Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Kebiasaan Tetangga


__ADS_3

"Asalamualaikum ...." Ujar Anara memasuki rumah dengan cat berwarna putih dan desain pintu kupu tarung yang sengaja dibiarkan terbuka.


"Waalaikumussalam." Sahut suara wanita dari dalam diiringi derap kaki melangkah.


"Swari!" Sapa wanita berjilbab yang bisa dipastikan itu adalah ibu Anara dan Swara. Parasnya mirip.


Kedua ibu-anak itu saling melepas rindu, berpelukan. Sementara Swara mempersilahkan Candra dan Bryan untuk memasuki ruang tamu.


Udara di rumah Anara sejuk dengan tingkat kebisingan yang hampir tak ada. Pohon-pohon berdiri dengan kokoh memberi oksigen lebih pada manusia di sekitarnya. Definisi keindahan hidup di desa.


"Oh ya, Buk. Kenalin ini temen Swari yang kemarin Swari bilang!" Anara melepaskan pelukan sang ibu dan berjalan menuju dua sahabat yang sudah lebih dulu duduk di sofa.


"Bryan, tante."


"Saya Candra." Keduanya mengulurkan tangan, disambut hangat oleh pemilik rumah.


"Panggil saya Tante Eka!" Wanita dengan jilbab hitam itu tersenyum.


"Iya tante." Jawab keduanya serempak.


"Gimana perjalanannya tadi, Nak?"


"Lumayan cepet tante. Seru juga." Ujar Candra.


Seru buat lu. Buat gue kagak Candraaaa. Lu nggak inget gimana ngoroknya ibu-ibu sebelah gue tadi?


Bryan ikut mengangguki jawaban Candra. Meski kenyataan yang ia rasakan berbeda. Tetapi, semua terasa terbayarkan ketika kedatangannya disuguhi pemandangan khas desa yang asri.


"Sejuk ya, An." Tutur Bryan meluruskan netranya keluar melihat masih banyaknya pohon berjejeran. Candra pun melakukan hal serupa.


"Iya. Nggak pernah ke desa ya kalian?" Sambung Anara terkekeh.


Kedua lelaki itu pun ikut tersenyum nyengir. Memang keduanya hampir tak pernah menginjakkan kaki ke desa. Bahkan untuk Bryan, ini kali pertama lelaki itu ke desa.


"Swari, buatkan minum temennya dong!" Anara undur diri ke dapur melaksanakan titah sang ibu.


Setelah menyesap teh dan sedikit melepas lelah. Tante Eka menunjukkan kamar tamu kepada keduanya. Tempat mereka akan menghabiskan beberapa hari di kampung Anara.


...----------------...


Selepas magrib, para tamu dan tuan rumah sudah berkumpul di meja makan. Di sana ada ayah Anara, Bapak Nyoto. Beliau baru pulang kerja menjelang magrib tadi.


"Asli mana?" Tanya Pak Nyoto setelah makan malam selesai.


"Kami dari Kalimantan, Pak." Jawab Candra.


"Jauh juga." Sahut Swara yang juga berada di ruang tamu.


Mereka saling mengobrol hingga larut. Empat gelas kopi beserta satu piring gorengan menjadi teman saling bersuara. Di luar suara jangkrik kadang ikut bersahutan. Suasana malam sepi khas pedesaan.


Ternyata Swara adalah mahasiswa di ITB Bandung menginjak semester 6, sama seperti Anara. Sedang Pak Nyoto adalah Wakil Direktur Teknologi Informasi di PT. Gudang Gula Kediri.


Anara dan sang ibu memilih mengisi malam ini dengan saling bercerita. Setelah membersihkan peralatan makan malam dan menatanya kembali rapi di rak. Keduanya duduk di atas ranjang kamar Anara yang tetap bersih meski si empunya jarang pulang.


"Mereka siapa, Swari?"


"Temen buk."


"Nggak mungkin kalau temen sampai ikut pulang."


Kata hati seorang ibu memang tidak pernah keliru. Mata batinnya bahkan lebih tajam dari mata pisau.


"Siapa, Swari?"


"Temen deket, Buk."

__ADS_1


"Keduanya?" Sang ibu mengernyit tak percaya.


"Dua-duanya memang temen deket."


"Yang paling deket?" Anara hanya tersenyum merespon pertanyaan ibunya.


"Yang be-re-wok apa yang matanya cokelat?" Anara mengangkat wajah menatap ibunya.


"Ya Allah. Ibuuuuu ngamati ya?"


Sang ibu terkekeh. Jelas dia mengamati, dia mesti tau lelaki yang mana yang selama ini dekat dengan putrinya.


"Ayo dijawab!" Melihat Anara tersipu sang ibu semakin tak sabar.


"Yang brewok buu. Astaga, padahal nggak brewok-brewok banget lo, Buk."


"Ibu kira yang matanya cokelat. Ada bule-bulenya."


"Hah? Masa sih? Enggak deh." Tukas Anara.


"Iya, hidungnya mancung. Biar cucu-cucu ibu nanti kayak bule." Suara sang ibu terkikik.


"Astaghfirullah ibuu. Mikirnya udah jauh banget."


"Emang nggak buat serius?"


"Ya ... ya serius sih buk. Emang ibu setuju?"


"Hmm ... gimana ya?"


"Tuuuh kan. Ibunya Swara nih suka gitu."


"Oh ya, Swara mau magang di Jogja lo." Anara menoleh kepada ibunya.


Diraihnya ponsel yang masih berada di dalam tas sejak sampai rumah tadi. Tak terasa percakapannya dengan sang ibu hingga selarut ini. Dibukanya aplikasi WA yang sudah menampilkan logo pesan masuk di sisi kiri atas ponselnya.


Selamat malam Swari-ku. Istirahat yang nyenyak! Sampai jumpa besok.


Anara geli sendiri membaca pesan dari Candra. Sapaan akrab itu biasanya hanya berlaku di keluarga. Tetapi kali ini lelaki brewok di ruang sebelah ikut-ikutan menyapa dengan nama serupa kembarannya.


Malam juga brewokku. Jangan begadang! Cepet tidur!


Kok brewokku?


Ibu yang menyebutnya begitu.


Candra tergelak tawa mendapati pesan Anara barusan. Tawa renyahnya tentu mengganggu Bryan yang berada di sebelahnya.


"Lu apa-apaan sih, Ndra? Berisik tau." Gerutu Bryan.


"Gue dipanggil brewok sama calon ibu mertua." Candra tertawa lagi.


"Yang dipanggil ganteng pasti gue lah." Timpal Bryan dengan percaya diri.


"Halah. Kadal. Tidur sono!"


"Bener-bener nggak sopan lu ma gue, Ndra!"


Keduanya pun terlelap, tenangnya suasana malam desa membawa Candra dan Bryan semakin lelap dalam alam mimpi.


...----------------...


Melihat dua lelaki asing sedang berada di halaman depan, membuat beberapa tetangga Pak Nyoto memandang penuh tanya. Seperti Bu Endah yang sedang berbelanja sayur pagi ini.


"Bu, ibuuuu. Di rumah Bu Eka, ada dua laki-laki asing lo. Siapa ya kira-kira?" Kebiasaan Bu Endah setiap berbelanja. Menjadi pembawa berita, gosip, dan informasi terhangat seputar tetangga.

__ADS_1


"Teman Swara kali, Buu." Sahut seorang wanita berdaster merah.


"Iya. Kemarin turun dari mobil bareng Swara sama Swari." Sambung ibu muda sambil memilih kangkung.


"Ah, tapi Swara pulangnya kan udah lusa. Kalau dua lelaki yang Bu Endah maksud datangnya kemarin. Berarti teman Swari dong." Wanita paruh baya dengan gelang di tangan kanan-kirinya ikut memberikan pendapatnya.


"Duuuh. Ibu-ibu ini. Setiiiap pagi ada aja bahasannya. Ayo yang mana yang mau dibeli? Keburu siang saya ngidernya." Tukas Mang Slamet cepat.


Dengan menenteng satu kantong kresek berisi cabai dan tomat. Wanita berdaster merah berbelok ke rumah Bu Eka sebelum pulang. Ia selaku ibu RT harus memastikan siapa tamu warganya.


"Asalamualaikuuum." Suaranya mengalihkan fokus Anara yang sedang turut serta di dapur membantu sang ibu.


"Waalaikumussalam." Jawab Pak Nyoto sudah menenteng tas kerja.


"Pak Nyoto mau berangkat kerja?"


"Iya Bu Hadi."


"Bu Eka ada bu?"


"Di belakang. Menyiapkan sarapan. Sebentar!"


Pak Nyoto meletakkan tasnya di teras depan. Setelah mempersilahkan Bu Hadi duduk. Pak Nyoto masuk lagi ke dalam memanggil istrinya.


"Bu Hadi. Baru belanja?" Sapa Bu Eka.


"Iya buu. Belum mateng?" Balas Bu Hadi.


"Sudah bu. Di bantu Swari tadi."


"Itu bu. Tadi saya dengar dari Bu Endah ada tamu ya di sini?" Bu Eka mengangguk mengerti kemana arah tujuan bicara Bu Hadi.


"Oh ... iya bu. Temennya anak saya." Jelas Bu Eka.


"Temen saya Bu RT." Tukas Swara yang baru muncul dari pintu dan menghampiri Candra serta Bryan yang sedang berada di halaman.


Keduanya sedang melihat sekitar. Menghirup udara sejuk dan segar pedesaan. Benar-benar liburan mereka berdua.


"Sarapan dulu!" Ujar Swara kepada dua teman saudara kembarnya.


"Oke. Sebentar lagi."


Candra kembali menghirup udara dalam-dalam setelah menyahut ajakan Swara. Sesaat kemudian keduanya beriringan memasuki rumah. Mengangguk sebentar pada Bu Hadi yang dibalas senyuman.


"Tunggu ibu sebentar! Masih ada Bu Hadi di depan." Tutur Pak Nyoto diangguki seluruh penghuni meja makan.


"Di desa itu sudah maklum kalau ada tamu menginap pasti mengundang rasa penarasan tetangga." Ujar Swara.


Candra dan Bryan tentu paham apa yang dimaksud Swara. Pasti berkaitan dengan seorang ibu berdaster merah di depan. Keduanya pun mengangguk memahaminya.


"Kenapa?" Tanya Anara.


"Enggak, Bu RT di depan nanyain apa ada tamu di sini." Anara mengangguk bibirnya membentuk huruf O.


Tak lama Bu Eka muncul. Menandakan sarapan akan segera dimulai. Aroma harum dari lodho ayam siap mengisi perut pagi ini.


"Gimana buk?" Tanya Anara.


"Bereeees." Jawab Sang ibu menyatukan ibu jari dan telunjuk.


"Ya sudah. Kita sarapan!" Suara Pak Nyoto memberi instruksi.


Suara hening.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2