Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Petuah Hartik


__ADS_3

Hari hampir petang ketika Hartik keluar dari kamarnya. Mandi, begitu ucap Hartik sebelum benar-benar keluar. Menutup pintu kamar Anara. Sementara ia sendiri sama sekali tak berminat untuk melakukan apa pun, kecuali merebah diri atas ranjang. Dengan mata bengkak karena menangis yang tak kunjung usai tadi, melelahkan.


"Apa ini yang namanya cobaan pra-nikah?" Gumam Anara menatapi langit-langit kamar.


Tentu dirinya tak asing dengan kata cobaan pra-nikah. Itu bukan rahasia lagi, semua orang tahu dan paham. Sebelum menikah, pasti akan ada aral melintang sepanjang garis khatulistiwa untuk menguji ikatan calonnya.


Tapi, aku kan masih tunangan. Belum mau nikah. Gumam Anara nampah bo doh.


Tatapannya kini tertuju pada ponsel yang teronggok di sisi lain ranjang. Dengan menggerak-gerakkan kaki berusaha meraih benda itu, akhirnya ponsel miliknya sudah berada dalam genggaman. Dengan dua kali ketukan, layarnya menyala. Menampilkan keterangan 18.30 WIB di sana.


Lalu tangan Anara men-scroll layar ponsel demi melihat logo WA di sebelah kiri atas. Pesan dari Candra. Pria yang sedetik lalu ingin ia hubungi demi melancarkan sejuta kalimat tanya.


An, lagi apa?


Kalimat basa-basi dari pesan jam 17.10 tadi yang mendadak lebih hambar dari biasanya. Jika biasanya ia akan tetap membalas kemudian bahasan mereka berangsur-angsur akan hangat. Kali ini ia memilih tak membalasnya dulu demi suasana hati yang sedikit baikan.


Bryan WA aku tumben. Playboy sialan itu ternyata masih ada nyali juga.


Kalau yang diucap Caroline betul. Kamu bahkan bukan hanya playboy, Ndra. Sialan! Bajingan! Anjing! Murahan! Semua pas kamu sandang.


Mendadak ia teringat pada keberadaan Bryan, yang tadi sore mengunjunginya dan dengan bangga ia pamer cincin di jari manisnya. Tunangan, itu yang diucapnya tadi.


Kemana Bryan?


Anara bahkan sama sekali tak mengingat jika Bryan menahan langkahnya demi bertanya ada apa tadi sore. Ia terlalu kacau dan otaknya terlalu tumpul untuk bertindak logis sampai sekarang.


Ponsel yang digenggamnya kini telah kembali teronggok di atas ranjang. Tak berminat membalas pesan WA Candra. Ia memilih beranjak dari rebahannya, menyambar handuk dan berniat mengguyur seluruh tubuhnya. Mungkin dengan itu, resahnya akan hilang. Berkurang minimal.


Namun, harapan tinggal harapan. Karena sampai satu jam setelah keputusannya untuk mengguyur tubuh selesai. Gelisah itu nyatanya makin menjadi-jadi dan menguasai keseluruhan dari hati, pikiran, bahkan hingga ke seluruh aliran darah.


Dengan lebih tak sabar ia sambar ponselnya dan mendial nama Candra, tuuut tuuut tuuut.


Halo, Anara. Kamu baru apa sih? Di WA ga bales?


Napasnya dibuang perlahan sebelum bibirnya melontar tanya, siap-siap kamu Candra!


"Caroline baru dari sini."


Ngapain?


Suara Candra terdengar antara bergetar juga tergesa menyela.


"Menurutmu?"


Ngapain dia ke sana, An? Cerita yang enggak-enggak? Atau apa?


"Dia bilang hamil," sahut Senja.


Hamil? Trus kenapa cerita ke kamu?


"Karena yang hamilin dia KAMU! IYA KAN?" Balas Anara dengan geram.


"Jangan belagak be go kamu CANDRA!"


"JAWAB!"


Aku bisa jelasin, An.


"Terserah! BAJINGAN!"


Dengan cepat Anara memutus sambungan. Kata-kata 'aku bisa jelasin' itu sudah menggantikan jawaban IYA. Kalau bukan, pasti Candra akan marah balik mungkin, menyanggah dengan cepat, atau mentang-mentang menolak. Toh, jawaban dari Candra nyatanya hanyalah sebagai uluran waktu.

__ADS_1


Tak lama sebuah WA masuk, Anara tak perlu melihat. Sudah bisa dipastikan itu berasal dari Candra. Siapa lagi?


Disusul bunyi getaran dari ponselnya, menandakan sebuah panggilan masuk bersamaan dengan suara pintu kamar yang juga diketuk. Tak lama, kemudian berhenti dan tertangkap oleh telinganya suara Hartik.


"An, aku masuk ya?" Tanya Hartik dari balik pintu.


Ia tak menyahut, sebentar kemudian pintu itu terbuka. Menampakkan wajah Hartik di sana.


"Sudah hubungi Candra?" Kalimat susulan dari Hartik yang hanya diangguki oleh Anara.


"Terus jawabannya?" Masih suara Hartik mendominasi.


"An!"


Dia berkelit, Tik. Tapi, aku tahu betul bagaimana Candra? Itu pasti memang anaknya.


Apa aku harus mendengar sendiri pengakuannya?


Tangannya sudah terulur pada Hartik dan dengan refleks baik, Hartik membalas uluran tangannya dengan pelukan. Mendekapnya dan seolah memberi izin pada Anara. Agar menumpahkan segala pilu di bahunya.


Dadanya terasa semakin sesak bersamaan dengan air mata yang tumpah dari kelopaknya. Ia sangat terpukul, kali ini bukan kesalahn yang mampu ditolerirnya atau siapa pun yang mendengarnya. Lantas, apa yang harus ia lakukan selain mengakhiri?


"Jika memang itu ulah Candra. Mau ga mau, kamu harus rela An!" Ucap Hartik tanpa melepas pelukan mereka.


"Ga mungkin kamu mau egois dengan membiarkan Caroline menanggung semua sendiri. Lalu, kamu dan Candra menikmati hidup kalian begitu aja. Ga adil bukan?"


"Ini pasti ga adil buat kamu. Tapi, percayalah, An! Justru kamu harus bersyukur tau ini lebih dulu! Coba bayangkan, An! Kalau kalian udah makin serius dan tiba-tiba kamu tahu kalau ada darah daging Candra di luar sana, justru kamu akan makin hancur!" Bisik Hartik lagi.


Membuat Anara semakin terisak dalam tangisan. Ia ingin teriak, memaki, dan merutuki semua ini. Ia ingin ketika tangisnya reda lalu ia terbangun dan semua hanya mimpi.


Anara mengerjapkan netranya yang terasa berat dan bengkak tentu. Perlahan, Hartik juga merenggangkan pelukan mereka.


Mata Anara semakin panas mendengar kekuatan yang diberikan Hartik.


"Aku yakin, Tuhan ga akan melampaui batas kemampuanmu. Kamu bisa melewati ini!" Hartik melempar senyumnya.


"Aku akan selalu support kamu!" Pungkas Hartik kemudian merentangkan kedua tangannya lagi.


Anara baru menyadari jika selama ini begitu abai dengan Hartik ketika ia bersenang-senang. Padahal, ketika dalam keadaan terpuruk seperti ini, Hartik lah yang seolah membawa lentera dalam kegelapan, menyinari, dan meyakinkannya bahwa ia mampu menghadapi.


"Maaf Tik. Aku merepotkan."


"Enggak, An. Itu gunanya punya sahabat," balas Hartik lagi-lagi mengulum senyum setelah pelukan mereka selesai.


"Masalah itu dihadapi! Setelah matamu bengkak begini, aku harap kamu udah plong, lega, dan mau jalani semua dengan badan tegap. Ingat, An! Tuhan ga akan melampaui batas kemampuanmu!" Tutur Hartik lagi.


Dia benar-benar lebih tenang sekarang. Jika ada orang bilang bahwa agama menenangkan, mendinginkan, atau meninabobokan. Nyatanya memang iya.


Setelah mendapat pencerahan dari Hartik melalui 'ceramah' barusan. Nyatanya kata-kata Hartik memang pengaruh pada hati juga akalnya.


Dan yang paling ia syukuri, meski Candra belum mengiyakan atau membantah ucapannya, ia lebih dulu tahu semua sebelum langkahnya semakin jauh.


"An, Bryan masih di bawah," ungkap Hartik ketika ia tak lagi sesenggukan.


"Ha?"


Hartik mengangguk.


"Aku suruh pergi ga mau. Masih di sofa. Kamu minat menemuinya mungkin?" Hartik mengedikkan bahu.


Dengan cepat Anara menggeleng, "ga. Kamu temui aja Tik! Suruh pulang atau gimana terserah! Aku lagi ga mood ketemu orang yang berhubungan dengan ... Candra."

__ADS_1


"Oke. Biar aku ngomong sama dia."


Tanpa babibu, Hartik sudah keluar dari kamar. Entah apa yang disampaikan oleh Hartik nantinya, yang jelas dia masih enggan menemui siapa pun. Dia masih butuh waktu.


Sekitar satu jam setelahnya, baru Hartik kembali terlihat. Dan dengan wajah sumringah, ia mengeluarkan satu per satu barang dari kantung kresek warna putih yang baru ditentengnya. Satu kresek putih di dalamnya dengan logo IndoJuni di sana.


"Makan An!" Pinta Hartik membuka dua styrofoam berisi nasi goreng yang masih mengepul.


"Aku ga lapar Tik," balasnya tak berminat.


"Ya udah. Kamu butuh ini mungkin?" Tanya Hartik mengeluarkan dua tub ice cream 350ml favoritnya.


"Hmm," hanya itu yang keluar dari bibirnya sembari tangannya menerima ice cream tub dari Hartik.


Sudah separuh lebih makanan beku dari susu dan krim itu meluncur mendinginkan semua organ-organ penting tubuhnya. Baru Hartik yang sudah menandaskan nasi gorengnya berucap, "dari Bryan."


"Apanya?"


"Ini," sahut Hartik sambil tangannya menunjuk semua yang di depan mata, termasuk snack printilan yang jumlahnya lebih dari tujuh jenis.


Kerongkongannya bagai tercekat. Tak mau menemui, tapi makanan dari Bryan diterima dengan baik oleh indra pencecapnya.


"Dia tahu?"


"Aku ga ngomong apa-apa sih. Tapi ga tau juga kalau dia cari informasi ke Candra atau Caroline langsung."


"Kenapa emang kalau dia tahu?" Tanya Hartik balik.


Anara menggelengkan kepala, "ga apa-apa."


"Pas banget ya? Pas ada kabar ga mengenakkan, kenapa bisa pas dia ada di sini ya?" Tanya Hartik menyungging senyum.


Anara mencebikkan bibir, "tau deh."


Keduanya lalu diam. Hartik sibuk dengan ponselnya dan Anara sibuk menerawang, memikirkan ucapan Caroline, tentu saja itu. Apalagi?


Bagaimana ngomong ke ibu, ke ayah, juga Swara?


Baru saja dia sesumbar ke Bryan kalau dia sudah tunangan. Dan apa? Belum sampai satu jam setelahnya, tiba-tiba badai keras menghantam kapalnya dan membuat oleng seketika.


Sampai kini, getirnya masih terasa meski air matanya telah mengering. Meski ia sudah sedikit legawa, nyatanya sakit hatinya semakin menjadi-jadi membayangkan betapa kejamnya Candra.


Tapi, sejurus kemudian ucapan Hartik dengan kalimat-kalimat saktinya berhasil mendinginkan hatinya, lagi dan lagi.


Inna ma'al usri yusro, setelah kesulitan pasti ada kemudahan!


Tuhan ga akan melampaui batas kemampuanmu, An!


Dua kalimat itu memenuhi pikirannya, membuatnya pasrah pada keadaan yang digariskan Tuhan. Hingga kembali suara getar ponselnya memecah konsentrasi dan menguarkan dua kalimat yang ia selami.


Anara beringsut dari duduknya, meraih ponsel yang masih terkapar di atas ranjang.


Candra:


Besok aku ke Malang. Kita bicara!


Anara hanya diam, hatinya bagai diiris-iris. Kemudian tersenyum getir dan menyakitkan.


Harus diselesaikan!


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2