Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Dia Pemenangnya


__ADS_3

Anara dan Hartik baru saja sampai di stasiun Kras Kediri menjelang malam. Pak Nyoto yang menjemput keduanya juga sudah menunggu di luar stasiun. Tak lama, mobil itu berjalan pulang menuju ke rumah Anara.


"Swara ga pulang kan, yah?" Tanya Anara yang duduk di sebelah kemudi.


"Enggak, nduk. Kasihan juga, jauh."


"Iya yah."


Sekitar setengah jam perjalanan. Anara kembali menginjakkan kaki ke rumahnya. Jika biasanya ia pulang untuk liburan kuliah, kali ini ia pulang karena satu momen penting dalam perjalanan hidupnya, ia benar-benar menerima pertunangan dengan kekasihnya, Candra.


Anara memeluk ibunya erat, setelah basa-basi menyoal perjalanan keduanya menuju Kediri, Anara dan Hartik langsung menuju kamar. Kemudian membersihkan diri dan mengisi perut yang sudah keroncongan sedari tadi.


"Lusa itu rencananya dari pihak sana berapa orang, Ri?" Tanya Bu Eka yang juga baru menyelesaikan makannya.


"Hanya keluarga inti saja bu mungkin."


"Kok mungkin? Kamu tanya sama Candra dong! Nanti kalau tempatnya ga muat kan malu," balas Bu Eka.


"Iya, nanti setelah makan, Swari tanya ke Candra."


Setelah perutnya kenyang dan sudah agak longgar. Anara bergegas menuju kamar, mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Candra seperti yang dititahkan oleh ibunya, menanyakan banyaknya rombongan.


Keluarga inti aja kok.


Begitu balasan yang diberikan oleh Candra. Ibu Eka bisa bernapas lega. Rumahnya akan muat, tidak perlu sampai harus pasang tenda.


"Swara ga pulang, An?" Tanya Hartik.


"Enggak, Tik. Kasihan jauh. Lagian tunangan doang."


"Yah, padahal aku ke sini niatnya mau ketemu adikmu itu."


"Ah, kamuu. Udah punya cewek dia," balas Anara.


"Hah? Serius?"


Anara tersenyum menyeringai, tentu ia berbohong dan Hartik tahu itu.


"Udah, tidur yuk! Dah malem," pungkas Anara meletakkan ponselnya. Mengakhiri chat-nya dengan Candra.


Anara mengerjapkan netranya berkali-kali ketika suara kokok ayam nyaring memasuki liang telinganya. Dalam keadaan setengah sadar, dia tersadar bahwa dia sudah berada di rumahnya dengan suasana khas pedesaan.


Tentu tak heran, sepagi buta itu mendengar suara kokok hewan berkaki dua. Anara beringsut menuju kamar mandi kamarnya setelah mengguncang pelan tubuh Hartik, sahabatnya itu masih sama, susah sekali dibangunkan.


Berkali-kali Anara mengguncang tubuh Hartik sambil meneriakkan nama. Hingga akhirnya Hartik bangun setelah Anara hampir putus asa.


"Ayo, Tik! Udah pagi. Aku sama ibu rencana ke pasar. Kamu ikut gak?" Tanya Anara.

__ADS_1


"Pasar? Banyak jajan pasar dong? Mau aku ikut."


"Iya kamu cuci muka dulu!" Seru Anara yang disetujui oleh Hartik.


Ketika hari sudah terang, ketiganya berangkat ke pasar yang lokasinya tak jauh dari rumah Anara. Segala bahan memasak dan bahan kue sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Tinggal menunggu Anara dan Hartik yang masih sibuk berburu jajanan tradisional pasar.


"Sudah?" Tanya Bu Eka ketika melihat kedua gadis itu berjalan menuju parkiran mobil.


"Sudah. Yuk!" Balas Anara.


Mobil pun kembali menuju rumah. Beberapa kali Bu Eka membunyikan klakson dan tangannya terlihat melambai ketika bertemu dengan tetangga. Bentuk keramahan orang-orang desa.


Hari masih pagi ketika ketiganya tiba di rumah, dengan cekatan Anara dan Hartik menurunkan barang belanjaan dan membawanya ke dapur. Belanjaan itu terlampau banyak menurut Anara untuk menyambut keluarga Candra yang tak seberapa banyak.


"Banyak banget sih bu?"


"Gak apa-apa. Mending lebih daripada kurang. Kalau kurang, kita malu. Kalau ada lebihan, malah bisa dibagi ke tetangga," balas Bu Eka.


Anara hanya mengangguk mendengar penuturan ibunya.


"Nanti setelah sarapan. Kita bersih-bersih rumah sedikit ya? Biar ga kotor-kotor banget pas calonmu datang."


Anara tersenyum geli mendengar kata 'calonmu'. Tak ia sangka, hubungannya dengan Candra sebentar lagi akan naik level. Dari hanya pacar, menjadi tunangan.


Semoga pilihan yang tepat!


"Kenapa diem, Ri?"


"Ya gitu jodoh. Ga disangka ketrmunya di mana? Tapi, bener lo Ri, ibu kira malah yang matanya cokelat," sambung Bu Eka.


"Ih, ibu. Dari dulu itu mulu yang diucapin."


Mendengar percakapan antara ibu dengan anak itu, tentu Hartik penasaran dengan siapa yang dimaksud oleh ibunya Anara.


"Siapa, An?"


"Bryan," balas Anara singkat.


Entah mengapa Bu Eka suka sekali ke Bryan? Dari awal ketika Candra dan Bryan sama-sama berkunjung ke Kediri tahun yang lalu, wanita berjilbab itu sempat mengira bahwa cowok yang ditaksir putrinya adalah lelaki yang bermata cokelat, Bryan.


Bahkan hingga menjelang pertunangan Anara pun, Bu Eka masih menyoal itu.


"Swari mandi dulu bu!"


"Iya, kalian mandi saja dulu! Ibu masak dulu," balas Bu Eka mengeluarkan beberapa belanjaan dari kantung kresek.


Anara dan Hartik menghambur ke kamar setelah menikmati jajan pasar yang dibelinya tadi. Ngobrol ngalor ngidul sebentar hingga tepat pukul sembilan, waktu Bu Eka mengetuk pintu kamar Anara, memanggil kedua gadis itu untuk sarapan. Keduanya belum mandi, masih mengenakan pakaian yang tadi.

__ADS_1


"Katanya mandi?"


"Belum bu. Katanya mau bersih-bersih. Ntar kotor lagi," balas Anara melangkah keluar yang diikuti Hartik.


Setelah sarapan dan sibuk membersihkan beberapa sudut rumah. Di sore harinya, Anara disibukkan membantu Bu Eka membuat kue untuk menyambut tamu esok hari.


Anara sedang melelehkan cokelat, sementara Hartik menumbuk kentang di sebuah baskom plastik. Di dapur itu, tak hanya bertiga, tetapi beberapa kerabat juga sudah nimbrung di sana, turut membantu mempersiapkan acara untuk besok.


"Kamu ga usah bantu-bantu, Ri!" Pinta seorang kerabat.


"Iya, kamu kan yang tunangan. Udah duduk diem aja! Lulur-luluran sana!" Sahut kerabat yang lain.


"Astaga, aku hanya tunangan. Belum nikah," gumam Anara, Bu Eka yang ikut mendengar hanya tersenyum sambil mengangguk.


Beberapa sepupu Anara juga terlihat tengah menyulap ruang tamu dengan dekorasi putih yang di dindingnya menempel bunga-bunga kertas, lampu, juga inisial huruf C dan S.


Bener-bener rempong!


Anara berjalan ke arah ruang tamu yang tak kalah riuh dengan dapur. Semua seolah ikut bersuka cita dengan pertunangan yang akan berlangsung esok hari.


"Kok S?" Tanya Anara menunjuk inisial huruf S di dinding.


"Kan Swari?"


"Ganti A aja kalau ada ya! Kakak di Malang panggilnya bukan Swari, Anara," terang Anara yang diangguki beberapa sepupu di sana.


Sejurus kemudian, huruf S tadi sudah dilepas berganti huruf A. Anara bahkan ikut-ikutan sibuk sekarang.


"Kita ke kamar deh, Tik! Pusing aku kalau rame-rame begini."


Keduanya kembali memasuki kamar, Anara menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Menatap langit-langit kamarnya dan sibuk menyusun kepingan-kepingan memorinya dengan Candra hingga sampai ke detik ini.


Dari mulai pertama bertemu di acara kepanitiaan ospek hingga pertengkaran mereka tempo hari yang hampir membuat hubungan keduanya kandas. Namun, esok ... tak disangka mereka akan tunangan. Anara senyum-senyum sendiri mengingatnya.


"Senyum mulu, eh, by the way Bryan ga ke sini ya?"


"Kok Bryan sih, Tik?"


"Kan sahabat karib Candra? Ibu kamu aja nanyain. Emang masih marahan mereka? Kan udah jelas siapa yang bakalan sama kamu."


Anara mengerdikkan bahunya kemudian memiringkan badan, menoleh ke arah Hartik.


"Kalau kamu jadi Candra, marah ga sama Bryan?"


"Buat apa juga? Toh kamu sama Bryan itu masa lalu, kisah yang hanya ditanam tanpa dipupuk, An. Ga akan tumbuh juga. Kalau pun bisa tumbuh, ga akan jadi bagus, kan beda agama. Ga mungkin kan kamu mau jalin hubungan beda agama, ribet pasti."


"Ga perlu lagi diungkit. Toh jelas juga, Candra yang besok bakal datang lamar kamu, dia pemenangnya. Ataaaau Bryan pemenangnya?" Tanya Hartik menunjuk Anara.

__ADS_1


"Jangan gila kamu, Tik! Ga lah," sahut Anara menyingkirkan telunjuk Hartik.


...----------------...


__ADS_2