
Embun pada jendela kamar mengaburkan pemandangan di luar. Dingin membersamai pagi ini. Hanya terdengar suara jarum jam yang berputar menunjuk angka satu persatu. Tak lama laki-laki pemilik ruangan berukuran 4x4 itu membuka matanya.
Dia masih enggan untuk beranjak atau sekadar membasuh wajah pun belum ingin ia lakukan. Dibiarkannya sisa rona bahagia tetap menghias wajah berjambangnya. Ya, bahagia karena suara lembut milik Anara yang mengantarnya menjemput bunga tidur semalam. Mimpi apa kiranya hingga senyumnya sudah mengembang sepagi ini?
Terlihat tubuhnya masih berbalut selimut tebal yang menghangatkannya dari dingin pagi Kota Malang, meski pelukan kekasihnya akan lebih hangat. Tapi ia sadar kekasihnya masih berkilo-kilo meter jauhnya.
Hari Sabtu biasa ia habiskan dengan Anara, tapi berbeda dengan pagi ini. Ia harus mempersiapkan acara Pemilwa yang akan dilangsungkan tepat sebelum tahun baru nanti. Untungnya, ia punya kesibukan di saat Anara pergi ke Jogja, setidaknya dia tidak gila karena harus dirundung rasa rindu.
Ia sadar harus melepas selimutnya dan segera bersiap diri, menyingkirkan sejenak Anara dari pikirannya. Langkahnya mantap menuju kamar mandi, rambutnya jauh dari kata rapi, hanya wajahnya yang tampan masih terlihat sedap untuk dipandang.
...----------------...
"Anjani, aku harus melangkah. Melupakanmu mungkin tak kau sukai, tapi aku punya kehidupan yang harus kubangun kembali."
Candra sibuk berbicara di depan foto Anjani. Lelaki itu sudah rapi dan seluruh yang ada pada dirinya kini lebih memanjakan mata dari keadaannya saat bangun tidur tadi. Ia kemudian memasukkan foto itu ke laci nakasnya, berbaur rapi dengan buku Ibunda karya Maxim Gorky milik Anara yang belum tuntas ia baca.
Bibirnya kini dibuat melengkung untuk terlihat tersenyum meski ia sadar tak ada yang akan melihat senyumnya di ruangan ini. Langkah yang ia putuskan seharusnya memang tepat, membiarkan perempuan dari masa lalunya terkubur dalam kenangannya. Toh, mau diapakan lagi? perempuan itu sudah pergi dari dunia ini.
Dengan segera diambilnya tas dan kunci sepeda motor, tangannya memutar knop pintu dan matanya menemukan Bryan sudah bercokol di ruang tamu.
"Ngapain lu masih di sini?" Suara Candra menuntun Bryan bangun dari kursi.
"Gue nebeng lu ya? Capek nglembur berkas. Males nyetir" Wajah Bryan seolah memelas pada sahabatnya itu meski ia tau Candra akan menolak ngeboncengin dia. Tapi ia tetap mencoba siapa tau pagi ini Candra kesambet jin rendah hati.
"Lu tau jawabannya kan?" Tanpa menunggu Bryan menjawab. Candra sudah keluar menuju garasi.
"Sial." Bryan kembali ke kamarnya mencari kunci motornya dan secepat kilat menyusul Candra yang sudah lebih dulu melajukan motornya.
...----------------...
"Lah, penyakit males lu dah ilang?" Candra terlihat mengejek Bryan ketika mereka dengan langkah cepat memasuki lobi gedung Fakultas.
__ADS_1
"Pengen gue timpuk lu, kalau gue telat bisa-bisa lu jadiin bulan-bulanan di depan panitia yang lain."
Candra hanya menyeringai menanggapi perkataan Bryan. Dia tak peduli dengan Bryan yang masih menggerutu. Dipercepat langkahnya untuk menghampiri panitia yang lain.
Di lobi fakultas sastra ini mereka akan mengadakan Pemilwa. Semua panitia sudah berkumpul dan melakukan persiapan menyambut pesta demokrasi tingkat fakultas yang akan dihelat hari Selasa, bersamaan dengan Ujian Akhir Semester (UAS).
"Semua harus sudah siap hari ini! Mulai dari bilik, surat suara, kotak suara. Kalau masih ada kurangnya, bakal kelihatan. Masih ada Senin untuk melengkapi. Besok kita nggak ada agenda. Hanya bagian keamanan aja yang sore harus cek lokasi! Pastikan properti kita aman!"
...----------------...
Candra POV
Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul 12 siang lebih, persiapan yang sudah mencapai 75% terpaksa kuhentikan.
"Perhatian!!! Kita istirahat dulu! Nanti pukul setengah dua kita lanjut lagi." Umumku kepada seluruh panitia dan disambut hela napas lega oleh semua. Dalam sekejap sebagian dari mereka berhamburan keluar dan hanya beberapa yang masih di tempat.
Kuhampiri Bryan yang masih sibuk melipat kertas suara. Super sekali sahabat sekaligus partner-ku ini. Dia tak hanya menyelesaikan bagiannya, tugas sie lain pun akan ia kerjakan jika bagiannya telah rampung lebih dulu.
"Hemmm." Dia merespon panggilanku tanpa memalingkan wajah dari kertas-kertas bergambar kandidat itu.
"Foto Anjani...." Seketika Bryan mendongak padaku yang berdiri di sampingnya, aku sendiri sedang bingung merangkai kata yang pas untuk menyampaikannya pada Bryan.
"Kenapa? Mau lu buang? Buang aja! Kan gue udah sering bilang ke lu." Ringan benar mulut itu ngomongnya sambil kembali memelototi setumpuk kertas di hadapannya.
"Tapi gue nggak tega, Yan."
"Nggak tega kenapa? Lu bakar aja kalau nggak tega buangnya!"
"Lu aja ya yang buang! Tolong deh! Kan lu yang kasih ide." Kalimat yang kutahan-tahan itu akhirnya berhasil sampai ke telinga Bryan dengan harapan dia akan menyetujui permintaan sahabatnya yang ingin move on ini.
"Muke gile lu. Nggak mau gue. Lu buang aja sendiri!" Ternyata Bryan tak bertanggung jawab pada ide yang ia berikan, sungguh sialan lelaki di depanku ini.
__ADS_1
"Kan itu barang-barang lu, kenangan lu juga. Ya masa iya gue yang buang? Kalau lu nyuruh gue yang buang, itu tandanya lu memang belum berani Ndra buat ambil keputusan."
Apa iya aku belum berani memutuskan? Hatiku bertanya-tanya sendiri. Jika foto itu tak segera enyah dari kehidupanku, yang kutakutkan adalah masa laluku dengan Anjani yang terus menghantui, traumaku tentang kota yang bahkan dikagumi oleh Anara akan kualami sampai kapan? dan yang paling tak bisa kubayangkan jika Anara tau, apa mungkin dia akan memaafkan? karena aku masih menyimpan foto wanita di masa laluku.
Bayangan menakutkan itu seketika hilang bersamaan dengan berderingnya ponsel di saku celanaku. Kulihat panggilan yang masuk, ada nama Anara di sana.
"Haloo." Kuangkat telepon dari perempuan yang sedang kupikirkan ini dan menjauh dari Bryan.
"Haloo, kamu di kampus?"
"Iya, ini masih istirahat. Persiapan hari Selasa."
Percakapan kami berlanjut sampai suara lembutnya bercerita tentang perjalanan yang ia tempuh di Kota Jogja siang ini. Benar saja hatiku masih terasa nyeri ketika Anara menggambarkan dengan detail setiap apa yang ia lalui.
Awalnya aku berusaha tetap tenang mendengarkan perempuanku ini, tetapi semakin lama pikiranku semakin kacau, suara Anara dan bayangan kecelakaan Anjani datang silih berganti hingga dengan spontan...
"Anara stop!!!" Kalimatku cukup keras hingga Bryan yang sedari tadi menekuni kertas di hadapannya kini berganti menyelidik pada apa yang baru saja kulakukan.
Dari seberang sana tak terdengar suara lagi, aku juga masih terdiam. Wajahku mungkin merah padam menahan... marah mungkin, entah.
"Kepalaku ingin pecah mendengar cerita tentang Jogjamu itu." Kulontarkan kalimat itu tanpa basa basi pada Anara.
"Kenapa?" Suaranya terdengar begitu lirih beradu dengan napasnya yang tersenggal-senggal, tapi sikap egoisku tak memerdulikan itu.
"Aku tidak suka."
"Baiklah." Sambungan telepon terputus. tut tut tut.
Aku masih bergetar hebat di tempatku, perlahan kakiku seperti kehilangan kekuatan. Terlihat Bryan berjalan kemari tanpa ekspresi.
"Dasar bodoh."
__ADS_1