
Jarum jam sudah menunjuk angka 22.00 WIB ketika Candra masih terjaga di ruang tamu. Rasa kantuk belum juga menghampiri, padahal tengah malam nanti travel yang ia pesan akan datang untuk mengantar dirinya dan Anara menuju Juanda.
Dilongokkan kepala Candra ke dalam kamar. Terlihat perempuan yang satu jam lalu dipeluknya di luar kini sudah meringkuk di ranjang membelakangi pintu.
Langkah Candra memasuki kamar dengan grafiti peta dunia bertema monokrom pada salah satu dindingnya, ia mendekati Anara yang ternyata juga belum tidur.
"Belum tidur?" Tanya Candra yang duduk di tepi ranjang.
"Belum bisa."
"Kenapa?"
"Aku deg-degan mau naik pesawat. Takut." Anara sudah duduk menyamai Candra dan kata terakhir yang diucapnya terdengar samar. Namun, berhasil ditangkap telinga lelaki di depannya.
"Apa?" Ekspresi Candra jelas sekali menggoda.
"Enggak."
"Ngomong apa tadi? Gengsian banget."
"Takut." Satu kata yang diucap dengan sangat cepat.
"Kukira kamu yang hobi keliaran di alam ini nggak takut sama apapun."
"Candraaaa. Aku lagi serius. Jangan bercanda dooong!"
"Iya, iya. Nggak apa-apa. Kan ada aku."
Tangan Candra sudah menangkup wajah kekasihnya dan membawa perempuan berwajah ayu itu ke dalam dekapan. Degup jantung Anara bahkan terasa hingga ke dada Candra.
"Kamu berdebar karena takut apa karena gugup aku peluk?" Pertanyaan Candra membuat wajah Anara merona.
"Dua-duanya."
Candra semakin merekatkan tubuhnya ke Anara. Menciumi puncak kepala Anara yang akhirnya ia tau itu adalah aroma wangi mawar. Aroma lembut yang menuntun Candra untuk singgah pada bibir perempuan dengan rambut terurai di depannya.
Anara membuka bibirnya mempersilahkan Candra untuk melakukan lebih. Dihisapnya bibir bawah Anara dengan gigitan-gigitan lembut yang membuat pemiliknya semakin hilang kendali. Tangan Anara menarik tengkuk Candra agar ciuman semakin dalam.
Lidah mereka saling membelit, menyesap, dan bertukar saliva dengan intens dan lama. ******* serta hisapan kuat yang dilakukan Candra membuat Anara semakin melenguh di sela napas keduanya yang saling memburu.
Mata Anara terpejam menikmati setiap aksi yang dilakukan Candra. Tangan kanan Candra kini mulai meraba punggung Anara dari balik kausnya. Mencari pengait bra untuk segera dilepas. Kali ini tak ada penolakan, keduanya saling menginginkan.
Bibir Candra sudah mengulum dan menggigit daun telinga Anara, membuat perempuan itu semakin dikungkung hasrat mengharap lebih, nikmat sekaligus geli membaur jadi satu.
Sementara tangan kiri Candra sudah menyentuh bagian dada milik Anara dari luar bra dengan kaitan yang sudah terlepas. Sapuan lidahnya turun ke leher Anara dan melakukan hisapan-hisapan lembut membuat Anara semakin melayang dan bergelinjang.
Ciuman Candra semakin turun menuju belahan dada Anara. Ditatapnya benda kembar yang masih terbungkus bra hitam berenda, semakin membuat mata Candra membara. Dilepasnya kaus Anara, matanya sayu menatap manik mata Anara seolah meminta izin.
Dilumatnya lagi bibir Anara dengan lebih kuat. Tangannya meraba punggung Anara dan berhenti ketika bertemu benda kenyal yang menempel di dadanya. Dengan sekali tarikan, bra hitam berenda telah terlepas dan menyembulkan dua benda menakjubkan yang selama ini hanya dibayangkan oleh Candra.
__ADS_1
Dipandanginya dada polos milik Anara, tangan Candra sudah meremas benda yang terasa pas di tangannya itu dengan ritme teratur. Anara hanya memejamkan mata menikmati sentuhan tangan kekar Candra.
Sementara jari kanan Candra sibuk memelintir puncak dada Anara, bibirnya sudah menghisap dada satunya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Anara semakin tak karuan dibuatnya, suara lenguhan dan gigitan kecilnya pada leher Candra seperti pendorong bagi Candra untuk berbuat lebih.
Mata Anara terbuka lebar ketika Candra mengulum puncak dada Anara dengan hisapan-hisapan kuat, kadang menggigit, kadang lidahnya disapukan pada puncak dada Anara hingga membuat Anara tak kuasa menahan hasrat dan terus membenamkan kepala Candra semakin dalam menghisap.
Kini mata Candra kembali menatap Anara yang masih dipenuhi gelora, dipeluknya perempuan di depannya. Mereka saling ******* dan menyesap bibir serta lidah. Tangan Candra kembali mengelus pinggang Anara yang kini tak tertutup sehelai benang pun.
Sweater yang dipakai Candra sudah lepas dari tubuhnya dan benda kenyal menempel di dada Candra tanpa penghalang. Hangat yang dirasakan olehnya. Kembali ia memelintir puncak dada Anara dan mengulum bagian puncak yang lain dengan hisapan, *******, dan sapuan lidah yang bertubi-tubi.
Tangan Candra menuntun Anara untuk berbaring. Ditindihnya perempuan itu dengan tanpa melepas pagutan pada dada Anara. Tangan Candra kini sudah mengelus perut rata milik Anara, semakin turun ke bawah dan berhenti ketika terasa ada celana Anara di sana.
"An. Boleh ya?"
Pinta Candra dengan tatapan penuh damba. Tangannya ingin segera melucuti celana Anara. Anara menggeleng.
"Lihat doang." Anara masih menggeleng.
"Sebentar aja."
Jawaban Anara tetap sama, tak kecewa Candra melanjutkan ciumannya pada dada Anara. Meninggalkan bekas saliva dan tanda merah di sana. Matanya menatap bagian dada Anara. Lelaki itu tersenyum melihat hasil karyanya.
"Aku suka." Anara menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Candra, wajahnya memerah.
"Dan ini sepertinya akan jadi favorit." Tangan Candra sudah meremas dada Anara.
"Tidur yuk! Nanti jam 12 kita perjalanan ke Surabaya."
Candra memeluk Anara dari belakang. Mereka masih saling bertelanjang dada. Napas keduanya masih belum teratur. Candra menciumi lekuk leher Anara yang baginya lebih memiliki daya tarik ketika sedikit berkeringat seperti sekarang.
"Kamu di sini?"
"Ambigu. Kamu pengen aku di sini apa ngusir aku?" Candra memainkan dua benda kenyal yang membuat perempuan di pelukannya menggeliat.
"Geliii, Ndraaaa."
"Gemes banget aku, An. Lagi ya!"
"Nggak ah, ntar keenakan kamu. Jadi keterusan."
"Ini juga udah keterusan." Tangan Candra bahkan sudah meremas benda itu dengan kencang. Bibirnya menciumi leher perempuannya dan sesekali mengulum daun telinga Anara, meloloskan desahan dari bibir Anara.
Puncak kembar milik Anara kini semakin menegang dan dapat dirasakan oleh tangan Candra.
"Enak sayang?"
Tiada jawaban dari mulut Anara, yang keluar hanya suara lenguhan dan desahan bersamaan dengan napas yang tersenggal-senggal.
"Can-draaaaa."
__ADS_1
Tangan perempuan di depan Candra sudah menarik rambut lelaki itu, mencari sesuatu untuk menahan gejolak rasa yang tercipta. Candra semakin intens memberi pijatan dan sentuhan ke dada Anara.
Dengan mudah Candra membalik tubuh Anara hingga saling berhadapan. Kali ini mereka saling memagut, menggigit, dan ******* dengan lembut penuh cinta. Tangan Candra menarik tubuh Anara lebih erat seolah tak ingin terhalang jarak.
"An. Jangan pernah pergi ya!"
Candra menautkan kening mereka, Anara mengangguk sebagai tanda mengiyakan permintaan Candra.
"Aku akan belajar untuk lebih bisa menahan emosiku."
"Bener?"
Tangan Anara menangkup wajah kekasih di depannya. Anara tau betul sorot mata Candra mengisyaratkan sesuatu yang jujur.
"Iya. Aku sayang banget sama kamu, An."
Pelukan Candra sangat erat bahkan membuat dada Anara terasa sesak.
"Candra, jangan kenceng-kenceng! Kamu mau bikin aku remuk?"
Kalimat Anara disambut kekehan Candra. Kini mereka sudah sibuk memunguti pakaian yang tadi dilempar sembarangan dan kembali menutup tubuh polos mereka.
"Aku di sini. Pengen peluk kamu." Tangan Candra menarik perempuannya dalam dekapan.
"Nanti kalau Bryan pulang gimana?" Ah, rupanya Anara salah bertanya. Raut wajah Candra mendadak tak suka.
"Biarin. Udah kamu tidur! Masih ada waktu satu jam sebelum travel kesini." Sebuah kecupan mendarat di kening Anara.
"Kamu?"
"Aku tetap di sini, nungguin kamu."
"Nggak ikut tidur?"
"Ini undangan?" Candra menyeringai menggoda dan sebuah pukulan ringan mendarat di lengannya.
"Kalau aku ikut tidur, bisa lupa waktu, An." Senyum Candra menggoda.
Percakapan mereka terhenti ketika terdengar suara motor di depan. Siapa lagi? Pasti Bryan. Tak lama terdengar pintu dibuka diikuti suara bariton yang bergema,
"Candraa. Ketan susu keju, gue taruh di meja."
Terdengar langkah sepatu Bryan semakin menjauh ke arah pantry dan sebuah kalimat yang membuat Candra serta Anara sama-sama terjingkat.
"Gorden jangan lupa ditutup! Dari depan kelihatan jelas."
Ah malunyaaaaa.
...----------------...
__ADS_1