Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Seminggu Lagi


__ADS_3

Satu Minggu setelah Anara meminta putus pada Candra. Pria itu tanpa absen mengunjungi kos Anara. Tetapi lagi-lagi, Anara tak mau menemui Candra. Nomor Candra pun masih ia blokir.


Perempuan itu sedang sibuk mengisi sakit hatinya dengan menyusun skripsi yang hampir rampung. Anara benar-benar tak meladeni Candra juga pesan-pesan yang dititipkannya pada Hartik, sahabatnya.


"Kasihan loh, An."


"Kasihan apanya sih, Tik? Kamu ga kasihan sama aku?"


"Kalian nikah ajalah!"


"Heh. Bukan urusan mau atau enggak nikah. Kalau kamu di posisiku, mau nikah sama orang macem Candra tanpa dia rubah dulu sifat obsesnya itu? Dia tuh kayak toxic, Tik."


"Bentar marah, bentar cemburu, eh tiba-tiba lembut."


"Kamu bayangin deh nikah sama orang model begitu! Seumur hidup barengan. Gimana kabarnya hatiku? Tertekan gak? Malah entengnya kamu nyaranin aku nikah aja sama dia."


"Iya, iya, An. Aku tuh kasihan aja sama dia. Tiap hari ke sini. Yang bawa kembang yang bawa cokelat. Bahkan hampir tiap hari nih, Candra WA aku, nanyain kamu. Ganggu banget, An. Paling ga buka blokirnya!"


"Iya nanti. Kalau aku mau sidang baru kubuka blokirnya."


"Heh. Ini aja kamu masih bab lima. Ga kelamaan?" Tanya Hartik.


"Biarin. Udah putus juga," tukas Anara.


"Kamu pacaran lama, pas putus kayak ga ada sedih-sedihnya deh, An?"


"Ya pas nangis-nangis di kamar ga perlu aku tunjukin, Tik. Ntar kamu malah trauma bercinta lagi."


"Bohong banget kalau aku ga sedih. Apalagi kos ini, di kampus, juga jalanan, semua menyimpan kenangan manis sama Candra."


"Hubungan kita manis, meski kadang emang sifat Candra bikin jengah. Tapi, sikap manisnya ga mungkin aku tepis gitu aja. Tiga tahun loh, Tik. Bukan waktu sebentar. Tapi ... kejadian pas di rumah dia yang terakhir, bener-bener bikin aku hufh, entahlah."


"Seminggu lagi, An," sambung Hartik.


"Apanya?" Anara menoleh ke arah Hartik yang sibuk memisah-misahkan kertas ke dalam dua kardus berbeda.


"Orang tua Candra ke Jawa."


"Astagaaaa, kenapa malah aku yang lupa," ucap Anara menepuk jidatnya.


"Nikaaah bentar lagi."


"Hartik! Kamu aja sono kalau mau!" Ujar Anara berlalu.


"Ogah. Bekas kamu, An."


"Anaraaaa! Bunga sama cokelatnya. Bawa!"


"Gak. Buat kamu aja!" Seru Anara yang sudah berlalu hampir sampai di anak tangga.

__ADS_1


"Ya ampun. Nyita ruang banget ini bucket-bucket kembang," gerutu Hartik pada bunga yang mulai layu itu.


Anara menaiki satu per satu anak tangga dengan pikiran kacau. Seminggu lagi kedua orang tua Candra datang ke Jawa. Ia harus bagaimana? Sebenarnya bisa saja ia tak terlalu memikirkan hal itu mengingat status di antara dia dengan Candra sudah tutup buku, meski sepertinya Candra tak menggubris ucapan Anara kala itu.


Tapi, kasihan mereka. Orang baik, jauh-jauh dari pulau seberang. Masa iya aku yang terlanjur tau diam pura-pura bego gitu aja?


"An!" Sapa pria itu dari depan kamar.


"Ya ampun. Kapan nih orang naiknya?" Anara segera membalikkan tubuhnya dan bersiap menuruni tangga. Tetapi pergerakan pria itu begitu cepat hingga mampu mencekal tangan Anara.


"Lepasin!" Pinta Anara dengan suara tertahan. Dirinya tak ingin jadi tontonan gratis penghuni kos.


"Aku lepas. Tapi, jangan pergi! Aku perlu ngomong," balas Candra.


Anara mengangguk dan sesuai janjinya, pria itu melepas cengkeraman setelah Anara benar-benar diam tak beranjak.


"Ngomong apa?"


"Tentang kita."


"Kamu ni ga ngerti ya kata putus? Mau ngomongin apa lagi sih?" Tanya Anara dipenuhi amarah. Kelebat kejadian seminggu lalu kembali muncul ke permukaan otaknya.


Kecewa banget aku sama kamu, Ndra. Seandainya kamu bisa lebih sabar.


"Orang tuaku seminggu lagi ke sini, aku minta kamu siap-siap!"


"Siap-siap apaan? Kita udah putus, putus, putuuuus. Heran, ga ngerti-ngerti kamu."


"Hmmm," respons Anara.


Biar bagaimana pun ia tak bisa lari begitu saja, atau pura-pura tak tahu jika keluarga Candra akan bertandang ke Jawa. Apalagi kedatangan Abah Kayaat dan Mama Ira menyangkut tentang dirinya.


Kemudian keduanya berjalan menyusuri anak tangga, menuruninya satu per satu, lalu melangkah ke luar kos. Di halaman bangunan bertingkat dua itu, keduanya melanjutkan obrolan yang semapt terjeda.


"Aku minta maaf," ucap Candra ketika keduanya sudah duduk di teras.


Anara masih terdiam, bibirnya bungkam seribu bahasa. Tak seperti tadi. Kini wajahnya benar-benar menampakkan rona kesedihan yang sebenarnya.


"Aku salah, An. Maaf, aku harus gimana biar kamu maafin?" Tanyanya dengan kesungguhan.


"Aku ga tau," balas perempuan dengan rambut tercepol itu pasrah.


Hatinya sudah benar-benar tak bergairah untuk sekadar membahas hubungan mereka ke depannya. Kata putus yang seminggu lalu diucapnya memang terlontar begitu saja, Anara memang emosi kala itu.


Tapi ... tiada bisa dipungkiri, lelaki di sampingnya memberi warna yang beragam untuk hari-harinya. Memberi warna yang membuat hidupnya lebih bermakna, setelah dulu dia ditinggal begitu saja oleh Janu.


Namun, sebersit berikutnya. Segala sikap Candra yang pemaksa, mudah emosi, juga yang lebih membuat Anara jengah ... cara berpikir Candra yang pendek, akankah mampu diubah olehnya?


"Aku salah, tolong, An! Aku mau kita nikah. Itu aja!" Ucap Candra lagi.

__ADS_1


"Kamu bisa gak minta maaf tanpa embel-embel ngajak nikah, ngajak nikah terus?"


"Kamu ga nanya perasaanku setelah kamu perlakuin kayak gitu?" Cecar Anara.


"Kenapa yang ada di otakmu cuma nikah aja sih?"


"Aku tahu, Candra. Sebuah hubungan yang serius pasti ingin berakhir di pelaminan. Tapi, tolong dong! Kamu pikirin juga aku? Perasaanku. Bahkan kamu nanya aku mau atau enggak nikah sama kamu? Gak kamu lakuin," ucap Anara panjang.


Candra hanya terdiam. Entah apa yang lelaki itu pikirkan?


"Kamu ga mau?" Tanya Candra setelah terdiam beberapa saat.


"Aku ga tau. Awalnya aku yakin, makin ke sini aku malah ragu."


"Kenapa? Bryan?"


Anara berdiri dengan wajah yang memendam amarah. Lelaki itu rupanya masih membahas sahabat yang dinilainya khianat itu. Perempuan itu baru akan pergi sebelum lagi-lagi tangan Candra menahan tangan Anara.


"Lalu apa?"


"Aku ga mau punya suami pemaksa juga berpikiran pendek kayak kamu," ucap Anara.


"Aku cuma ga mau kehilangan kamu, An. Aku cintaaa," balas Candra tersulut emosinya.


"Kamu pikir, kalau pun kamu perawanin aku. Aku ga bisa pergi?" Tanya Anara sungguh-sungguh.


"Kamu pikir aku bakalan ngemis-ngemis cinta dan tanggung jawab sama kamu?" Imbuh Anara melepaskan tangannya.


"Kalau itu yang kamu pikirkan. Kamu salah Candra."


"Aku lebih ga rela kalau sisa hidupku harus aku lalui dengan orang yang ga tepat. Bakalan capek hati sendiri," pungkas Anara.


"An! Kita udah lama pacaran. Kamu kenapa baru bilang ini semua sekarang kalau bukan karena surat sialan itu?"


"Terserah kalau kamu mikirnya semua ini tentang Bryan. Yang perlu kamu tahu, ini ga ada sangkut pautnya sama dia."


"Bohong."


"Kalau pun aku juga suka sama Bryan. Kamu bisa bernapas lega karena aku sama dia beda agama. Begitu kan?"


Anara tersenyum menyeringai, "seperti katamu, dia Nasrani yang taat. Ga mungkin Bryan menggadai agamanya demi cinta yang fana untukku. Juga ga mungkin aku berpaling dari Tuhanku, untuk memeluk dia."


"Pulanglah! Masalah abah dan mamamu, biar aku pertimbangkan!" Pungkas Anara berlalu.


Candra masih terdiam. Mencerna setiap kalimat Anara yang didengarnya barusan.


...----------------...


*Mohon maaf ga up selama seminggu. Bocilku sakit. Huhu.

__ADS_1


**Juga pecah fokus di platform sebelah. Hehehe


*** InsyaAllah mulai hari ini akan up tiap hari. Suweeer. 😘😘😘


__ADS_2