Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Bantu Aku Lupakan Candra! (Ending)


__ADS_3

Persis seperti yang Bryan katakan. Anara pun akhirnya membulatkan tekat untuk menghadiri undangan yang Caroline berikan. Ia benar-benar akan mendatangi hajat mantannya tersebut.


Tentunya dengan Bryan. Karena laki-laki itu sudah berjanji kepadanya.


Dalam balutan dress hitam seukuran di bawah lutut, Anara mulai memoles dirinya dengan riasan natural. Bibirnya disapu dengan lipstik berwarna nude yang kian membuatnya tampak segar.


"Kamu yakin, An?" Pertanyaan tersebut terucap dari Hartik. Sahabatnya yang kini tengah menungguinya berdandan.


Dengan mantap, Anara pun menganggukkan kepalanya. Ya, ia sama sekali tidak meragu. Dengan mendatangi undangan tersebut, maka Candra pun akan tahu jika dirinya tidak apa-apa.


"Kalau itu mau kamu, semoga tegar aja wis!" tutur Hartik. Sahabat Anara itu justru yang terlihat was-was. Padahal, sungguh! Anara tidak mengapa.


Mungkin jalan hidupnya memang demikian adanya.


"Ya udah, aku ke depan dulu ya, Tik! Nggak enak kalau nanti Bryan datang harus nunggu aku." Anara yang sudah menyelesaikan kegiatan memoles wajahnya itu pun mulai beringsut dan meraih sebuah clutch berwarna senada.


Hartik menganggukkan kepalanya dan memeluk Anara beberapa saat lamanya. Tahu apa yang sedang dikhawatirkan oleh sahabatnya, Anara kembali meyakinkan Hartik jika dirinya baik-baik saja.


"Jangan nungguin aku balik! Kamu tidur yang nyenyak!" pungkas Anara dengan senyuman melebar. Hartik memutar bola matanya malas.


Tap, tap, tap!


High heels berukuran tujuh senti yang mempercantik kakinya sudah mulai menapaki anakan tangga. Heeeh! Berkali-kali Anara mengembuskan napasnya panjang. Berharap segala persakitan dalam hatinya menguar ke udara dengan segera.


Ia memutuskan untuk duduk di bangku yang berada di teras. Sebentar lagi Bryan pasti akan datang. Anara mulai merasa suhu tubuhnya tak menentu demi akan menghadiri acara yang sebenarnya tak ia kehendaki itu.


Ciit!


Suara mesin mobil baru saja berhenti. Anara melongokkan kepalanya. Sesuai dugaan ... Yang baru saja datang adalah mobil Bryan. Tak berselang lama, laki-laki itu keluar dengan setelan jas berwarna hitam legam. Senada dengan dress yang Anara gunakan.


Satu lagi. Anara akui, malam itu aura Bryan seakan luber ke mana-mana. Rapi sekaligus tampan. Ah, playboy itu bukan playboy kaleng-kaleng memang.


Berdiri di hadapan Anara beberapa saat, Bryan bergeming sekian lama. Laki-laki itu hanya melayangkan tatapan menelanjangi Anara dari ujung rambut hingga kakinya.


"Kenapa?" Kening Anara terasa mengernyit menatap balik ke arah Bryan.


Bryan pun segera menggelengkan kepalanya. "Nggak kenapa-kenapa. Selalu cantik. Terlalu cantik!"


GOMBAL!


Mana bisa kalimat yang keluar dari bibir Bryan bisa ia percaya!


"Kamu pasti bilang begini juga ke hampir semua perempuan!" balas Anara mengangkat kakinya dan mulai melangkah. Melewati diri Bryan yang tersenyum-senyum sesaat mendengar celetukannya barusan.


Mobil yang mereka tumpangi sudah melaju membelah keramaian Kota Malang. Langit yang mengungu, lampu-lampu yang menyala terang-temaram di setiap 10 meternya, juga raungan mesin-mesin kendaraan di ruas jalan. Semuanya sibuk dengan aktivitas pribadi.


Pun halnya Anara, tangannya sedari tadi disatukan. Entah apa yang ia rapal dalam diam. Yang jelas, sepanjang perjalanan menuju ke gedung tempat Candra dan Caroline melangsungkan pesta pernikahan, Anara dan Bryan lebih banyak diam.

__ADS_1


Gedung yang terlihat menawan dengan sinar lampu di sana-sini itu pun kini sudah ada di depan mata. Bryan memarkirkan mobilnya di area yang telah tersedia. Jantung hati Anara kian berdegup kencang.


Sialan!


Berakting untuk tetap tegar nyatanya adalah sebuah kesulitan. Tubuh Anara kian menggigil. Dan di saat itulah, sentuhan jari Bryan terasa menghangatkan sedikit saja dari kebekuan hatinya.


"Jangan grogi! Ada aku." Kalimat yang terdengar begitu so sweet.


"Aku deg-degan, Yan." Kembali Anata menuturkan apa yang ia rasakan. Bahkan kali ini, wajahnya terlihat pucat pasi.


Sekonyong-konyong, Bryan melepaskan seatbelt-nya dan memajukan tubuh meraih Anara. Memberikan pelukan hangat yang ajaibnya bisa membawa hati Anara sedikit tertolong.


Menggapai ketenangan.


"Kamu pasti bisa!" ujar Bryan dengan keyakinan penuh. Laki-laki itu tersenyum menawan.


Keduanya lantas turun dari mobil dan berjalan tegap lurus menuju ke arah pintu utama gedung. Urusan menuliskan nama di buku tamu, sudah Bryan handle. Laki-laki itu begitu sigap nun pengertian.


"Yan!" Persis ketika kaki mereka hendak memasuki gedung, Anara menahan langkah Bryan. Matanya menatap ragu.


Bryan yang maha cool itu hanya mengusap-usap punggung tangan Anara. Tersenyum dan terus memberikan ketenangan. Lantas, keduanya benar-benar masuk dan tenggelam dalam keramaian di dalamnya.


Tak muluk-muluk, dengan segera Bryan pun menggiring Anara untuk melangkah maju. Mendekat ke arah panggung di mana mempelai duduk bersanding di sana.


Melangkahkan kaki mendekat ke posisi Candra dan Caroline, Anara kian mengeratkan pegangannya ke gamitan lengan Bryan. Astaga! Ia sungguh butuh tangan, bahu, dan juga pelukan.


"Selamat buat kalian!" Kalimat itu dituturkan oleh Bryan. Tangannya bergantian menjabat Candra dan Caroline. Anara pun menyusul adegan serupa. Menjabat tangan Candra.


Satu detik, dua detik. Jabatan dari Candra terasa begitu erat. Sialnya, kala Anara melayangkan tatapan ke manik mata laki-laki itu. Candra terlihat menatapnya dengan mata yang amat sayu dan tertutup kabut sesal.


Tak ingin terbawa suasana, Anara segera menarik tangannya dan menjabat tangan Caroline untuk sementara waktu. Kedua pasangan suami-istri itu tampak dingin dan datar satu sama lain. Entahlah! Anara tak mau terlalu banyak menilai.


Beruntungnya, Bryan pun segera menarik tubuhnya untuk meninggalkan panggung pelaminan setelah kembali mendoakan kedua pasangan pengantin baru.


"Kamu mau di sini dulu? Atau pulang?" tanya Bryan kala langkah mereka menjauh dari panggung.


Punggung Anara terasa dingin ditusuk oleh tatapan dari arah panggung. Merasa ada yang tetap menatap, kepalanya meneleng sebentar. Benar saja, Candra masih menatap kepergiannya.


Bye, Candra! Semoga kita bahagia di jalan masing-masing!


Namun, kala Anara dan Bryan hampir saja keluar gedung. Tiba-tiba suara orang berlari bak pacuan kuda terdengar. Sret! Baik Anara maupun Bryan kini menengokkan kepala.


Deg!


Candra sudah ada di sana. Menahan langkah Anara. Demi tak ingin menimbulkan kesan salah paham, Anara pun segera melepas sentuhan tangan Candra.


"Jangan aneh-aneh, Candra! Ini pesta pernikahanmu. Di sana, ada istrimu." Anara memperingatkan.

__ADS_1


"Tapi, An. Aku ... ."


"Lupain aku! Kisah kita udah tutup buku, Candra! Kamu sendiri yang memilih ini semua." Anara mengakhiri kalimatnya dan menarik Bryan untuk mereka segera keluar.


Di dalam mobil, sepanjang perjalanan meninggalkan pesta, Anara tak henti-hentinyan berlinang air mata.


"An!"


"Tolong, Bryan! Biarin aku begini dulu!" pinta Anara menyeka permukaan wajahnya dengan kasar.


Sialan!!


Untuk apa pula ia menangis? Candra telah memilih akhir kisah mereka. Tak seharusnya Anara begitu lemah. Tapi, perasaannya pun tak bisa dibohongi begitu saja.


Hingga tiba-tiba, mobil sudah Bryan hentikan. Menepi ke pinggir jalan. Laki-laki di sebelah Anara itu menatapnya lekat dan dalam. "Please, An! Jangan begini! Jangan berlarut-larut!"


Anara hanya bisa menggamit bibirnya sendiri. Melupakan semua tentang Candra tentu bukan perkara gampang. Kenangan yang mereka ukir selama ini tentu tak dengan sekejap mata bisa hilang.


Namun, hidup pun akan terus berjalan.


"Aku sayang sama kamu! Jangan begini!" ungkap Bryan. Kembali laki-laki itu memeluk tubuh Anara.


Menjadi sandaran dari luka yang gadis itu rasakan. Tangannya terus mengelus punggung dan juga mengusap lembut rambut Anara. Berulang-ulang.


Hiks! Hiks!


Terdengar Anara masih sesenggukan meski tangisannya telah reda. Pelukan dari Bryan kian mengerat mendatangkan hangat.


Cup!


Keningnya pun merasai hangat yang mesra sebab dicium oleh Bryan. Anara sama sekali tak memprotes ciuman di keningnya. Tangannya kian mengerat memeluk Bryan.


"Bantu aku lupain Candra, Yan!" tuturnya memohon.


"As you wish, Anara!" Bryan kembali membelai rambutnya. Berusaha menenangkannya.


SELESAI


*****


Note: Novel "Langkah Bersambung" selesai, ya! Terima kasih untuk yang setia menunggu.


Kalau ditanya apakah bakalan ada sekuelnya. Mungkin ada tapi belum tahu kapan. Simak info di IG-ku! @lisnaasaarii


TERIMA KASIH BUAT SEMUA.


SEHAT SELALU!

__ADS_1


L I S N A. ❤️


__ADS_2