
"Dingin banget, Ndra." Ujar Anara menggosokkan kedua telapak tangan.
"Sini!" Candra merentangkan kedua tangan dan membawa Anara dalam dekapannya.
"Romantis kan?"
"Apanya?" Gumam Anara.
"Berduaan di pantai sesepi ini."
"Ya ampun. Ini pertama dan terakhir kuharap."
"Kenapa?"
"Sepi, banyak nyamuk, dan nggak ada warung."
"Perut terus. Belum kenyang?"
"Kenyang enggak. Eneg iya." Sahut Anara mengingat mi benyek yang tadi ia habiskan demi memuaskan hasrat laparnya.
"Aku bikin kenyang mau?"
"Maksudnya?"
Tanpa jawaban Candra mendaratkan ciuman ke bibir Anara. Tak terhitung lagi berapa kali lelaki berjambang itu mencumbui kekasihnya. Sepertinya ia malah menikmati suasana sepi yang ada. Dengan begitu, ia bisa ******* habis bibir kekasihnya.
Bagai gayung bersambut kata berjawab. Anara membalas lilitan demi lilitan, gigitan demi gigitan yang Candra berikan. Keduanya benar-benar hanyut dalam pertautan bibir yang lembut.
Dengan napas masih terengah, Anara berusaha menormalkan detak jantungnya. Mengambil oksigen untuk mengisi paru-parunya yang baru saja berhenti bekerja. Candra pun melakukan hal serupa, mengambil napas.
Lagi, Candra meraup bibir Anara. Menggigit benda kenyal itu bergantian atas dan bawah. Diimbangi lidahnya yang senantiasa melilit di dalam sana. Membuat Anara kembali meloloskan engahan yang membuat Candra seperti dipacu. Ciumannya semakin liar menuntut lebih.
"Pelan-pelan!" Pinta Anara dengan netra sayu.
Posisi Anara sudah menghadap Candra dengan tubuh setengah berbaring. Tangan kiri Candra menopang tubuh kekasihnya agar tak jatuh. Sapuan bibir Candra beralih ke telinga kiri milik Anara. Bermain di sana lama.
Tangan kanan Candra sibuk memegangi dua benda kembar yang menegang karena ulahnya. Membuat Anara bak dialiri arus listrik beribu ampere kuatnya. Hingga tangan Candra menyusup ke dalam jaket dan membuka pembungkus terakhir benda itu.
"Awh! Pelaan Candra!" Anara melepas bibirnya ketika remasan tangan Candra begitu kuat terasa.
Hanya anggukan kecil sebagai persetujuan dari Candra. Lelaki itu kembali menautkan bibir keduanya. Tangannya bermain di puncak benda kembar yang semakin lama semakin mengeras.
"Enak sayang?" Tanya Candra di sela ciumannya.
Pertanyaan macam apa ini? Namun Anara mengangguk.
Jemari Candra semakin instens bermain di puncak dada Anara. Membuat perempuan yang rambutnya sudah berantakan itu semakin panas saja. Suara napasnya meracau seolah meminta lebih.
Bagai mendapat sambutan hangat. Candra turunkan tangannya, membelai perut rata Anara dan perlahan melepas pengait celana jin milik Anara.
Tangan Candra sudah memasuki area paling terlarang. Bukan kali pertama. Tapi, Anara masih merasa sangat sangat berdebar ketika miliknya bersentuhan dengan jemari Candra.
"An."
"Hmmb"
"Sebut namaku!" Titah Candra dengan suara beratnya.
Satu jemari Candra dibiarkan bermain-main di bawah sana. Menyentuh dan memainkan benda kecil yang sensitif bagi pemiliknya. Anara semakin meracau sejadi-jadinya.
"Can-ndraaaaa hh." Suara Anara berkejaran dengan napasnya.
"Iya, sayaang?"
"Kamu a-pa in?"
Candra tak menjawab pertanyaan retoris Anara itu. Jarinya semakin dipercepat memainkain sesuatu kecil di bawah sana. Milik Anara yang semakin basah memudahkan pergerakan jari Candra.
Candra mengecupi ceruk leher Anara yang kini berada di depannya dengan posisi membelakangi. Tangan kiri Candra yang berada di dada Anara semakin membuat Anara kacau karena diserang dari berbagai sisi.
"Can-ndraa."
"Aku ... awh." Anara seperti merasakan ada dorongan dari dalam miliknya.
__ADS_1
"Lepasiin, An!"
Tak lama, tangan Candra merasakan ada cairan yang membasahi tangannya bersamaan dengan tubuh Anara yang menegang. Ia kulum senyumnya. Kini Anara terkulai lemas dalam rengkuhan Candra.
"An, dibuka ya? Basah." Pinta Candra.
Dalam satu tarikan, celana jin milik Anara sudah tertanggal dari kaki jenjangnya. Meninggalkan kain terakhir berwarna merah yang juga sama basahnya.
"Ini juga." Ujar Candra menyentuk kain itu.
"Nanti masuk angin." Candra kembali bersuara.
"Aku bawa selimut kecil."
Anara menyetujui saran Candra. Kini tubuh bawahnya hanya berbalut selimut tanpa pelindung lainnya. Dan lelaki di depannya sudah benar-benar susah untuk sekadar menelan ludah.
"An!"
"Pegang!" Candra meraih tangan Anara dan meletakkannya di atas miliknya yang sudah tegang.
"Keras?"
"Karena kamu juga. Buka An!"
Anara menggeleng namun tangannya masih di posisi semula. Candra tak kuasa menahan sesak celananya. Ia lepaskan celana miliknya, menyusul Anara.
"Kenapa dilepas?"
"Sesak, An. Pegang!"
Dengan tuntunan tangan Candra. Anara menyentuh benda yang masih terbungkus kain tipis itu. Membuatnya merasa geli sendiri hingga akhirnya melepasnya.
"Kenapa?" Tanya Candra kecewa.
"Gelii."
Candra kembali menarik Anara. Tanpa aba-aba, tangan Candra kembali menyusup milik Anara. Sekali lagi memainkan milik Anara. Membuat perempuannya menegang hingga basah.
"Kamu basah sekali, An." Ucapan Candra membuat Anara merona. Perempuan itu mendaratkan ciuman di bibir Candra. Menyesapnya lama seperti tak ingin menyudahi.
"Aku masukin ya?"
Tanpa melepas pertautan bibir, Candra menggiring Anara untuk berbaring. Candra dengan sigap menyibak selimut yang menutupi milik Anara. Tempat dimana ia menginginkannya sekarang.
Candra menindih tubuh Anara dan menggesekkan miliknya di atas milik Anara. Tak ada pembatas lagi di antara keduanya.
"An, akan sakit. Tahan ya!" Ujar Candra membelai kepala Anara.
Candra mengarahkan kejantanannya untuk memasuki milik Anara. Terasa susah sekali. Berkali-kali ia mencoba hingga Anara mulai merintih dan meringis seperti kesakitan.
"Sakit, Ndra!" Ujar Anara.
"Tahan, An!"
"Enggak. Udah, udah! Udah Candra! Stop!" Tolak Anara menarik tubuhnya dari kungkungan Candra. Di ujung netranya terlihat air mata mulai lolos menuruni pipi.
"Iya, udah. Enggak jadi, An!" Candra merengkuh tubuh Anara. Menciumi puncak kepala perempuannya.
"Aku nggak mau." Isakannya semakin menjadi, Anara tetap mencoba menahan agar tangisan tak pecah.
"Iya, sayang. Maaf." Ujar Candra menciumi pipi Anara.
"Nggak mau lagi."
"Iya, iya." Candra mendekap erat tubuh Anara.
Lama Anara berada dalam pelukan Candra. Hingga suara napas teratur menandakan bahwa ia sudah tertidur dalam pelukan. Perlahan Candra lepas dekapannya dan membantu Anara menemukan posisi tidurnya yang nyaman.
Candra membelai wajah Anara, menyingkirkan anak rambut yang menutupi paras cantik kekasihnya. Menatap pada leher Anara yang terdapat dua tanda merah hasil karyanya. Membuat Candra tersenyum.
Hampir saja. Hampir saja aku melukai dia.
Candra membaringkan tubuhnya di samping Anara. Menatap lama pada ciptaan Tuhan di depannya. Tangannya melingkari pinggang Anara hingga Candra ikut menyusul Anara memejamkan mata menuju alam mimpi.
__ADS_1
...----------------...
Tubuh Anara terasa berat mendapati tangan Candra yang melingka di pinggangnya. Silau cahaya matahari memasuki celah-celah kecil tenda menandakan malam sudah berganti terang. Anara meraih handuk miliknya dan melilitkan di pinggangnya.
"Candraa." Ia goyang pelan tubuh Candra.
"Ndra. Banguuun! Pagi."
Candra malah menggeliat dan menarik Anara hingga terjatuh ke sampingnya. Memeluk perempuannya itu lagi dan mencium bibir Anara sebagai menu sarapan pagi.
"Sarapan pembuka yang lumayan."
"Lumayan?"
"Lumayan mengenyangkan."
"Belum kenyang?"
"Belum mulai. Kamu sudah mengaduh." Ledek Candra.
"Aku udah puas, nafkah batin darimu semalem membuatku lapar."
Candra tersenyum memandangi wajah natural Anara. Feromon yang keluar dari aroma tubuh Anara pagi ini seperti mengundang Candra untuk mengungkung perempuan itu lagi. Tapi niatannya ia urungkan mengingat tubuhnya terasa lengket karena aktivitas semalam.
"Candra! Ayuk mandi!" Anara menarik tubuh Candra.
"Sebentar!" Candra memperlihatkan tubuh bawahnya yang polos.
"Oh. Oke. Aku tunggu di luar."
"Di sini aja!" Candra menahan tangan Anara. Ia bergegas memakai celananya lagi.
...----------------...
"Ya ampun Anaraaaa. Dari mana aja sih? Baru pulang? Hp mu kenapa nggak bisa dihubungi?" Hartik memberondong sahabatnya dengan banyak tanya.
"Baru pulang, Tik. Ponselku mati. Aku naik dulu ya! Capek banget." Balas Anara berlalu menaiki anak tangga. Meninggalkan Hartik yang masih diliputi kalimat tanya.
Darimana sih dia?
Anara merebahkan tubuhnya yang baru saja ia guyur air segar. Badannya terasa pegal semua, beruntung perutnya sudah cukup terisi di perjalanan tadi. Akhirnya ia memasukkan nasi lagi setelah seharian kemarin makan seadanya. Nahas.
Netranya mengawang-awang ke atap kamar. Pikirannya mulai digentayangi kembali oleh skripsi. Benar-benar kata itu bagai teror yang justru harus dihadapi.
Ceklek ...
"Kamu darimana sih, An?"
"Nggak pulang. Di hubungi nggak bisa."
"Aku ke pantai, Tik."
"Ha? Kemana?"
"Nggak tau namanya. Pokoknya sepi. Kapok aku ke sana."
Hartik mengamati tubuh Anara yang hanya berbalut kaus pendek dan celana hotpant. Berkali-kali Hartik membolak-balikkan tubuh Anara seperti mengamati sesuatu.
"Kenapa?"
"Nggak diapa-apain kan sama pacarmu?"
"Diapa-apain lah. Dibonceng, dikasih makan."
"Syukurlah pulang masih utuh." Ujar Hartik Lega.
Anara kemudian menceritakan quality time-nya dengan Candra di tempat yang seperti belum terjamah itu. Hartik malah begidik ngeri dibuatnya.
"Untung bisa kembali. Coba kalau di sana kayak di film-film yang warganya penuh misteri. Duh ngeri, An."
"Kebanyakan liat film kamu, Tik."
Tapi kalau iya. Ngeri juga. Untung pulang selamat dan 'utuh'.
__ADS_1
...----------------...