
Sein dengan cepat mengerahkan kekuatan tertinggi miliknya, kini terasa lautan jiwanya begitu bergejolak...
Suara gemuruh melanda tempat itu, saat Sein terus memompa kekuatannya,...sembilan puluh enam titik dalam tubuh Sein menacarkan energi tanpa batas....
Bhussss....!!!
Tharrrr....!!!
Trharrrr......!!!
Gemuruh dan ledakan terus bergema silih berganti..
Seperti akan terjadi bencana alam dahsyat..
Petarung Gila yang hendak bersiap mengerahkan kekuatannya serta merta tertekan oleh kekuatan yang Sein kerahkan...tubuhnya keringat dingin...bergetar, seluruh tulang tulangnya laksana di peras....
Hanya dalam beberapa tarikan nafas saja, tubuhnya lunglai ke tanah dengan darah merembes di sela bibirnya...
ia terluka dalam cukup parah...
Melihat lawan sudah tidak berdaya, Sein menghentikan pengerahan kekuatannya walau pun belum maksimal ia kerahkan..
Uhkk...! petarung Gila terbatuk mengeluarkan darah kental..
Sein segera menghampiri Petarung Gila, lalu memberinya pil penyembuhan..
Telanlah pil ini, tetua akan merasa lebih baik...kata Sein menyodorkan pil di tangannya..
Petarung gila hanya memandang dengan tatapan kosong...
Belum pernah ia kalah sebelumnya..
Kali ini ia dikalahkan oleh seorang anak muda.., sungguh membuat jiwanya terpukul..
Belum sempat sein memasukkan pil penyembuh ke mulut Petarung Gila,
seketika Sein memperhatikan lebih teliti tatapan mata Petarung Gila, Sein menyadari sesuatu...
Ia terkena 'Mantra Pengendali Hati..!!'batin Sein.
Sein mengingat yang telah di bacanya pada gulungan yang telah di berikan Salman padanya,..
Maaf tetua, Sein segera menempelkan telapak tangannya di dada petarung gila,
Petarung Gila hendak menampik, namun karena tubuhnya sudah sangat lemah maka ia tidak bisa berbuat apa apa ketika telapak tangan Sein menempel di dadanya..
Hugghhh...!! Petarung Gila melenguh, awalnya ia merasakan sakit, namun beberapa saat kemudian ia mulai merasakan hawa sejuk yang menjalar di dadanya..
Sein terus mencari letak Mantra Pengendali Hati dalam dada Petarung Gila,..
Cukup lama Sein mencari..., karena tidak kunjung menemukannya dengan cara biasa, maka Sein mencoba mengerahkan kekuatan jiwanya untuk menjelajahi hati Petarung Gila..,
Dengan cara ini pun butuh waktu yang cukup lama barulah Sein berhasil menemukan dan segera menghapus Mantra itu dengan kekuatan lautan jiwanya..., hal ini menyebabkan kekuatan lautan jiwa Sein agak terkuras...
Hufffft....! Sein menghembuskan nafas berat saat selesai menghapus Mantra Pengendali Hati dalam diri Petarung Gila..
Petarung Gila saat ini merasakan seolah olah terbebas sari belenggu yang selama ini mengekangnya...kesadarannya sepenuhnya kembali dengan seketika..
Selama ini ia harus menurut saja apa yang di perintahkan oleh orang yang menandai jiwanya..
Tapi kini, ia telah terbebas...ia sangat bersuka cita..
Terimakasih tuan pangeran..., kata petarung Gila.
Hah..? apakah tetua mengenalku..? tanya Sein penasaran.
Ya...orang yang menyuruh menghadang kalian, sudah memberikan informasi mengenai kalian...! jawab Petarung Gila.
Ow,...luar biasa,...! kata kakek Dai..
Oh, hampir lupa..., ini telanlah pil.ini tetua,...kata Sein sembari memasukkan pil penyembuh ke dalam mulut Petarung Gila..
Setelah menelan pil penyembuh, Sein langsung mendudukkan Petarung Gila dan menyalurkan tenaga Qi nya...
Setelah selesai di salurkan tenaga oleh Sein,
Humhhh....!! rasanya sangat nyaman pangeran..Terimakasih..! kata Petarung Gila menjura..
Ah, bukan apa apa tetua,...
Oh iya, apa rencana tetua selanjutnya...?? tanya Sein.
Belum sempat Petarung Gila menjawab, Kakek Dai Sudah memotong...
Jangan katakan kau masih ingin membunuh kami...! ucap kakek Dai..
Hehe...tentu saja, aku masih ingin membunuh...! jawab Petarung Gila...
Kurang Ajar, tak tahu diri...!! sergah kakek Dai...
Kek.., tenanglah..! potong Sein mengingatkan..
Aku memang masih ingin membunuh,...tapi bukan kalian...,
aku ingin membunuh orang yang selama ratusan tahun mengikatku dengan mantra celaka itu..! jelas Petarung Gila..
__ADS_1
Tetua, sebaiknya kita bicarakan di tempat yang lebih enak, apakah tetua tidak keberatan ikut bersama kami..?
Ow..tentu saja, pangeran...,mulai saat ini aku akan menjadi pengikutmu pangeran...! jawab Petarung Gila dengan penuh tekad..
Owh..benarkah tetua..?tanya Sein tak percaya..
Benar, pangeran.., jika pangeran meragukanku, pangeran bisa mengikatku kembali dengan matra pengendali hati agar aku tidak berhianat pada pangeran..
Ahha...tentu aku tidak akan melakukan itu tetua..., timpal Sein.
Mohon ijinkan aku mengabdi pada anda pangeran..! pinta Petarung Gila..
Baiklah tetua, tapi aku saat ini menghadapi situasi yang berbahaya..., aku tidak enak jika harus melibatkan tetua,..! jawab Sein.
Terimakasih pangeran, aku akan berdiri di depan pangeran menghalangi semua bahaya,..aku akan melindungi nyawa pangeran dengan nyawa tak berharga milikku ini pangeran...
Mm...Terimakasih tetua,...! Terimakasih...! timpal Sein menghormat...
Baiklah, ayo kita jalan...,! ajak Karaeng Gantarang..
Petarung Gila yang baru saja sembuh berkelebat mengikuti ke Sein dan ke empat tetua..
Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di pondok bambu kuning milik Sutan Rajo Bintang..
Keenamnya di sambut oleh Alap Alap Biru nomor lima dan nomor sembilan, keduanya sedang menyiapkan makan siang untuk ke empat puluh pasukan biru yang saat ini sedang berlatih..
Karena pondok ini kecil, tidak muat untuk empat puluh orang, maka setiap makan siang, di lakukan di pinggir danau yang ada di samping pondok menggunakan alas daun pisang untuk menyajikan makanan..
Tetua, silahkan beristirahat sejenak di sini.., ajak Sein mempersilahkan kelimanya duduk di panggung depan pondok..
Ah...sejuk sekali di sini..., tempat siapa ini pangeran..? tanya Karaeng Gantarang..
Ini kediaman milik Sutan Rajo Bintang , jawab Sein.
Owh,...luar biasa, di mana tuan Sutan Rajo Bintang ? tanya Karaeng Gantarang lagi..
Beliau sedang ada urusan penting di suatu tempat tak jauh dari sini, setelah dari sini kita akan ke sana menemui beliau.., jelas Sein.
Mm...eh..kenapa ada banyak makanan di sajikan di atas daun pisang? untuk Siapa..?tanya Kakek Dai.
Itu untuk murid murid Sutan Rajo Bintang yang saat ini sedang belatih..,sebentar lagi sepertinya mereka akan istirahat.., jawab Sein.
Alap Alap nomor sembilan keluar membawa baki berisi hidangan..
Silahkan tetua, dinikmati hidangannya.., kata Alap Alap Biru nomor Sembilan..sambil menyuguhkan dua teko minuman sari tebu, satu teko air putih dan beberapa bakul nasi beserta lauk dan sayurnya..
A ya Terimakasih,.timpal para tetua..
Mereka pun segera bersantap siang...
Di tepi danau pondok bambu kuning,
Enam orang bercakap cakap sambil menikmati hidangan dengan perasan gembira..
Maaf tetua, aku masih penasaran siapa sebenarnya orang yang telah memasang Mantra Pengendali Hati pada tetua,..tanya Sein pada Petarung Gila..
Ya..sambil menikmati makanan ini akan kuceritakan dari awal kisah hidupku pada tuan tuan semua,...
Awalnya aku adalah seorang anak yatim piatu, ibu bapakku di bunuh saat usiaku tujuh tahun oleh seorang pendekar wanita yang kejam saat itu..
Saat itu aku hanya bisa menangis melihat jasad orang tuaku, tidak ada seorang pun yang membantuku untuk menguburkan mereka, karena penduduk desa semuanya telah terbunuh oleh wanita iblis itu..
Saat aku berusaha menggali kuburan untuk kedua orang tuaku, ada seorang tua yang kebetulan melintas di desa kami, melihat keadaan desa yang sangat mengenaskan..ia berjalan menyusuri desa dan akhirnya melihatku sedang menggali lubang untuk kuburan orang tuaku..
Anak kecil, apa yang kau lakukan..?tanyanya padaku..
Aku sedang menggali kuburan untuk orang tuaku...! jawabku sambil berurai air mata...
Tsk..! tsk...! apakah ini cukup..?
Orang tua itu langsung membantuku membuat lubang dengan menjentikkan jarinya dua kali...
Di hadapan ku serta merta dua buah lubang menganga...,
Sudah jangan menangis, ..anak lelaki tidak boleh cengeng...! kata orang tua itu...
Ayo aku bantu menguburkan mereka...,mereka pastinya ayah dan ibumu kan..?
Aku hanya bisa mengangguk,..walau tangisanku sudah berhenti namun rasanya suaraku masih tercekat...
Setelah selesai menguburkan orang tuaku, orang tua itu bertanya apakah masih ada keluargaku yang masih hidup, ia akan mengantarkan aku kesana..
Tidak ada lagi keluargaku yang hidup kek...! semua orang desa ini masih keluarga denganku, tapi semua sudah mati, aku tidak punya keluarga lagi...jawabku..
Mm..kalau begitu apa kau mau ikut dengan ku..?
Aku akan mengajarimu sesuatu yang bisa menjadi bekal hidupmu kelak..., kata kakek tua itu..
Walaupun aku tidak tahu apa maksud perkataannya aku mengiyakan...dan orang tua itu pun membawaku ke tempat tinggalnya yang aku rasa sangat jauh.., kami melalui hutan belantara dan lautan yang cukup luas...
Setelah tiba di tempat tinggalnya, akupun di jadikan murid oleh orang tua itu..
kemudian tanpa terasa waktu berlalu, barulah saat aku dewasa aku tahu kalau tempat tinggalku bersama guru itu adalah benua congko..! beber Petarung Gila.
Ha..?? benua Congko...?itu sangat jauh... seru Sein dan tetua lainnya hampir bersamaan..
__ADS_1
Ya..., benua congko.., tepatnya di pegunungan pelangi...
Guruku tinggal di sana dengan istrinya,..keduanya sangat menyayangiku..mereka mengajarkan semua kesaktiannya padaku...! beber Petarung Gila melanjutkan ceritanya..
Owh, apakah guru tetua memiliki nama di dunia persilatan Benua Congko..? tanya Sein.
Ya...guruku di kenal dengan Dewa Pedang Li..
Jurus tertingginya yaitu Dua Lengan Ular Hijau,
Sedangkan Istri guruku dikenal dengan julukan Dewi tapak Meng,
Dengan Ilmu tertinggi miliknya Tapak Naga Merah Peremuk Langit..
Mereka berdua dikenal dengan julukan Sepasang Dewa Dewi Pelangi..,karena Asal mereka dari Gunung Pelangi..,
Di usia delapan belas tahun, Aku pun di perintahkan oleh kedua guruku untuk mulai memasuki dunia persilatan, dengan tujuan mencari pengalaman..
Aku pun mulai terlibat dalam beberapa konflik di dunia persilatan, aku memburu para penjahat dengan tanpa belas kasihan, jika mengalahkannya tanpa ragu aku langsung memusnahkannya..
Setiap penjahat yang ku temui langsung aku bantai, tanpa memberi mereka kesempatan untuk bertaubat...
Lama kelamaan aku makin terkenal dengan julukan Iblis Pedang Gu karena sifatku yang sangat kejam pada musuh, ilmu andalanku saat itu sepasang Lengan Naga Merah..
Semua golongan hitam dan putih, segan padaku..., beberapa golongan hitam akan lari terbirit birit saat mendengar namaku..
Sampai suatu ketika aku kembali ke perguruan di pegunungan pelangi.., aku memohon ijin pada kedua guruku untuk kembali ke Lima Benua ini..aku berencana membalaskan dendam kedua orang tuaku..
Dengan berat hati akhirnya mereka mengijinkanku, sebelum berangkat mereka berpesan agar berhati hati di Lima Benua karena saat itu Lima Benua sedang dalam masa puncak kekuatan...kualitas petarung petarung di Lima Benua ini saat itu begitu kuat, di banding petarung Benua Congko yang memang pada masa itu kualitasnya sedang menurun...
Bakat bakat petarung jenius sangat berlimpah di lima benua, sebaliknya di Benua Congko sangat jarang terlahir seorang dengan bakat petarung jenius...
Aku yang belum pernah terkalahkan di Benua Congko mendatangi lima benua dan menyelidiki kematian kedua orang tuaku...
Bertahun tahun aku melacak pembunuh orang tuaku,
kemudian akhirnya aku mengetahui siapa orang itu..
Waktu kecil aku tidak melihat pembunuh itu, hanya saat kutemukan orang tauaku tergeletak di halaman rumah, ibuku masih bernafas, menjelang kematiannya, ibuku menyebut pembunuhnya seorang wanita iblis..
Orang itu adalah Dewi Gelap Neraka Hitam..,
Penguasa Tanjung Petir Hitam..!!??
Seru Ki balang Nipa..
Ya , tuan betul, wanita iblis itulah yang membantai orang orang di desaku dan membunuh kedua orang tuaku.
Aku menyambanginya ke Tanjung Petir Hitam...,
saat aku tiba di sana, Ia sedang tidak ada, namun ada muridnya...
Akupun melampiskan kekesalanku pada muridnya..,
Tak ku sangka..murid Dewi Gelap Neraka Hitam sangat sakti...
Kami bertarung dua hari dua malam..tidak ada yang kalah..
Tapi ketika saat saat kritis, aku hampir saja mengalahkan muridnya, Dewi gelap Neraka Hitam tiba tiba muncul...ia sudah kembali..
Ia pun menyerang ku dengan ganas...aku mencoba bertahan, namun tidak begitu lama..akhirnya aku ambruk...,
Saat itu lah ia memotong lengan kiriku...dan memasang mantra pengendali hati padaku..
Sejak saat itu aku di perintahkan membuat kekacauan di mana mana di Lima Benua.., orang orang pun mengenalku dengan Si Petarung Gila...
Karena setiap bertemu orang hebat, aku merasa sangat senang, semoga saja orang hebat itu dapat membunuhku dan aku terbebas dari mantra terkutuk ini...
Karena menurut Dewi Gelap Neraka Hitam, hanya kematian yang dapat mengakhiri Mantra itu..,
Dan dua hari yang lalu aku mendapat perintah dari murid Dewi Gelap Neraka Hitam, Penguasa Tanjung Petir Hitam Saat Ini.., berjuluk Nenek Neraka Kematian..agar aku membunuh sepuluh orang...
Pangeran Sein, Putri Yasmin, Nyonya Mentari, Dai Nuhu, Dewa Sedih, Nenek Serba Tahu, Kaisar Kelana, Ince Zulfa dan Istrinya serta Sutan Rajo Bintang...! jelas Iblis Pedang Gu atau Si Petarung Gila.
Berarti dalang dibalik semua ini lagi lagi adalah wanita gila itu.., batin Sein.
Tetua Gu, tadi tetua berkata akan membunuh orang yang memasang mantra di tubuh tuan, apakah Dewi Gelap Neraka Hitam Masih hidup...?
tanya Sein.
Ya...masih..makanya mantranya masih terus menyiksaku sampai tuan pangeran menyelamatkanku.., jawab Si Petarung Gila
Kabar di dunia persilatan mengatakan bahwa wanita itu sudah lama tewas...! Kata Ki Balang Nipa..
Itu sengaja di sebar olehnya, agar ia bisa dengan tenang berlatih..,
ratusan tahun ini, ia sedang menutup diri berlatih di sebuah daerah rahasia...tapi aku tidak tahu di mana tempat itu.., beber Tuan Gu
Wah...ini harus di beritahukan pada para sesepuh golongan putih lainnya, apa lagi baru baru ini Tanjung Petir Hitam mengumumkan bahwa mereka saat ini sudah memiliki penerus yang baru..! kata Ki Balang Nipa..
Apa artinya jika mereka mengumumkan penerus baru itu..? tanya Karaeng Gantarang..
Jika Tanjung Petir Hitam punya penerus baru maka berarti Nenek Neraka Kematian sudah mencapai tingkat Alam Dewa..
Apa..? alam dewa..? tingkatan apa itu..? tanya Kakek Dai heran..
__ADS_1
+++