Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Tugas Ki Blirik dan Jendral Rambun


__ADS_3

Untuk sementara biar kita pusatkan kegiatan kita di sini dulu, sambil melatih ke empat puluh murid ini, kita bisa pelan pelan menyelidiki pulau itu..., kata Dewa Sedih.


Betul Tuan, sementara di sini dulu saja sambil mengamati perkembangan dunia persilatan.., tambah Sutan Rajo Bintang.


Mmm..para tetua benar, kita persiapkan dulu kejutan untuk dunia, barulah kita bergerak, toh urusan kita dengan Dewi Gelap Neraka Hitam dan muridnya Nenek Neraka Kematian itu belum di mulai..hehe..., tambah Sein.


Ya, betul pangeran, aku hampir lupa dengan kedua nenek biang masalah itu,.. kata Sutan Rajo Bintang...


Mereka pun berbincang dengan riuh sampai hampir tengah malam..,


+


Di Kediaman Selir Buangan..


Kenanga sedang memijat pundak Selir Atikah sambil bercengkrama..


Kenanga sudah melaporkan hasil pertemuannya dengan Ki Blirik sang penguasa Pulau Tanabala..


Hati Selir Atikah tampak sedikit tenang mendengar laporan orang kepercayaannya ini.


Kenanga, Utari saat ini sedang berlatih bersama Pamanku, apa kau juga ingin berlatih biar tambah hebat..? tanya Selir Atikah pada Kenanga,..


Hamba mau tuanku, hamba juga ingin hebat seperti kak Gao Ling..., tapi sayang Kak Gao Ling saat ini terluka parah.., jawab Kenanga.


Mm..baiklah, besok kau bisa bergabung dengan Utari di..." ssttt (Selir Atikah membisikkan suatu tempat pada Kenanga),.."


Kenanga mengangguk pelan,..


Apa kau mengerti..? tanya Selir Atikah dengan senyum di kulum...


Mengerti Nyonya..., jawab Kenanga bersemangat..


Besok aku akan ke rumah Kakakku, sudah lama Gao Ling dan Tetua Li Poaro sakit aku belum sempat menjenguk mereka...,kata Permaisuri.


Nyonya aku ikut ke tempat tuan Kuraya menjenguk Kak Gao Ling, biar aku ke tempat latihannya setelah dari sana saja..., kata Kenanga.


Ya sudah, besok kau ikut aku ke tempat Gao Ling di rawat..., timpal Selir Atikah menyetujui.


Terimakasih nyonya.., kata Kenanga dengan hati senang..


Saat mereka berbincang,


Datang menghadap pangawal kediaman..


Lapor nyonya, mata mata yang menyelidiki keluarga pangeran Sein meminta menghadap..., kata pengawal jaga..


Ya, bawa ia masuk ke sini..., perintah Selir Atikah..


Segera pengawal itu bangkit dan mengajak petugas mata mata masuk menghadap..


Lapor tuanku, kami sudah mengetahui, pangeran Sein malam itu di lukai oleh Kamsina, cucu murid Dewi Gelap Neraka Hitam, dan juga kami menemukan jejak pangeran Sein, sepertinya pangeran di tolong oleh salah seorang tetua dari Klan Wong.., beberapa waktu yang lalu, ada anak buah saya yang melihat mereka di Kota Manccini.., beber mata mata suruhan Selir Atikah.


Jadi benar, Klan Wong dan Sein, mereka telah bekerja sama,.., gumam Selir Atikah memicingkan mata..


Selir Atikah sangat membenci Sein, kini kebenciannya juga merembet ke Klan Wong yang dianggapnya telah membantu musuhnya..


Ada laporan apa lagi,..? tanya Selir Atikah kemudian,..


Klan Wong telah memanggil semua petarung terbaik di Klan mereka, saat ini sudah banyak yang tiba di kota maccini.., mereka berasal dari cabang Klan Wong yang tersebar di berbagai daerah di Lima Benua ini.., jawab mata mata...


Mereka benar benar berniat melawanku..., baiklah..kalau begitu sedikit pemanasan buat Klan Wong akan di mulai...hehe.., ucap Selir Atikah lirih dan terkekeh dengan wajah mengerikan..


+


Dini hari,


Gelap berkabut..


Di Hutan Bambu


tak jauh dari Kediaman persembunyian...


Para tetua bergegas menuju arena latihan, kali ini pola latihan akan bertambah satu pola, yang akan di jaga oleh Tetua Gu,..


Nenek Serba Tahu sudah lebih dulu berada di arena latihan di dalam Hutan Bambu itu, sejak tadi nenek sakti itu sibuk membuat pola yang akan dijaga oleh tetua Gu..


Bertepatan dengan selesainya pola di buat oleh nenek serba tahu, Pasukan Biru pun sudah tiba di tempat itu, bersiap untuk latihan...


Sementara itu,


di belakang kediaman,


Sein juga sedang melatih diri bersama kedua istrinya..


Sudah lama tidak berlatih dengan tenang,..akhir akhir ini benar benar banyak urusan..., batin Sein.


Ia kembali mempelajari teknik menembus ruang yang tertera dalam gulungan...ia sangat ingin seperti Salman yang dapat menembus ruang dengan sangat mudah...


Mereka terus berdiam melatih diri,..


karena sudah berkali kali sein mengulangi dan gagal..., akhirnya ia membuka kembali lembaran yang pernah di berikan Salman saat pertama kali mereka bertemu di Goa Klan Wong..


Teknik dalam kitab itu adalah teknik pelatihan pikiran dan spiritual, tebagi menjadi empat tingkatan teknik..


" Teknik Alam Bawah Sadar,

__ADS_1


Teknik Alam Hampa,


Teknik Kesadaran sejati,


Teknik Naluri Sempurna"..


Apakah ini yang menjadi penyebab aku tidak bisa mengerahkan teknik menembus ruang seperti Salman..?


Yang saat ini aku kuasai dari kitab segala tahu, hanya berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan cepat,.., ( seperti saat Sein terluka karena di keroyok Sebelas Pendekar Bintang dan Kakek Arsmut), teknik itu bukanlah teknik menembus ruang yang sebenarnya,.. batin Sein.


Ia membaca lagi teknik dalam lembaran itu dengan seksama..,


Tingkat Alam Bawah Sadar, yang merupakan tingkat pertama dari lembaran ini telah aku kuasai dengan sempurna,


Apa sebaiknya aku mencoba tingkat selanjutnya baru kemudian aku mengerahkannya bersamaan dengan teknik menbus Ruang...!!? batin Sein.


Ah sebaiknya aku mencoba tingkatan selanjutnya dalam lembaran ini...,


"Tingkat Alam Hampa..!".. batin Sein lagi, lalu memulai melatih seperti yang tertulis dalam lembaran di pangkuannya..


Beberapa kali dahinya mengernyit, merasakan kehampaan sekitar yang masih banyak terganggu..., sehingga berulang ulang ia harus memasuki alam kehampaan karena gangguan alam sekitarnya..


Alam bawah sadar berbeda dengan alam hampa, pada alam bawah sadar yang dilatih adalah kekuatan teknik dan tenaga dalam ataupun energi Qi agar dapat keluar maksimal tanpa terpengaruh gangguan sekitar terhadap kesadaran, intinya melakukan sesuatu dengan spontan tanpa pengaruh kesadaran..


Sedangkan tingkat Alam Hampa, justru mengharapkan gangguan itu menjadi semakin besar agar melatih ketidak pedulian terhadap gangguan, jadi tidak lagi berbuat dengan spontan tanpa kesadaran seperti di alam bawah sadar..melainkan berbuat sesuatu dengan kehampaan, intinya membangun kekuatan menyatu dengan alam, sehingga perasaan semua hampa dan yang ada hanya pengerahan kekuatan..


Sein terus melatih teknik Tingkat Alam Hampa..hingga berulang ulang, setelah setengah hari, barulah ia bisa bertahan dalam kondisi Alam Hampa beberapa tarikan nafas..


Sein terus mencoba meningkatkan kemampuannya memasuki Alam Hampa, tak terasa waktu berlalu..


haru menjelang malam...ketiga orang itu masih saja bardiam melatih diri..


Saat Sein merasakan energi para tetua mendekat, barulah ia menghetikan latihannya, demikian pula dengan Yasmin dan Mentari..


Sedangkan Salwa, dari tadi bermain sendirian di dalam rumah, karena sudah mulai mengerti jika orang tuanya berlatih maka tidak boleh mengganggu...


+


Di sebuah desa,


Di luar Ibu Kota,


Aku memamnggilmu,


aku butuh bantuanmu mencari seseorang...,kata Ki Blirik.


Ki Blirik berbincang dengan seorang wanita paruh baya,..


Owh..tidak tahu siapa yang sedang di cari oleh Jendral Besar Blirik.., timpal Wanita paruh baya berdandan menor itu dengan sikap manja yang dibuat buat.. (Jendral Besar adalah anugrah Sultan terdahulu pada Ki Blirik akibat jasanya membantu kesultanan datuk delapan).


Aaahh..jendral besar, dari dulu selalu mengabaikanku..., kalau jendral besar tidak bersikap manis padaku maka aku tidak akan membantu Jendral Besar..


Oh? ingin tawar menawar atau sedang mengancamku..? tanya Ki Blirik dengan pandangan mata menyipit..., sekilas tampak kilatan cahaya merah saga dalam bola mata Ki Blirik...


Ah..baiklah baiklah...ehm,.ma..maaf jendral besar, saya hanya bercanda saja..., timpal Wanita paruh haya dengan hati bergidig ketakutan..


Ki Blirik terkenal tanpa belas kasihan jika sedang murka, tak perduli menghadapi wanita ataupun pria sama saja. ., jika hatinya sedang tidak enak, maka ia akan membantai dengan kejam...,


Katakan, apa kau bersedia membantuku..? tanya Ki Blirik Dengan wajah sangar...


Ssaaya..Be...ber, sssedia jendral...,! jawab Wanita paruh baya gugup gemetaran..


Mm..ikut aku, ajak Ki Blirik,...


Baik Jendral besar,..! timpal Wanita Paruh baya berdandan menor itu lalu beranjak mengikuti langkah Ki Blirik..


Setelah berjalan cukup lama, Ki Blirik hendak memasuki sebuah kediaman yang cukup megah,..namun tertahan oleh bentakan dari dalam pekarangan..


Siapa di sana..? teriak seorang lelaki berpakaian seperti pendekar..


Pria itu menghampiri Ki Bilirik, Siapa anda tuan,..? tanya Lelaki yang sepertinya penjaga kediaman ini.


Aku Blirik, aku ingin bertemu Tuan Rambun..! jawab Ki Blirik..


Owh, baik aku akan melapor dulu, tapi ingat panggil nama Jendral Rambun atau tuan besar Rambun, jangan seperti tadi hanya menyebut "Tuan Rambun.."..Tuan besar akan murka jika orang sembarangan menyebut namanya, katanya itu tidak sopan dan tidak menghargai..., ingat itu..! kata penjaga..


Baik,..! jawab Ki Blirik Singkat.


Penjaga itu pun segera masuk ke kediaman dan melapor...


Lapor Tuan Besar, di luar ada orang yang ingin bertemu tuan besar, sepertinya seorang pendekar, dan juga galak..., makanya aku tidak banyak bertanya takut orangnya ngamuk.., kata Penjaga.


Mm..? bahkan namanya pun kau tidak tanya?? timpal Jendral Rambun.


Oh, iya tadi orang itu mengaku namanya Blirik,.. timpal Penjaga.


Apa..?seketika Jendral Rambun terlonjak dari kursinya...


Ia segera berlari menuju halaman...


Pejaga kediaman itu juga berlari mengikuti dari belakang..


Hmm..pasti orang itu akan di hajar Oleh Tuan besar.., batin Penjaga.


Dari kejauhan Jendral Rambun menatap dengan tajam,..seketika ia dapat memastikan orang yang berdiri di depan gerbang adalah Ki Bilirik..

__ADS_1


Saat tepat tiba di hadapan Ki Blirik,


ia menjatuhkan diri berlutut,


Salam Jendral Besar,...maaf tidak menyambut sebagaimana mestinya...! sapa Jendral Rambun.


Bangunlah tuan besar,.., kata Ki Blirik. semetara itu penjaga kediaman menatap tuan besarnya dengan heran...


Tuan besar kenapa berlutut pada orang itu, siapa orang itu..? gumam penjaga..


Jendral Rambun segera berdiri namun masih menjura dengan sangat hormat,..


Maaf Kakak, jangan panggil saya tuan bersar, saya malu...! kata Jendral Rambun.


Hah, bukannya kamu memang sukanya di panggil seperti itu..? aku hanya melaksanakan apa yang di pesen penjaga rumahmu itu.., timpal Ki Blirik,..


Kakak, berhentilah menggodaku,. ayo kita masuk saja..ajak Jendral Rambun..,


Jendral Rambun adalah salah satu dari empat jendral bawahan Jendral Besar Blirik saat masih bertugas bersama mambantu pangeran ke lima.


Eh, apakah ini kakak ipar..? tanya Jendral Rambun pada Ki Blirik saat melihat wanita paruh baya di belakang Ki Blirik..


Cangkem elek,..Bukkkk..!! sebuah tinju mendarat tepat di ulu hati Jendral Rambun..


Uhukk...!! kakak...sakitt..!! kata Jendral Rambun.


Makanya jangan bicara sembarangan, seleraku bukan wanita seperti ini..., timpal Ki Blirik mendengus.


Ehehe..iya maaf kakak,..lalu siapa dia,..? tanya Jendral Rambun masih memegangi ulu hatinya yang barusan kena hajar.


Eh, katakan siapa dirimu.., kata Ki Blirik pada Wanita peruh baya itu..


Maaf Jendral, saya Nyi Hapsari,..saya murid Sekte Belibis Putih.., jawab wanita paruh baya yang ternyata bernama Nyi Hapsari.


Sekte Belibis Putih adalah sekte aliran netral yang berada di Benua Barat, sekte ini merupakan sekte yang memiliki banyak murid, dipikirkan yang terbanyak di antara semua perguruan di Benua Barat, murod muridnya tersebar hampir di setiap pelosok Benua Barat, kelebihan ini membuat sekte ini merupakan penyampai berita tercepat di dunia persilatan..


Banyak kalangan persilatan yang kadang kadang meminta bantuan sekte belibis putih, baik untuk menyebarkan berita, atau pun mencari berita..


Saat ini Ki Blirik sedang mencari berita dari Nyi Hapsari..


Oh, Sekte Belibis Putih, ayo..mari silahkan masuk nyi..., ajak Jendral Rambun.


Terimakasih tuan besar, timpal Nyi Hapsari dan melangkah mengikuti Ki Blirik masuk ke kediaman Jendral Rambun.


Eh..hehe.., kakak, silahkan duduk..


Nyi silahkan duduk..., kata Jendral Rambun mempersilahkan tamunya, saat mereka sudah berada di ruangan tamu khusus dimana terdapat meja bundar di tengah tengah ruangan..


Kedua tamunya itu pun duduk dengan santai, Jendral Rambun juga ikut duduk di depan meja bundar itu..


Ini ruang tamu kediamanmu..?tanya Ki Blirik..


Ini ruangan tamu khusus, makanya suasananya seperti ini, ruangan ini khusus menerima tamu istimewa, seperti kakak...heheh.., jawab Jendral Rambun terkekeh.


Mmm...oh ya, Hapsari.., aku ingin tahu berita terbaru dari dunia persilatan dan istana.., kata Ki Blirik pada Nyi Hapsari tanpa berbasa basi langsung ke intinya..


Nyi Hapsari pun menceritakan dengan lengkap semua kejadian yang terjadi di dunia persilatan dan juga berita keadaan istana yang diketahuinya..


Saat membahas tentang Sein, wajah Ki Blirik nampak sejenak berubah, tapi langsung kembali seperti semula,..


Oh,..jadi pangeran Sein itu saat ini sedang terluka parah..? tanya Ki Blirik.


Betul Ki, seperti yang saya ceritakan tadi, aku melihat sendiri pangeran itu di bawa pergi oleh seseorang yang berkepandaian tinggi.., jawab Nyi Hapsari.


Mm...berarti dia palsu,..pangeran Sein yang asli sengaja membuat situasi ini untuk menyerang Selir Atikah,.. batin Ki Blirik.


Apa masih ada yang belum kau ceritakan,..? tanya Ki Blirik lagi.


Ya ada satu lagi, sepertinya beberapa hari yang lalu Pangeran Sein terdengar berada di Kota Maccini, dan kabar yang kudengar bahwa ketika malam kejadian itu ia di tolong oleh salah satu tetua Klan Wong.., beber Nyi Hapsari..


Oh, mmm...menarik.., klan kuno itu mulai ikut campur.., gumam Ki Blirik.


Sementara itu Jendral Rambun masih mendengarkan tanpa berbicara sepatah kata pun..


Baiklah Nyi Hapsari, Terimakasih kau telah memberiku berita yang cukup penting..., berita ini sangat membatu tugasku. .., kata Ki Blirik.


Eh, iya tidak masalah Ki..., timpal Nyi Hapsari..


Kalau begitu, kau boleh pergi sekarang, ambillah ini .., kata Ki Blirik sambil melempar sekantong uang pada Nyi Hapsari.


Terimakasih Ki, saya mohon diri.., ucap Nyi Hapsari menghormat lalu bergegas pergi.


Seterah Nyi Hapsari pergi, barulah Jendral Rambun bersuara,


Kakak..! ada tugas penting apa? tanyanya pada Ki Blirik.


Ya, Selir Atikah meminta tolong padaku untuk membereskan sedikit masalah..,


Pangeran Sein itu cukup menganggu rencananya..., jawab Ki Blirik.


Jadi kakak sedang mencari pangeran itu..? tanya Jendral Rambun.


Ya, aku akan mencarinya ke Klan Wong.., jawab Ki Blirik.


Kakak, sebaiknya hati hati berurusan dengan Klan Wong, aku dengar saat ini semua petarung hebat Klan Wong sedang berkumpul..., beber Jendral Rambun memperingatkan Ki Blirik.

__ADS_1


+++


__ADS_2