Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Sudah Tau?


__ADS_3

Enam bulan berlalu. Kehidupan mahasiswa semester akhir semakin menantang rasanya. Begitupun yang dirasakan Anara dan Hartik.


Tentu mereka akan segera merasakan bagaimana rasanya duduk berjam-jam di depan laptop? Keluar-masuk perpustakaan demi referensi tak terbantahkan, dan satu hal yang paling membuat telinga panas. Mereka akan dihantui oleh sebuah pertanyaan: Kapan lulus?


Kebiasaan baru setiap pagi bagi Anara, menerima telepon dari kekasihnya yang kini sudah resmi jadi pria pekerja. Candra diterima di salah satu perusahaan media massa di Kota Malang sebagai pewarta. Gajinya memang tak seberapa tinggi. Tapi, bukan itu intinya.


"Kamu hati-hati ya!" Kalimat wajib yang Anara berikan di akhir sesi telepon.


"Iya. Cepetan mandi! Semangat buat skripsinya. Segera lulus!"


Anara tersenyum. Ia teringat tempo hari Candra mengutarakan kembali maksud hatinya. Setelah Anara lulus, Candra akan datang ke rumahnya. Memintanya pada keluarga Anara.


"Iyaa."


Sambungan tertutup dan Candra seharian akan sibuk di lapangan. Mencari sesuatu hal yang menarik dan tentu bermanfaat untuk dapat dimuat di koran esok harinya. Lelaki itu menolak tawaran abahnya untuk masuk pada perusahaan yang sama. Dia belum ingin menjalin hubungan LDR dengan Anara.


Sungguh, cinta membutakan segalanya.


"Tik, udah ada judul?"


"Buntu aku, An."


"Ya ampun, sama."


"Gimana dong?"


"Kita ke perpus aja! Cari referensi!"


"Sekarang?"


"Tahun depan, Hartiiiik!! Kamu mau nambah semester? Mau UKT-mu naik sekian persen?"


"Iya, iya. Kita lets go sekarang!"


Udara pagi yang masih ramah membawa mereka ke perpustakaan kampus. Suasana masih lengang, hanya terdengar bunyi gemericik air dari air mancur di depan gedung penuh buku itu. Tempat pas untuk bersemedi membuat skripsi sekitar lima bulan ke depan.


"Kita ke bagian jurnal!" Ajak Anara kepada Hartik.


"Aku mau skripsi terjun ke lapangan aja, deh!"


"Aku bosen, Tik. Udah keseringan penelitian di lapangan. Mau kepustakaan aja."


"Tumbeeen. Biasanya paling suka keluar lihat dunia."


"Lagi pengen yang suuuuuper santai."


"Kenapa?"


"Nggak tau. Kok kayak kurang motivasi aku."


Anara menyenderkan tubuhnya pada kursi. Menghirup napas dalam-dalam. Sekejap memejamkan mata, menghapus rasa malas yang ada.


"Butuh liburan?"


"Ah. Ntar skripsiku nggak kelar-kelar."


"Pasti selesai! Kamu kan paling rajin."


"Nggak tau deh."


"Lama juga kan kamu nggak baca carrier?"


"Aduh, Tik. Iya betul kamu."


"Yaudah, agendakan!"


"Lagian sama siapa sih, Tik?"


"Candra?"


"Dia sekarang kerja. Nggak ada waktu banyak buat begituan."


"Kalau sama aku, nggak bisa berat-berat, An."


"Kemana?"


"Ke Batu aja. Asal penat ilang udah. Gimana?"


"Ya ampun. Makan ketan?"


"Ide bagus."


"Serius, Tik?" Baru juga minggu kemarin dia dengan Candra kesana.


"Iya."


"Itu kamu sebut liburan?"


"Bukan sih, sekedar hiburan aja." Jawab Hartik sambil nyengir kuda.

__ADS_1


Keduanya sibuk memilih, membuka, dan membaca beberapa jurnal, juga skripsi terdahulu sebagai sumber inspirasi.


"Kayaknya aku beneran ambil penelitian kepustakaan, Tik."


"Apa?"


"Pakai novelnya Maxim Gorky."


"Serius? Yang setebel bantal?" Anara mengangguk mantap.


"Aku doain kamu bacanya nggak males deh." Perkataan Hartik membuat Anara terkekeh.


Setelah matahari bergulir ke atas kepala. Keduanya baru sampai kembali di kos. Anara sudah mantap memilih objek penelitian. Pun Hartik juga demikian, akan mengambil data langsung ke lapangan.


"Tik, sekarang aja ya?" Tawar Anara setelah keduanya merampungkan makan malam ala anak kos. Satu bungkus nasi lalapan plus sambal.


"Oke, biar nggak kemaleman juga."


Keduanya sudah rapi, bersiap mengunjungi pos yang menjual kudapan ketan di Alun-Alun Batu. Siang tadi ide celetukan Hartik akhirnya jadi opsi untuk menghilangkan sedikit penat di awal semester akhir mereka.


Semoga skripsi kalian segera rampung ya! Biar kuliahnya nggak molor, telinganya juga nggak panas karena terus-terusan ditanyain 'kapan lulus?'


...----------------...


"Enak ya kalau kerja freelance. Bisa ngelayap kemana aja tetep dapet duit." Celetuk Rati mendapati sahabat kakaknya beneran datang menghampirinya ke kos.


"Kamu minat?"


"Boleh juga. Tapi duitku nggak banyak ntar." Rati terkekeh.


"Jadi kamu pikir uangku gak banyak?"


"Ya pasti banyaklah. Pewaris tunggal kok."


"Dasar cewek. Duiiit terus. Kemana ini?" Tanya Bryan yang sudah menggagahi motor yang ia sewa dari rental.


"Terserah Mas Bryan aja."


"Terserah teruuus. Kan kamu yang sering di sini. Aku nggak tau tempat enak."


"Mau ngopi apa gimana?"


"Nggak, lagi males kena kafein." Sambung Bryan.


"Ya udah ke Malioboro aja."


Rati memelototi Bryan, tapi dia tak mengacuhkan itu. Dalam beberapa menit selanjutnya, keduanya sudah berada di antara lautan manusia di Malioboro.


"Mas Bryan...."


"Hmmm."


"Freelance apa aja sih? Di story WA kayaknya cuma jalan-jalan doang di Surabaya."


"Mau tau banget?"


"Yaaa. Buruan mau kasih tau gaak?"


"Nulis, jadi content writer."


"Sama?"


"Leksikografer."


"Ha? Apa?"


"Lek-si-ko-gra-fer."


"Apaan tuh?"


"Udahlah. Nggak bakal ngerti kamu. Habisin es krimmu tuh! Keburu leleh."


"Orang belum jelasin juga." Rati menyendokkan es krim dengan kasar.


"Heh. Pelaaan! Keluar kandang jadi barbar banget."


Rati terkekeh mendapat hinaan jadi barbar. Memang dirinya akui, semenjak tinggal di Jogja. Kebiasaan makan dalam diam seperti yang selama ini abahnya ajarkan menguar begitu saja. Kakaknya juga begitu.


"Persis momong aku kalau jalan sama kamu. Nggak ada anggun-anggunnya kayak cewek lain."


"Nggak kayak Caroline?"


"Nggak ada nama lain?"


"Ya emang cuma dia kan mantanmu, Mas?" Membuat Bryan menggaruk tengkuknya.


Syukuuur Candra nggak pernah cerita ke Rati kalau sebelum Caroline ada Siska, Rika, dan sederet lainnya.


"Rat!"

__ADS_1


"Apaaa? Rati, Mas! Rati!" Lelah Rati mengoreksi itu semua.


"Calon kakak iparmu ...."


"Kak Anara? Kenapa?"


"Sudah tau tentang Anjani?"


"Nggak tau aku." Rati mengerdikkan bahunya.


"Nggak pernah dia nanya ke kamu?"


"Nggak tuh, Mas."


"Belum tau kali ya?"


"Lagian emangnya harus tau?"


"Nggak tau juga. Kalau pacarmu punya mantan yang wajahnya mirip kamu, trus udahannya itu karena si cewek meninggal. Perasaanmu gimana?" Bryan balik bertanya dengan analoginya.


"Hmmm ... gimana ya?" Rati nampak berpikir keras.


"Nggak bisa bayangin kan? Jombloo sih."


"Situ juga jomblo kali, nyadar! Kalau wajahku mirip dengan mantan si cowok. Kayaknya aku bakal ngira kalau dia macari aku cuma jadi pelampiasan."


"Nah, kamu ngerti maksudku, Rat-ti."


"Iya ya."


"Berarti kayaknya belum ngerti deh, Mas. Waduh!! Gawat lo ini."


"Kenapa?"


"Bisa-bisa aku batal punya calon kakak ipar dari Jawa."


"Ya ampuuun kek perempuan dari Jawa Anara doang."


"Aku udah cocok banget sama dia."


"Bukannya dulu paling nggak suka sama Anjani."


"Ini bedaaa."


"Apanya? Mirip gitu sekilas."


"Sifatnya enggak."


"Iya juga sih."


Keduanya kembali berjalan menyusuri setiap sudut Kota Jogja. Kadang Rati bercerita tiada hentinya tentang awal-awal pengalamannya di rantau. Katanya masakan orang Jogja itu manis, semanis dirinya.


Bener-bener cocok dia jadi adik Candra. Percaya dirinya sudah di atas level dewa.


"Mas Bryan di Jogja lama?"


"Lumayan. Sambil kerja."


"Tuh kan enak. Kerjanya aja sambil main."


"Kenapa?"


"Ya kalau lama kan enak. Aku berasa ada keluarga di sini. Apalagi bisa makan gratis."


"Mahasiswa sekali ya adik ini." Ledek Bryan.


"Hati-hati, Mas!"


"Oke." Motor matic yang dikendarai Bryan berlalu dari hadapan Rati.


Rati membuka ponsel yang terasa bergetar dari dalam sling bag merah miliknya. Ia menggeser logo telepon berwarna hijau, menyambungkan dengan seorang di sana.


"Kak Anara, tumben sekali."


"Aku baik-baik aja. Kakak apa kabar?"


"Di Jogja. Udah mulai aktif kuliahnya. Ada apa, Kak?"


Rati terdiam sekian lama, mendengarkan Anara berbicara. Sebentar kemudian kepalanya mengangguk paham.


"Kesini aja, Kak! Nginep di kosku!"


"Sendirian? Apa sama Mas Djata?"


"Oke, Kak. Ditunggu." Suara Rati terdengar antusias.


Rati memasukkan kembali ponselnya ke dalam sling bag. Pintu pagar dibuka dan tubuh Rati masuk ke dalam bangunan tiga lantai di sana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2