
Sungguh pun Anara tak tahu harus bagaimana kecuali menemui Bryan yang ya ... pada akhirnya menyadari kedatangannya. Dengan sigap dan tangkas pula, Hartik yang sedari tadi ikut diam menyaksikan arah tatapan Anara, dengan cepat mengambil kantung plastik di tangan Anara.
Mengambil alih salad buah dan ketika kepala Anara meneleng ke arah gadis itu, Hartik justru hanya tersenyum yang dibuat-buat ke arahnya.
"Biar aku yang bawa! Kamu temui Bryan aja!" seru Hartik.
Dan tanpa menunggu sahutan dari bibirnya, Hartik telah melenggang pergi dengan mengatung-atung dua kantung plastik di tangan kanan dan kirinya.
Huuufh!
Anara hanya mendengkus lirih. Napasnya dibuang panjang demi menyadari jika Bryan yang beberapa saat ada di terasa kos, mulai berdiri. Dan tanpa tendensi apa-apa, Anara beringsut dari posisinya. Berjalan mendekat ke arah Bryan.
Gerakan sederhana yang seketika membuat Bryan diam mematung di tempatnya. Namun, dari sorot mata Anara yang menghadap ke depan, terlihat jelas, lelaki itu tengah mengatupkan bibirnya. Matanya berbinar menyambut siapa yang akan datang.
"Sudah lama?" Kalimat sambutan yang lebih baik daripada bertanua ADA APA?
Seraya menunggu jawaban dari tamunya. Anara meminta pada Bryan untuk kembali duduk di kursi yang tersedia.
"Duduk dulu!" seru Anara yang juga mulai duduk di kursinya.
Lelaki dengan kaus berwarna hitam itu pun mengikuti gerak geriknya. Mendudukkan diri tepat di seberangnya dengan masih mengatupkan bibir rapat-rapat.
Anara kemudian menarik sudut-sudut bibirnya menjadi senyuman yang dipaksakan. Dipaksakan karena hatinya jelas tidak sedang ingin melakukan itu. Tetapi, atas nama persahabatan dan menghormati tamunya, ia harus melakukan itu!
"Sekitar lima menit," sahut Bryan.
Sedetik, dua detik ... Anara malah merasa bingung. Apa yang lima menit? Astaga! Baru ketika mulutnya hendak bertanya kepada Bryan, ia tersadar seorang diri jika itu adalah jawaban dari pertanyaan pertamanya.
Ya ampun! Patah hati rupanya bisa membuat ia bodoh dalam sekejap waktu.
"Aku kira, kamu sudah balik ke Surabaya." Basa-basi itu kian mendarah daging. Tentu saja, jika tidak begitu. Apa yang akan Anara ucapkan? Apa yang hendak ia pertanyakan?
Karena sumpah demi apapun! Ketika sejenak di antara mereka tercipta suasana sepi, yang ada malah canggung yang kian menggunung. Benar-benar menjadi awkwrd momen yang seolah tiada penolong serta penawarnya.
"Belum. Aku ... jujur, tengah mengkhawatirkan kamu," balas Bryan. Terdengar semakin membuat Anara merasa terkasihani.
Tentu saja lelaki yang tengah duduk di seberangnya itu tahu apa permasalahan yang ada dan menimpa dirinya. Dan itu, tidak perlu untuk dibahas! Karena hanya akan semakin membuat hatinya tersayat, terluka, dan merana.
__ADS_1
Heeh!
Anara hanya membalas perkataan Bryan barusan dengan tawa getir.
Matanya menatap ke arah Bryan tanpa disertai kata-kata balasan. Tidak perlu menjelaskan sakit yang dirasa. Cukup sorot matanya yang menjelaskan itu.
Bryan pun menatapnya dengan mata yang sayu. Seolah kesakitan yang Anara rasa ikut bercampur baur pada lelaki di depannya.
"Maaf!" cetus Bryan tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf?" Anara sedikit melongo karena bingung.
Lelaki di depannya membenahi posisi duduknya. Menghadap Anara dengan lebih leluasa.
"Karena sahabatku telah melukaimu!" jelas Bryan. Matanya pun masih menatapnya nanar.
Dan sial!
Karena kalimat Bryan yang hanya sepenggal itulah, mata Anara kembali memanas. Air matanya yang terasa kering, tiba-tiba bersumber lagi. Mengeluarkan isinya lagi dan pandangannya seketika pudar tertutup air mata yang sungguh Anara rutuki. Sialan!
Hkks!
Hkks!
Tak berhenti. Air mata Anara kian menganak sungai. Sungguh! Kenapa bukan Candra yang akan selalu ada? Kenapa nasibnya begitu mengenaskan?
Astaga! Ya Tuhan!
Anara teramat rapuh terlihat. Wajahnya layu, matanya merah, dan keceriaannya memudar. Ingin rasanya Bryan bangkit dan merengkuhnya dalam dekapan. Tetapi, sungguh! Ia tak ingin memanfaatkan celah saat itu.
Kepeduliannya pada Anara adalah tulus apa adanya. Tak ada niatan lain selain membuat gadis yang abadi dalam sanubarinya itu tenang. Melihat Anara menangis hingga terisak memerah itu, membuat hati Bryan hancur. Berkeping-keping jadinya.
"Aku kecewa, Yan! Kenapa harus begini? Kenapa di saat semua sudah siap di depan mata, ketika keluarga kita sudah sama-sama tahu. Lalu petaka ini terjadi begitu saja?" seloroh Anara dalam suara bercampur isak tangisan.
Bryan tak bisa berucap apa-apa. Ia tahu persis apa yang tengah Anara butuhkan. Bukan wejangan apalagi ceramah panjang, gadis di hadapannya hanya butuh didengar. Itu saja!
"Aku nggak ngerti bagaimana rasanya, An. Tapi, aku akan terima kalau kamu mau berbagi! Aku akan mendengarkan semua keluh kesah! Jyga sedihmu!" Hanya itu yang keluar dari bibir Bryan.
__ADS_1
Ia tidak pandai menggombal kecuali bait-bait lagu yang senantiasa dinyanyikan untuk Anara tanpa pernah gadis itu tahu, kecuali surat berisikan perasaannya yang akhirnya ia kirimkan pada gadis itu. Bryan pun tak berjanji bisa mengentaskan Anara dari luka akibat dikhianati.
Ia hanya berjanji untuk tetap ada!
"Bryaaan!" Tangisan Anara kian meledak. Pecah dan kembali terisak. Bahkan kini lebih kencang dari sebelumnya.
"Aku harus gimana? Hiks!"
Teelihat tangan Anara telah meraup wajahnya sendiri. Menyembunyikan kesedihan yang masih hinggap dan setia di sana.
Bryan pun hanya bisa menatap dengan tatapan kosong. Ia pun ikut terluka setiap kali Anara meneteskan air mata. Saat itu juga hatinya bagai disayat oleh pisau-pisau tajam yang karatan.
Tangan Bryan yang semula menyentuh bahu gadis tercintanya. Kini berganti meraih telapak tangan Anara. Melepaskannya perlahan dan wajah cantik dalam balutan rona merah sebab tangisan itu kembali tersaji melukai hati.
"Harus dihadapi!" tutur Bryan masih menggenggam jemari Anara yang terasa panas.
"Aku janji, akan selalu ada. Setiap kali kamu butuh, aku pasti ada, An!" Bryan berucap dengan nada penuh meyakinkan.
Bukankah memang begitu sedari dulu? Setiap kali Anara dan Candra terlibat permasalahan, Bryan lah yang berperan sebagai penengah, pereda emosi, dan hingga saat Anara terjatuh detik itu pun, Bryan lah yang masih ada di sampingnya.
Tak disangka, entah begitu rapuh atau sangat terbawa suasana. Tubuh Anara bangkit dan tangan Bryan yang masih setia menggenggam jemari Anara itu pun tertarik ikut bangkit.
Gadis tercinta telah menghambur dalam pelukannya. Dekapannya erat, hangat, dan seolah meminta kenyamanan. Seolah pula ingin berbagi kesakitan. Tidak keberatan, Bryan menyambut Anara dengan rentang tangan serta dekapan hangatnya.
Tangannya mengusap puncak kepala Anara berulang-ulang. Menghidu aroma harum dari rambut gadis itu. Bahkan, Bryan rasa detik itu bukan Anara saja yang tengah berharap tenang dari pelukannya. Melainkan juga ia, tengah mengharap ketenangan dari pelukan gadis di depannya.
Aku selalu cinta, An!
Tapi, di satu waktu pula. Aku selalu jadi yang nomor dua!
Tidak adakah setitik rasa untukku?
...----------------...
Hai, Guys!
Jangan lupa follow IG-ku @lisnaasaarii
__ADS_1
Untuk mendapat info karyaku yang nggak kalah dari LANGKAH BERSAMBUNG!
Thank you.