Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua

Kisah Sang Penakluk Dunia (Geger Di Lima Benua
Akar Roh Pelahap Energi Sein Tidak Dapat Membantu


__ADS_3

Tidak akan mungkin menghancurkan dinding kubah energi ini.. , aku sudah merasakan kekuatan pangeran itu saat mengobati kita tadi.., kekuatannya berada dua tingkat di atasku..di tambah lagi kini kita sedang dalam penyembuhan dan kekuatan kita di dalam segel ini pun hanya setengahnya...ini sangat tidak mungkin..., seru Wong Ma.


Kakak, satu satunya jalan adalah bertarung habis habisan dengan pangeran ini..., seru Wong Mu sudah putus asa...


Heheh.., dari tadi sudah ku ingatkan pada kalian untuk tidak terlalu memaksakan diri..., sekarang tidak ada lagi yang akan dapat menyelamatkan kalian.., ucap Karaeng Gantarang..


Beberapa detik berikut nya Sein manambah tekanan energinya..,


Ke empat leluluhur Klan Wong semakin terpuruk..


Mereka semakin melemah,


setelah beberapa saat, Ke empat orang ini masih saja terus mengerahkan kekuatannya untuk menghancurkan kubah energi dan pada akhirnya mereka mulai kelelahan..


Dengan nafas satu satu, mereka duduk terkulai..,


Menyadari musuh telah melemah, Sein menghentikan kubah energi yang merupakan segel ruang lenyap seketika,..


Sein menghampiri ke empatnya dan menunjuk masing masing dahi mereka bergantian..


Masing masing dahi mereka berlubang,..


Ke empat leluhur klan itu pun tewas tanpa perlawanan lagi..


Hmh...sudah di beri kesempatan bertaubat malah minta cepat cepat di kirim pulang..., gumam karaeng Gantarang.


Prabakara segera menghampiri Sein,


pangeran, bagaimana selanjutnya..? tanya Prabakara.


Kita Kirim mayat mereka ke Klan Wong..hadiah ini sepertinya cukup menarik buat klan Wong..


+


Di hutan bambu,..


Wong Liem, duduk termenung..sudah beberapa hari ini ia tiba di pondok bbu kuning, dan bertemu dengan beberapa tetua sepuh namun tidak begitu banyak pbicaraan yang merela lakukan..,


Wong Liem, mengetahui bahwa para tetua sepuh ini secara bersama sama melatih beberapa murid..


Wing Liem cukup bingung, ada tujuan apa para tetua sepuh ini melatih bersama..


Karena menurutnya yang paling sakti di antara para sepuh adalah sepasang nenek serba tahu dan Dewa Sedih, dan yang paling cerdas di antara mereka adalah Nenek Serba Tahu maka ia berpikir mencoba memahami maksud nenek serba tahu melakukan semua ini..


para sepuh memang tidak begitu membicarakan mengenai pelatihan ini pada siapapun bahkan pada hitam putih kematian hal ini tidak di bicarakan..


Pelatihan ini sebenarnya sifatnya rahasia, tapi karena Sein sendiri yang mengundang Wong Liem datang maka mereka tidak bisa berkata apa apa lagi..


Wong Liem masih tenggelam dalam perenungan, ketika sebuah kesimpulan muncul dalam pikirannya..,


Tuan Putih dan Hitam kematian, aku baru teringat ada sebuah urusan yang harus segera aku selesaikan, jadi aku mohon pamit dulu.., tolong sampaikan pada pangeran Sein, nantinya akan datang lagi.., ucap Wong Liem pada Hitam Putih Kematian..


Oh , tuan Liem..mengapa tidak menunggu pangeran saja, seperinya sebentar lagi pangeran akan kembali ke sini.., timpal Putih Kematian..


Ah, tidak masalah tuan, nanti juga aku akan kembali lagi.., aku permisi dulu..


kata Wong Liem lalu tidak.menunggu jawaban lagi langsung bergegsa pergi berkelebat dengan cepat..


Dalam perjalanan,


Wong Liem berpikir.., apakah pangeran benar benar sudah terpilih oleh sang utusan? batin Wong Liem..


Ahh. .lihat nanti saja..., tambahnya membatin.


Wing Liem terus berkelebat, suatu tempat yang akan dia tuju merupakan tempat yang sangat rahasia..


Wong Liem berhenti sejenak untuk mengirimkan pesan rahasia melalui tikus tanah..


Sepucuk surat terkirim melalui bantuan seekor tikus tanah..,


kemampuanemgirim pesan seperti ini memang adalah kemampuan tersendiri dari para leluhur dan tetua Klan Wong..


Wong Liem melanjutkan perjalanannya menuju tempat rahasia yang hanya di ketahui olehnya dan beberapa orang saja..


Hampir dua hari ia berlarian ke arah selatan benua barat,..memasuki wilayah kerajaan Singgalang..


Di dalam hutan beringin sati, wilayah tanah datar, ada sebuah sumur tua berukuran besar,..sumur tua ini adalah sumber air utama desa desa sekitar hutan..banyak penduduk di waktu waktu tertentu apalagi jika terjadi musim kemarau panjang mereka akan mengandalkan air dari sumur besar ini untuk keperluan mereka...


Wong Liem menghentikan larinya tepat di dekat sumur tua itu..ia kemudian beristirahat sejenak sambil memandang berkeliling,..


Setelah melihat keadaan di sekitarnya, Wong Liem pun melompat dan terjun ke dalam sumur tua itu..


Sumur ini sangatlah dalam, dinding dinding sumur merupakan bongkah bongkah batu yang sangat keras, sepertinya ini adalah sebuah gua batu,..


permukaan airnya memang sangat dekat dengan bibir sumur, namun kedalamannya hingga ke dasar sumur belum ada orang sekitar yang pernah tahu..


Saat ini Wong Liem terus meluncur kebawah, sekitar dua ratus tombak ke bawah Wong Liem mulai merasakan tekanan, manun tekanan yang sangat besar itu tidak berarti bagi Wong Liem..


Saat kedalam mencapai tiga ratus tombak, Wong mlem menuju ke sisi sumur dan menyibak lumut lumut tebal yang ada di dinding sumur..


Wong Lim melihat celah celah batu di dinding sumur, saat melihatbada celah batu seukuran satu setengah tubuh orang dewasa, ia pun segera masuk kedalam..


Cukup jauh ia benang sampai air dalam celah panjang itu tidak ada lagi.., ia pun merangkak dengan cukup sabar..


Setelah merangkak sejauh enam ratus tombak maka celah batu itu semakin lebar dan tak lama kemudian ia sudah bisa berdiri di dalam celah batu itu..


Wong Lim masih terus berjalan,..sampai di hadapannya terdapat lagi sebuah lubang hitam menganga, tanpa ragu ia memasuki lubang hitam itu..


+

__ADS_1


Di waktu yang hampir bersamaan, Sein yang hampir sampai kembali ke hutan bambu, di cegat oleh seorang anak usia dua belas tahun..


Kakak..tunggu...!! seru anak muda itu..


Sein sedikit terkejut,


Mengapa ada anak kecil di sini.., ?gumam Karaeng Gantarang..


Dia bukan anak kecil, ia sedang berusaha mengelabui kita..usianya jauh lebih tua melebihi tampak tubuhnya..jelas Sein berbisik.


Kakak..tolong aku kakak..,!


Hmm..apa sebenarnya mau orang tua ini..?batin Sein.


Karaeng Gantarang Bingung, tampak di depannya seorang anak, tapi kata Sein orang ini lebih tua dari penampilannya..


Ada apa ? tanya Sein.


Kakak,..ibuku baru saja mati di bunuh penjahat, sudah dua hari aku menunggu orang lewat di sini, aku sudah tidak punya siapa siapa lagi, bolehkah aku ikut dengan kakak..?tanya anak kecil itu mengiba.


Mm...baiklah, tapi kau jangan cengeng.., perjalanan denganku sangatlah berat.., jawab Sein menyetujui..


Aku akan menyelidiki siapa sebenarnya anak ini dan apa tujuannya.., batin Sein.


Karaeng Gantarang merasa aneh, mengapa bisa ada anak kecil menunggu dua hari tanpa terlihat beban kesedihan dan ketakutan dalam dirinya..? batin karaemg Gantarang.


Namun ia tidak berkata apa apa karena Sein juga tidak menanyakan hal itu..


Baik kak.., jawab anak itu gembira..


Kalau begitu ayo jalan,..! kata Sein.


Beberapa saat setelah berjalan,


heheh,..Kakak..biar aku membantu membawakan barang bawaanmu.., kata anak kecil itu pada Sein.


Apa kau tidak lihat aku tidak membawa apapun? sudah jalan saja jangan cerewet.., timpal Sein.


Baik Kak..., ucap anak itu menunduk.


Eh, kakek.., apa aku boleh tahu siapa namamu..?tanya Anak kecil itu pada karaeng Gantarang..


Heh, mengapa kau malah menanyakan namaku, apa kau sudah kenal dengan Kakak itu..? mengapa tidak menanyakan nama dia dulu, kan kamu menyapa dan meminta ijinnya tadi...?tanya Karaeng Gantarang menguji..


Eh..hehehe..itu.., aku segan menanyakan namannya..hehehe, ..jawab anak kecil itu canggung..


Hmm..anak ini benar benar pandai berkelit..., batin karaeng Gantarang.


Sein terus berjalan dengan sikap tidak perduli,..


Ia sangat yakin orang tua yang menyamar ini pasti punya tujuan besar untuk mendekatinya..,


Mm..jangan jangan ia tidak percaya berita tentang Cakram Sudarsana di rebut orang.., jika seperti itu, kemungkinan ia akan memastikannya dengan memeriksa langsung pada Mentari..dan jalannya yang paling mudah adalah melalui aku.., batin Sein.


Setelah memutuskan itu


Sein berputar menuju ke arah lain..


Karaeng Gantarang mengernyitkan kening..,


eh..mengapa pangeran berputar arah..? namun dengan cepat ia menyadari kalau hal ini disengaja oleh Sein..


Sein berjalan dengan santai..


Menjauh dari arah hutan bambu..


Sein berniat menggiring orang ini ke tempat yang agak jauh dari hutan bambu..


Sein tidak berkelebat seperti biasanya melainkan berjalan normal seperti kebanyakan orang..


Saat perjalanan mereka telah melalui beberapa punggungan bukit,


Kakak,..lihat,..! di depan ada perkampungan.., kata anak itu.


Perkampungan..? Mengapa ada perkampungan terpencil di sini..? batin Sein.


Melihat susunan rumah yang di jadikan tempat tinggal, Sein dapat segera mengetahui bahwa perkampungan ini baru saja di buat..


Saat semakin dekat, Sein merasakan aura yang kuat menandakan bahwa semua penghuni di dalam perkampungan ini adalah petarung tingkat tinggi..


Karaeng Gantarang Pun sama sama menyadari hal ini..


Pangeran, orang orang di sini adalah petarung tingkat tinggi..jumlah mereka cukup banyak sangat sulit untuk selamat jika mereka berniat jahat.., bisik Karaeng Gantarang..


Tuan Gantarang, kita salah ambil jalan, sepertinya mereka adalah para petarung yang sudah lama melacak keberadaan kita.., timpal Sein juga berbisik.


Tenang saja pangeran,..mereka juga tidak tahu kita ini siapa.., ucap Karaeng Gantarang..


Sein menggeleng, mereka pasti sudah di bekali sebelum melacak kita..mereka pasti mengenaliku.., timpal Sein.


Saat mereka berbisik salah seorang yang sedang berkeliling di area pemukiman itu menyadari kehadiran ketiganya..


Siapa Kalian...!!? bentak orang pemukiman itu..


Oh, kami numpang lewat, kami tidak tahu di sini ada pemukiman.., jawab Karaeng Gantarang..


Karena teriakan orang pemukiman itu cukup kencang, maka menarik perhatian beberapa orang pemukiman lainnya yang mendengar teriakannya,


dengan cepat mereka mengepung Sein dan Karaeng Gantarang..

__ADS_1


Tuan Gantarang, rupanya pertarungan tidak dapat di hindari lagi.., bisik Sein.


Apa yang kalian cari..? tanya salah seorang dari pengepung..


Belum sempat Sein menjawab, seorang pria berumur sekitar tiga puluhan berjalan mendekat..


Apa yang terjadi...!!? tanya lelaki itu..


Tuan Sura, Orang orang ini melintas di daerah kita..kami baru saja akan menangkap mereka.., jelas salah seorang pengepung..


Oh..Sebaiknya bawa dulu mereka lalu di selidiki.., kata lelaki bernama tuan Sura itu.


Sein tak mau berlama lama segera mengerahkan kekuatannya untuk menekan pengepungnya.., Sein berniat melumpuhkan dulu orang yang di panggil tuan Sura itu agar dapat segera meloloskan diri..,


Tapi terlambat..,


orang orang perkampungan sudah berdatangan.. memisahkan Sein dengan Karaeng Gantarang sejauh dua tombak.., sebuah teknik memisahkan target kepungan..


Walaupun tadi, beberapa pengepung sudah tertekan, tapi yang barusan datang langsung menyerang Sein..


Anak kecil yang bersama Sein pun ikut terkepung dan di serang,..


Pangeran bodoh itu tak kusangka begitu ceroboh, bahkan kekuatannya juga biasa saja.., batin anak kecil.


Saat ini sebuah serangan ganas mengarah padanya.., penyerangnya menganggap bahwa dengan menangkap anak kecil ini maka akan mudah meminta Sein untuk menyerah..


Namun dugaannya salah,..saat berjarak satu depa dari anak kecil itu barulah ia menyadari bahwa anak kecil itu bukan anak kecil biasa...


Wuttt..., kibasan lengan baju hampir saja mengenai kepala anak kecil itu..


' Kau benar benar membuatku marah...' kata anak kecil itu dengan suara seorang kakek sepuh yang terdengar lirih dan dingin..


kini suara aslinya keluar..


Kau..siapa kau sebenarnya..,.?tanya orang yang menyerangnya.


belum sempat anak kecil itu menjawab, seorang tua yang berkelebat dari pemukiman sudah berdiri di sampingnya..


Dia adalah Ketua Nomor satu Kelompok Hantu Bayangan.., Ki Bolontio.., jelas orang yang tua yang baru datang..


Eyang Wasis, anda mengenalnya..? tanya orang di sampingnya berbisik.


Tentu saja,..! jawab orang tua yang ternyata bernama Eyang Wasis singkat.


Wasis, apa kau yang memimpin mereka..? tanya Ki Bolontio masih dalam wujud anak kecil namun ekspresi wajah dan suaranya layaknya seorang yang sangat sepuh..


Betul Bolontio, mengapa kau bisa bersama pangeran dungu itu..?tanya Eyang Wasis.


Aku di perintah oleh Tetua Iblis Biru untuk melacak kitab ganjar dewa.., jawab Ki Bolontio..


Hah..? kami juga di perintah oleh Tetua Iblis Biru, untuk tinggal sementara di sini, menunggu perintah selanjutnya.., timpal Eyang Wasis menjelaskan..


Kalau begitu mari kita ringkus pangeran ini dan pengikut tak bergunanya itu bersama sama.. ajak Ki Bolontio.


Baik..ayo...!! sambut Eyang Wasis.


Segera keduanya ikut menyerang Sein..


Karaeng Gantarang semakin kelabakan menghadapi para petarung tingkat tinggi yang jumlahnya banyak ini..


Sein pun tak dapat membantu karena ia pun dalam kepungan dan sulit meloloskan diri.. saat seperti ini Sein hanya berharap ia dapat terpental jauh sehingga bisa mengerahkan ilmu menembus ruang untuk menyelamatkan diri..


Namun lawan kali ini terus menjepit tanpa memberikan ruang yang leluasa..


Tiga tombak dari Sein,


Karaeng Gantarang semakin kepayahan..


Beberapa serangan bersarang telak di tubuhnya..


pangeran cepatlah pergi...jangan hiraukan aku..., seru Karaeng Gantarang.


Sein tidak menjawab apa apa,


Dasar orang tua, pergi apanya, aku juga bahkan sangat sulit untuk bergerak saat ini.., batin Sein.


Akar Roh pelahap energi Sein tidak banyak membantu, beberapa petarung bahkan bisa melawan tarikan roh pelahap energi..


Celaka, ..!


aku tidak akan dapat bertahan lama..., batin Sein.


Sebuah Pukulan bertenaga Api yang sangat panas menghantam tubuh Sein..


Seketika Tubuh Sein bereaksi menahan serangan api dahsyat itu..tubuh Sein yang biru keemasan memberi perlindungan yang cukup kuat...


akan tetapi tetap saja Sein sulit untuk keluar dari kepungan...


Saat ini adalah saat kritis karaeng Gantarang,..


Ia tak lagi mampu memberikan perlawanan..,


Dalam hati, Sein pun sangat gusar, ia membatin sangat meyesal mengajak Karaeng Gantarang, seharusnya orang tua ini cukup bersantai saja di rumah membantu menjaga keluarganya..namun karena sangat ingin mendampingi Sein akhirnya ia mengijinkan tetua ini mengikutinya..


Karaeng Gantarang sudah terkulai lemas, orang orang yang mengepungnya serta merta dengan bebas memberikan pukulan, tendangan pada tubuhnya tanpa ada perlawanan darinya..


Demikian pula dengan Sein, sudah Bekali kali perlindungan tubuhnya menyelamatkannya dari serangan ganas yang dapat membuatnya cidera berat...,walau masih bisa diredam, namun sampai kapan ini kan terus berlangsung..


Swosshhhh...!!!

__ADS_1


Tiba tiba, Udara dingin menggidigkan menerpa daerah itu, tak satupun dari orang orang itu baik Sein dan para pengepungnya dapat bergerak..


+++


__ADS_2