Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Rencana Berlima


__ADS_3

Dua minggu menjelang Ramadan, UAS sudah berakhir. Mahasiswa tinggal menanti nilai keluar sambil khusyuk menjalani ibadah puasa nantinya. Kota Malang kembali sepi di saat seperti ini. Barangkali hanya segelintir mahasiswa berkepentingan yang masih tinggal, termasuk Candra.


Lelaki itu dengan ketekunan tinggi akhirnya menyusul sahabatnya, Bryan yang lebih dulu lulus. Tinggal beberapa revisi untuk membuat namanya menjadi lebih panjang dengan embel-embel gelar sarjana.


Apa pedulinya? Yang terpenting telinganya tak harus panas karena sang mama yang hampir setiap hari menanyai kabar skripsi, bukan kabar anaknya. Juga, suara Anara yang selalu membuatnya resah jika sudah bertanya perihal skripsi. Lega sudah hati Candra akhirnya.


Kreek ...


Suara gerbang terbuka, terlihat Anara memasuki halaman rumah. Mobil Candra belum ada di garasi yang menjadi tanda bahwa kekasih Anara belum pulang. Satu jam yang lalu Candra mengabari Anara jika ia pergi ke stasiun menjemput Rati.


Pintu rumah yang terbuka dengan lampu menyala menandakan ada orang di dalam. Anara melongokkan kepala ke dalam. Terlihat Bryan duduk di sofa membelakangi pintu, sedang memainkan gitar.


"Widiiih. Yang udah sebulan pacaran. Masih anget banget nih." Suara Anara membuat Bryan kaget.


"Ck, apaan sih kamu?"


"Kok berhenti sih main gitarnya? Ayo nyanyi lagi!" Seru Anara.


"Sebentar ...." Tahan Bryan. Terlihat Bryan sedang mengutak-atik ponselnya.


"Cari chord?" Tanya Anara yang disambut anggukan pelan oleh Bryan.


Jreeeeng ...


Bryan melanjutkan petikannya pada dawai gitar. Melantunkan lagu yang menurut Anara adalah gambaran hati Bryan yang sedang berbunga-bunga meraih cinta.


Ah playboy akhirnya takluk juga di dekapan seorang Caroline.


"Kuberharaaaap eng-kaulaaah jawabaan segala risau hatiku dan biarkan dirikuuu men-cintaimu hingga ujung usiaku ... ... ...."


"Ya ampun romantis bangeet siiih. Pantes Caroline klepek-klepek."


"Kamu ni muji apa ngledek, An?"


"Dua-duanya." Bryan mengernyit.


"Muji bakat nyanyimu, ngledek akhirnya playboy ketemu juga sama pawangnya. Hahaha."


"Huss. Ketawamu itu lo! Udah mau magrib ini." Anara terdiam dan menahan tawa.


"Candra masih jemput Rati." Ujar Bryan.


"Aku tau."


Sampai terang matahari berganti cahaya rembulan. Candra belum juga datang. Anara mulai suntuk. Satu gelas lemon tea racikan tangan Bryan sudah tandas dari tadi. Beberapa lagu yang dilantunkannya bersama Bryan sudah membuatnya bosan.


"Kok lama banget sih, Yan?"


"Ya udah telepon aja kali!"


"Aku maunya kasih dia surprise, pulang-pulang ada aku di sini gitu."


"Ya udah kalau gitu. Sabar!"


"Eh gimana ceritanya kamu bisa jadian sama Caroline? Cerita dooong! Padahal kamu pernah bilang nggak klop."


"Ah panjang, An. Males aku kalau ingat hari itu."


Tapi pada akhirnya bibir Bryan menceritakan kronologi kejadian hari jadinya dengan Caroline. Anara menyimak cerita dengan seksama. Dongeng Bryan diakhiri gelak tawa Anara.


Sudah kuduga gimana responnya. Bukannya prihatin malah ketawa bahagia. Dasar nggak Candra nggak Anara sama aja!


Tawa Anara seketika terhenti ketika ada suara ketukan pada pintu yang terbuka. Seorang perempuan dengan rambut sebahu memakai dress warna hitam tengah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tak terartikan. Tapi, sepertinya perempuan itu cemburu.


"Eh Caroline! Masuk-masuk! Silahkan duduk!" Anara mempersilahkan Caroline. Kekasih Bryan itu masuk dan mengambil posisi duduk di sebelah lelakinya.


Sementara Anara yang menangkap aura cemburu segera beringsut menuju dapur. Ia biarkan sejenak kedua pasangan baru itu berbicara. Tangannya sibuk membuat teh hangat untuk tamu yang baru datang.


Apa dia biasa kesini?


Mendengar namanya disebut-sebut. Anara mempercepat gerak tangannya menuangkan air panas ke dalam cangkir. Karena terburu, sebagian air tumpah mengenai tangannya yang tengah memegangi cangkir agar tak bergeser.


"Ouch ...." Suara Anara mengagetkan Candra yang baru saja sampai di ambang pintu.


Lelaki itu berlari menuju sumber suara. Anara tengah memegangi jemarinya yang terlihat memerah. Sejurus kemudian, Candra menarik tangan Anara dan membasuhnya dengan air wastafel.


"Hati-hati lain kali!" Ujar Candra masih memegangi jemari perempuannya.

__ADS_1


"Masih panas?" Sambung Candra. Anara menggeleng.


"Habis ini kusalepin."


"Untuk siapa?" Tanya Candra melihat cangkir yang terisi setengah air.


"Caroline."


Ekor mata Candra mengikuti pandangan Anara yang berhenti pada dua orang di ruang tamu. Ia tak sempat menoleh ketika mendengar suara Anara tadi. Ternyata ada tamu di rumahnya.


"Sudah biar aku aja!" Tutur Candra.


"Kenapa lama sekali?"


"Rati minta mampir di bundaran tugu. Foto-foto." Anara mengangguk paham. Tingkah Rati persis dengannya ketika pertama datang ke Malang.


"Kamu kok di sini? Kan aku bilang jemput Rati tadi." Tanya Candra.


"Mau ketemu akulah." Suara Rati sudah menimpal. Anara tersenyum.


"Kangeen kak, ya ampun makin cantik aja." Ujar Rati kemudian memeluk Anara dan mendaratkan ciuman pipi kanan dan kiri.


"Kamu juga makin cuantik."


"Dia udah lama?"


"Baru. Makanya aku buatin minum. Kayaknya salah paham deh sama aku."


"Kok bisa?" Anara menceritakan kronologi kejadian, mulai Caroline datang hingga tragedi tangannya yang tersiram air panas.


"Hmmm. Nanti biar dijelasin sama Bryan." Candra menyentuh pundak Anara untuk memberi ketenangan.


"Emang dia siapa, Ka?" Tanya Rati.


"Pacarnya Bryan." Jawab Anara yang disambut anggukan oleh Rati.


Akhirnya Rati yang membawakan teh untuk Caroline. Gadis itu melirik ke arah sejoli yang saling diam melihat kedatangannya. Ia mengulurkan tangan pada sosok yang dikatakan salah paham oleh Anara tadi.


"Rati." Rati memperkenalkan diri.


"Dia adiknya Candra." Sahut Bryan yang diangguki Caroline.


Sementara Anara dan Candra baru keluar kamar, mengoles salep di jari Anara yang sedikit melepuh. Keduanya bergabung di ruang tamu. Tatapan Caroline masih terlihat kurang nyaman ketika matanya bertemu manik mata Anara.


"Caroline ..." Sapa Anara, Caroline hanya menoleh tanpa mengatakan apapun.


"Tadi aku nggak sengaja dengar kalian sebut-sebut namaku. Ada apa?"


"Dia cemburu ke kamu." Sungut Bryan.


Caroline menatap ke arah pacarnya itu. Sedikit melotot tetapi Bryan tak peduli. Lelaki itu malah melempar pandang ke arah lain.


"Kamu jangan salah paham! Kita nggak ada apa-apa. Tadi aku cuma nanya ke Bryan kapan kalian jadian. Itu aja."


"Tuh, udah dijelasin sama Anara. Cemburuan banget." Ketus Bryan.


Bener-bener ya kamu Bryan. Bukannya ngademin suasana malah bikin panas segalanya.


Akhirnya Caroline merasa kikuk sendiri. Ditatapnya sang kekasih yang seperti tak berusaha merayu dirinya agar tak semakin merajuk. Nggak romantis sekali.


"Udah, udah. Hanya salah paham! Kita keluar makan yuk!" Ajak Candra yang tiba-tiba.


Tumben sekali pencemburu satu ini bijak. Bukannya ikut-ikutan Caroline ngambek. Biasanya dia paling sensi untuk urusan Anara.


"Tumben bijak." Sulut Bryan.


"Kalau nggak segera diudahin. Gue bakal lebih laper." Ujar Candra.


Setelah menunggu Rati selesai membersihkan diri. Mereka berlima menuju kawasan Alun-Alun Kota Malang. Di sebuah rumah makan cepat saji akhirnya mereka mengisi perut malam ini.


"An ...." Panggil Candra.


"Kamu nggak pengen angsle, mumpung masih di sini?" Sambungnya. Sementara Anara menggeleng pelan.


"Angsle apaan, Mas?" Sahut Rati.


"Semacem kolak, khas Malang. Ada petulonya." Sahut Caroline.

__ADS_1


"Mau dong mas cobain. Di sini ada?"


"Nggak di sini juga, Rat. Tapi, di daerah sini. Kita keluar dulu."


"Ra-ti, Mas." Anara dan Bryan tergelak tawa, sementara Caroline merasa bingung.


"Dia nggak suka dipanggil 'Rat'." Jelas Anara melihat ekspresi Caroline.


"Kayak tikus." Sambung Bryan. Rati memutar matanya malas.


Mereka berlima sampai di rumah Candra setelah menemani Rati mencicipi angsle di salah satu kedai. Rasanya perut begitu penuh.


"Tanggal 15 nanti, Rati mau ujian masuk kampus ...." Ujar Candra.


"Wah! Jadi ambil kuliah dimana?" Potong Anara


"Jadi di Jogja?" Sambung Bryan. Rati mengangguk sambil tersenyum.


"Semoga lancar ya ujiannya. Sukses." Tutur Anara mendoakan.


"Aku mau ajakin kamu sekalian." Lanjut Candra.


"Aku?" Anara menunjuk dirinya sendiri yang diangguki Candra.


"Kemana?"


"Nganter Rati ke Jogja. Ujiannya di Jogja."


"Seriusan?" Tanya Anara tak percaya. Lagi-lagi Candra mengangguk.


Sementara Bryan dan Rati sama-sama membelalakkan mata ikut tak percaya dengan apa yang baru diucap oleh Candra. Bukannya lelaki itu dulu paling nggak bisa untuk bahas Jogja. Sekarang dia malah ngajak pacarnya kesana.


"Kamu beneran, Ndra?" Sorot kekhawatiran Bryan tentu dipahami oleh Candra.


"Iya, Yan. Aku se-ri-us." Kata terakhir dibuat tertekan.


Ini anak beneran udah move on?


"Oke." Balas Bryan singkat.


"Gimana?" Tanya Candra pada Anara.


"Mau mau." Anara jelas akan setuju.


Rati sontak kegirangan memeluk Anara, dalam perjalanan nanti tentu nggak akan bosan kalau ada pacar kakaknya itu. Dia bisa cerita, bertanya, atau ngobrol banyak dengan sesama kaumnya.


"Kita berangkat berlima aja, Mas!" Lanjut Rati tiba-tiba. Semua terdiam.


"Gimana? Seru kan? Sambil jalan-jalan. Yaaa meskipun aku bakal paling kelihatan mengenaskan tau kalian pasang-pasangan."


"Enggak deh." Penolakan Bryan membuat mimik wajah Caroline kecewa.


"Ayooolah, Mas Bryan! Jarang-jarang lo aku ke Jawa. Ya ya ya!"


"Kita ikut aja, Yan. Belum pernah juga kita pergi jauh selama pacaran."


"Tuuuuh, diajakin kencan." Ledek Candra.


"Ya udah deh. Terserah kamu." Ujar Bryan akhirnya pada Caroline.


"Oke. Besok biar aku sama Anara yang pesen tiket ke stasiun."


"Lewat aplikasi kan bisa, Ndra." Sambung Bryan.


"Ya gue mau sekalian jalan lah." Balas Candra melirik pada Anara.


"Adiknya kesini malah mau ditinggal pacaran mulu." Sungut Bryan.


"Lu kalau iri ya jalan aja kali sama pacar lu. Kan udah nggak jomblo. Suka lupa?"


"Akibat kelamaan jomblo." Ledek Rati.


"Jomblo teriak jombloooo." Sungut Bryan.


Mereka berlima terhanyut dalam tawa. Sepasang mata saling melempar pandang di sela-sela tawa bahagia.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2