
Perjalanan Jogja-Malang menghabiskan waktu sekitar tujuh jam lamanya. Setengah empat sore kereta baru berhenti di Stasiun Kota Baru Malang. Udara khas Kota Arema kembali mereka hirup setelah empat hari keluar kota.
Bryan dan Caroline masih dalam mode silent. Entah apa namanya hubungan mereka sekarang? Putus atau terus? Yang pasti, Caroline sangat membenci lelaki pewaris tunggal perusahaan tongkang itu.
"Kalian lagi berantem?" Tanya Anara yang sedari kemarin memperhatikan gerak-gerik kedua sahabatnya.
"Enggak." Jawab Bryan menatap Caroline.
"Enggak berantem. Tapi, udah selesai. Tutup buku." Tukas Caroline cepat.
Anara dan Candra sontak saling menatap bergantian ke arah keduanya. Tentu mereka berdua terkejut. Kok bisa? Kenapa? Hanya itu pertanyaan yang muncul di kepala.
"Kalian mau tau alasannya?" Suara Caroline dibuat untuk menyindir lelaki yang telah tega mempermainkannya.
"Kenapa?"
"Dia ... menjadikanku pelarian."
Candra mengernyit mendengar pengakuan Caroline. Yang ia tahu Bryan memang jadian dengan Caroline tanpa sengaja, bukan untuk pelarian. Lalu, pelarian apa yang dimaksud perempuan berambut sebahu ini?
"Maksudnya?" Anara ikut penasaran maksud ucapan Caroline.
"Tanya aja, noh! Orangnya masih hidup."
Sekuat diri Caroline menggagahi dirinya. Ia tak ingin terlihat menyesal atau terlihat kehilangan dengan jujurnya Bryan. Justru dia harus membuktikan, tanpa Bryan dirinya bisa bahagia. Kegagalan hubungan mereka bukanlah sesuatu yang menyedihkan. Begitu pikir Caroline.
"Gimana Yan maksudnya? Kalian putus?"
"Iya, Ndra." Bryan tertunduk.
"Kenapa?" Anara ikut bertanya.
"Ada perempuan lain di hatinya." Jelas Caroline tak sabar menunggu pengakuan Bryan. Lalu, perempuan itu melenggang pergi.
Semua terdiam mendengar kalimat terakhir Caroline. Memang, di awal keduanya menjalin status. Bryan pernah bercerita pada Candra juga Anara bahwa lelaki itu tak menaruh rasa pada Caroline. Peresmian hubungan mereka murni kesalahpahaman, begitu setidaknya pengakuan dari Bryan.
"Jangan bilang itu adek gue!" Sergah Candra kepada Bryan.
"Nggak mungkin kan?" Sambung Candra lagi.
"Gue juga nggak akan ngrestuin kalau iya." Tegas Candra menatap Bryan yang hanya terdiam.
"Beneran parah lu." Celetuk Candra mengingat alasan kandasnya jalinan Bryan Caroline.
"Gimana lagi? Emang gue nggak cinta."
"Susah emang kalau kadal udah menjelma jadi buaya."
"Huss. Dengan gini. Caroline nggak makin merasa dibohongi." Tukas Anara dan membuat Bryan mengangguk merasa sikapnya tak salah.
"Beri tahu Rati kalau kita udah sampai Malang!" Pinta Anara.
Rati tak ikut serta kembali ke Malang. Gadis yang berkeyakinan akan lolos ujian masuk kampus itu memilih berkunjung ke rumah oma di Klaten. Sepulangnya dari seleksi kemarin Candra mengantarnya.
Menutup sambungan telepon dengan Rati. Taksi yang membawa mereka sudah menyibak jalanan kota. Membawa mereka bertiga kembali menapaki ruang-ruang yang akan dikenang nostalgia.
"Aku langsung ke kos. Lusa juga mau pulang ke Kediri."
__ADS_1
"Buru-buru banget. Ramadan masih satu minggu lagi."
"Iya. Aku udah kangeeen banget sama ibu, sama ayah." Anara membayangkan momen-momen merindukan di bulan Ramadan bersama keluarga di rumah.
"Kita pulkam kapan enaknya, Ndra?"
"Aku ikut ke Kediri ya?" Tanya Candra.
"Ngapain lu?"
"Ketemu calon mertua lah." Jawab Candra penuh percaya diri.
"Nggak usah deh!"
"Kenapa?"
"Ya lagian betul kata Bryan. Mau ngapain?"
"Udah dibilangin ketemu camer."
"Ntar aja kalau kamu udah lulus. Udah kerja."
"Kenapa begitu?"
"Yaa. Aneh aja, lagian mau ngapain sekarang? Yang ada jadi omongan tetangga malah."
Lingkungan hidup Anara memang sarat dengan tetangga yang suka klesak-klesik jika ada sesuatu yang terbilang tak biasa bagi mereka. Apalagi Candra ingin ke Kediri. Tak mungkin sehari pulang. Pasti menginap. Bisa-bisa ia dan keluarga dijadikan bahan omongan.
Hufh ... Terdengar Candra membuang napas kasar.
...----------------...
"Bakalan lebih lama, Yan."
"Udah sih lu nikmatin aja!"
"Nikmatin, nikmatin! Elu enak ada temen ngobrol. La gue?"
Bryan memandang kembali penumpang di sampingnya. Seorang wanita paruh baya yang sedang tertidur pulas dalam posisi duduknya. Mulutnya sedikit menganga.
"Suruh siapa lu ikut?" Pertanyaan retoris Candra membuat Bryan mengembus napas keras-keras.
Akhirnya Bryan ikut terlelap menyusul wanita paruh baya di sampingnya. Pada kedua telinganya tergantung headset yang mengalunkan nada-nada indah penuh irama. Mengantarnya menuju dunia mimpi.
"Yan ... Bryan. Woi! Bangun!"
Mata cokelat milik Bryan terbuka. Menampakkan raut sahabat karibnya yang tangannya sedang mengguncang lengan kekarnya.
"Apa?" Bryan mengucek mata.
"Udah sampai. Turun nggak lu?"
Tanpa ditanya lagi. Bryan sudah bangkit dari duduknya. Mengikuti langkah Candra dan Anara. Ditatapnya kursi kosong di sebelah. Wanita paruh baya tadi sudah tak ada. Sudah turun ketika ia terlelap mungkin.
"Masih jauh, An?"
"Enggak. Setengah jam-an lagi, Ndra."
__ADS_1
"Naik apa nih kita?" Suara Bryan di sela ia menguap.
"Tunggu yang jemput!"
Sekitar 20 menit mereka terlantar di emperan toko kelontong. Sebuah mobil berhenti di seberang jalan. Seorang laki-laki dengan kaus hitam slim fit berpadu celana ¾ warna krem menyeberang dan berjalan ke arah ketiganya.
"Swari." Sapa lelaki itu.
"Eh udah dateng?"
"Yuk! Mobilnya di sana." Lelaki itu menunjuk mobil di seberang jalan.
Hah? Siapa dia? Swari? Lelaki mana lagi ini sainganku. Tapi kenapa mirip?
Sama halnya dengan Candra. Bryan mengerdikkan bahu ketika Candra menatap ke arahnya seolah mempertanyakan siapa lelaki yang tengah mengemudi ini.
"Kapan pulang dari Bandung?" Suara Anara memecah keheningan.
"Lusa."
"Oh." Anara mengangguk.
"Langsung pulang?" Tanya lelaki itu dari pantulan spion, menatap satu persatu penumpang di jok belakang.
"Iya. Aku sudah laper sekalii. Kangen masakan ibuk." Lelaki itu mengangguk setuju.
Siapa sih dia? Sok cool banget lagi.
"Oh iya ya ampun. Lupa kenalin ini adikku. Swara." Anara tersadar jika sedari tadi belum memperkenalkan dua pengawalnya sedari Malang tadi.
"Swara."
"Gue Bryan. Dan lelaki berjambang di sampingku. Namanya Candra." Lelaki bernama Swara itu tersenyum.
Oh ... Jadi Anara ni punya saudara kembar. Nggak nyangka.
Bryan masih menatap Anara dan Swara bergantian. Tapi ... sebentar. Swari? Nggak asing menurutnya. Swara dan Swari ... haha senangnya kalau ia juga punya saudara seumuran begitu. Apalagi beda gender. Pasti seru. Bisa diajak jalan ketika jomblo begini.
Tanpa sadar Bryan tersenyum bahagia. Membayangkan khayalannya menjadi nyata. Hingga sebuah tepukan menyadarkan lamunan.
"Turun, Yan!"
"Eh, udah sampai, An?" Anara mengangguk.
"Senyum-senyum. Bayangin apa hayoooo?"
"Enggak, bayangin kalau punya saudara kembar aja. Seru pasti."
"Seru apaan? Lu sih nggak ngrasain punya saudara rese macem Rati. Lu bayanginnya saudara lu yang kalem-kalem aja sih. Makanya bisa senyum-senyum gitu." Gerutu Candra.
"Itu sih karena elu yang terus-terusan panggil dia 'Rat'. Makanya dia jadi rese ke lu. Ke gue enggak tuh." Tukas Bryan.
"Eh lu amnesia? Siapa yang paling gencar ngatain lu jomblo? Haha."
"Udah ... udah. Masuk!" Titah Anara menghentikan percekcokkan dua karibnya itu.
...----------------...
__ADS_1