
Candra melajukan mobilnya kencang menuju kos Anara. Seusai menyerahkan naskah berita tadi, ia menerima telepon dari kekasihnya untuk datang.
"Jemput ya!"
"Iya. Mau kemana memang?"
"Kangen aja."
"Ya ampuuun membangunkan singa ceritanya?"
"Iyaa. Haha. Udah aku tutup. Mandi dulu." Panggilan berakhir.
Brio putih milik Candra sudah terparkir di halaman kos. Ia sedang menanti kekasihnya keluar. Disemprotkannya beberapa kali parfum aroma woody untuk membuatnya percaya diri. Jelas belum mandi. Pulang kerja Candra langsung menepati janjinya.
Tok ... tok ...
Ketukan jari Anara pada kaca mobil membuat Candra tersenyum. Perempuan yang sudah hampir satu minggu tidak ia pandangi itu kini ada di hadapan. Segera Candra membuka pintu sebelah.
"Ada yang beda." Ujar Candra menatap bibir Anara yang berwarna nude kecokelatan.
"Apa cobaaaa?" Tanya Anara.
"Kamu pakai lipstik?"
"Kenapa? Jelek?"
"Pas kamu wisuda aku juga pakai, kan? Kenapa diam gitu?" Sambung Anara membenarkan posisi duduk setelah memasang seatbelt.
"Cantiiik. Tapi ntar kalau aku mau, itu lipstik pindah ke aku."
"Enggak. Ini matte. Nggak akan luntur." Jelas Anara.
"Bisa gitu?"
"Bisa."
"Aku coba ya!"
Candra meraih tengkuk Anara dan menyatukan bibir mereka. Ciuman lembut yang membawa keduanya semakin dalam menikmati. Aroma woody yang perlahan tercium dari Candra membuat Anara belum ingin melepas pertautan mereka.
Lidah Candra kembali menjelajahi ruang yang satu minggu ini tak ia masuki. Membelit lidah Anara di sana. Pertukaran saliva terjadi seiring cecapan demi cecapan yang tercipta.
Candra melepas perlahan ciumannya. Mengizinkan perempuannya untuk menghirup udara lagi. Ibu jarinya mengusap bibir Anara yang basah karena ciuman barusan.
"Bener nggak ilang, An." Ujar Candra.
Kembali Candra meraup wajah Anara dan membenamkan lidahnya di mulut kekasihnya. Menyesapi lidah Anara dengan sedikit kasar. Tangannya sudah menangkup satu benda kembar yang terhalang blouse.
Anara membalas setiap perlakuan Candra dengan imbang. Bibirnya digerakkan untuk menggigit kecil bibir bawah Candra. Membuat lelaki di depannya semakin liar menciumi dan menyentuh dadanya.
"Can-ndra!" Ujar Anara melepas paksa pertautan bibir mereka. Candra mengernyit penuh tanya.
"Ayuk!"
"Kemana sayang? Katanya kangen. Ini kita lagi kangen-kangenan."
"Nggak di sini juga."
"Ya udah kita ke rumah ya?" Anara mengangguki tawaran Candra.
Mobil yang mereka tumpangi kini sudah keluar gang menuju jalan besar. Ikut andil menambah kemacetan jalan di weekend ini. Suara merdu Adera melantunkan Lebih Indah dari audio mobil mengalun syahdu menghangatkan suasana.
"Beli bakso dulu ya! Pengen banget aku." Pinta Anara.
"Kamu ngidam? Aku belum menuai benih padahal." Goda Candra.
"Astaga mulutmu, Candra!" Tangan Anara mencubit pinggang Candra hingga lelaki itu mengaduh.
"Iya. Iya. Sakit tau."
__ADS_1
"Gitu doang sakit?" Ledek Anara.
Dia lupa siapa yang nangis kesakitan pas aku mau menafkahi kebutuhan batinnya?
Candra fokus memandangi perempuan di depannya yang semakin hari semakin menarik baginya. Anara mengangkat sedikit dagunya mempertanyakan tatapan Candra yang tak lepas darinya.
"Enggak. Kamu makin cantik." Candra meraih tangan Anara dan menautkan jemarinya.
"Makasih. Aku yang traktir bakso karena kamu memujiku." Balas Anara terkekeh.
"Itu doang? Nyesel aku muji."
"Kenapa?"
"Sekalian minumnya dong! Biar nggak kesedak." Balas Candra menyeringai.
"Pasti kalau itu. Es jerukmu tadi aku juga yang bayar."
"Aku maunya minuman yang lain."
"Apa?"
"Susu." Candra tersenyum.
"Nggak ada di sini. Adanya teh sama jeruk doang. Teh mau?"
"Dibilang susu kenapa ditawarin teh segala sih?"
"Kan nggak ada."
"Ada. Ini." Ujar Candra meremas sebentar benda favoritnya.
"Candra! Nggak sopan tau." Kesal Anara melepas pertautan tangan mereka.
"Kamu sih nggak peka."
"Pokoknya nanti aku mau langsung dari tempatnya." Ujar Candra lagi.
Tak lama, seorang pramusaji datang membawa dua mangkuk berisi bakso dengan kuah yang masih mengepul. Dua gelas es jeruk juga sudah bertengger di meja mereka. Anara menelan ludahnya memperhatikan bakso di depannya.
"Hmmm. Aromanya enak banget." Ucap Anara sembari menuang printilan yang membuat baksonya lebih berwarna.
"Pelan-pelan, Aaaaan!" Candra mengingatkan Anara yang menyendok bakso dengan semangatnya.
"Kenapa bisa seenak ini ya?"
"Ya ampuuun. Perasaan biasa aja deh." Tukas Candra.
"Aku pengen berhenti kerja tepat ketika kamu lulus nanti."
Uhuk ... uhuk ... uhuk
Candra segera menyodorkan gelas membantu Anara meredakan panas akibat tersedak barusan. Perempuan itu meneguk minuman hingga hampir tandas. Wajahnya seketika merah.
"Ati-ati, An. Pelan!"
"Kamu ngagetin. Kenapa juga berhenti?"
"Aku mau kita hidup di Kalimantan."
"Ya ampun. Belum-belum udah berencana segitu jauhnya." Ujar Anara mengunyah bakso terakhirnya.
"Kalau kamu nggak kerja. Terus aku kamu kasih makan apa?"
"Makan cinta aja nggak cukup?" Goda Candra.
"Mana kenyang Candra. Lemes iya."
Aku udah rencanain semua matang-matang, An. Tabunganku selama kerja ini dibuat modal usaha dulu. Kalau belum cukup, biar abah yang bertindak.
__ADS_1
"Nggak akan kamu kelaparan. Nurut aja!"
"Terserah kamu. Habisin baksomu! Kasihan uangku kalau kamu makannya sisa gitu."
"Siap, Nyonya Djata." Candra menghabiskan baksonya dan meneguk es jeruk hingga tinggal es batu di sana.
Hari sudah gelap ketika mobil Candra memasuki kawasan Kusuma Estate. Seperti biasa, perumahan yang mayoritas pemiliknya adalah pegawai dan owner bisnis menengah itu sepi bak tanpa kehidupan. Hanya terlihat pemandangan mobil yang terparkir di garasi masing-masing.
Lelah kerjaa semuanya.
"Sepi ya sekarang." Ujar Anara memasuki halaman rumah bergaya industrial itu.
"Dari dulu juga sepi, An."
"Waktu ada Bryan kan lumayan rame."
"Iya. Kangen juga sama dia."
"Kan, baru kerasa pas orangnya nggak ada." Cibir Anara.
"Masuk! Aku mau nagih janji traktir minum tadi." Candra mendorong pelan tubuh Anara untuk masuk rumah.
"Astagaaa."
Dengan sekali bimbingan. Anara sudah duduk setengah terbaring di sofa. Di atasnya Candra mengungkung tubuhnya. Bibir keduanya saling bertaut kembali.
Ciuman yang awalnya pelan, semakin lama semakin menuntut berbalas. Tangan kanan Candra sudah menyusup ke balik baju Anara. Merabai benda favoritnya yang sudah menegang.
Tangan Candra memainkan benda kenyal yang tinggal terbungkus bra berwarna hitam itu. Bibirnya sibuk memberikan tanda kepemilikan di sana. Sekejap kemudian, puncak dada Anara sudah berada di dalam mulut Candra.
"Owh. Pelaan, Ndraaa." Racau Anara merasakan sapuan lidah dan bibir Candra.
Lama lelaki itu memainkan lidahnya di sana. Gundukan daging kenyal itu sekarang terlihat merah seperti memar karena ulah Candra. Lelaki itu benar-benar menagih janjinya.
"Udah." Ujar Candra merapikan kembali baju Anara. Berlanjut mengusap bibirnya yang basah karena salivanya sendiri.
"Mandi gih!" Titah Anara.
"Aku bau?"
"Enggak. Cuma lengket."
"Bagus dong. Biar kamu nempel terus." Anara hanya menggelengkan kepala.
"Aku mau ambil buku yang dulu kupinjamkan."
"Skripsiku pakai itu." Tambah Anara.
"Belum selesai kubaca padahal."
"Sudah kuduga."
"Kamu ambil sendiri ya! Di laci nakas kamarku."
"Oke. Kamu mandi!"
"Iya, Aaan." Ujar Candra mencium puncak kening Anara.
Lelaki itu tak langsung mandi ketika Anara bangkit dari duduknya. Candra sibuk pada gawainya entah menyoal apa? Mungkin pekerjaannya.
Anara memasuki kamar Candra. Bukan sekali ini ia masuk pada ruangan pribadi kekasihnya. Di atas nakas di samping ranjang, foto mereka berdua terdapat di sana. Foto yang diambil ketika kencan pertama mereka di masa awal pendekatan.
"Hanya satu nakas. Berarti ini." Anara bermonolog.
Jemari tangan lentiknya membuka laci nakas. Sebuah novel dengan ukuran tebal bersampul merah ada di sana. Novel yang akan ia geluti beberapa bulan ke depan demi menyandang gelar sarjana.
Mengambil buku Ibunda miliknya. Netra Anara menemukan sesuatu yang lain di sana. Sebuah foto perempuan, manik matanya menatap lama pada perempuan itu. Persis dirinya ... tapi bukan. Hidungnya tak dihiasi tahi lalat.
"Siapa dia?" Gumam Anara.
__ADS_1
...----------------...