Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Berpisah Sementara


__ADS_3

"Hari terakhir di sini. Kita jalan, Yuk!" Ajak Bryan yang sedang membantu Anara menyirami bunga di halaman belakang.


"Mau kemana? Bukannya di sini sudah berasa liburan?" Sahut Anara masih memandangi bunga-bunga yang ditanam ibunya.


"Ke Kelud." Celetuk Bryan.


"Baru meletus, Bung." Suara Candra memperingatkan kejadian bulan Februari lalu.


"Ke SLG aja!" Swara memberi ide.


"Apaan tu?" Candra penasaran.


"Monumen."


"Jauh?"


"Enggak, Ndra. 20 menit mungkin."


"Boleh. Daripada nggak kemana-mana." Sambung Bryan.


"Ya udah siramnya agak cepet! Biar kita juga cepet jalan." Instruksi Anara diangguki ketiga lelaki di sana.


Keempat mahasiswa itu sudah berada di dalam mobil menuju SLG (Simpang Lima Gumul) seusai menghabiskan sarapan pagi. Hari ini adalah hari terakhir dua lelaki Kalimantan di Kediri. Nanti malam travel yang dipesan Candra siap mengantarkan keduanya kembali ke Malang.


"Yan ...." Sapa Anara menuntun Bryan menoleh ke belakang.


"Ayahmu pemilik perusahaan tongkang ya?"


"He ... heeh. Tau darimana?"


"Rati. Pas di Jogja. Aku nggak sengaja denger pas dia ngobrol sama ...." Kalimat Anara terhenti.


"Caroline?"


"Iya."


"Nggak apa-apa kok. Aku nggak gimana-gimana denger nama itu."


"Iyalah. Orang lu kagak cinta sama dia." Sambung Candra yang duduk di sebelah Anara.


"Pasti benci banget deh dia sama kamu, Yan." Balas Anara.


"Pastilah. Haha. Belum tau rasa aja dia." Candra makin membumbui percakapan ledekan ini.


Sementara Bryan membuang napas malas dan kembali menatap lurus ke jalan. Ingatannya terkenang pada perempuan oriental itu, yang baru beberapa hari kemarin mengakhiri hubungan palsu dengannya.


"Berarti setelah lulus nggak bingung jadi jobseeker dong, Yan." Suara Anara menyadarkan lamunan Bryan.


"Nggak juga. Rencana aku mau di Jawa masih."


"Kerja?"


"Iya. Coba nglamar di Radar atau Jawa Pos Surabaya." Jelas Bryan mendapat anggukan Anara.


"Padahal udah enak lo misal lu kerja sama ayah lu sendiri."


"Nggak deh. Belum minat gue."


"Wah. Kalau aku sih malah niat kerja di bagian mesin perusahaan transportasi." Sahut Swara, pandangannya tak lepas dari jalan.


"Iyalah. Kan emang jurusanmu gituuu. Masa iya mau kerja di jurnalis."


"Lumayan, gajinyaa gede." Sambung Swara menanggapi kalimat kembarannya.


"Eh, kalau minat. Aku bisa lobi ke bokap."


"Serius?"

__ADS_1


"Iya." Bryan meyakinkan Swara.


"Kalau kamu?" Pandangan Anara beralih ke Candra.


"Aku?"


"Bukan. Rati. Ya kamu. Kan aku nanyanya ke kamu."


"Belum tau. Masih bingung." Jawab Candra.


"Ya ampuuun, An. Masih mau kamu sama lelaki nggak punya masa depan macem dia?"


"Sembarangan lu kalau ngomong." Sebuah jitakan dari belakang mengenai kepala Bryan disusul tawa dari dua saudara kembar.


Setibanya di Gumul mereka di sambut pohon pakis di kanan-kiri jalan. Candra dan Bryan yang belum pernah melihat pemandangan di depan mata ini, seperti terhipnotis kemegahan bangunan yang mirip monumen Arc de Triomphe di Paris itu.


"Mirip paris." Gumam Bryan.


"Gila. Megah bener. Bakal betah di Kediri nih." Celetukan Candra mendapat cubitan paha dari perempuan di sampingnya.


"Serius, An."


"Lu nggak lihat ada kembarannya? Males gue dengernya. Gombalan lu." Tukas Bryan. Candra tak memedulikan cuitan karibnya itu. Matanya sibuk mengamati monumen berbentuk persegi.


...----------------...


"Sudah semua?" Tanya Bu Eka yang sedang menekuni acara televisi di ruang tengah.


"Sudah tante." Jawab Bryan penuh takzim.


"Kalau ada yang ketinggalan, gue mah gampang bisa balik kesini lagi." Ucap Candra lirih. Hanya didengar oleh sahabat di sampingnya.


"Terserah." Bryan bergegas keluar rumah. Menikmati udara sejuk terakhir di desa asri ini.


"Besok sore langsung terbang ke Kalimantan kita." Ujar Candra mengingatkan.


"Travel jam berapa?" Sambung Bryan.


"Setengah jam lagi mungkin." Penjelasan Candra membuat Bryan mengangguk mengerti.


Anara dan Swara muncul bersamaan dari balik pintu. Menghampiri dua lelaki asal Kalimantan yang sebentar lagi akan balik ke Malang.


"Nggak kerasa ya. Udah pada mau pulang." Suara Swara membawa pandangan Candra dan Bryan ke arahnya.


"Yoi, main ke Malang kapan-kapan!" Tawar Bryan.


"Kamu kan mau cari kerja di Surabaya katanya." Balas Anara.


"Amnesia dia." Timpal Candra.


"Eh, tawaran buat masuk perusahaan ayah kamu. Masih berlaku?" Tanya Swara pada Bryan.


"Tentu. Hubungi gue kalau udah lulus! Dia punya nomor gue." Tunjuk Bryan pada Anara.


"Dari kapan Anara punya nomor lu?" Telisik Candra.


"Dari ... dari kapan ya? Haha ya udah lu catet sendiri. 081234567***." Jelas Bryan disambut hangat Swara.


Tak lama Tante Eka dan Pak Nyoto sudah menyusul keempatnya di teras. Sebuah kantong plastik berukuran sedang berada di tangan ibu dari dua kembar. Kemudian diberikan kepada Candra.


"Makanan ringan untuk camilan di jalan. Anggap saja oleh-oleh." Tangan Candra meraih pemberian calon ibu mertua.


"Makasih tante." Ucap Candra disusul Bryan yang mengucap kata sama.


"Jangan kapok main ke sini lagi. Rumah Swari ya seperti ini. Ndeso." Sambung Pak Nyoto memicu gelak tawa.


"Nggak apa, Pak. Saya suka dengan suasana tenang seperti ini." Balas Bryan.

__ADS_1


"Lain kali, saya main kesini lagi, Pak." Sambung Candra.


Lima menit kemudian, sebuah mobil sudah terparkir di bahu jalan. Candra dan Bryan segera berpamitan kepada kedua orang tua Anara, selanjutnya pada Swara, dan paling terakhir pada perempuan yang malam ini mengikat kuda rambutnya.


"Makasih, An. Aku seperti bernostalgia di sini. Teringat masa kecil. Keluarga yang hangat." Tutur Bryan perlahan melepas jabat erat tangan Anara.


"Aku pulang, aku akan sangat merindukan kamu, Swari-ku." Penuturan lirih Candra membuat Anara tersipu bahagia.


"Hati-hati!"


"Pasti." Ingin rasanya Candra memeluk kekasihnya barang sebentar. Tapi ia segera teringat bahwa ada banyak orang di sini. Belum lagi jika ada mata lain yang sedang mengintai dari balik jendela rumah tetangga. Tentu akan jadi topik hangat esok pagi.


"Aku pulang." Kalimat itu sekali lagi Candra ucapkan. Seperti tak rela berpisah dari Anara. Perempuan yang hampir satu tahun mengisi hari-harinya.


"Iya, iya. Buruaaan!" Bryan menarik lengan Candra.


"Travel udah nungguin." Sambung Bryan membuat Candra kesal.


Lelaki dengan sedikit jambang yang dibiarkan menghiasi rahangnya itu tentu tak membayangkan bagaimana ia akan melalui hampir tiga bulan ke depan tanpa bersua dengan kekasih hati. Dan di kesempatan terakhir ini, sahabat karibnya benar-benar rese. Menariknya menjauh dari Anara.


"Sebentar woi!" Gerutu Candra berusaha melepas tangan Bryan.


Lelaki itu justru kembali melangkah menuju Anara. Memandang lekat dan dalam pada netra di sana. Sebentar kemudian sebuah pelukan singkat menghampiri tubuh Anara. Candra tak kuasa untuk menahan tak menyentuh perempuannya.


"Udah ... udah ... udah! Belum mahram." Pak Nyoto sudah melepas pelukan Candra pada anak gadisnya. Sedang Tante Eka dan Swara terdengar tertawa.


"Mahram apaan?" Tanya Bryan seorang diri.


"Jaga diri ya, An!"


"Kamu juga jaga diri, Nak." Suara Pak Nyoto kembali menggema.


Setelah melambaikan tangan. Akhirnya Candra menyusul langkah Bryan yang sudah berada di pembatas rumah dan jalan. Memasuki mobil travel dengan dua penumpang lain di dalamnya. Perlahan, mobil itu membawa kedua lelaki flamboyan hilang dalam pandangan menyisakan kenangan.


Keluarga Pak Nyoto kembali memasuki rumah. Pintu di tutup dan mereka berkumpul di ruang tengah. Menikmati kehangatan keluarga dengan saling berbincang.


"Pacar kamu?" Tanya Pak Nyoto disambut anggukan putrinya.


"Berapa lama?"


"Hampir setahun, Yah."


"Jangan karena pacaran, kuliah molor!" Pak Nyoto menasihati.


"Ini berlaku untuk kamu juga, Swara."


"Iya, Yah. Janji nggak akan molor." Swara mengangkat dua jarinya.


"Dia serius?" Kali ini Bu Eka ikut bersuara.


"Dia masih mau wisuda, Buk." Jawab Anara.


"Nggak kebayang kalau kalian serius, nikah, trus kamu ikut suami. Jauh banget, Ri. Kalimantan."


"Ibu nggak bolehin?"


"Bukan begitu. Tapi jauh banget."


"Sudah. Kalau jodoh pasti Tuhan pertemukan." Kalimat Pak Nyoto menjadi akhir penutup obrolan mengenai Candra dan diaminkan seluruh penghuni ruang.


"Alhamdulillah Ramadan ini, kita masih bisa berkumpul bersama. Menjalankan ibadah puasa dengan keluarga." Tutur Bu Eka.


Keempatnya kini saling melepas rindu. Swara yang banyak cerita pengalaman semester enam dan keseruannya hidup di Kota Kembang Bandung. Tentu membuat Anara merasa iri, terlebih setelah lebaran. Kembarannya itu akan magang di Jogja.


"Ah, enak bener Swara. Jalan-jalan mulu!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2