
Libur UAS telah usai, jalanan Kota Malang kembali dipadati oleh keberadaan mahasiswa. Para pengusaha warung kecil yang menjamuri kanan-kiri universitas barangkali bernapas lega. Konsumen setia sudah kembali.
Libur selama tiga minggu membuat antarpenghuni kos saling melepas rindu. Tak terkecuali Hartik dan Anara. Keduanya kini tengah berada di balkon sambil menikmati bonggolan, oleh-oleh yang Hartik bawa dari kampung halamannya.
"Enak, Tik." Tutur Anara sambil mengunyah irisan bonggolan.
"Iya. Anget soalnya."
Memang sebelum menyantap bonggolan di balkon. Hartik sudah menghangatkannya di dapur tadi. Kalau tidak begitu, teksturnya bisa alot. Sealot perdebatan siapa yang lebih dulu ada antara Nabi Adam dengan manusia purba?
"Gimana liburanmu?" Tanya Hartik.
"Hmm ... liburan yang dimana? Kediri apa Kalimantan?"
"Kediri. Kalau Kalimantan udah bisa ditebak. Pasti bahagialah, kan kamu juga pamer foto pas ke pantai."
Memang ketika di Kalimantan, Anara beberapa kali berkirim gambar pada Hartik. Untuk pamer tentu. Biar sahabatnya menambahkan pulau terbesar ketiga di dunia itu ke dalam daftar tempat yang akan dikunjungi.
"Seru dong. Ketemu ayah sama ibu dan yang paling nyenengin ketemu adikku. Cerita tentang Bandung selalu membuatku ingin kesana, ke tanah Priangan." Mata Anara menatap langit menggantungkan satu harapan lagi.
"Wah! Kayaknya seru deh kalau punya adik terpaut usianya nggak jauh." Anara tersenyum.
"Trus gimana jadi ketemu calon mertua?" Anara mengernyit.
"Kok jadi kesana? Katanya cerita liburan yang di Kediri, Tik?"
"Kalau sama keluarga aku juga tau. Pasti seneng, makan bareng, nonton TV bareng, jalan-jalan bareng, cerita ini itu, dan sebagainya. Kan aku juga libur sama keluarga, An."
"Terus?"
"Pakai nanya. Ya kamu cerita yang ketemu sama keluarganya Candra!" Pinta Hartik.
"Huh, tadi katamu liburanku ke Kalimantan bisa ditebak, bahagia. Ya gitu emang. Ba-ha-gia."
"Detailnya dong, An!" Kali ini Hartik malah memaksa.
"Gimana ceritanya ya? Ya aku ketemu keluarga Candra. Kenalan, makan di satu meja bareng, trus ternyata dia punya adik cewek masih SMA, cantik. Namanya Rati. Sama seperti kakak adik lainnya, kalau ketemu sering berantem." Membuat Anara tersenyum jika mengingat keluarga Abah Kayaat.
"Trus ... trus!"
"Oh ya, ternyata mamanya Candra itu asli orang Jawa lo. Dari Klaten, mamanya tipe-tipe ibu sosialita gitu. Abahnya malah, kalau kamu lihat langsung ya, Tik. Lebih pas dipanggil oppa seperti di film-film favoritmu itu. Menurutku terlalu muda dan modis kalau dipanggil abah." Raut wajah Hartik berubah masam mendengar cerita Anara.
"Tik, kenapa?" Tanya Anara yang menyadari perubahan ekspresi Hartik.
"Enggak. Aku cuma jadi kangen abahku, An." Hartik memaksa tersenyum.
"Duh, maaf ya, Tik!" Anara merangkul pundak sahabat di sampingnya.
"Nggak apa-apa kali, An."
"Oh ya. Kamu mau tau kebiasaan paling ajaib dari Keluarga Candra?"
"Apa?"
"Mereka kalau makan diem, Tik. Nggak ada percakapan sama sekali. Hanya ada suara bunyi sendok dan garpu yang ketemu piring."
"Beneran?" Anara mengangguki pertanyaan Hartik.
"Kamu beberapa hari di sana kayaknya dah kenal banget sama keluarga Candra?" Anara hanya terkekeh mendengar kalimat retorik dari Hartik.
"Duh senengnya ya kalau udah bisa ketemu keluarga pasangan."
__ADS_1
"Nanti kamu juga bakal begitu, Tik."
...----------------...
Candra mendial nomor Anara kesekian kalinya. Kemana ni anak? Daritadi pesan WA nggak dibalas, ditelepon juga nggak bisa.
"Halo." Suara lembut dari seberang menyapa.
"Kamu darimana aja? Baru angkat sekarang." Candra kesal.
"Habis ngobrol sama Hartik. Lama nggak ketemu. Ada apa?"
Ada apa ada apa? Ya kangen lah. Dua minggu nggak ketemu juga. Masih aja nanya ada apa.
"Aku kesana." Ujar Candra.
"Mau ngapain?"
"Kangen."
"Aku capek. Ketemu sorean aja."
Laki-laki berwajah flamboyan itu tak henti-hentinya menghubungi Anara selama libur. Bahkan sudah mirip anak kehilangan induk. Hampir setiap menit selalu saja berkirim pesan, kesepian mungkin karena sendirian di Malang.
"Aku kangennya sekarang."
"Ntar aja. Aku mau bobo siang."
"Bobo disini ajalah, An."
"Nggak. Aku tutup ya?"
"Bentar doang An."
"Ketemu."
"Terserah kamu, ngeyel banget." Sambungan telepon Anara putus.
Pacarnya itu selain hobi mendahulukan emosi, juga hobi memaksa. Tak mengertikah? Perempuannya sedang capek karena baru sampai Malang setelah menghabiskan hampir 3jam di dalam bus tadi.
Bahkan bertanya sampai Malang jam berapa aja enggak. Dasar pacar macam apaan?
Tangan Anara sibuk menggeser beberapa foto selama libur. Libur kali ini spesial, bisa ke dua kota sekaligus, dua pulau malah. Pengalaman pertama menginjakkan kaki ke Kalimantan dan yang ia dapat adalah nyaman.
Kayaknya bener deh yang dibilang Candra. Kena air sana, aku udah kangen aja lagi kesana.
Hawa kantuk sudah menyelimuti Anara. Perlahan matanya terasa semakin berat. Samar-samar dari luar ada yang menyebut namanya.
"An, An ... Anara. Buka pintunya!" Mungkin aku bermimpi.
"An, Anara! Cepetan buka pintunya!" Suaranya tidak asing. Kali ini disertai ketukan pada pintu.
Anara membuka matanya dan segera sadar dia tidak sedang bermimpi karena sekarang namanya disebut lagi dengan lebih keras. Dengan langkah gontai Anara menuju ke pintu. Merutuki si pengetuk pintu yang mengganggu tidur siangnya.
"Kamu ngapain kesini, Candra?" Ketus Anara. Ia tak kaget dengan tingkah Candra yang suka memaksa kehendak. Buktinya sekarang laki-laki itu di depan matanya setelah ditolak tadi.
"Begitukah salam pembuka setelah dua minggu perpisahan?"
"Sayaaaang, kamu ngapain kesini?" Senyum Anara dipaksakan.
"Kangeeen. Ayo!"
__ADS_1
"Dibilang sorean juga. Ngeyel banget sih kamu."
"Aku masuk ya?"
"Sebentar. Kok kamu tau kamarku yang ini?" Anara mengernyitkan dahi.
"Kamu lupa? Aku pernah kesini waktu kamu belum mandi. Selesai masak. Terus kita pesen tiket." Anara mengangguk paham.
Candra mendorong pelan Anara yang berdiri di ambang pintu. Tapi ditahannya langkah Candra. Matanya melotot tajam ke manik mata di depannya.
"Mau apa?"
"Mau kangen-kangenan." Mata Candra mengerling.
"Ck. Tunggu di sini! Aku ganti baju." Anara menutup pintu dengan sigap.
Motor Candra sudah berhenti di rumahnya. Di jalan tadi, mereka berhenti untuk membeli makanan ringan. Beberapa snack, roti, dan minuman kemasan.
"Bersih." Gumam Anara.
"Iyalah. Dua minggu ditinggal kamu. Selain sibuk merindu, ini pekerjaan sampinganku. Bersih-bersih rumah."
"Idaman sekaliiii. Pasti yang jadi istrimu akan bahagia." Ledek Anara.
"Tentu. Kamu nggak pernah sedih nanti." Senyum Candra mengembang dan Anara jelas tersipu, membuat Candra semakin ingin menubruknya saat itu juga. Keduanya lalu memasuki rumah.
"Sepi. Sahabatmu belum balik?"
"Belum. Bryan bilang pesawatnya siang ini." Anara mengangguk paham.
Candra menuju dapur dan mengambil satu gelas air putih. Menyodorkannya pada Anara yang masih sibuk menilai seluruh sudut ruangan.
"Bagus kalau kita pisah sementara."
"Apa maksudmu?" Tukas Candra.
"Kalau kita jauh. Kamu malah rajin bersih-bersih."
"Ooh. Kukira kau minta putus. Jangan harap!" Anara tertawa keras.
"Tumben sekali Bryan tak mengikutimu pas balik kesini? Biasanya kalian bersama terus?"
"Kita disini mau bahas Bryan terus?" Candra mulai kesal.
"Terus kesini mau apa sayaaaang?"
Anara sudah bergelayutan di lengan Candra. Membuat Candra menegang. Melihat wajah kekasihnya yang memerah. Anara malah tertawa dibuatnya.
"Kamu gugup ya? Ha?" Tangan Anara bahkan sudah menyentuh dada bidang milik Candra.
Makin lama makin agresif kamu, An. Membuatku panas saja.
"Minumlah! Kau akan haus setelah ini." Anara tak mengerti maksud Candra. Tapi, ia meminum air itu hingga tandas.
"Bagus. Gadis pintar." Dibelainya wajah Anara dengan lembut.
Tanpa aba-aba. Candra sudah melahap bibir Anara yang ia khayalkan dua minggu ini. Melewati hari tanpa menyesap benda itu membuat ia sedikit tak waras. Satu lagi pekerjaannya selama Anara jauh, menggerutu.
Anara mengimbangi permainan lidah Candra. Keduanya saling melebur rindu. Bertukar saliva di sana, kadang menggigit, kadang mencecap bibir satu sama lain. Napas mereka saling memburu. Tangan Candra sudah sigap memasuki kaus Anara, mencari-cari benda kembar yang dirindui tangannya.
Meremas pelan dan kuat secara bergantian. Hingga suara desahan keluar dari bibir manis Anara. Membuat Candra semakin terpacu meremas kedua benda favoritnya.
__ADS_1
...----------------...