Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Janji


__ADS_3

"Ya sudah. Pulanglah!" Candra berbalik arah dan meninggalkan Anara yang masih terpaku menatap punggungnya.


Lelaki itu tak banyak bicara, sekarang fokusnya sedikit teralih pada persiapan acara besok yang hampir rampung. Selang beberapa menit, diliriknya tempat terakhir Anara. Tak ada siapa-siapa, perempuan itu benar-benar pulang.


"Kok Anara pulang duluan, mas?" Suara cempreng Hartik menghentikannya dari segala aktivitas.


"Iya."


Iya? Singkat, padat, dan nggak jelas banget. Maksudnya tuh kenapa Anara pulang duluan gitu loh? Kok nggak nungguin aku?


"Iya kenapa mas?"


Sejurus kemudian, tatapan Candra berubah penuh selidik kepada sahabat dari Anaranya itu.


"Kenal Janu?"


Duh, kaaan Anara. Harus kujawab apa ini pacarmu??


"Nggak sih mas. Tau aja."


"Siapa dia?"


"Temen SMA Anara."


"Lama kemarin ketemunya?"


"Si ... siapa mas?" Terlihat Hartik gugup bukan main. Gimana ceritanya ini Candra bisa tau kalau mereka berdua ketemu? Darimana? Meski Hartik tak sungguh mengenal dekat Candra, tapi Hartik bisa merasakan bahwa ia sedang mengintimidasi.


"Anara sama Janu."


"Aku nggak tau mas, kemarin mereka cuma berdua tok. Kami pergi cari oleh-oleh."


Baguuuus Hartik, ceritakan saja semua! Mulutmu kenapa susah banget ngerem?


"Kami?"


"Iya mas, aku sama temen Anara lainnya pergi ninggalin mereka."


Tatapan mata Candra semakin meruncing dengan banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran. Sementara Hartik mulai menunduk menyadari apa yang diucapkan akan berbuntut panjang.


Tapi, bagaimana lagi? Ia sedang ditanya dan harus menjawab sebelum singa di depannya mengoyak habis mangsa.


"Kenapa ditinggal?"


Ya Allah ... jawaban gimana yang harus kukatakan pada laki-laki penuh selidik ini?


"Anu ... mas. Itu."


"Bicara yang jelas!!!" Suara Candra makin meninggi membuat Hartik bergidik ngeri.


Dalam posisi terpojok dan tak punya skenario jawaban atas pertanyaan laki-laki yang tengah terbakar hati di depannya, segala yang keluar dari mulut Hartik pun tanpa filter. Murni sesuai fakta kejadian tanpa ditambah bumbu lainnya.


Sekilas Hartik memberanikan diri melihat pada raup muka lelaki di depannya, rahangnya mengeras dan matanya menyorot api.


Marah ni pasti. Oh Tuhan Anara sorry ....


"Jadi ini alasan Anara ngotot ke Jogja." Lelaki itu tersenyum miris membayangkan kembali bagaimana perempuannya itu diselimuti perasaan bahagia pada hari keberangkatan ke Jogja, menemui lelaki sialan itu ternyata. Berani-beraninya kamu Anara.


"Aku nggak tau mas. Aku pulang dulu." Hartik secepat kilat memutar badan dan tergesa berlalu meninggalkan lobi fakultas.


...----------------...


Seperginya Hartik, pikiran Candra sudah tak ada di lobi fakultas. Bayangan Anara dan lelaki sialan itu terus saja berlarian di otaknya, pikirannya melanglang buana kemana-mana.


Sial. Jadi, ini alasan kenapa dia sangat menyukai Jogja.


Persiapan yang kebetulan sudah hampir rampung itu membuatnya melangkah pergi meninggalkan kampus setelah ia mengatakan ada urusan mendadak pada Bryan.


Tepat sebelum kakinya keluar gedung sastra. Ia merogoh ponselnya yang bergetar ketika ia berbicara dengan Hartik tadi, matanya mendapati satu panggilan tak terjawab dari Anara di layar ponselnya, hatinya masih terlalu panas mengingat kebohongan yang perempuan itu lakukan.

__ADS_1


Motor yang ia bawa tak menuju ke arah rumahnya di Kusuma Estate. Melainkan mengarah ke UB sport center, inilah urusan mendadak yang dia katakan ke sahabatnya, Bryan.


Melampiaskan emosinya yang masih meluap pada alat-alat berat itu adalah pilihan bagus pikirnya. Sungguh jika Janu berada di Malang ingin rasanya mendaratkan bogem pada lelaki sialan itu. Kenapa cinta pertama perempuannya itu harus muncul kembali?


Motor sudah ia parkir dan langkahnya bergegas memasuki area gym. Di tengah hari yang terik seperti saat ini sebenarnya bukan waktu pas untuk menambah massa otot. Selain sepi, nge-gym di siang bolong persis orang kurang kerjaan, mending tidur di rumah.


Candra merogoh saku celana mengambil ponsel yang terus bergetar entah berapa kali. Diusapnya layar iphone 5s miliknya yang berhasil menyambungkannya dengan seseorang di seberang sana.


"Ada apa?"


"Kamu dimana?" Suara perempuan itu terdengar parau sekaligus kacau. Candra masih enggan menjawabnya.


Apa pedulimu, An? Kau bahkan lebih dulu menggores luka ketika aku sudah mulai ingin menyerahkan hatiku sepenuh-penuhnya.


"Ada apa?" Kalimat itu terlontar sekali lagi dengan intonasi sama datarnya dengan yang sebelumnya.


"Aku minta maaf. Aku ke kampus tapi kamu sudah pulang kata Bryan."


"Maaf untuk apa?"


"Untuk yang tadi."


"Dia mantanmu, An?" Akhirnya kalimat yang mengiris hatinya berhasil lolos dari bibir.


Deg ...


"I ... iya." Suara Anara bergetar.


"Jadi ini alasanmu ke Jogja?"


"Aku bisa jelaskan, Ndra."


"Iya. Tapi nggak sekarang." Sambungan terputus dan Candra segera menuju tempat alat-alat fitnes berada.


Kostum yang digunakan jelas salah. Tak ada niatan untuk menyambangi tempat gym hari ini, di siang bolong seperti sekarang apalagi. Ia masih dengan kaos slim fit yang dibalut flanel warna navy-putih dan bawahan jeans warna hitam.


Setelah melakukan pemanasan, Candra memulai untuk melakukan incline biceps bench curl. Konsentrasinya masih belum berpusat pada dumble yang ia pegang. Pikirannya masih menyoal Anara yang dengan beraninya bertandang ke Jogja menemui lelaki sialan itu.


Ck ... sialan. Ia terus menyumpah serapahi keadaan. Saat ia ingin menutup bukunya dengan Anjani dan memulai hidup baru dengan perempuan bernama Anara itu, ternyata masih ada bayang-bayang cinta pertama di masa SMA perempuannya. Menyedihkan.


Memaksa melanjutkan gerakan selanjutnya, tapi nyatanya hal tersebut malah membuatnya dipenuhi rasa penuh kejengkelan sendiri. Dua jam berada di tempat itu tak lantas mengurai dongkol hatinya. Akhirnya ia putuskan pulang ke rumah dan berniat tidur menghabiskan sisa hari ini.


Jarum jam yang ia lirik di pergelangan tangan kirinya sudah hampir menyentuh angka tiga. Ia memacu trail 250cc-nya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya yang membentang membawanya ke peraduan.


Cahaya terik sang surya perlahan mulai meredup, tertutup oleh mendung sebagai tanda hujan akan segera menderai air langitnya, menyapa bumi dengan damainya, dan meninggalkan kenangan bahagia pada setiap yang merinduinya.


Motor Candra sudah berhenti di depan rumah tipe 45 bernuansa cokelat nude miliknya. Matanya bertemu dengan mata perempuan yang dua jam lalu menghubunginya. Perempuan itu sudah terlihat berantakan, entah debu dan desiran angin mana yang membuat Anara terlihat sedikit kacau saat ini?


"Sudah lama?" Candra melepas helm dan membuka pintu pagar. Bryan belum pulang pasti. Jika sahabatnya itu sudah di rumah tentu Anara tak berada di luar.


"Sejak teleponku kau tutup."


"Masuk!" Anara mengikuti langkah Candra persis anak ayam di samping induknya.


Pintu rumah terbuka dan Candra menyuruh Anara menunggu, sementara ia memasukkan motor keduanya ke garasi.


"Sebentar lagi hujan. Motormu kumasukkan garasi supaya aman." Tutur Candra dengan ekspresi masih datar dan dingin.


Dalam hitungan detik Candra masuk ke dalam kamar menanggalkan ransel, mengambil langkah cepat menuju dapur, dan kembali dengan satu gelas air di tangan.


"Minumlah!" Sambil menyodorkan air putih untuk perempuan di depannya.


"Aku bisa jelaskan, Ndra." Candra mengangguk cepat dan mengambil suara.


"Minum dulu! Pasti haus dua jam menunggu." Anara meneguk air dalam gelas hingga tandas. Dia haus apa doyan?


Hujan mulai turun menyeruakkan aroma tanah basah. Beruntung Candra sampai rumah tepat waktu. Jika tidak, mungkin Anara semakin terlihat bodoh di bawah guyuran air hujan sembari menanti kedatangan lelaki yang tengah dirundung kesalahpahaman itu.


"Aku ke Jogja bukan untuk menemuinya." Sorot matanya sendu dipenuhi sesalan juga ketakutan, takut jika lelaki di depannya tak menaruh percaya padanya.

__ADS_1


"Lalu?" Respon singkat dari Candra semakin membuat hati Anara merasakan nyeri.


"Temanku yang mengundangnya untuk datang ke stasiun, di malam kepulanganku dari Jogja."


"Lalu, sudah asik saling berkabar berapa lama?"


"Masih kemarin, Ndra."


"Masih? rencananya akan berapa lama?" Matanya menatap nyalang pada manik mata Anara.


"Bukan begitu maksudku ...."


"Aku nggak suka." Candra memotong penjelasan Anara yang belum selesai.


"Apa?"


"Ya kamu, kenapa chatting-an teleponan sama laki-laki sialan itu. Untuk apa?"


Sejenak keduanya terdiam dan saling sibuk dengan pikiran juga perasaan masing-masing. Sesekali terdengar suara gemuruh dan hujan yang semakin lebat di luar.


"Aku nggak suka. Di saat kamu jadi milikku tapi masih sibuk dengan lelaki lainnya." Perkataannya tegas tanpa keraguan di sana.


"Dan ... waktu tadi aku minta ponselmu, kenapa nggak kamu kasih kalau memang nggak ada apa-apa?"


"Nggak ada apa-apa Candraa antara aku dia."


"Aku ini laki-laki. Tau gimana pikiran laki-laki. Mana mungkin dia mau contact mantan kalau nggak ada tujuan."


"Tujuannya ya untuk temenan, Ndra."


"Bullshit."


"Kamu bisa cek isinya!" Anara menyodorkan ponsel miliknya pada Candra.


Entah dimana akal sehatku? Padahal sudah kuhapus semua ... semua tanpa sisa. Lalu apa yang di cek? Kenapa aku kelewat bodoh.


"Ha ha ha, Anara ... Anara tentu sudah kamu hapus semua sebelum berani menemuiku."


Beruntung Candra sudah tak menaruh minat pada benda pipih yang kusodorkan. Tapi memang aku tak ada niatan lebih pada Janu. Dia sudah terkubur bersama masa lalu yang menyakitkan.


Begitu lah kenangan. Tetap indah hanya untuk dikenang, bukan diulang.


"Jadi?" Anara mencoba mencari titik terang pada ending masalah per-Janu-an hari ini.


"Jadi apa?"


"Aku minta maaf." Candra masih dalam mode diam seribu bahasa.


"Aku minta maaf, aku salah ... dan dengan beraninya berhubungan dengan dia. Janji ini pertama dan terakhir kalinya."


"Iya."


Iya? Iya apa? Dimaafin atau iya-in janjiku?


"Iya apa?"


"Aku maafin dan pegang janjimu! Kalau kamu macem-macem lagi dariku, gimana?"


"Terserah sama kamu. Mau putus apa gimana?"


"Oh ... jadi kamu maunya putus?" Mata cokelat Candra sudah membulat melototi Anara.


"Nggak gitu. Ya habis gimana? Aku harus jawab apa coba?"


"Kalau sekali lagi aku tau atau denger nama itu lagi, kamu bakal nyesel Anara." Kini badan Candra sudah bersandar pada sofa dan sejenak memejam matanya. Aura marahnya juga sudah tak ada.


"Why?" Anara menggeser duduknya lebih dekat ke arah Candra.


"Aku tak segan menghukummu." Tangannya sudah menarik Anara ke dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2