Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Pagi Ini


__ADS_3

Kamis pagi, hari ketiga Anara menginjakkan kaki di tanah Borneo. Matanya masih enggan untuk dibuka, tetapi sinar sang surya memaksa untuk melebarkan mata. Lagi pula ini bukan di kos, Anara tidak bisa leluasa bangun siang.


Badannya masih terasa lelah karena kemarin ia, Candra, dan Rati berkeliling kota. Menyusuri beberapa tempat dari bumi Manuntung dengan maskot beruang madunya.


Hari ini, mereka akan ke Pantai Kemala. Kata Rati, pantai ini masih asri karena belum banyak pengunjung berdatangan. Ahh, pasti bagus. Anara segera bangkit dari ranjang menuju kamar mandi, membasuh muka.


Langkah kakinya diarahkan ke dapur. Baginya, tak enak kalau menjadi tamu yang tinggal makan dan tidur. Setidaknya ia membantu menyiapkan sarapan agar tuan rumah tak merasa terlalu direpotkan.


Dilihatnya Abah Kayaat sedang menyesap kopi pagi ditemani koran. Khas priayi sekali kalau orang Jawa menyebutnya. Bedanya bukan dengan baju surjan, jarik, dan blangkon. Tetapi, dengan setelan celana, kemeja, dan jas rapi serta dasi yang mengalung di leher khas orang kantor.


Abah Kayaat menyadari langkah Anara. Dialihkan pandangannya dari koran kepada perempuan itu, bibirnya mengucap selamat pagi yang juga dibalas oleh Anara.


"Pagi juga, Bah."


"Kata Rati mau ke pantai ya?" Anara mengangguk dan tersenyum.


"Pantas, Bryan sudah nongol dari matahari belum terbit. Rupanya kalian mau jalan. Oke, yang penting hati-hati." Abah Kayaat melanjutkan rutinitas baca korannya.


Ha? Bryan? Kok bisa di sini? Bukannya dia sibuk skripsi di Malang?


Anara berbalik arah tak jadi ke dapur. Ia ingin menemui Candra, tetapi Rati yang lebih dulu ia lihat. Gadis berambut panjang dengan piyama warna dusty pink itu tersenyum manis melihat Anara.


"Pagi kak."


"Pagi juga, Rat. Eh, sebentar!"


Rat? Apa-apaan ini? Bahkan calon kakak ipar memanggilku Rat? Sungguh mama kenapa harus memberi nama Rati? Hiks 😪


"Iya kak?"


"Abah bilang, Bryan sudah di sini?"


"Iya, kak. Semalam Mas Bryan sampai sini. Katanya baru kelar konsultasi skripsi. Makanya baru pulang kemarin. Biasanya Mas Djata sama Mas Bryan kan pasti barengan."


"Oh gitu. Ke pantai ikut juga?" Rati menganggukkan kepalanya.


Nggak apa-apa sih malah rame. Tapi keinget kejadian malam itu, aku masih malu. Huh.


"Ya sudah. Ayuk!" Ajak Anara.


Anara dan Rati sudah berada di dapur. Ikut membantu menyiapkan menu sarapan yang hampir rampung. Kali ini porsi makanan lebih banyak. Jelas saja, ada satu perut lagi yang harus diisi, dialah Bryan.


Beberapa menu sudah tertata rapi di atas meja makan. Piring siap diisi makanan, gelas-gelas berisi jus melon sudah berbaris di sepanjang meja. Juga, satu water pitcher berisi dua liter air adalah satu hal wajib yang tak boleh terlewatkan.


"Ratii ... bentar lagi lulus doong." Ucap Bryan ketika Rati membawa nila goreng ke meja makan.


"Iya doong. Jadi mahasiswa bentar lagi." Senyum Rati merekah.


"Mau kuliah kemana?"


"Pengennya ke Jogja sih. Doain ya, Mas!" Bryan mengangguk.


"Wah ... jadi sepi dong rumah?" Mama Ira ikut bersuara setelah meletakkan orek tempe.


"Lagian mama bisa undang temen mama kan biar rumah nggak sepi? Mereka ketawanya kan woooow." Rati begidik ngeri.

__ADS_1


"Hahaha. Kamu ya? Memang bener, temen mama suaranya oktaf tinggi semua."


Abah Kayaat ikut berkomentar. Sedangkan Mama Ira hanya memutar mata malas.


"Perempuan begitu kalau udah ketemu sesamanya. Dalam rangka menghabiskan 20 ribu kata." Jelas Mama Ira dan membuat semua tertawa.


"Candra mana?" Tanya Bryan yang tak melihat sahabat karibnya.


"Oh iya. Rati ... bangunin masmu! Jam segini belum nongol juga. Pasti di kos juga begitu?" Titah Mama Ira sambil menatap Bryan seolah menanti yang ditatap berkata iya.


"Kadang tanteee." Ujar Bryan.


"Biar Kak Anara aja yang bangunin ya, Ma? Kalau aku, bisa-bisa Mas Djata malah ngedumel. Iya kalau ngedumel aja, ini pakai ditimpuk bantal segala."


"Ah kalian kerjaannya ribut melulu. Ya sudah, nggak apa-apa ya, Anara?" Pinta Sang Mama yang disambut anggukan Anara.


"Kamarnya paling ujung, Kak." jelas Rati.


Anara sudah mengetuk dua kali pintu kayu di depannya. Tak ada sahutan dari dalam. Ia putuskan menekan gagang pintu ke bawah, pintu terbuka. Tak dikunci rupanya.


Ragu-ragu ia langkahkan kaki ke dalam. Sebenarnya ini bukan kali pertamanya memasuki kamar kekasihnya itu, tetapi kali ini berbeda. Ini di rumah orang tua Candra. Hatinya gugup campur aduk.


Sesampainya di dekat ranjang. Matanya menemukan Candra masih pulas dalam tidurnya, wajah polos Candra ia pandangi lama hingga akhirnya ia keluarkan kata.


"Candra."


"Ndra. Bangun!"


"Candra. Ditungguin sarapan."


Teriak di dekat telinganya! Pasti bangun. Keterlaluan kalau dia nggak bangun.


Ketika wajah Anara mendekat pada telinga Candra. Seketika pula, mata elang milik Candra terbuka. Secepat kilat Anara menarik wajahnya menjauh.


"Sayaang. Kamu mau cium aku?" Candra mengerutkan dahi menyipitkan mata.


"Aku bangunin kamu."


"Ya udah, buruan."


"Apa?"


"Banguninnya."


"Kan udah bangun."


"Ya udah cium!"


"Banguun! Ditunggu semuanya, sarapan." Anara melangkah tapi tangan Candra berhasil menahannya.


"Candraa lepas!!"


"Kalau enggak?"


Gemar sekali lelaki ini menggoda Anara. Tangannya bahkan sudah menarik pinggang perempuan di depannya ke dalam dekapan. Candra memeluk Anara dari belakang.

__ADS_1


"Aku teriak."


"Teriak aja!"


Anara bingung sendiri. Menyesal dia mau menyetujui permintaan Mama Ira. Bisa saja ia mencium Candra, tapi tidak di sini. Tidak.


"Ayo! Tadi mau cium, kan?" Mata Candra sudah dibuat terpejam.


"Mau teriak di kuping kamu. Tidur udah kayak kebo. Susah bener dibangunin."


Anara meronta minta dilepaskan. Tetapi dekapan Candra lebih dikencangkan. Mencium lekuk leher dengan aroma khas mawar yang menyeruak dari rambut perempuannya.


"An, sekali aja."


"Ayo! Kita ditungguin sarapan. Nggak enak kalau kelamaan."


"Makanya sayaang. Kamu cium aku trus kita kesana. Udah beres kan?"


"Nggak."


Candra membalikkan tubuh Anara dengan cepat. Diciumnya bibir merah milik perempuannya sekilas. Wajah Anara jelas merona.


"Kelamaan nunggu kamu cium." Anara hanya menyungging senyum.


"Padahal mau juga kan?" Senyum smirk Candra terlihat begitu memesona dengan muka bantalnya.


"Aku keluar dulu! Kamu cuci muka trus sarapan!"


"Iya sayaang."


Anara keluar kamar dengan bunga-bunga bermekaran. Hatinya bahagia mendapat kecupan pagi ini. Begitupun Candra, senyumnya terus merekah bahkan hingga duduk hendak bergabung untuk sarapan.


Senyum Candra tak hilang, baru saja ia nekat mencium bibir Anara di kamarnya. Bukan kali pertama, tapi kali ini sensasinya berbeda. Ada bahagia sekaligus takut kalau tiba-tiba ada orang lain masuk ke kamarnya ketika ia memeluk Anara tadi.


"Kenapa lu woi? Senyum-senyum terus." Bryan dengan suara baritonnya sudah berkicau.


"Lu kok di sini?" Candra kaget melihat Bryan.


Bukannya playboy ini sedang kejar lulus tepat waktu? Kenapa bisa duduk di sini. Sarapan dengan kami?


"Elah, baru sadar lu? Senyum mulu sampai gue nggak kelihatan." Kini tatapan Bryan beralih ke Anara. Yang ditatap segera mengalihkan pandangan.


Dasar kalian!!!


"Sudah, sudah. Ayo kita mulai sarapan!" Suara Abah Kayaat menghentikan segala suara.


Setelah selesai berdoa. Masing-masing mereka fokus pada sarapannya. Hanya terkadang Candra mencuri lihat pada perempuan di depannya. Rati yang melihat tingkah kakaknya hanya menggelengkan kepala.


Elaaah jatuh cinta begitu amat Mas Djata.


Bryan pun seiya sekata,


Bener-bener ya, Anara Candra. Pasti abis ngapa-ngapain tadi di kamar. Minta dikawinin mereka. Eh jangan dulu ding!


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2