
"Emang Candra punya rumah di sini, ya?" Hartik menyelidik ke Anara yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya, aku juga baru tau ini tadi. Di kawasan Kusuma Estate."
"Humm ... kamu ngapain keramas sih, An?" Pertanyaan aneh dari Hartik setelah melihat rambut Anara yang kuyup sontak menjadikan yang ditanya bingung. Tetapi melihat wajah Hartik yang menunggu jawaban darinya, Anara terpaksa menjawab pertanyaan yang terkesan lucu itu.
"Biar bersih lah, pertanyaan apaain sih ini, Tik?" Anara terkekeh disertai gelengan kepala.
"Kamu nggak habis aneh-aneh, kan?" Telunjuk milik Hartik kini mengarah ke Anara dengan raut serius.
"Ya ampun. Kamu mikirnya aku habis ngapain sih? Tuhaaan, pikiranmu perlu dicuci deh, Tik! Ada-ada aja." Bisa-bisanya sahabatnya itu berpikir ke arah sana, imajinasi Hartik ternyata tinggi juga.
"Ya trus kamu tadi ngapain di rumah Candra sampai pulang sore begini?"
"Dia minta maaf karena masalah kemarin, lagian kita nggak berdua. Tadi ada Bryan juga."
"Ooh ... Tak kira cuma berduaan."
"Eh tunggu, berarti kalau nggak bertiga. Kamu sama Candra sudah aneh-aneh dong?" Ternyata topik pembahasan ini masih berlanjut.
"Kamu mau tau aja apa mau tau banget?"
"Ya Allah, An. Ingat Tuhan!" Kalimat candaan dari Anara barusan sepertinya jadi sebuah kesalahan karena sekarang Hartik sudah layaknya pemuka agama yang sedang bertausiah. Anara yang sebenarnya masih sangat capek, terpaksa menjadi pendengar setia.
Beduk mulai ditabuh disusul gema suara adan Magrib yang menuntun burung-burung pulang ke sangkar. Langit mulai temaram dan lampu kota telah menjadi penerang. Saat itu, barulah selesai ceramah panjang dari perempuan asal Gresik itu. Anara bernapas lega di senja kota kali ini, tak lama Hartik keluar kamar Anara dengan senyum mengembang penuh rasa bangga.
"Oh akhirnya, nggak lagi-lagi aku ulang kalimat macam itu pada Hartik." Anara menutup pintu kamarnya.
...----------------...
Setelah perutnya terisi nasi lengkap dengan lalapan khas bumi Arema. Anara memutuskan untuk membuka laptop miliknya. Bukan untuk mengerjakan tugas atau proyek UAS, itu sudah selesai bahkan sebelum libur pekan sunyi. Kali ini untuk memelototi film Cinta tapi Beda yang ia copy dari teman satu kosnya jauh sebelum ia ke Jogja.
Di tengah keseriusannya menonton film yang berkisah tentang pria asal Jogja yang jatuh hati pada gadis Minang namun berbeda keyakinan itu, ponsel milik Anara berdering sebagai tanda telepon masuk. Jarinya menekan tombol space untuk menghentikan film. Tangannya meraih ponsel sementara matanya sibuk menatap sebuah nama ... Janu.
"Haloo Janu." Kini tubuhnya sudah direbahkan pada kasur.
"Halo juga Anara. Sampai di Malang jam berapa tadi?"
__ADS_1
"Jam 6 kayaknya." Ia sengaja tersenyum meskipun itu tidak terlihat oleh lawan bicaranya.
"Oh ... aku ganggu nggak?"
"Enggak, ada apa emang?"
"Pengen telepon aja, An. Takutnya ganggu."
Percakapan mereka mengalir layaknya sahabat yang lama tak bersua, kenangan pahit karena ditinggal tanpa pesan sepertinya terhapus begitu saja, mulai dari membahas Jogja (lagi, lagi, dan lagi), kehidupan masing-masing setelah berpisah tanpa saling komunikasi, hingga bahasan film 5cm yang begitu viral hingga mengundang banyak pendaki memadati Semeru. Semuanya menciptakan tawa di wajah ayu Anara, juga di hati lelaki di seberang sana.
Tak terasa mereka bersenda gurau hampir dua jam lamanya. Ketika terdengar pintu kamarnya diketuk, Anara memelankan nada bicaranya dan mendapati Hartik di depan pintu kamar.
"Candra?" Tanpa bersuara Hartik bertanya pada sahabatnya.
"Bukan, Janu." Anara ikut menjawab Hartik tanpa mengeluarkan suara.
Akhirnya sambungan telepon antara Anara dengan Janu benar-benar terputus di durasi dua jam. Kini Hartik sudah ikut duduk di atas kasur dengan ekspresi akan melakukan wawancara.
"An, ngapain sih masih teleponan sama mantanmu itu?"
"Halah, modus itu, An."
"Lagian kenapa sih kamu? Kesannya sensi banget sama Janu. Padahal inget nggak pas di Parangtritis, kamu loh Tik yang nyaranin aku buat nemuin dia."
"Iya, tapi untuk nyelesaiin urusan kalian yang belum kelar. Nah, sekarang kan udah."
"Apa salahnya sih kalau masih contact-an sama mantan?"
"Kamu nggak takut CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) sama dia?" Pertanyaan Hartik kali ini disambut gelak tawa oleh Anara.
"Tik, Tik, ada-ada aja kamu. Enggaklah, ada Candra." Telunjuk Anara sudah menekan tombol space lagi. Film yang dua jam tadi terjeda kini sudah tersaji kembali.
"Kalau nggak ada Candra?" Anara menoleh kepada Hartik yang menatapnya tajam.
"Udah-udah. Kamu kesini mau ngapain?"
"Oh ya, mau lihat proyek UAS-mu yang Sosiolinguistik buat lusa. Udah kamu print out kan?" Hartik teringat niat awal ia datang ke kamar Anara, melihat bundelan proyek UAS tugas dari Pak Sarwo. Hartik tak pernah salah, ia tau pasti sahabatnya sudah merampungkan segala proyek UAS dari jauh hari bahkan sebelum jadwal ujian ada. Berbeda dengan dirinya yang selalu mengandalkan sistem kebut semalam.
__ADS_1
"Udah, bentar kuambilin." Anara bangkit dari duduknya dan kembali membawa sebuah jilidan bersampul biru telur asin.
...----------------...
Setelah Hartik keluar dari kamarnya, fokus Anara bukan pada film yang tinggal separuh durasi di depannya. Ingatannya dipenuhi segala pertanyaan dan perkataan dari sahabatnya itu.
Ia turun dari ranjang dan membuka lemari. Matanya menuju rak paling bawah dan tangannya sibuk mengeluarkan sebuah kardus. Ditariknya selotip yang membuat kardus tertutup rapat, dibukanya kardus itu ketika selotip sudah berhasil terlepas dari dua sisi yang tadinya menyatu.
Ketika kardus terbuka sempurna, hidung Anara tak mampu menahan butiran debu yang bersemayam di sana. Ia keluarkan beberapa kado yang dulu diberikan oleh Janu: jam tangan, bantal berbentuk hati, kotak musik dengan patung balerina, dan beberapa surat usang yang masih rapi ia simpan.
Ingatannya melayang pada satu kisah di masa putih abu-abu, masa yang kata orang adalah masa-masa terindah. Juga bagi diri Anara, tetapi sayangnya masa itu berlaku hanya sampai ia kelas XI semester dua. Sisanya ia lalui dengan meratap, mengharap, dan mencari-cari keberadaan pujaan hatinya.
Ingatannya masih terperangkap pada masa indah bersama Janu, di pertambahan usianya yang ke-17, laki-laki remaja yang menghiasi harinya itu tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan mereka. Anara menangis sejadi-jadinya di kelas yang sudah kosong ditinggal penghuninya pulang, di depannya duduk Janu yang ternyata tengah mengerjainya. Di waktu itulah, Janu memasukkan jam tangan ke dalam tas Anara dengan sepengetahuannya.
Tak sadar, Anara yang kini tengah memandangi kado yang ia terima dari kekasih masa SMA-nya tersenyum-senyum sendiri. Antara geli dan bahagia sekaligus melebur jadi satu. Tatapannya kini beralih pada bantal warna merah hati, Janu memberikannya ketika Anara opname akibat tifus yang dideritanya hingga ia tak masuk sekolah selama hampir dua minggu.
Terakhir, netranya berhenti pada kotak musik yang ia terima dari lelaki yang sama di awal kedekatan mereka. Selebihnya semua surat yang ditulis Janu masih rapi tersimpan. Dibacanya satu lembar kertas yang ia sobek dari buku pelajarannya, kertas itu berisi tulisan Janu yang ditulis di bagian belakang buku Fisika miliknya. Kembali senyum menghiasi wajah Anara yang masih belum enggan beranjak dari kisah lalunya.
Tangannya meraih ponsel yang masih terasa hangat karena dua jam menyala menyambungkannya dengan Janu tadi. Kini ia menyentuh aplikasi WA dan mencari kontak orang yang sama.
Kamera WA terbuka, Anara mengarahkannya pada kardus di depan. Beberapa gambar berhasil ia tangkap dan dikirimkan ke lelaki di masa lalunya itu. Ia tutup kembali kardus yang baru saja mengembalikan memori lamanya. Ia masukkan lagi ke dalam rak lemari paling bawah, tempat selama ini kenangan itu ia letakkan.
Klunting ...
Suara pesan masuk mengundang Anara untuk segera membuka. Benar dugaannya, pesan itu berasal dari Janu.
Kamu masih simpan semua, An?
Hatinya kini kembali merasakan nyeri, mengingat bagaimana membuncahnya perasaan yang ia miliki untuk cinta pertamanya itu. Hingga terkadang ia merutuki diri karena masih menyimpan barang-barang itu. Bahkan sampai ia ke Malang pun, barang itu masih setia ia bawa dan jaga. Sungguh ia dibutakan oleh rasa.
Masih, bahkan kubawa sampai ke Malang. Haha segitunya ya dulu aku ke kamu ☺.
Ia menertawakan dirinya yang entah saking mencinta atau entah bodohnya hingga detik dimana lelaki itu pergi ia masih saja berharap dan berdoa.
Sekarang, segitunya kamu dulu itu, masih sama nggak?
Pertanyaan to the point dari Janu itu membuat hatinya bergetar dan mungkin ada semburat merah di pipinya.
__ADS_1