Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Selir Atikah Pewaris Energi Merah Yang dan Jurang Gunung Tujuh


__ADS_3

Tenang saja, Aku hanya akan menyelidikinya dulu, apakah keberadaan pangeran itu benar benar ada di sana..., timpal Ki Blirik,..


Mm..baik Kak, akan aku temani..., kata Jendral Rambun bersemangat..


Hahaha...iya iya...., bagus,..bagus...! sudah lama kita tidak bertualang bersama..., kata Ki Blirik.


Ya, terakhir saat kita membantu pangeran ke lima, namun sebenarnya saat itu aku tidak terlalu suka bertarung untuk perebutan kekuasaan,.. balas Jendral Rambun.


Mm..baiklah,.. hal sudah lama tidak perlu di ungkit lagi,..hahaha...


Besok kita berangkat ke Kota Maccini.. , Kata Ki Blirik.


Haha..iya betul kakak,..tidak perlu di ungkit lagi.., Timpal Jendral Rambun.


Keduanya berbincang hingga beberapa saat, lalu mereka beristirahat..


+


Ibukota,


Kediaman Bangsawan Kuraya,


Selir Atikah bersama Kenanga, menjenguk Gao Ling..


Kondisi kesehatan Gao Ling setelah terluka saat bertarung dengan nenek serba tahu masih lemah.., ia belum bisa bangkit dari pembaringan..


Selir Atikah dan Kenanga duduk di tepi pembaringan, memberi semangat pada Gao Ling untuk cepat sembuh..


Ehm...h...tuanku,.. maaf aku gagal melaksanakan tugas.., ucap Gao Ling dengan suara lemah dan nafas masih sedikit tersengal..


Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, yang penting saat ini adalah kamu haris sembuh dulu, urusan membunuh pangeran sialan itu masih banyak kesempatan.., timpal Selir Atikah..


Iya, nyonya benar kak, sekarang kak Gao Ling harus sembuh dulu baru bisa balas kegagalan ini..., kita akan membalas mereka lebih kejam..., ucap Kenanga dengan berapi api...


Mm.., Gao Ling mengangguk pelan,..


Terimakasih nyonya, terimakasih kenanga.., ucap Gao Ling senang, ia merasa terhibur dengan kedatangan kedua wanita yang menjenguknya ini.


Baiklah Gao Ling, kamu istirahat saja lagi, kami masih akan menjenguk tetua Li Puaro.., jelas Selir Atikah.


E..bagai mana,keadaan guru Li..?tanya Gao Ling.


Tetua Li juga masih lemah sepertimu,..ia hampir saja mati mengenaskan..., beber Selir Atikah.


Kasihan guru, kesaktiannya pasti menurun walau nanti bisa sembuh.., gumam Gao Ling.


Sudah, jangan terlalu banyak berpikir, kamu istirahat saja biar cepat sembuh.., kata Selir Atikah.


Mm.., angguk Gao Ling.


Eh iya, pedang Kilin Api milikmu saat ini di pakai Utari berlatih, aku meminjamkan padanya untuk sementara, nanti setelah kamu sembuh boleh kamu ambil kembali.., jelas Selir Atikah..


Iya nyonya, aku tidak masalah..., timpal Gao Ling.


Baiklah, kami ke bilik tetua Li Puaro dulu.., imbuh Selir Atikah.


+


Masih di kediaman Bangsawan Kuraya..


Di bilik tempat Li Puaro di rawat,


Selir Atikah duduk di kursi samping pembaringan, menatap iba pada Li Puaro, kondisi penguasa jurang gunung tujuh itu tampak sangat mengenaskan..


Dengan lemah Li Puaro menoleh ke sisi kanan pembaringan,


Anakku, sepertinya aku tidak dapat membantumu lebih jauh lagi,..kondisi tubuhku sudah seperti ini, walaupun kelak akan sembuh namun tidak akan mungkin lagi seperti semula.., kata Li Puaro dengan suara bergetar..


Tetua, jangan khawatir, tetua pasti akan bisa sembuh,..tetua harus semangat.., timpal Selir Atikah..


Atikah, aku paling tahu mengenai tubuhku,..saat ini hanya ada satu cara agar kesaktianku tidak musnah,.., aku harus menurunkan kesaktianku pada seseorang.., kata Li Puaro.


Maksud tetua..?? tanya Selir Atikah.


Aku akan memindahkan kesaktianku pada seseorang..., jawab Li Puaro.


I..itu bukannya malah akan membuat tetua semakin tidak berdaya setelah memindahkan kekuatan itu..? tanya Selir Atikah.


Tidak apa apa, yang penting kekuatanku tidak musnah dengan sia sia,.. jawab Lo Puaro


Mm..bagaimana kalau tetua memindahkannya pada Gao Ling saja..? kata Selir Atikah menawarkan.


Li Puaro menggeleng, Gao Ling tidak bisa menampung lebih dari apa yang pernah aku turun kan padanya,..


Aku butuh orang yang benar benar cocok dengan kesaktianku ini, barulah ia bisa menerima secara keseluruhan.. beber Li Puaro.


Kemarilah, ulurkan tangan kalian,.. kata Li Puaro..


Kenanga dan Selir Atikah segera memenuhi permintaan Li Puaro..


Setelah memeriksa tangan kedua wanita ini beberapa saat, Li Puaro akhirnya bernafas lega,..


Hmhhh..Atikah, kaulah yang paling cocok dengan kekuatanku ini.., Aku akan memindahkan kekuatanku ini padamu saja,.. kata Li Puaro.


Tetua apakah ini tidak apa apa..? jangan sampai kondisi tetua akan semakin buruk..., jawab Selir Atikah.


Tidak masalah, aku hanya akan menjadi orang biasa, paling buruk ya mati.., ini lebih baik dari pada kekuatan yang kulatih ratusan tahun ini musnah dengan sia sia,.. jelas Li Puaro.


Dengan ragu akhirnya Selir Atikah mengikuti permintaan Li Puaro...

__ADS_1


Dengan sisa sisa kekuatannya, Li Puaro mengerahkan teknik pemindahan kekuatan Energi Merah Yang miliknya, kemudian menyalurkannya melalui jari telunjuknya ke dahi Selir Atikah...


Selir Atikah dengan mata terpejam menerima aliran energi yang masuk melalui titik diantara ke dua matanya..


Selir Atikah laksana tersengat aliran yang sangat panas,..


Sekujur pori pori tubuhnya mengeluarkan darah hitam...


Udara di dalam bahkan di sekitar kediaman menjadi sangat panas,..


Penduduk banyak yang pingsan karena tidak tahan hawa panas ini..


Sementara di dalam bilik, Li Puaro terus memindahkan seluruh kesaktian dan ingatannya ke dalam tubuh Selir Atikah.


Kenanga tak berani bergerak, ia justru lebih tertekan oleh energi panas di tempat itu..,


Karena hampir tidak tahan, Kenanga tanpa sadar memegang tangan Selir Atikah, seketika tubuhnya juga merasakan aliran energi memasuki tubuhnya,..


Menyadari hal ini, mata Li Puaro mendelik, hendak marah, tapi dalam keadaan seperti saat ini, ia tidak bisa berbuat apa apa selain melanjutkan pemindahan kekuatannya, sebab jika ia menghentikannya, maka akan mencelakai Selir Atikah,


Setelah berpegangan beberapa saat, Kenanga mulai tidak merasakan tekanan energi panas,..namun kekuatan dalam dirinya dirasakannya terus bertambah..


Begitu pula Selir Atikah, saat Kenanga memegang tangannya perlahan rasa panas yang menyiksa akibat pemindahan energi tak lagi dirasakanya..


Berbeda dengan Li Puaro, Selir Atikah justru tidak menyadari jika Kenanga memegangi tangannya...


Pemindahan energi ini berlangsung hingga beberapa hari,..


Bangsawan Kuraya menunggu di luar kediaman,.dalam keadaan kepayahan karena tekanan energi dari dalam bilik..


Karena tidak tahan akhirnya ia memutuskan menjauh sementara dari kediamannya...


Rupanya tetua Li sedang melatih Atikah,..


ini bagus juga, Atikah bisa menjadi pendekar pilih tanding jika berlatih bersama tetua Li..., batin Bangsawan Kuraya..


Setelah hampir dua puluh hari, akhirnya pemindahan Energi Merah Yang telah selesai,.. bersamaan dengan itu tibuh Li Puaro jatuh tersungkur di atas pembaringan...


Li Puaro kini menjadi manusia biasa pada umumnya, tidak lagi menjadi petarung sakti, Li Puaro pingsan kehabisan tenaga...


Sebaliknya, selir Atikah menjadi sangat kuat, kekuatan Energi Merah Yang dan ingatan Li Puaro terkait teknik teknik dan jurus jurus serta ajian kesakitan lainnya terpatri jelas dalam ingatan Selir Atikah,..


Saat ini Selir Atikah tampak lebih menakutakan dari sebelumnya, aura dan sorot matanya menyiratkan kekejaman dan kebengisan..


Lain halnya dengan Kenanga, ia juga mendapat kekuatan Energi Merah Yang,..namun ia tidak memiliki ingatan apa apa terkait jurus maupun teknik milik Li Puaro..


Melihat Kenaga, apalagi merasakan kekuatan Kenanga setara dengannya, Selir Atikah terkejut...


Kenanga...!? luar biasa...kau juga mendapat kesaktian dari tetua Li...!! seru Selir Atikah sambil membaringkan posisi tubuh Li Puaro yang tadi tersungkur pingsan..


Ehm...maaf nyonya, aku tidak sengaja mendapat energi ini..,


Saat tetua Li memindahkan energi ke nyonya, aku tertekan dengan energi itu,


Jadinya ku tidak sengaja memegang tangan nyonya, anehnya setelah memegang tangan nyonya aku tidak lagi merasakan tekanan energi...,


Ketika aku hendak melepaskan tanganku, tapi sepertinya tidak bisa dilepaskan,.tanganku menempel erat di tangan nyonya,.


Aku tidak mau menganggu nyonya dan tetua Li jadi aku biarkan saja terus menempel..dan baru saja bisa terlepas sendiri saat tetua Li selesai memindahkan energinya.., jelas Kenanga..


Maafka saya nyonya, saya.sudah lancang menerima kekuatan dari tetua Li..saya pantas dihukum mati..! kata Kenanga kemudian berlutut..


Oh, justru bagus kenanga...kau semakin hebat..., ayo bagunlah.., ucap Selir Atikah.


Tidak masalah,.. kau mendapatkan kekuatan secara tidak sengaja, berarti kau juga memang berjodoh dengan Energi Merah Yang..


Sekarang, anggaplah kita saudara seperguruan..aku adalah kakak seperguruanmu..m, mengerti..?? tanya Selir Atikah.


Mengerti.mterimakasih nyonya..., jawab Kenanga.


Em..nyonya apakah aku masih harus ke tempat latihan bersama nona Utari..? tanya Kenanga kemudian.


Oh iya, tentu kau harus kesana,..tapi ingat ilmu dan teknik dari tetua Li juga harus sering sering kau latih.., pesan Selir Atikah.


Maaf nyonya, aku sama sekali tidak tahu teknik dari tetua Li.., timpal Kenanga..


Hah..!!? jadi yang masuk ke tubuhmu hanya energi saja, tidak dengan ingatan terus Li..?


Mm..., jawab Kenanga menggeleng.


Mmm..ya.. ya...aku mengerti, pasti ini karena kamu mendapatkan energi melalui tanganku saja, sedangkan aku mendapat langsung daribl jari tetua Li, melalui kepalaku.., gumam Selir Atikah..


Kenanga, kemari.. duduk lah..., kata Selir Atikah duduk di lantai..


Tanpa banyak tanya Kenanga juga duduk tepat di hadapan Selir Atikah..


Beberkal ingatan dalam dirinya yang di pindahkan oleh Li Puaro sebelumnya, Selir Atikah serta merta mengerahkan kekuatan, lalu menyentuh dahi Kenanga dengan telunjuknya..


Seketika ingatan akan teknik teknik beladiri milik Li Puaro sudah masuk ke ingatan Kenanga..


Hanya butuh beberapa saat saja,.Selir Atikah mengakhiri memberi ingatan pada Kenanga.


Hehe...Kenanga, sekarang kau tahu kan bagaimana mengerahkan Energi Merah Yang untuk ajian dan jurus jurus dalam ingatanmu..., kata Selir Atikah...


Iya, Nyonya..., Terimakasih... sudah mempercayakan ilmu hebat ini pada saya.., kata Kenanga dengan mata berkaca kaca..


Sudahlah jangan cengeng, sekarang kau adalah pendekar pilih tanding.., jangan gampang menangis..., lebih baik segeralah kamu ke tempat latihan Utari..., perintah Selir Atikah..


Baik Nyonya, Kenanga segera berangkat.., kata kenanga memberi hormat lalu bergegas pergi..

__ADS_1


Di depan kediaman, tampak Bamgsawan Kuraya dan keluarganya kembali, selama beberapa hari ini mereka mengungsi karena tidak tahan panasnya Energi Merah Yang..


Saat mengetahui, tekanan energi telah berakhir, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali kerumah dan hendak mengetahui keadaan Selir Atikah dan Li Puaro..


Saat hendak masuk ke kediaman, Bangsawan Kuraya berpapasan dengan Kenanga yang hendak keluar,..


Eh, Kenanga..? mau kemana..?tanya Bangsawan Kuraya..


Ehm, tuan besar..., saya di suruh nyonya Atikah ke suatu tempat..., jawab Kenanga..


Oh..baiklah..lanjutkan saja.., aku masuk dulu.., kata Bangsawan Kuraya lalu beranjak masuk..


Kenanga memberi hormat lalu berbalik pergi...


Di dalam kediaman..,


Adikku...bagaimana keadaanmu.., teriak Bangsawan Kuraya, sambil memasuki bilik tempat Li Puaro .


Aku baik baik saja kak, ..hanya tetua Li masih pingsan..., jawab Selir Atikah.


Owh...apakah tetua Li mengajarimu ilmu kesaktiannya..?beberapa hari ini hawa disekitar kediaman sangat panas.., kata Bangsawan Kuraya.


Iya, tetua Li sudah menurunkan semua kesaktiannya padaku dan Kenanga..., sekarang tetua Li hanyalah seorang manusia biasa yang tak punya kesaktian apa apa...jawab Selir Atikah.


Hah...? kasihan juga tetua Li.., tapi lumayan baik buat kamu dan Kenanga...,


Sekarang tidak perlu perlindungan pendekar lagi hehe..., ucap Bangsawan Kuraya..


Kakak, apa kakak pikir yang mengincar kami hanya pendekar rendahan..., timpal Selir Atikah..


Tentu saja tidak seperti itu adikku,..aku hanya menggodamu saja...hehehe, balas Bangsawan Kuraya.


uhhh..huhhhh.., terdengar suara erangan pelan, saat keduanya berbincang..


He? tetua Li sudah sadar..., seru Bangsawan Kuraya yang melihat Li Puaro mengerang dan berusaha membuka mata..


Selir Atikah menghampiri Li Puaro,


Tetua, bagaimana keadaanmu...? tanya Selir Atikah.


Mmh....anakku,..kauhhh...uh..sudah menerima semua ilmu kesaktianku..,


Ambil dan pakai cincin di jariku ini.., perintah Li Puaro pada Selir Atikah..


Tanpa banyak bicara Selir Atikah mencopot cincin tersebut dari jari ali Puaro kemudian memakai di jarinya sendiri, karena jari manisnya kecil,.cincin tersebut longgar, akhirnya ia memakainya di jari jempolnya..


Sudah tetua,.., kata Selir Atikah..


Baikhh, sekkarangghh dengarkan,...,akuhhh..., kata Li Puaro terbata bata, nafsanya tersengal.


Mulaihhh saat inihhh..., kau adalahh penguasa jurang gunung tujuhh..., dengan Cincin Pengendali Jiwa ituhhh, seluruh mahluk yang ada di sana ada di bawah perintahmuhhhh...


Carah, mengedalikan dan mengikathhh....uhhhghh,...jiwah ah, ..mahluk apapunhh nantinyahhh,..sudah aku tanamkan dalam ingatanmuhhh...,


Dan lagiihh, masihh..hhh.. ada kitabhh dari benua parsi, yanghhhh belum aku pelajarihhh, kitab itu adalahhhh lanjutan dari yanghhhh sudah adahhhh dalam dirimu,..hhhh...kitab ituhhh, akuhhh, simpan di bawahhhh, dampar kulithhhh, tempat dudukkuhhhh di jurang gunung tujuhhhh...., jelas Li Puaro memaksa berbicara dengan sisa sisa kekuatannya..


Guru...,..tenanglah jangan banyak bicara dulu..! guru istirahat saja dengan baik..! timpal Selir Atikah..


Waktukuhh..sudahhh tidak banyak lagiihhhhh...hahhh..hhah...


Balaskan dendamku pada Dewa Sedih dan Sutan Rajo Bintaaaaang...


Tepat saat menyelesaikan kalimatnya Li Puaro pun menghembuskan nafas terakhirnya...,


Guru...!!! pekik Selir Atikah..,


Tetua Li..., Bangsawan Kuraya juga terpekik..


Seisi kediaman juga tampak kaget,


Apa tamu tuan besar meninggal..?


bisik pelayan saling bertanya..


Guru....!! guru....!!! tangis Selir Atikah pecah dalam bilik itu.., ia terus saja mengguncang tubuh tua Li Puaro...


Bangsawan Kuraya, menenangkan adiknya dengan mengelus punggung dan kepala Selir Atikah yang masih saja terus meraung..


Setelah cukup lama meraung, kini tinggal isak tangis pelan, sesungukan halus yang terdengar dari Selir Atikah..


Adik, sudahlah, jangan terlalu sedih,..ayo kita persiapkan pemakaaman yang layak untuk tetua Li.., kata Bangsawan Kuraya..


Selir Atikah pun mengangguk pelan sambil masih terus menyeka air matanya yang tak henti mengalir..


Ia terkenang, bagaimana Li Puaro yang terus saja mengikuti permintaannya selama ini,..


Li Puaro benar benar sangat memanjakannya..,


Selir Atikah sangat terpukul atas kematian Li Puaro, apalgi luka Li Puaro yang sangat parah adalah karena permintaan Selir Atikah untuk membunuh Sein, hingga Li puaro harus bertarung dengan Dewa Sedih dan Sutan Rajo Bintang.


Dan saat saat terakhir, bahkan Li Puaro rela menyerahkan seluruh kesaktiannya pada Selir Atikah, juga mengangkatnya sebagai penguasa Jurang Gunung Tujuh, ini benar benar membuat hati Selir Atikah tersentuh..


Selir Atikah benar benar tidak terima kematian Li Puaro..


Kebencianya pada Sein dan kelompoknya semakin membuncah...


Sorot mata memerah, Selir Atikah memendam kemarahannya..


Guru,..tenang saja,..aku pasti akan membalas dendam pada mereka,..aku akan terus memburu mereka tanpa henti..., batin Selir Atikah.

__ADS_1


+++


__ADS_2