Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Beda Keyakinan


__ADS_3

Dua hari semenjak mengabari Rati jika Anara akan ke Jogja. Sore ini Bryan sudah ditugaskan oleh Rati untuk bersiap ke stasiun, menjemput calon kakak ipar katanya.


Bagai kucing dibawakan lidi, Bryan menuruti saja kemauan adik karibnya. Tak apa, toh Anara juga sahabat baiknya.


"Nanti sore, Kak Anara sampai di Stasiun Tugu. Mas Bryan jemput!"


"Hei! Aku bukan kacungmu. Seenaknya saja."


"Ya sudah. Selama di Jogja, main aja sono sen-di-ri! Nggak akan aku temani."


Perempuan gemar sekali mengancam.


"Oke. Ada Gmaps, Rat. Bisa atur."


"Mas Bryan pikir Gmaps bisa diajak ngobrol? Seasik aku? Kapan lagi ada tour guide gratis?"


Gratis? Ya ampun tapi makanmu banyak, Rat!! Belum ngemilnya. Tapi bener juga. Masa iya selama hampir dua minggu di sini temen gue cuma Gmaps?


"Iya, iya. Nanti kujemput calon kakak iparmu."


"Gitu dong nurut!"


Hah??


Masih dengan motor matic rentalnya, Bryan sudah menunggu Anara di pintu keluar stasiun. Berpenampilan celana chinos panjang dengan kemeja kotak-kotak yang menutupi tubuh atletisnya, nyatanya masih membuat Bryan merasa seperti tukang ojek online.


"Sudah ganteng begini, jadi ojol." Gerutu Bryan.


Beberapa saat kemudian, perempuan yang ditunggu-tunggu tengah celingukan di seberang sana. Di bahunya menggantung sebuah tas ransel dengan rambutnya yang terurai kesana-kemari.


"An ... Anara!" Teriak Bryan. Tapi yang dipanggil sepertinya tak mendengar.


"Anaraaaa. Hoe!"


"Ya ampun. Udah jadi ojol, sebentar lagi menjelma jadi porter." Celetuk Bryan. Orang termasuk benda kan? Haha.


Bryan bergegas menyebrangi jalan di depannya. Melangkah mendekati benda yang akan diangkutnya. Perempuan itu belum menyadari kehadiran seorang porter di sampingnya.


"Dipanggil nggak denger?"


"Eh, Bryan. Astaga nggak denger." Anara nyengir.


"Yuk!"


Mengekori langkah Bryan, Anara sudah berpindah ke seberang jalan. Tak menunggu lama, motor yang menampung keduanya pergi dari stasiun. Menuju kos Rati yang letaknya masih beberapa kilo lagi.


"Kamu kok di Jogja, Yan?"


"Iya, lagi main sambil kerja."


"Kerja apaan? Apel kali."


"Apel siapa?"


"Rati lah."


"Kamu sendiri kok ke Jogja?"


"Apa, Yan?" Anara sedikit melongokkan kepalanya ke samping Bryan yang tengah membawa motor.


"Kamuuu, ngapain kesini?"


"Refresh otak sebentar."


"Udah mulai skripsi ya? Gimana udah bau balsem belum?" Anara hanya tertawa merespon candaan Bryan.


Di depan sebuah swalayan Bryan menghentikan motornya. Ia akan membelikan Rati snack dan minuman pesanan Rati. Benar-benar perempuan itu, memanfaatkan keberadaan Bryan semaksimal mungkin.


"Kenapa berhenti, Yan?"


"Mau beliin pesanan nyonya." Sungut Bryan.


Anara yang paham maksud kalimat Bryan malah tertawa. Ah, ternyata Bryan suka dengan Rati beneran. Buktinya, lelaki berjuluk kadal itu sampai segitu nurutnya. Berbeda sekali ketika masih bersama Caroline.


Bryan memasuki swalayan seorang diri. Anara menunggu di luar. Katanya ia masih capek untuk sekedar jalan. Daripada pingsan dan semakin merepotkan, Bryan pun setuju masuk ke dalam.


Setelah selesai menuntaskan pembayaran di kasir. Mata Bryan dibuat menyipit melihat seorang lelaki di luar yang tengah berbicara dengan Anara. Lelaki itu tak asing baginya, Bryan semakin cepat melangkah.


"Janu!"


"Hai!" Balas Janu.


"Ayuk, Yan!"


"Aku minta maaf, An!" Ujar Janu.


"Bryan! Ayo!" Anara tak memedulikan mantannya itu. Sepertinya ia menyimpan dendam teramat dalam.


Bryan dengan masih diam sudah menggagahi motor. Bersiap segera membawa Anara dari mantannya yang aneh itu. Tapi siapa sangka Janu secepat kilat mematikan motor dan mengambil kunci.


"Diam sebentar! Aku ada perlu sama dia." Perintah Janu pada Bryan.

__ADS_1


"Nggak sopan sekali kamu, Bung!" Bryan hendak meraih kunci dari tangan Janu, tetapi dengan lihai Janu mengangkat tangannya menjauh dari jangkaun Bryan.


"Janu, berikan kuncinya!"


"Akan aku kembalikan kuncinya, An! Setelah aku jelaskan semua."


"Apa yang harus aku dengar? Alasanmu bersikap menjijikkan waktu itu? Hah?"


"Aku minta maaf. Aku khilaf."


"Sudahlah. Melihatmu saja aku ingin marah." Anara hendak meraih kunci dari tangan Janu.


"An, aku hanya ... hanya ingin kamu tau. Aku masih sayang."


"Aku udah punya pacar. Tak mungkin juga aku kembali pada lelaki brengsek macam kamu."


"Siapa? Lelaki ini? Bukannya dulu lelaki satunya yang memukulku?"


"Sudahlah. Mana kuncinya? Membuang-buang waktu." Tukas Bryan.


"Kau mengencani pacar sahabatmu?" Terlihat Janu mengejek.


"Lihatlah, An! Bahkan kamu semakin liar putus denganku. Berapa lelaki yang telah mencecapi manis bibirmu itu? Aku? Pacarmu? Sekarang sahabat pacarmu ini?" Lanjut Janu.


"Jaga mulutmu!"


"Kurang ajar!"


Bug!! Bug!!


Dua buah pukulan membuat Janu tersungkur. Secepatnya Bryan mengambil kunci yang terlepas dari tangan Janu. Menarik Anara yang sudah meloloskan air matanya untuk mengikutinya.


"Udah! Jangan dimasukin ke hati! Kayaknya dia gila." Ujar Bryan kemudian melajukan motor.


Sisa perjalanan, Bryan dan Anara lalui dalam diam. Sesekali spion sengaja Bryan arahkan ke Anara, untuk melihat perempuan di belakangnya itu masih baik-baik saja.


Mantanmu kenapa mulutnya selemes itu, An?


"Kita sampai, An!" Ucapan Bryan menyadarkan Anara.


"Kok ke kafe?" Tanya Anara bingung.


"Terus? Langsung ke kos Rati? Lihat matamu, An! Rati bisa mencecarku. Kamu mau dia tau detail kronologinya?"


"Aku tau perasaanmu. Tapi, sudaah! Jangan nangis lagi dong! Aku bingung." Sambung Bryan.


"Aku maluuu."


"Ya kamu lah."


"Kenapa malu? Bahkan aku pernah memergoki kamu dengan Candra hampir berciuman."


"Astaga Bryaaaan!!!" Tangisan Anara berhenti berganti tangannya yang mendaratkan pukulan beruntun ke lengan karib pacarnya itu.


"Maaf, aku membuatmu seolah jadi penikung hubungan orang tadi."


"Nggak apa. Toh cuma mantanmu itu yang bilang. Aku heran, kok bisa sih kamu punya mantan macem dia?"


"Sudah doong!"


"Iya, iya. Masuk dulu kita ngopi!"


Keduanya memasuki sebuah kafe yang tengah ramai. Kini Anara tak memedulikan berapa pasang mata yang melihat kearahnya dan Bryan? Pasti akan ada yang bertanya-tanya, perempuannya kenapa matanya bengkak begitu?


"Mbak! Satu kapucino dingin dan satu lemon tea, dingin juga." Pesan Bryan pada salah satu pramusaji di sana.


Mengambil tempat duduk di paling ujung yang dekat dengan taman. Bryan dan Anara sudah mendaratkan tubuh di sana. Sebuah meja dengan dua bangku saja.


"Kenapa sendiri?"


"Candra sibuk kerja, Yan."


"Oh iya. Dia kan wartawan. Pasti sibuk cari berita."


"Lagian udah enak mau diajak kerja abahnya. Malah nolak." Lanjut Bryan.


"Aku nggak salah denger? Bukannya kamu juga begitu."


"Iyaaa. Tapi kan kerjaku santai, An. Freelance."


"Serabutan?" Goda Anara.


"Nggak usah diperjelas!" Anara terkekeh.


"Yan! Pas wisudamu enam bulan yang lalu ...."


"Iya?"


"Caroline pernah nanya ke aku. Sebenarnya siapa sih perempuan yang membuatmu tega menyakitinya? Aku ikut penasaran." Cerita Anara.


"Rati?" Tanya Anara. Sementara Bryan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Habis kalian deket banget. Buktinya kamu samperin kesini." Sambung Anara.


"Rati udah kayak adek aku sendiri. Nggak mungkin lah."


"Bukan Rati? Padahal Caroline, aku juga sih. Nyangkanya kamu naksir sama Rati."


"Bukaan."


"Terus siapa?"


"Sedih kalau diomongin. Cinta pertama."


"Ha? Seriusan? Bukannya dulu udah ada siapa ... Rikardo juga?"


"Dia cuma temen deket. Yang ini bener-bener cinta pertama. Jauh sebelum ada Siska, Rika, juga Caroline."


"Siapa sih, Yan? Aku kenal?"


"Enggak."


"Sekarang dia di mana?"


"Di sini. Jauuuh di dalem." Mata Bryan menerawang.


Membayangkan kembali sosok gadis yang empat tahun lalu tak sengaja menabraknya. Gadis yang memberinya surat, dan kini gadis itu tak mungkin ia miliki.


Ya ampun playboy tu begini ya kalau udah jatuh hati? Ikut terharu aku.


"Dia ada, An. Tapi nggak mungkin kita bersatu. Jadi, aku putusin mendem semua di sini."


"Kenapa nggak mungkin?"


"Perbedaan, An. Kalau beda kasta, beda negara masih bisa diakalin. Ini beda keyakinan."


Jleb!!!


Sakitnya ikut menghujam hati Anara. Ternyata nasib Bryan setragis itu. Dan lelaki di depannya ini begitu tegar menghadapi semua.


"Nggak mungkin kan aku dengan kejam membawa dia mengikuti keyakinanku?"


"Jadi, ya sudah! Biar Tuhan yang berkehendak."


"Sabar, Yan!"


"Iya, An. Hanya itu yang menguatkan."


Terlihat sekali ada kesedihan tersimpan di mata Bryan ketika menceritakan semua. Tetapi, bukan Bryan namanya jika ia tak pandai segera mengubah suasana.


"Sudah hilang bengkaknya. Kita lanjut?" Anara mengangguk.


Bryan bangkit dan berjalan keluar kafe, diikuti oleh Anara di belakang. Langit Kota Jogja telah berganti temaram, Anara masih tak menyukainya.


"Yan!"


"Iya?" Bryan yang sedang memasang helm di kepala menoleh ke Anara.


"Kejadian tadi, aku harap tidak sampai ke Candra."


Bryan mengangguk paham. Motor melaju dengan kecepatan sedang, membawa keduanya ke tempat Rati. Pasti adik Candra akan mencecar keduanya dengan daftar pertanyaan. Bryan dan Anara harus menyusun jawaban.


"Nanti kalau ditanya darimana? Jawab aja nemenin aku sebentar."


"Nemenin apa?"


"Udah jawab gitu aja! Selebihnya biar aku."


Tak lama perempuan yang tengah dibicarakan keluar.


"Kak, Anaraaa" Rati menghambur memeluk calon kakak ipar.


"Lama sekali? Ada apa?"


"Nemenin Bryan sebentar." Jawab Anara berbohong. Padahal Bryan yang menemaninya.


"Kemana?" Netra Rati bergulir pada Bryan.


"Ke kafe, cari inspirasi nulis. Deadline besok." Rati membulatkan bibirnya.


"Pesanan aku?"


"Nih! Dasar pengerat!" Tukas Bryan.


"Nggak akan berkurang kekayaanmu, Mas! Hanya dengan beliin ini." Rati malah tertawa. Sepertinya telinganya sudah terlalu tuli dengan kalimat sarkas dari Bryan. Sudah biasa.


"Mas Bryan makasih ya. Balik ke kos sono! Udah petang." Tangan Rati mengusir Bryan.


"Makasih ya, Yan."


"Sama-sama, An."


Tak lama Bryan pun berlalu setelah melambaikan tangan. Di seberang jalan, sebuah mobil tengah berhenti. Ada sepasang mata tengah mengintai. Lelaki itu memukul setir sambil mengumpat, "Sialan!"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2