Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Siapa?


__ADS_3

Anara POV


Sekarang, segitunya kamu dulu itu, masih sama nggak?


Pesan WA dari Janu semalam membuat hatiku menghangat, ini salah. Ingin aku lupakan kalimat itu. Tapi nyatanya hingga pagi ini, kalimat itu seolah menjadi-jadi dan membuatku senyum sendiri.


Kalimat yang akhirnya kubalas dengan sedikit kebohongan karena aku tak ingin dia menganggap aku terlalu mudah memaafkan dan membuka lebar kedua tanganku menyambut kedatangannya kembali. Juga, karena kini di sisiku ada lelaki penuh cinta yang mengangkatku dari kubangan luka serta kecewa perlahan menjadi bahagia.


Pagi ini kurasakan cuaca begitu indah, udara begitu sejuk, dan hidupku terasa begitu ringan jika tak mengingat bahwa ini adalah Senin yang sedikit menguras tenaga dan pikiran karena jadwal ujianku adalah Filologi.


Filologi akan selalu jadi momok untukku pribadi, bukan karena kisah di masa lalu yang harus dibahas dengan semua ilmu pendampingnya. Tetapi lebih ke alasan subjektif, Bu Ratri -dosen pengampu- yang perfeksionisnya sudah berada di level dewa. Siapa yang akan bisa sempurna mempelajari kisah dari abad-abad dahulu kala itu? Sungguh dosen berambut pirang itu keterlaluan karena memasang standar tinggi untuk nilai C sekalipun.


Terkadang setan di dalam diriku ikut menyepakati candaan mahasiswa yang lain. Mungkin karena dirinya yang terlalu idealis dan sikapnya yang perfeksionis inilah akhirnya menjadikan beliau seret jodoh. Usianya hampir di kepala empat dan beliau masih perawan. Ya Tuhan, tiba-tiba malaikat dalam diriku kembali mengubur setan yang ingin menggeliat menjerumuskan pikiranku.


...----------------...


Langkahku semakin kupercepat setelah motor matic-ku terparkir di areanya. Berkali-kali kulirik jam yang melingkari pergelangan tangan kiri ... tidak boleh terlambat! Itu yang terus kuucap hingga kakiku menaiki anak tangga menuju lantai kedua.


Ketika anak tangga terakhir berhasil kulalui, suara di belakangku membuatku seketika menoleh ... Hartik yang memanggilku. Aku berhenti sejenak untuk menunggunya sampai di posisiku berdiri.


"Kamu ya, An. Bisa-bisanya ninggalin aku. Ujian Filologi loh ini. Untuk nilai C aja nggak cukup dengan tepat waktu." Hartik sudah mengomel ketika ia menuju ke arahku.


"Lah, tadi aku teriak-teriak di depan kamarmu nggak ada respon. Kupikir kamu sudah berangkat lebih dulu. Ya aku berangkat aja dong." Langkah kami kini saling susul-menyusul menuju ruang 3, ruang dimana ujian akan dilaksanakan.


Ceklek ...


Suara knop pintu diputar dan pintu terbuka sempurna. Di dalamnya sudah banyak mahasiswa tetapi beruntung sang dosen perfeksionis belum bertahta di kursinya.


Ah, leganyaa. Seketika napasku terasa lebih ringan ketika kuketahui kursi di bagian depan ruangan masih kosong.


...----------------...


Satu jam yang serasa 10 jam di kelas ujian Filologi akhirnya terlewati. Entah bagaimana hasilnya, yang terpenting sudah lewat. Kini oksigen rasanya masuk ke paru-paru dengan bebas bagai melaju di jalan tol setelah satu jam seperti tertahan di tenggorokan. Begitu gambaran mencekam suasana kelas yang dipandu Bu Ratri, setidaknya menurutku pribadi.


Kuturuni anak tangga dan mataku menyapu seluruh lobi fakultas. Mencari-cari seseorang yang kemarin telah 'mencuriku' hingga menimbulkan pikiran kotor di otak Hartik yang kini berada di sampingku.


Tetapi lelaki flamboyan yang sebenarnya kurang bisa merayu itu tak kutemukan. Langkahku semakin mendekat pada kerumunan panitia Pemilwa yang sibuk mempersiapkan segala properti untuk acara besok.

__ADS_1


"An ...." Suara yang begitu familiar memanggil namaku, ya seperti dugaanku suara itu milik Bryan.


"Cari Candra ya?" Ia melanjutkan kalimatnya setelah aku menoleh padanya yang tengah sibuk memasang gambar calon kandidat DPM pada sebuah papan.


"Iya, kemana ya?" Mataku masih mengedar di antara panitia yang lain.


"Masih ke atas, An. Ambil beberapa berkas dan surat dispensasi untuk besok." Aku segera paham yang dimaksud Bryan adalah lantai 5 bagian akademik.


15 menit telah lewat, lelaki yang kuharap kedatangannya belum juga muncul. Aku mulai jenuh dengan pemandangan sibuk di depanku. Sementara Hartik sudah lebih dulu ke kantin kampus untuk memberi makan cacing-cacing di dalam perut.


Kubuka ponsel dan tanganku sudah lihai scroll up-scroll down pada aplikasi novel daring. Dalam sekejap aku ikut larut pada alur cerita yang kubaca, ceritanya tentang seorang perempuan yang ditinggal oleh pacarnya demi perempuan lain yang telah dijodohkan oleh orang tuanya.


Menyedihkan sekali batinku. Serupa cerita nyataku ketika kehilangan Janu. Tapi bedanya ini dijodohkan sedangkan aku dicampakkan begitu saja. Ternyata masih lebih memprihatinkan kisahku.


Kusadari keberadaan sepasang kaki yang berdiri di depanku telah menghalau cahaya lampu sehingga bayang-bayangnya mengganggu sekali, mengusik fokusku yang tengah menekuni tulisan kurang bawang ini -Ya iyalah, karena nasibku lebih apes dari tokoh wanita dalam hal kehilangan-.


Kuputar mataku malas dan kepalaku mendongak mencari kaki siapa yang berdiri mengacau kegiatan seruku. Mataku bertemu dengan manik mata cokelatnya yang seketika mengerjap penuh kejailan.


"Khusyuk banget, sampai mungkin kalau ada gempa nggak kerasa." Suara baritonnya setengah mengejekku yang kusambut dengan senyum dipaksakan.


"Baca apa sih?


"Sarapan yuk! Belum sarapan kan? Tapi nggak pakai lama. Ini harus segera kelar!" Pacarku yang super sibuk ini berkata sambil berbisik kemudian matanya mengedar pada semua, mencari-cari seseorang.


"Cari siapa?"


"Sebentar." Ia melangkah menjauh dengan map di tangannya, berisi surat dispensasi yang diceritakan Bryan tadi tebakku.


Kulihat ia menyerahkan map berwarna biru itu pada seorang perempuan dan berdialog tak lama, si perempuan hanya mengangguk-angguk menyetujui entah apa yang dibicarakan.


Beralih dari sana, Candra menghampiri Bryan yang masih sibuk dengan papan. Tak lama pandangan Bryan menuju ke arahku dan kupahami bahwa mereka tengah berbincang dan itu menyangkut keberadaanku. Tak lama Candra menuju pada posisiku berdiri.


"Ayo!" Tanpa menunggu lama dia menarikku pelan dan akupun bagai digendam mengikuti langkahnya.


"Makan di sini nggak apa-apa ya?" Candra menanyaiku dengan ragu sesampainya kami di kantin kampus.


"Nggak apa-apa, lagian kalau harus keluar nanti kamu dicariin yang lain. Nggak enak juga kan?" Meskipun sebenarnya aku lebih menyukai makan di luar karena selain rasanya lebih bisa diterima lidahku, juga karena harganya masuk akal.

__ADS_1


"Idamaaaan." Tangannya sudah mengacak rambutku dengan lembut.


...----------------...


Kami berdua telah menyelesaikan sarapan dengan cepat. Bagaimana tidak? Lelaki di sampingku bahkan seperti tak mengunyah makannya dan langsung menelan bulat setiap suapan. Kuselesaikan makanku dengan porsi masih separuh lebih, bukan karena aku tak tau itu berdosa, tapi melihatnya begitu terburu, kasihan juga.


"Tau begini tadi kita take away aja, kasihan kan kamu jadi buru-buru." Kalimat itu kuucap dengan sangat serius, aku benar-benar ingin menangis rasanya melihat dia makan dengan begitu tergesa.


"Nggak apa-apa sayang. Jangan sedih!" Mimik wajahnya kini terlihat khawatir bercampur takut mungkin kalau sampai aku menangis di sini.


"Lain kali nggak usah dipaksa keluar berdua kalau memang belum memungkinkan. Nggak apa-apa kok." Dadaku terasa sesak dan mataku penuh cairan sekarang.


"Sudah, maaf ya." Tangannya memegangi tanganku dan benar saja ketika mataku berkedip, air mata tak tertahan dan jatuh. Segera tanganku mengusapnya.


"Maaf, An." Entah mellow sekali aku saat ini. Padahal ini murni bukan salahnya, dia hanya mengajakku sarapan dan ia makan dengan tergesa karena takut dicari panitia lainnya.


"Nggak apa-apa." Ingin rasanya aku memeluknya, tapi aku sadar itu tak memungkinkan.


Kami keluar kantin dengan wajahku yang sedikit sembap menahan tangisan. Tangannya tetap memaut sela jariku dengan begitu erat, bahkan sedikit sakit saking eratnya tapi aku suka. Hatiku bagai teriris-iris melihatnya seperti tadi, hanya melihat wajah polosnya ketika makan. Oh Tuhan!!!!!!


...----------------...


Sekembalinya di lobi fakultas. Candra kembali melanjutkan tanggung jawabnya, aku duduk di satu sudut area yang akan digunakan acara besok. Kupandangi lekat-lekat geraknya, lelaki yang mengaduk emosiku dalam banyak rasa. Entah kenapa detik ini rasanya aku makin cinta padanya?


Melihatku terus mengamatinya, ia berjalan ke arahku bersamaan dengan bunyi dering dari ponsel di tote bag-ku.


"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya. Sumpah demi apapun hormon testosteronku sebagai perempuan sedang tinggi-tingginya. Ini semua masih tentang rasa tak tega melihatnya makan tergesa tadi. Sekarang bahkan aku ingin memeluknya.


"Jangan di sini! Rame." Aku terperanjat mendengar kalimat Candra, sementara ia menyeringai penuh tanda tanya. Apa sekelihatan itu nafsuku?


"Ngomong apaan?"


"Masih aja gengsi, kamu pengen berduaan kan dengan pacarmu ini?" Tangannya sudah mulai bergerak dan menjawil-jawil dagu. Kalimat terakhirnya kubalas senyum semata.


"Ponsel kamu bunyi, tuh. Coba cek!" Ponselku berdering lagi setelah yang pertama kuabaikan karena tak ingin merusak momen. Kali ini akhirnya kuindahkan deringnya setelah Candra sendiri yang memberi komando.


Di sana ada sebuah nama yang akhirnya mengobarkan kekhawatiran di dada. Takut kalau-kalau Candra bertanya banyak tentangnya.

__ADS_1


"Siapa?" Wajahnya tegang dan sorot matanya tajam menatap ke arahku.


__ADS_2