
Lapoooor..!!
Tuan, Nyonya..tetua Hung dan rombongan sudah tiba, teriak seorang penjaga..
Oh, paman Hung sudah tiba, ayo kita temui..ajak atikah
Ah iya..aku juga sudah lama tidak berjumpa dengan paman Hung..jawab Makil
Kaduanya bergegas kembali kekediaman,
Saat memasuki ruang depan kediaman, keduanya menyapa Hung Min dengan hangat.
Salam paman, sapa Atikah dengan hormat..
Salam paman.. sapa Maki mengikuti
Oh...Nyonya, Tuan....! timpal Hung Min menjura.
Paman Hung, Lama tak bertemu anda tidak berubah, mash sama seperti puluhan tahun silam..saya harus meminta petunjuk awet muda dari anda..hehehe...ucap Makil membuka pembicaraan.
Ahaha..pangeran, anda terlalu memuji..hamba sudah tua...jawab Hung Min balas bercanda.
Paman, jangan dengarkan dia..dia selalu saja pandai berkata manis..! ketus Atikah memotong
Ohoho...baiklah nyonya, hehe...timpal Hung min.
Eh, paman mana Utari dan Kenanga?tanya Atikah
Mereka di kamar belakang, merawat cucu muridku, jawab Hung Min..
Cucu Murid??
Tanya Atikah penasaran.
Ya di tubuhnya ada energi petir merah, entah ia murid Tan Atai atau Tan Asan, tunggu ia siuman baru kita tanyakan..jelas Hung Min.
Apakah cucu murid paman terluka ?tanya Makil
Ya, lukanya cukup parah, kelihatannya ia habis bertarung dengan seseorang, aku menduga sepertinya ia terkena ilmu dari Sutan Rajo Bintang., Jelas Hung Min.
Ilmu dari sutan rajo Bintang..???apakah Sutan Rajo Bintang Sendir atau salah satu Muridnya..? gumam Atikah, lirih.
Hm.. ayo kita lihat kebelakang, ajak Makil.
Baik pangeran,..timpal Hung Min
Ketiganya pun berjalan ke belakang kediaman menuju kamar yang telah disediakan untuk para tamu..
Nyonya..!! seru Kenanga bergegas menyambut Atikah dengan berlutut..
Kenaga, kesaktianmu sudah semakin meningkat..! seru Atikah.
Semua berkat kemurahan hati Nyonya Tetua Li, dan juga bimbingan dari tetua Hung, timpal Kenanga dengan perasaan haru.
Bangunlah,..kata Atikah sambil memegang tangan kenanga..
Terimkasih nyonya..eh, salam pangeran..! ucap Keangan lalu menyapa Makil dengan hormat.
Eh, bagaimana keadaan orang itu..? tanya Hung Min.
Guru, pendekar ini sepertinya sudah sadar, hanya masih sangat lemah.., jawab Utari yang berada di dekat Yang Siao.
Yang Siao terlihat terbaring dengan wajah pucat,
Hung Min mendekat lalu memeriksa nadi Yang Siao,
Mm kau betul Utari,...ia sudah sadar !!kata Hung Min lalu mengeluarkan sebuah botol berwarna merah cerah, membuka tutupnya lalu meminumkan isinya pada Yang Siao..
Tampak satu tetes cairan bening dari botol itu masuk kedalam mulut Yang Siao.
Setelah beberapa saat, terlihat tubuh Yang Siao mulai berkeringat dan wajahnya yang tadi pucat kini sudah terlihat mebaik..
Hanya perlu satu tetes???
Paman, obat yang kau berikan benar benar luar biasa, apa namanya? puji Makil lalu bertanya.
Oh, botol ini berisi cairan yang sangat mujarab menyembuhkan luka dalam dan memulihkan kekuatan, di Lima Benua ini, cairan ini dikenal dengan nama ‘Air Kehidupan’.
Air Kehidupan?? i..ini benar benar Air kehidupan yang terkenal itu..? tanya makil penasaran.
Ya..ini adalah ‘air kehidupan’, dan jumlahnya tidaklah banyak..di dunia ini hanya beberapa pendekar sepuh saja yang memilikinya.., Jelas Hung Min.
Mendengar itu, Makil langsung bersemangat,
Jika aku memiliki cairan ‘air kehidupan’ yang cukup banyak maka akan mampu membuat aku dan pengikutku tak terkalahkan.., batin Makil.
Setelah perbincangan beberapa saat, akhirnya Yang Siao sudah dapat bangkit duduk...
D..di mana ini..?? tanyanya sambil memandang berkeliling.
Tenang tuan, anda berada di Jurang gunung Tujuh.., jawab makil dengan cepat.
Jurang Gunung tujuh..?? ah..
Yang Siao segera berdiri, walau masih sedikit gontai ia berusaha menjura hormat..
Salam tuan, Nyonya, Tetua... saya Yang Siao murid Biksu Tan Atai dari benua Congko.., Jelas Yang Siao.
Oh, jadi benar kau adalah murid Tan Atai, pantas dalam tubuhmu ada energi petir merah..! seru Hung Min.
Benar tetua,..mm.. belum sempat Yang Siao berbicara lagi sudah dipotong oleh Makil..
Tunggu ..!! kau memang mirip Yang Siao yang sudah beberapa hari ini berada disini bersama saudara saudara seperguruannya..., potong Makil.
__ADS_1
Atikah juga menyadari, mengapa ada seorang Yang Siao lagi
Hah..? syukurlah mereka sudah ada disini..kata Yang Siao.
Tapi mengapa kalian ada dua..?tanya Makil
Ada dua..?timpal Yang Siao heran.
Berarti salah satu dari kalian Yang Siao palsu,..!!
Penjaga, cepat panggil tamu di kamar delapan.!!teriak Makil.
Rombongan Yang Leiting sebelumnya memang sudah berada di jurang gunung tujuh, karena bertemu dengan makil dan Kisra waktu itu. (baca ep.128)
Segera beberapa penjaga memanggil ke kamar delapan,
Brakk...!! pintu kamar di dobrak oleh penjaga.
Kurang ajar,..!! lancang Kalian..!! bentak Yang Leiting.
Diam..!!
Kalian di minta menemui penguasa Jurang Gunung tujuh, mana seorang lagi dari kalian..?? tanya penjaga menghardik.
Dia sedang keluar, memangnya ada perlu apa..?ucap Yang Leiting balas membentak.
Penguasa Jurang Gunung Tujuh yang akan memberitahu langsung, ayo cepat...!! perintah panjaga.
Dengan kesal Yang Leiting melangkah diikuti Yang Fan Jian, diriingi para penjaga mereka menemui Atikah dan Makil di kamar Yang Siao.
Sebaiknya ini hal yang benar benar penting, jika tidak bahkan penguasa jurang gunung tujuh ini pun tidak akan sanggup menyelamatkan nyawa kalian..!! ucap yang Leiting dengan geram sambil terus berjalan diiringi para penjaga.
Sesampainya di ruangan tempat Yang Siao dirawat,
Maaf, Nyonya..tuan..., ada apa membawa kami kemari dangan kasar..!! ucap Yang Leiting kesal.
Oh..maaf..telah terjadi sesuatu.., apa tuan mengenali orang ini..?tanya Makil.
Oh, adik...Siao!!? ada apa dengamu..tanya Yang Leiting dengan heran melihat Yang Siao dengan kondisi masih lemah.
Kakak.., aku minta maaf.., malam itu aku tidak memberitahumu, aku melihat orang mencurigakan, jadi aku membuntutinya keluar dari jurang gunung tujuh ini, tapi saat berikutnya di hutan luar sana aku kehilangan jejaknya, aku hendak kembali tapi aku melihat sosok yang lain mengenakan topeng merah berkelebat meninggalkan Jurang gunung tujuh ini, akhirnya aku memutuskan untuk membuntuti sosok bertopeng itu.., jelas Yang Siao.
Itu Kisra..!! seru Makil.
Ya, akhirnya aku tahu bahwa sosok itu adalah pangeran muda, saat itu aku terus membuntuti pangeran muda, yang pada suatu malam menyerang ke kediaman salah seorang keluarga bangsawan di ibukota..kalau tidak salah dengar namanya Sutan Nan Panjang..., beber yang Siao.
Sutan Nan Panjang..! ia sangat sakti..ucap atikah.
Terus bagaimana keadaan kisra..? tanya Makil
Pangeran muda terluka saat bertarung dengan pangawal Sutan Nan Panjang, aku berhasil menyambar tubuhnya dan membawanya pergi, aku sudah dalam perjalanan kembali ke sini, tapi aku di cegat oleh jendral Kesultanan bersama salah seorang berilmu tinggi , orang itu dipanggil dengan sebutan Tuan Sekertaris oleh Jendral itu, aku menduga orang tua itu juga orang kesultanan..beber Yang Siao .
Apa..???!! seru Makil dan Atikah terkejut.
Berita ini adalah berita mengejutkan bagi mereka,
Ince Zulfa.?? Pantas kau dikalahkannya..orang tua itu di dunia persilatan berjuluk Biru Kesengsaraan., ia salah satu petarung hebat milik Kesultanan Datuk Delapan.. kata Hung Min.
Tetua, Boleh tahu anda ini siapa?? Tanya Yang Siao.
ini pamanku Hung Min..! jawab Atikah menjelaskan..
Mendengar nama Hung Min seketika Yang Siao menjatuhkan diri bersujud sambil menangis bencucuran air mata..
Salam Kakek Guru...!!! seru Yang Siao meraung.
Ah..Yang Siao bangunlah..! seru hung Min sambil membantu Yang Siao bangkit..
Kakek, selama ini kami hanya mendengar nama anda dari paman guru Tan Asan, tak disangka keberuntungan kami bisa bertemu langsung dengan kakek.., ucap Yang Siao sangat gembira..
Kedua saudaranya, Yang Leiting dan Fang Jian pun ikut berlutut..., salam kakek guru!! Seru mereka berdua..
Ahahaha...Yang Fan, kau mengapa ikut ikutan juga..seperti baru bertemu denganku saja...!! kata Hung Min membantu mereka bangkit.
Eh..ehm..heheh...Yang fan Jian tersenyum malu...
Oh..pantas saja kau cukup hebat, rupanya selama ini kakek gurulah yang mengajarimu hah??sergah Yang Leiting..
Ehehe..maaf kak, ini perintah kakek guru untuk merahasiakannya.. jawab Yang Fan Jian.
mm..sudahlah , kalian berkumpul sudah sangat baik..kita bisa melaksanakan tugas bersam sama..., kata Makil
Betul pangeran... kami akan membantu pangeran dan nyonya dengan segenap hati!! Seru yang Fan Jian bersemangat.
Tunggu, jika adik Siao pergi, jadi selama ini siapa yang bersama kita..?? ucap Yang Leiting.
Itulah yang juga harus kita selidiki., kata Selir Atikah menimpali.
Oh, jadi kisra saat ini berada di tangan mereka? Tanya Makil mengingat anaknya.
Betul pangeran, maafkan saya, saya tidak dapat melindungi pangeran muda..., kata Yang Siao menyesal.
Baiklah, nanti kita pikirkan solusi untuk Kisra, kata Makil.
Aku masih penasaran, selama Yang Siao tidak di sini, siapa yang menyamar menjadi dirinya..? dan kemana orang itu sekarang??? tanya Atikah.
Sepertinya orang itu sudah pergi, aku tidak merasakan auranya.., jelas Hung Min.
Tapi siapa dia, itu masih banyak kemungkinan, yang jelas ia adalah seorang petarung hebat.., tambah Hung Min menyimpulkan..
Segera lakukan perubahan rencana, serta formasi penjagaan, kita sudah ketahuan musuh.., kata Atikah sedikit murung.
Cari orang yang menyamar itu, aku ingin beritanya secepatnya, teriak Makil pada penjaga..
__ADS_1
Baik pangeran..! seru penjaga kemudian bergegas pergi.
Setelah penjaga pergi, Makil merencanakan untuk melanjutkan tugas Kisra, terus melakukan pembunuhan misterius di ibukota dan dunia persilatan benua barat dengan perasaan sangat geram
Hung Min dan Atikah terdiam, tenggelam dalam pikiran masing masing.
Utari yang sejak tadi memperhatikan keadaan segera bersuara,
Tetua, nyonya, .biar saya yang kembali ke ibukota menyelidiki keberadaan Pangeran Muda...
Tenang, jangan gegabah..! timpal Hung Min.
Pengeran Muda tidak akan apa apa, dari karakter Sultan Malik, ia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Pangeran Muda,
Pangeran Muda dapat dijadikan alat tawar jika suatu saat ia terdesak oleh kekuatan kita., Jelas hung Min kemudian.
Jadi, menurut paman, apa yang harus kita lakukan..?? tanya Atikah.
Kita menunggu, beberapa hari kedepan kita akan pantau pergerakan istana.., gerakan kita tergantung gerakan istana..
Pangeran, tetaplah pada rencanamu, buat kerusuhan dengan cara melakukan pembunuhan misterius di ibu kota..
Utari, kau boleh ke ibu kota menyusup ke kediaman sekertaris kesultanan itu, cari informasi sebanyak banyaknya.., apa kau sanggup? Tanya Hung Min pada Utari.
Sanggup Guru..! jawab Utari mantap.
Baiklah dua hari kedepan, kalian boleh segera berangkat ke ibukota, melaksanakan tugas kalianmasing masing..kata Hung Min.
Baik guru..!! timpal Utari.
Sedangkan Makil hanya mengagguk pelan, dalam pikirannya, jika Kisra tertangkap maka Tombak Api Ahura sudah jatuh ketangan Malik Sialan itu..!! umpatnya dengan geram.
++
Di kedalaman Hutan bambu kuning,
Di rumah pengungsian
Sein yang sedang sibuk melatih kedua istrinya di sela oleh kedatangan alap alap biru nomor tiga..
Dengan kemampuan Sein saat ini ia dapat merasakan kehadiran alap alap biru walau dari kejauhan..
Karena Sein tahu Alap alap biru tidak bisa menembus kubah energi, maka ia bergegas keluar ke pondok bambu menemui alap alap biru denga menjentikan jari menggunakan ilmu menembus ruang.
Saat ini di pondok bambu tidak ada orang, hitam – putih kematian sedang dalam tugas ke ibukota.
Ah, pangeran..! seru Alap Alap Biru nomor tiga sedikit terkejut karena Sein tiba tiba muncul di sampingnya..
Apa yang hendak kau laporkan nomor tiga? Tanya Sein ringan.
Lapor pangeran,.. ! ucap Alap alap biru nomor tiga seraya menyerahkan gulungan kain..
Sein membukanya, lalu membaca laporan itu dengan teliti...,
Apa kau yakin..? tanya Sein.
Sangat Yakin tuan,..saya menangani sendiri penyelidikan ini, sangat Yakin nona Utari bukanlah anak tuan sekertaris, bukanlah saudara nyonya Mentari.., dia anak yang ditukar oleh dukun beranak yang membantu persalinan nyonya sekertaris, dukun beranak itu bernama Suminten, dia adalah adik Jaminten Nenek Neraka Kematian beber Alap alap biru nomor tiga.
Lalu, apa kau sudah menyelidiki di mana keberadaan dukun beranak itu dan bayi yang dibawanya..?tanya Sein.
Sementara penyelidikan pangeran, sebag ai berita awal, dukun beranak itu kini berada di Kerajaan Samudera Biru, ia menjadi tabib Istana di sana. Kalau bayi perempuan yang dibawanya telah diserahkan pada seserang yang misterius.., karena masih belum sepenuhnya rampung saya tidak melaporkannya dalam gulungan tadi pangeran,..maafkan saya...! ucap Alap alap biru nomor tiga merasa bersalah.
Tidak masalah, kau sudah bekerja baik.., lanjutkan saja...! timpal Sein menyemangati.
Baik pangeran, hamba permisi dulu,,! Seru Alap alap biru nomor tiga lalu bergegas bergi.
Setelah kepergian Alap Alap Biru nomor tiga, Sein kembali ke kediaman pengungsian untuk mengawasi kedua istrinya berlatih.
Saat mendekat kebelakang rumah, Sein disambut Salwa..
Ayahhh.., gendong..! pinta Salwa
Owh..sini ayah gendong.., ucap Sein lalu menggendong Salwa.
Ayah, kapan Salwa boleh berlatih seperti ibu?tanya Salwa
Mau berlatih seperti ibu,? kan selama ini sudah berlatih sama ibu.., jawab Sein.
Bukan berlatih seperti biasa ayaaah, tetapi berlatih sambil duduk seperti ibu.., jelas Salwa.
Ooowh.. itu latihan tingkat tinggi, untuk sekarang Salwa latihan dulu yang untuk pemula ya ..., jelas Sein.
mm..baiklah..! timpal Salwa menurut.
Ayo tunjukkan pada ayah apa saja yang selama ini Salwa pelajari..., kata Sein sambil menurunkan Salwa di halaman belakang..
Salwa pun mengangguk senang dan dengan semangat menunjukkan gerakan gerakan latihan fisik yang telah di ajarkan oleh kedua ibunya..
Sein memperhatikan gerakan Salwa dengan seksama,
Anak ini sangat berbakat..!! batin Sein.
Setelah beberapa saat, Salwa mengakhiri gerakannya dengan peluh memenuhi tubuh mungilnya.
Ckckck..anak ayah memang hebat..,
Ayo sini..! ajak Sein merentangkan tangannya,
Salwa pun berlari masuk kepelukan ayahnya..
Ayah, apa benar salwa hebat,..? tanya Salwa polos.
Ya, nanti aku beritahu ibu Yasmin dan Mentari supaya latihan Salwa di tingkatkan lagi.., Janji Sein..
__ADS_1
Yeayyy...aku bisa latihan yang lebih sulit lagi..., seru Salwa gembira.
+++