyebabka rumah kediaman itu hancur, karaeng gantarang langsung belutut memohon maaf..


Maafkan saya pangeran, saya tidak tahu ini akan meledak seperti ini..


Seluruh sesepuh yang berlatih di halaman samping pun menghentikan latihannya karena kaget dan memburu ke dalam ruang tengah..


Saat mereka masuk, mereka mendapati Karaeng gantarang yang tengah berlutut dan Sein yang tetap dengan wajah tenangnya tersenyum..


Oh, eheheh..maafkan kami para tetua,..


Tadi ada kejutan dari Atikah, wanita gila itu..kata Sein berseloroh..


Oh..? para tetua sepun nampak bingung..


Maafkan aku para tetua sepuh.., aku yang menemukan bungkusan di Jurang Gunung Tujuh kalu membawanya kemari dan menunjukkannya pada pangeran.., kemudian bungkusan itu meledak dihadapan pangeran.., untung saja pangeran dengan cepat melindungi tenpat ini dari ledakan itu.., jelas karaeng gantarang merasa bersalah..


Ah, sudahlah tuan gantarang,ayo..bagunlah... ini masalah kecil.., tuan gantarang juga tidak tahu apa bungkusan itu.., timpal Sein santai..


Para tetua baru mengerti apa yang tadi telah terjadi..


Rupanya wanita gila itu menggunakan cara Khas Parzi dalam menghadapi musuh, ..


Cara oprang Parzi jika kalah dala pertempuran, maka mereka akan meninggalkan tempat dengan menyimpan barang untuk membunuh lawan secara tak terduga.., Jelas nenek Serba Tahu..


Wah,..ini pelajaran baru untuk kita semua,,, timpal Sein..


Siapa wanita ini..? tanya Nenek Serba Tahu..


Dia adalah abdi setia Atikah, jawab karaeng gantarang..


Oh, kalau begitu biar Tuan Sein yang memutuskan ia akan di apakan..., kata Tetua Gu..


Tunggu,.. bukannya para tetua waktu itu juga sudah menyebar ketempat tugas masing masing..? dan mengapa bisa memasuki daerah ini tanpa terhalang kubah pelindung tak kasat mata itu..? tanya Karaeng gantarang penasaran..

__ADS_1


Oh itu.., setengah hari sebelum kepergian pangeran dari sini, kami kembali dan melaporkan semuanya.., jadi pangeran menyuruh kami berlatih lagi dengan kitab ganjar dewa sebagai persipaan akhir, sebelum pertempuran besar nanti.., Jelas Ki Mambang..


Owh..ya ya..aku mengerti sekarang.., lalu wanita ini akan kita apakan pangeran..? tanya karaeng gantarang..


Biarka saja dia disitu..,


Tuan..? jika dia berada di sini dia akan endengar semua pembicaraan kita, bukankah ini berbahaya tuan..? tanya Tetua GU..


Sein hanya menap dalam pada tetua GU, tanpa berkata apa apa.., tetua GU langsung paham dan tak berkata kata lagi..


Baiklah, kalau begitu kami akan kembali berlatih, tiga hari lagi kami akan langsung bertugas sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan oleh pangeran,..kata Ki Mambang..


Kantil yang sejak tadi terus mendengarkan pembicaraan mereka menjadi heran..


Apa yang mereka lakukan padaku..? membiarkanku seperti ini di tempat ini..?? batin Kantil bertanya..


Huh, semoga saja selama di sini aku dapat mendengar semua rahasia kekuatan kalian, jangan salahkan aku..jika aku bisa lolos nanti, aku akan memberitahu Nyonya semua nya..huh.., ! batin kantil lagi..


Beberapa hari terus berlalu,


Kantil sudah banyak tahu tentang kehidupan dan rencana Sein bersama para penduungnya ini..


Setelah beberapa orang sudah pergi sesuai pembagian tugas masing masing, Sei masuk keruang tengah..


Kantil..!! sudah tiga hari kau tertotok di sini tak bisa bergerak.., sekarang waktunya membuka totokan kamu.., kata Sein yang baru saja masuk ke ruang tengah lalu membuka totokan Kantil dari jarak jauh..


Tsk..tskk..!!


Uh..!! leguh Kantil,..


tiga hari dalam keadaan tertotok , membuat tubuhnya terasa kaku dan lemas,..


Tanpa berkata apa apa, Sein meningglakan Kantil di ruangan itu sendirian..


Hah..? membiarkanku sendiri tanpa penjagaan..? aku akan melarikan diri..!! jangan salahkan aku, kalian sendri yang sangat ceroboh.., batin Kantil..


Baru saja Kantil hendak berdiri, Mentari dan yasmin beserta Salwa datang membawa sepiring hidangan disertai lauk yang lengkap, dengan minuman segar sebagai pelengkapnya..


Ini, kau sudah tiga hari ini tidak makan dan minum, ayo makan dan minumlah dulu.., biar tubuhmu tidak lemas.., kata Yasmin..


Kantil hanya diam,,,


namun dalam hati ia binging..


Hah..?? perlakuan maca apa ini..?? batin Kantil bingung


Jelas jelas diriku adalah musuh tapi mengapa mereka memperlakukanku seperti ini..?? batinnya lagi..


Apa semua tawanan mereka, mereka perlakukan seperti ini..??Kantil terus mebatin.


Baru sekarang ia sadar kalau ia merasa lapar, tanpa ragu ia memakan apa yang diberikan Yasmin padanya..,


Makanlah, pelan pelan, kalau masih mau tambah..di dapur masih ada..!! kata Yasmin penuh rasa bersahabat..


Tanpa sadar Kanti pun menganggu pelan...


Sambil makan, Kantil terus berpikir..


Musuh macam apa ini..?? batin Kantil untuk kesekian kalinya..


+


Di Hutan Bambu,


Di Luar Tempat pertemuan..


Dengan Wajah penuh kebencian dan kemarahan, Atikah menceritakan semua yang terjadi pada para sesepuh Hutan Purba..


Hung Min, Tan Atai, Ki Bolontio, Eyang Wasis di ikuti Pendekar Yang Siao bersaudara melangkah keluar mendengar cerita Yasmin pada Makil..


Atikah dengan cepat mengormat pada para tetua “Parguruan Lengan Iblis”


Salam para tetua,..!


Sedangkan Hung Min malah sebaliknya, justru ialah yang memberi hormat pada atikah.., karena dia adalah Petarung Pelindung khusus untuk Atikah dari keluarga ibunya..


Salam Nyonya,.., kata Hung Min..


Salam Paman,..timpal Atikah..


Masuklah dulu, dan ceritakan kembali semanya..! seru Tan Atai..


Baik ketua, jawab Atikah..


Semuanya masuk ke tempat pertemuan, lalu mengambil tempat duduk yang telah disediakan,..


Atikah pun bercerita dengan semangat,


Para tetua Perguruan Lengan Iblis mendengarkan dengan serius..


Kesultanan Datuk Delapan Selalu saja tak terduga...! Kata Makil.


Ya, Sultan Malik memang cukup cerdas..! karena itu untuk menghadapinya butuh kecerdasan pula.., kata Ki Bolontio..


Nyonya, tadi anda berceriata kalau ada seseorang tersembunnyi yang membantu Jendral Mukti yang hampir saja Nyonya Bunuh itu..,


Apa nyonya mengenali Ilmu yang di gunakan orang itu..? tanya Tan Atai..


+++

__ADS_1


__ADS_2