
"Pertimbangkan, An! Pikirkan baik-baik!" Ucap Candra ketika mobil sudah sampai di halaman kos Anara.
Pria itu masih menyoal tentang niatnya untuk segera menikahi kekasihnya, ketakutannya semakin memuncak. Meskipun antara Anara dengan Bryan beda keyakinan. Siapa yang tahu akan bagaimana ke depannya? Banyak mualaf di negeri ini yang awalnya karena kisah romansa.
"Orang tuamu tahu niatanmu ini?"
Candra menggeleng, "itu gampang. Mereka pasti setuju."
"Nikah itu bukan hanya menikahkan antara dua orang, tapi juga dua keluarga. Kamu jangan terlalu menggampangkan ini," ucap Anara serius.
"Aku nunggu kamu bilang mau, kalau aku terlanjur bilang ke keluarga, tapi kamu nggak mau?" Sungut Candra.
"Skripsiku belum selesai, Candra. Tinggal sebentar lagi."
"Itu bisa tetap dilanjut, An."
"Aku pikir-pikir," ucap Anara.
Percuma berdebat dengan Candra. Lebih baik ia mengalah dulu agar suasana lebih tenang. Ini hanya sekadar perasaan Candra yang terlampau mengira jika Bryan menaruh rasa pada Anara.
"Kamu hati-hati pulangnya!"
"Nggak ada ciuman perpisahan?"
"Emang biasanya nggak ada kan?"
Candra mendekatkan wajahnya ke Anara, tangannya menangkup kedua pipi kekasihnya, kecupan di pucuk kepala, pipi kanan dan kiri, serta ciuman kilat di bibir.
"Mulai sekarang dan seterusnya, begitu."
"Iya, aku turun," ujar Anara membuka pintu mobil dan keluar.
Setelah saling melambaikan tangan, mobil milik Candra perlahan meninggalkan kos. Anara segera masuk ke dalam. Hari semakin gelap menandakan malam segera datang.
Setelah membersihkan tubuhnya, Anara merasa jauh lebih baik. Pikiran kacaunya mulai kembali tertata rapi. Hari yang berat mengingat detail hari ini.
Malam Minggu yang dingin, meski tidak hujan entah mengapa cuacanya begitu menusuk tulang.
Tok ... tok ... suara pintu diketuk.
Pasti Hartik.
Anara sudah mengabari sahabatnya itu bahwa dia akan sampai kos menjelang magrib. Sekarang sudah lewat magrib, seperti hari biasa. Jam-jam segini keduanya akan keluar untuk mencari lalapan, nasi goreng, atau entah apapun untuk makan malam.
"Masuk, Tik!" Ajak Anara setelah membuka pintu.
"Kok masuk? Ayo cari sarapan!"
"Eh kok sarapan. Cari makan," ralat Hartik pada ucapannya sendiri.
"Aku males keluar deh, Tik."
"Kenapa? Skripsi?" Tanya Hartik.
Anara menggeleng, "Candra."
"Kenapa lagi? Bukannya udah baikan?"
"Juga Bryan."
__ADS_1
"Bryan?" Hartik memasang wajah heran. Anara mengangguk pelan.
"Ada apa sih emang? Candra, kok Bryan segala," ujar Hartik.
"Aku pengen cerita. Tapi, sekarang aku laper, Tik."
"Ya ampuuun, An. Ya udah ayo cari makan!"
"Ish, dibilang lagi males keluar. Kita buat mi aja yuk!" Tawar Anara.
"Boleh deh, tapi ntar cerita ya! Aku penasaran."
"Iyaaa."
Keduanya pun turun menuju dapur. Kompak membuat mi instan yang akhirnya jadi menu makan malam. Setelah selesai membersihkan peralatan masak, Anara dan Hartik membawa mangkuk masing-masing kembali ke atas, ke kamar Anara.
"Di kamarku aja enak. Dingin-dingin gimana gitu, kalau di bawah gerah," ucap Anara.
"Iya, pas buat makan mi," imbuh Hartik.
Keduanya pun bergegas menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar Anara. Mulai menikmati makanan berbentung keriting panjang yang berkuah itu.
"Jadi, gimana ceritanya?" Tanya Hartik sambil mengunyah.
"Kamu tahu, Tik. Candra lagi cemburu buta sama Bryan," Anara memulai ceritanya.
"Hah? Kok bisa?" Hartik melongo.
"Jadi gini ceritanya," terang Anara.
Hartik menyimak cerita Anara dengan khidmat. Tak terasa cerita itu belum usai hingga mi di mangkuk tandas. Hartik masih mengangguk-angguk paham mencerna setiap cerita Anara.
"Aku mikirnya dia juga sama kek kita, Hartik."
"Ampuuun. Kemana aja atuh, Neng?"
"Padahal ya, belum tentu perempuan yang dimaksud Bryan itu aku, tapi Candra udah yakin banget itu aku. Nggak masuk akal kan?"
"Orang cemburu emang gitu, suka nggak rasional."
"Tapi aku jadi ikut penasaran, kalau itu emang bener kamu, gimana?" Imbuh Hartik ikut penasaran.
"Apanya yang gimana? Udah jelas dong, mana boleh beda agama?"
"Berarti kalau seagama?"
"Ya ampun, Tik. Pertanyaan macem apa sih? Bukan untuk dinego hal satu itu," pungkas Anara membawa mangkuknya keluar kamar.
Hartik berjalan mengikuti Anara dengan tetap melayangkan tanya, "andai aja, An. Kalau Bryan jadi mualaf misal. Kamu lebih pilih mana?"
"Heh, gila. Kenapa harus berandai-andai yang itu?"
"Jawab aja kaliiiiiii," desak Hartik tak sabar.
"Nggak tahu, Bryan baik juga lembut."
"Aiiiiih, rupanya begitu," Hartik menggoda sahabatnya dan disambut tatapan ilfeel oleh Anara.
*****
__ADS_1
Malam semakin larut dan sunyi. Anara masih enggan untuk memejam. Netranya menangkap jaket boomber hitam milik Bryan yang dibawanya kapan lalu. Jaket yang digantung di balik pintu dan tertutup oleh bajunya itu menarik diri Anara untuk bangkit.
Astaga, lupa belum dibalikin. Dia juga nggak ingetin.
Anara menyentuh jaket hitam yang masih menguarkan aroma parfum laki-laki itu, mengembalikan kepingan memori malam ketika keduanya sedang menikmati ketan di Batu. Ditemani suguhan cerita hubungan antara Anara dengan Candra.
Kalau benar perempuan yang disukai Bryan adalah aku, berarti selama ini?
Anara bergegas membuka tas yang dibawanya tadi siang. Mencari amplop putih pemberian Bryan.
"Aku penasaran dengan isinya, Yan."
"Maaf, aku nggak bisa nepati janji buat buka amplop ini nanti ketika wisuda," ujar Anara bermonolog.
Perlahan Anara membuka amplop berwarna putih itu. Sepelan apa jarinya membuka, tetap saja tercipta robekan pada bekas rekatan. Hatinya tak sabar membuka kertas yang dipenuhi tulisan pada kedua sisinya itu.
"Ini tulisanku, ya Tuhaaaaan," Anara menutup mulutnya tak percaya.
Anara membalikkan surat itu dan menatap sisi kertas lainnya, hatinya semakin sakit melihat apa yang ada di sana. Balasan surat dari seorang Aron.
Hai Swari
Aku mengingat namamu kembali ketika berkunjung ke Kediri. Benar saja, kamu orangnya, Anara.
Terima kasih sudah menulis surat ini, mungkin iseng untuk memenuhi tugas ospek dari kami, para panitia, yang kadang tak masuk akal.
Tapi, dari awal kuterima amplopmu ini. Aku bahagia, kamu adalah orang yang sama bahkan hingga sekarang.
Masih gadis yang sama, seperti ketika tak sengaja kamu menabrakku waktu tergesa berangkat ospek.
Ya, Anara. Akulah Aron, si gondrong yang dulu kau kirimi surat lewat panitia ospekmu, sebagai tugas ospek yang aku syukuri.
Mungkin kau tak sungguh mengingat wajahku. Tapi, aku tertarik dengan setiap kata di suratmu. Sejak hari itu aku mengikutimu.
Namun, aku sudah patah hati bahkan sebelum mendekatimu. Kamu adalah cinta pertama bagiku sekaligus patah hati pertamaku.
Aku melihatmu masuk ke mushala kala itu, seketika kukubur anganku, juga hasrat dan rasaku.
Beda keyakinan mengapa begitu menyakitkan, An?
Namun, yang lebih sakit lagi. Ketika aku tahu Candralah yang menjadi kekasihmu. Kalau boleh kuibaratkan, hatiku hancur jadi keping dan berserak jadi remahan.
Bila rinduku ini masih untukmu,
Harus seberapa lama aku menunggu, An?
Izinkan aku sekedar jujur, Anara Reswari,
Semakin kupaksa melupa, semakin wajahmu dan tawamu hadir menjadikanku gila.
Seandainya, aku boleh menghianati Tuhan,
Kamulah alasannya.
Aron Bryan Wijaya
"Ya Tuhaaan," Anara menangkup wajahnya.
Perlahan netranya mengeluarkan air mata tanpa diminta, hatinya sakit karena menyakiti lelaki itu.
__ADS_1
...----------------...