Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Menyesal


__ADS_3

"Siapa dia?" Gumam Anara.


Diambilnya foto yang masih menyatu dengan bingkai itu. Hatinya bergetar merasakan nyeri di bagian ulu. Anara keluar diiringi genderang perang dalam hatinya yang dipukul bertalu-talu.


Candra masih belum menyadari kehadiran Anara. Lelaki berbaju biru muda itu masih sibuk pada layar gawai. Hingga suara Anara memutus pandangan Candra pada benda pipih itu.


"Ini siapa?" Anara menunjukkan foto di tangan kanannya.


Bagai kiamat tiba-tiba. Candra tertegun seketika menatap foto itu ada di tangan kekasihnya. Jantungnya berdebar, terkejut dengan apa yang terjadi? Kenapa bisa?


"Siapaa?" Pekik Anara menatap nyalang pada Candra yang terlihat bingung.


"An. Itu ... itu. Kenapa bisa di kamu?" Candra bangkit mengusak rambutnya mendekati Anara.


"Si-apa Candra?" Mata Anara menyorotkan amarah yang sebelumnya tak pernah Candra lihat.


Lelaki itu masih terdiam dengan tatapan sesal, bingung, dan entah menjadi satu. Tangannya dibuat akan meraih lengan Anara, tetapi Anara menepisnya.


"An!" Tegur Candra.


"Ini bukan aku meski ini sangat mirip." Lirih Anara bergetar berusaha menetralkan suasana hatinya, juga netranya.


"Sekali lagi. Siapa dia?" Cecar Anara.


"Ck. Namanya Anjani." Jawab Candra akhirnya.


Anara merutuki dirinya sendiri. Pertahanannya runtuh seketika. Air mata yang ditahan lolos menerjuni lembah wajahnya.


"Mantan pacarku." Imbuh Candra membuat hati Anara semakin nyeri.


Tangis Anara semakin berderai. Bibir bawah dikatup oleh bibir atasnya sendiri agar tak bersuara. Tak menyangka bahagia yang datang barusan tiba-tiba menjelma jadi sayatan.


Mantan? Kenapa mirip sekali denganku?


"Jika kau ingin tau kenapa foto itu masih aku simpan. Tenanglah dulu, An! Aku akan cerita."


"Kau memintaku tenang? Sementara aku tau pacarku diam-diam masih menyimpan foto perempuan di masa lalunya."


Gila! Tega sekali.


"Masih cinta?" Ketus Anara.


"Dia sudah meninggal, An."


Keterangan yang keluar dari Candra membuat Anara terperanjat. Ia sedang mencemburui orang yang sudah tiada dan itu terasa lebih sakit.


"Anjani meninggal tujuh tahun lalu. Kecelakaan tunggal di Jogja 2008 silam merenggut nyawa seluruh keluarga dan juga dirinya." Jelas Candra dengan tatapan kosong. Ada luka yang tersirat dari penuturan lelaki itu.


"Aku jatuh sedalam-dalamnya waktu itu. Remuk sehancur-hancurnya kehilangan cinta pertamaku. Gadis yang setia menungguiku bermain basket telah pulang selamanya." Netra Candra begitu sayu.


"Sampai akhirnya aku bertemu denganmu, An. Hatiku seperti menghangat kembali. Mendung yang hampir empat tahun itu perlahan berganti terang ...." Ungkap Candra meraih tangan Anara.


"Bahagiaku menggapai puncaknya ketika kamu menerimaku." Imbuh Candra.


"Aku menyesal mengenalmu." Anara menarik paksa tangannya.


"Terlalu bodoh aku menerima lelaki macam kamu. Selama ini aku hanya jadi pelampiasan kehilanganmu itu." Anara menyeka setiap air mata yang berderai.


Hatinya bagai dihujam ribuan pisau. Miris mengenang segala tentang mereka. Mengapa Candra begitu kejam?


"Aku sayang kamu, Anara. Bukan sebagai pelampiasan."

__ADS_1


"Kamu hanya menemukan sosok cinta pertamamu itu padaku. Kalau bukan karena aku tau foto ini. Pasti selamanya aku bagai keledai dungu yang kau tipu."


"An!"


"Huh. Pantas keluargamu menatapku penuh tanya ketika pertama aku ke sana. Rupanya karena ini. Luar biasa kalian."


"Siapa lagi? Oh, Bryaaan. Pasti dia juga tau ini. Hebat ... hebat kamu."


Anara terlihat kacau mendapati kenyataan pahit malam ini. Sakit hatinya semakin terasa ketika sekelebat bayangan-bayangan orang tua, adik, dan juga sahabat Candra bermunculan.


Tega sekali mereka semua. Tak ada satu pun yang memberitahuku.


"An, maaf kalau aku terlambat menjelaskan. Tapi aku beneran cinta sama kamu."


"Apa kau akan tetap mencintaiku jika Anjanimu itu masih hidup?"


Candra terdiam mendengar pertanyaan Anara. Perempuan itu marah hingga wajahnya merah padam. Apa yang ditakutkan Candra selama ini menjelma jadi nyata.


"Kenapa diam kamu? Nggak akan Candra. Aku hanya pelampiasanmu."


"Kamu bahkan lebih brengsek dari Janu." Geram Anara mengembalikan foto yang dipegangnya. Air matanya belum juga berhenti.


"Simpan baik-baik cintamu ini!" Ketus Anara membuka pintu dan melangkah keluar.


"An!" Tangan Candra sigap mencekal Anara. Ia tak mau kehilangan lagi, cukup sekali.


"Ma-af. Aku minta maaf baru menjelaskan sekarang. Tolong, An! Jangan begini!"


"Aku mau pulang Candra." Ujar Anara masih sesenggukan.


"Aku minta maaf, An."


"Lepas!" Perlahan Candra melepas tangan Anara. Hatinya ikut terluka melihat Anara begitu terpukul.


"Aku antar pulang!" Tawar Candra menahan Anara.


Dalam perjalanan menuju kos Anara. Tak ada suara yang lebih dulu bergema. Kedua sejoli itu masih sama-sama diam. Sesekali Candra melirik Anara yang masih memandang ke arah luar jendela.


Tega sekali kamu Candra! Kau iming-imingi aku manisnya cinta. Bahkan hampir kuserahkan diri dengan rela, ternyata kenyataan ini pahit tak terperi.


Maafin aku, An. Membuatmu terluka. Seharusnya aku cerita dari dulu. Kini setelah semua semakin jauh, tentu lukamu pun pasti jauh lebih menganga.


Bergelut pada hati masing-masing, tak terasa mobil Candra sudah berhenti di halaman kos Anara. Perempuan yang netranya hampir bengkak itu segera melepas seatbelt dan keluar tanpa terucap satu kata pun dari bibirnya.


Mengikuti tindak tanduk Anara, Candra bersigap mengikutinya dan menahan tubuh itu. Namun, sekali lagi. Anara menepis Candra, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.


"Makasih." Hanya kata itu yang terlontar.


Dipandanginya punggung Anara hingga perempuannya lenyap dari pelupuk mata. Hati Candra bagai diremas dengan keras. Ketakutan akan kehilangan semakin berkeliaran dalam ingatan.


Dengan langkah gontai, lelaki yang masih berbalut setelan kerja itu masuk ke mobil. Memandang nanar ke jok sebelah, kemudian menenggelamkan wajahnya pada tangan yang bertumpu ke kemudi.


Maaf, An.


...----------------...


Anara yang sudah rapi dengan atasan putih yang dipadukan jin warna biru terang sedang menatap ke arah cermin di kamarnya. Tak dapat disembunyikan, matanya terlihat bengkak karena tangisan semalam yang lagi-lagi keluar tanpa permisi.


Hari ini jadwal Anara bimbingan skripsi. Beruntung dia sudah menyiapkan apa yang harus dikonsultasikan jauh-jauh hari. Rencananya Anara dan Hartik akan sama-sama ke kampus setelah saling sepakat di telepon tadi.


Anara menuruni anak tangga dengan sisa-sisa semangat yang dimiliki. Menuju kamar Hartik yang berada di bawah. Tepat sebelum mengetuk, pintu kayu itu terbuka menampilkan wajah Hartik di sana.

__ADS_1


Hartik memandang wajah sahabatnya sedikit lama, "kenapa matamu?"


"Habis nangis."


"Candra?" Anara mengangguk.


"Astagaaa ... membuatku semakin tak ingin menjalin hubungan saja." Sindir Hartik.


Melihat Anara yang hanya diam, Hartik sedikit curiga. Biasanya jika Hartik sudah berkata demikian, Anara akan merespon dengan tak suka, tapi kali ini sahabatnya itu benar-benar diam.


"Kenapa sih, An?" Hartik menarik Anara untuk masuk dan duduk di ranjang kamar.


Hanya terdengar embusan napas yang dibuat seteratur mungkin oleh Anara. Kemudian, disusul kata ...., "aku baru tau, jika Candra punya mantan ... mirip sekali denganku. Namanya Anjani."


"Lalu?"


"Dia sudah meninggal, Tik."


"Tapi kemarin, aku menemukan foto cinta pertamanya itu di rumahnya. Hatiku hancur, seketika."


"Menurutku, selama ini aku hanya jadi pelarian karena wajah kita mirip."


"Aku jadi penasaran semirip apa?"


"Mirip sekali, Tik. Awalnya aku kira itu fotoku. Tapi, setelah kulihat lebih lama. Itu bukan aku dan benar saja."


"Ya ampun, An. Aku nggak tau harus kasih respon gimana selain bilang sabar." Hartik menepuk bahu Anara.


Anara mengembuskan napas, "kita ke kampus!"


Setelah susah payah mengeluarkan motor dari garasi kos yang masih penuh. Setibanya di luar pintu, netra Anara mendapati mobil yang mengantarnya semalam sudah berada di halaman.


Melihat Anara, Candra segera membuka pintu mobil dan berjalan menuju kekasihnya itu. Wajahnya kusam dan penampilannya kacau. Melihat itu, Anara menyadari bahwa lelaki itu tak pulang.


"An! Ikut aku!" Pinta Candra.


"Nggak. Aku sibuk."


"Ayolah! Sebentar saja."


"Ayo, Tik! Naik!" Kilah Anara tanpa memedulikan lelaki yang penampilannya 180° berbeda itu.


Hartik mengikuti instruksi yang diberikan Anara. Perempuan berjilbab itu melempar senyum simpul ke arah Candra sebagai rasa tak enak hatinya. Motor melaju cepat meninggalkan Candra yang masih mematung.


"An!"


"Hmm."


"Harusnya kalian bicara."


"Lagi nggak mood ngomong sama pembohong."


"Astagaaa."


"Masalah itu dihadapi, An! Bukan kamu ngehindar begini." Imbuh Hartik.


"Sudahlah, Tik! Aku males bahas ini." Sergah Anara menjadi penutup dialog rumit itu.


Sementara Candra hanya menatap nanar pada kepergian Anara, laki-laki itu terlihat kacau sekali, berantakan dengan mata kurang tidur.


"Mungkin kamu masih marah. Butuh waktu untuk sendiri." Pasrah Candra bermonolog.

__ADS_1


Langkahnya kembali menuju mobil dan meninggalkan kos dengan hati merana. Menyesal tak ia ikuti saran yang selalu Bryan berikan dulu. Kini, itu pun tak ada guna, hatinya hanya bersemoga agar Anara memaafkannya.


...----------------...


__ADS_2